Damn, I love you – chapter 16

Big duduk cukup lama di dalam mobil sampai ia melihat mobil Micky keluar dari tempat parkir. Ferrari merah yang mencolok, sesuai dengan jiwa artis itu. Ia tidak memiliki dendam pada Micky, hanya sebagian dari dirinya tidak rela melihat Yunna bersama pria lain.

Ia menghela nafas lelah. Ia tidak paham mengapa ia begitu khawatir dengan hubungan mereka. Padahal Yunna sudah berulang kali meyakinkannya bahwa tidak ada apa-apa diantara dia dan Micky.

Tapi firasatnya tidak setuju. Ia melihat sendiri bagaimana Yunna bereaksi setiap Micky ada. Yunna seperti kehilangan keseimbangan dan kontrol dirinya. Mendadak Yunna menjadi orang yang tidak ia kenal. Impulsive dan unpredictable.

Ia tidak suka Yunna yang tidak bisa ia tebak. Sebagai pengawal pribadi Yunna, ia perlu mengerti Yunna senormal ia bernafas. Tidak boleh ada gerakan tiba-tiba atau ia akan kehilangan jejak.

Seperti hari ini. Seharian Yunna seperti orang yang tidak bisa diam. Kalau sikap selama sebulan terakhir ini masih bisa Big terima. Big melirik catatan tugasnya. Yunna sudah membuatnya menemani perempuan itu pergi ke Bali untuk paragliding. ke Monte Carlo untuk mengikuti drag race. Ke Congo dan melakukan perburuan rusa.

Big mengeleng-gelengkan kepalanya, tapi semua tidak ada yang segila dan senekad hari ini! Yunna berenang bersama hiu dengan suhu 2 derajat! Belum cukup membuat jantungnya kembang kempis, saat mereka di helikopter dan mendengar akan turun badai dan heli tidak bisa mendarat di atap penthouse, Yunna memutuskan loncat dan terjun payung!

Big mematikan mesin mobil dengan kasar. Lalu apa kata Yunna saat ia meneleponnya, semua pembantu diliburkan dan ia dilarang naik ke penthouse?!

Rasanya Big ingin menyekap mulut Yunna dan mengikat perempuan itu ke tiang ranjangnya dan memukul pantat Yunna. Benar, nona itu sekali sekali harus diberi pelajaran disiplin. Ia sudah siap menerobos pintu penthouse ketika ia mendapat laporan bahwa Yunna sedang menerima tamu. laki-laki tampan yang waktu itu pernah datang.

Akhirnya Big memutuskan untuk menunggunya di parkiran. Dan saat itulah ia tersadar hari ini tanggal 12 Desember. Hari dimana Yunna kembali dengan selamat dari penculiknya.

Jantung Big kontan pindah ke ulu hati.

Yunna memilih hari ini untuk bertemu dengan Micky pasti bukan suatu kebetulan. Dia bukan tipe orang yang merancang kesengajaan. Yunna pasti sudah memutuskan sesuatu yang penting. Sesuatu yang seperti menceritakan Micky mengenai masa lalu Yunna?

Ia menekan bel penthouse, sekedar untuk memberitahu Yunna bahwa ia datang. Big memiliki kartu sendiri dan ia bebas keluar masuk rumah Yunna sebebas ia keluar masuk rumahnya sendiri.

“Yunna.” panggil Big. Dahinya mengerut ketika mendapati hanya keheningan yang menyambutnya. Dimana anak itu?

Big menelusuri koridor utama dan keluar ke taman, ada ayunan kecil di ujung taman tersebut yang selalu menjadi tempat persembunyian Yunna. Tidak ada siapa-siapa di sana. Lagipula udara terlalu dingin untuk seseorang berada di luar sana.

Ia masuk kemabli dan mengetuk pintu kamar Yunna. Sekali lagi tidak ada djawaban, Big berteriak minta ijin masuk, sekali lagi bukan suatu hal yang biasa ia lakukan. Selama ini dia selalu menyelonong masuk. Tidak ada rahasia di antara mereka. “Yunna?”

Dengan langkah pelan, Big memasuki kamar tersebut. Semua rapi. Tidak ada tanda-tanda telah terjadi sesuatu di sana. Ia melirik ranjang yang tak sentuh itu dan tersenyum.

Seharusnya ia percaya Yunna-nya tidak akan bertindak serampangan. Ia memutar tubuhnya dan menuju pintu keluar tepat saat seseorang membuka pintu kamar ganti. Berpikir kalau Yunna yang akan muncul dibaliknya.

“Yunna.” ucapnya.

Dorrrrr…

Tembakan meletus dan peluru tersebut menembus kaki kanan Big. Ia berteriak kesakitan dan berguling menjauh, meraih pistol di balik jasnya dan mengacungkan benda tersebut ke arah lawan. Yang tidak lain adalah Yunna.

“BIG?! Astaga! kamu tidak apa-apa?” pekik Yunna kaget, ia segera membuang pistolnya dan menghampiri Big yang terduduk di lantai. Dilepaskannya handuk dari kepala Yunna dan dibebatkan ke luka Big. “Kenapa kamu bisa berada di sini? Bukankah aku sudah meliburkanmu?” omel Yunna.

Ia terus menekan luka tersebut dan mengikat handuknya di atas luka tembakannya persis. Menahan cucuran darah yang sekarang mulai menodai karpet persia miliknya.

“Aku tidak tahu harus berkata beruntung karena kamu itu murid yang baik.” ucap Big sambil berusaha berdiri. Ia plu pindah ke kursi untuk mengecek lukanya. “Atau memaki diri sendiri karena tertembak olehmu.”

Yunna tersenyum lalu kembali memasang tampang panik. Sepertinya tembakannya tepat mengenai sasaran, big akan sulit berjalan untuk beberapa bulan ke depan. Ia membantu Big untuk berjalan. Ke kasurnya. big harus dibaringkan untuk diperiksa dokter. Ia sudah menekan tombol darurat dan dipastikan dalam waktu kurang dari setengah jam, Dokter Daniel akan tiba dan mengurus Big.

“Siapa suruh kamu mengendap-endap masuk ke rumahku!” omel Yunna lagi. Ia merobek celana Big, memberi akses lebih luas baginya untuk melihat luka buatannya.

Ia sudah terbiasa melihat luka dan darah. Salah satu menu latihannya dulu adalah menjadi perawat dadakan. Big tidak membiarkan dirinya ketakutan jika seandainya ia menderita luka tembak atau keadaan terjepit lainnya.

“Aku tidak tahu seberapa dalam lukamu. Sepertinya kita harus menunggu Dokter Daniel.” simpul Yunna. Ia duduk di samping ranjang. Di ujung kaki Big dan duduk bersila di sana. “Sebetulnya kamu ngapain datang?”

Big pura-pura memejamkan matanya, belaga pingsan. Tapi Yunna-nya teerlalu pandai untuk dikelabuhi, nona itu malah memukul kakinya yang terluka dan membuatnya mengaduh.

“Jawablah.” perintah Yunna, ia menekan kaki Big lebih kencang lagi. Agak konyol sebetulnya mempraktekan ilmu introgasi yang diajarkan Big pada gurunya sendiri. Tapi mau bagaimana lagi, Big sedang menghindar darinya.

“Aku khawatir.”

Yunna menekan kaki Big lagi, “Alasan yang sesungguhnya Big.”

Big terkekeh, “Kamu betul-betul murid yang baik.”

“Big.” seru Yunna dengan nada mengancam.

“Ok, ok. Kamu boleh berhenti menekan kakiku. Bisa-bisa aku kehabisan darah duluan sebelum menjawab pertanyaanmu.” Big tertawa melihat Yunna mendengus dan mengerutu balik padanya. “Aku penasaran siapa tamu kamu. Hm, bukan, itu kurang tepat. Aku takut kamu bertemu dengan Micky dan melakukan sesuatu yang akan kamu sesali.”

Yunna memandangi Big lama. Kaget karena Big bisa menebak jalan berpikirnya. Tersinggung pada sedikitnya kepercayaan yang Big taruh padanya. Bingung mengapa Big terdengar cemburu daripada khawatir.

Yunna mengubah posisinya, pindah ke samping Big dan ikut bersandar ke head cushion, “Kamu cemburu?”

Big mengangguk, ia merasa tidak perlu menutupi perasaannya. Toh percuma, Yunna juga bisa menebaknya. “Sangat cemburu.”

Yunna mengangguk mengerti, “Tapi kamu tahu kamu tidak bisa melakukan apa-apa kalau pun aku memutuskan serius dengan Micky, kan?”

Gantian Big yang mengangguk, ia mengambil tangan kanan Yunna dan menepuk-nepuknya, “Tapi aku boleh mencobakan?”

Ia mengeleng pada perempuan di sampingnya, menepis pikiran Yunna untuk mengingatkan perjanjian mereka dulu. “Kamu memintaku untuk putus denganmu. Bukan berhenti mencintaimu. Baik 3 tahun yang lalu, ataupun sekarang, perasaanku tetap sama, Yunna-ya. Aku tetap mencintaimu.”

Yunna menarik tangannya dari Big. Ada apa dengan hari ini. Dua pria yang paling dekatnya memutuskan untuk mengutarakan perasaannya pada Yunna dan ia tidak bisa membalas perasaan kedua orang tersebut.

Lelucon yang tidak lucu.

“Dia mengatakan hal yang sama tadi.”

“Maksud kamu, Micky? Aku sudah menebaknya. Keiko bahkan berkata Micky sudah jatuh cinta padamu saat dia datang ke rumah ini pertama kali.”

Yunna tertawa garing, hebat bahkan sahabatnya bisa memprediksi kekacauan ini jauh-jauh hari, “Keiko bilang begitu? Kok dia tidak pernah memperingati aku? Biasanya kalian kan satu suara.”

“Keiko memintaku untuk tidak menganggu kalian. Katanya sekali ini kita harus memberimu kesempatan untuk bersenang-senang.” ucap Big masih tidak percaya dengan kelakar Keiko. “Aku tidak tahu apa istimewanya playboy yang satu itu. Tapi Keiko menjamin bahwa Micky adalah orang yang tepat untuk membuatmu kembali tersenyum.”

“Teori kebahagian Keiko ya? Orang yang bisa membuatmu tertawa paling banyak adalah orang yang memegang kunci hatimu.”

“Aku sama sekali tidak mengerti arah pikiran Keiko. Aku bahkan tidak setuju menyerahkan kamu ke tangan Micky. Tapi aku juga tidak bisa menutup mataku saat melihat kamu bersama dia. Kamu lebih banyak tertawa. Tawa yang aku pikir sudah hilang dari dirimu sejak kita putus dulu. Tawa yang dulu hanya kamu perlihatkan padaku.”

Mereka saling bertukar pandang. Sampai bunyi bel berdenting membuat Yunna terlonjak dan buru-buru bangun. “Itu pasti Dokter Daniel.”

Satu jam kemudian, Yunna membantu Dokter untuk mengeluarkan peluru dari luka Big. Diceramahi habis-habisan untuk lebih berhati-hati. “Sedikit ke kanan lagi, kamu akan mengenai urat achilisnya dan boom, pengawalmu out of job.”

Yunna mengucapkan terima kasih dan maaf berulang kali terhadap dokter muda namun amat kompeten itu. Lalu mengantarnya keluar.

“Pastikan dia tidak turun dari ranjang sampai lukanya mengering. Cari pengawal baru untuk sementara waktu. Aku tidak mau mendengar kakinya diamputasi karena berusaha menjalan tugasnya yang bisa digantika oleh puluhan orang lainnya.”

“Yes, Sir. Siap laksanakan.”

“Bagus. Ngomong-ngomong sudah makan malam?” tanya Dokter itu jelas mengujinya, Dokter itu tahu Yunna tidak mungkin meninggalkan Big seorang diri atau pengawalnya itu akan bangun dan menelusuri setiap pelosok kota Seoul untuk mencarinya.

“Pulang sana.” omel Yunna balik. “Titip salam buat istrimu.” Yunna dan ia mendengar Dokter itu berteriak anak baik padanya sebelum suara dokter tersebut hialng ditelan peredam.

Ia kembali ke kamarnya, mendapati Big tertidur pulas akibat tengaruh obat bius. Yunna memandangi pengawalnya itu dan tersenyum. “Istirahatlah big guy. Aku akan menjaga diriku baik-baik sampai kamu pulih.”

Yunna menutup pintu kamarnya dan menuju kamar Keiko. Kebetulan sahabatnya itu sedang keluar kota melakukan syuting. Keiko berhasil diterima sebagai script writer di NKTV.

Ia merebahkan diri dan tertidur dengan cepat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s