Damn, I love you – chapter 17

Yunna membolak-balikan berkas laporan keuangan yang diterimanya dari Jepang pagi ini. Angka-angka yang menari-nari di atas kertas itu membuat perut Yunna mulas dan mual. Ditutupnya file tersebut dan dilemparnya ke seberang ruangan.

Ia tidak mau tahu lagi. Disambarnya jaket kulit miliknya dari hanger dan dengan tersentak-sentak ia mengenakan jaket tersebut.

Ia tidak sadar kalau di luar sana, anak buahnya sedang berbisik membicarakan dirinya.

“Dia mulai lagi ya?” bisik Jeehee ke teman di samping bloknya.

“Yang ketiga kalinya minggu ini.” jawab ChunHee.

“Seandainya ada Big di sini. Kita pasti tidak perlu melibatkan diri dan masuk kesana.”

“Ssst… Tuh Yuya masih nekad masuk ke sana.”

Dua perempuan itu melihat laki-laki berkacamata, kolega mereka dimarahi lagi oleh Yunna karena sudah masuk ke ruangan tersebut tanpa ijin.

“Cari mati sih dia. Eh, ada lagi tuh.” JeeHee menunjuk laki-laki tinggi yang sepertinya orang baru. Dia tidak pernah melihat ada laki-laki setampan itu sebelumnya. Kantor pusat CLEO&Co ini gersang dengan laki-laki. “Aduh, gantengnya….”

ChunHee ikut melogo, “Lebih baik kita selamatkan dia. Kasihankan.”

JeeHee mengangkuk dan mereka bergerak cepat keluar dari kubikal mereka dan menghampiri laki-laki tampan itu. Ternyata yang berpikir untuk menyelamatkan Micky tidak hanya dua orang itu saja. Beberapa pegawai wanita lainnya muncul bersamaan, membuat mereka saling beradu dan menghimpit untuk mengejar Micky.

Yang menjadi sumber keributan malah tidak menyadarinya sama sekali. Ia terlalu terpaku melihat Sikap Yunna. Kaca tembus pandang kantor Yunna membuatnya dengan mudah melihat Perempuan itu sedang membanyu bawahannya memunguti kertas sambil terus memarahi panjnag pendek.

Senyum simpul langsung menghiasi wajah Micky. Yunna memang seperti itu. Keras di luar tapi lembut di dalam. Mungkin itu sebabnya karyawan laki-laki itu memberanikan diri untuk masuk dan membantu Yunna.

Micky tidak mengetuk pintu ruangan Yunna. Ia menyelonong begitu saja dan memberi kode pada laki-laki itu untuk keluar. Meninggalkannya dan Yunna ynab masih mengumpulkan berkas-berkas dari balik meja.

“Tolong lain kali jangan mengutak-atik berkas yang tidak saya minta. Sudah seminggu ini saya menyusunnya dengan susah payah. Dan sekarang saya harus mengulangnya lagi.” omel Yunna geretan. “Kalian tahu saya paling tidak suka bekerja lembur. Apa kamu mau tidak saya beri gaji untuk jam tambahanmu?”

“Aku bersedia dengan senang hati bekerja untukmu.” jawab Micky mengejutkan Yunna.

Saking kagetnya, kepala Yunna terbentur ujung meja, “Aaaaah.” pekiknya dan sekali lagi berkas yang sudah ia kumpulkan terjatuh ke lantai.

Micky menghampiri Yunna tanpa malu-malu dan mengelus kepala perempuan itu dengan lembut. “Sakit?”

Yunna menelepak tangan Micky. Malu diperlakukan seperti anak kecil di kantornya. Tapi Micky tidak mengubris dan kembali mengangkup kepalanya dan memeriksa ubun-ubunnya. “Hati-hati lain kali.”

Yunna menunduk makin dalam. Astaga, apa yang harus ia lakukan sekarang? Micky membuatnya kehilangan muka dan wibawa. Ia tidak bisa mengusir laki-laki ini. Ia tidak mau mengusir Micky.

Di luar, pegawai Yunna semakin mengerubuni kantor Yunna. Semua ribut mempertanyakan siapa laki-laki yang saat ini memeluk Yunna dengan mesra.

“Tunggu, itu Micky kan? Yang penyanyi itu.” ujar salah satu dari mereka mengenali Micky.

“Apa?! Jadi mereka benar berpacaran?”

“Ngak mungkin. Masa boss kita yang kayak Medusa itu pacaran sama artis.”

Perdebatan mereka teramat berisik. Tidak mungkin Yunna dan Micky tidak mendengarnya. Terbalik dengan Yunna yang tidak berkutik di depan Micky. Laki-laki itu masih memegangi kepalanya dan mengusap-usap kepalanya yang sudah tidak sakit. Ia melirik Micky yang sudah tersenyum jahil.

“Don’t” sergah Yunna, membaca gelagat Micky yang ingin meladeni ocehan anak buahnya. yunna sendiri memilih untuk tidak mengubris mereka. Selama ini urasan pribadi adalah urusannya sendiri. Ia tidak berbagi ataupun mengomentarinya. Membairkan semua berita mati dengan sendirinya.

Micky memutar tubuhnya sambil tersenyum cerah, “Kenalkan, saya..hummph…”

Mulut Micky dibekap oleh Yunna. Secepat kilat Yunna menutup pintu ruangannya, menurunkan blindfold dan memastikan tidak ada yang bisa melihat ke dalam.

Tawa Micky lepas, Yunna terlalu imut hari ini. Ia sudah terlalu banyak berprasangka saat Big memintanya datang dan membantu Yunna. Bahkan ia sempat panik, takut Yunna berada di kondisi mengkhawatirkan.

Yunna mengintip dari balik blindfold dan meringkis melihat anak buahnya masih saja mengerumuni kantornya. Beberapa malah sudah menempelkan kuping di daun pintunya.

Micky menghampiri Yunna, ia tidak ikut mengintip, hanya ikut berdiri di samping, bersandar ke pinggir lemari. “Cara yang paling cepat mengusir mereka, Yunna-ya, adalah dengan berterus terang.” Micky membuka pintu dan berdiri di sana, “Saya Micky, mulai sekarang akan bekerja sebagai asistent Yunna-ssi. Mohon bantuannya.”

Teriakan riuh rendah meledak, tak terelakan.

Yunna yang masih bersembunyi di dalam ruangannya hanya mengelengkan kepala, memejamkan mata dan berdoa agar kewarasaan dirinya tetap berada di tempatnya. Ia tidak tahu apa yang akam ia lakukan dengan asisten artisnya. Micky bukan hanya tidak mengerti seluk beluk perusahaan. Pria itu juga seperti membawa badai kemanapun ia pergi.

Untungnya badai kegembiraan. Yunna mengintip melelaui rolling blind, ia tidak pernah melihat karyawannya tertawa dengan Ceria sampai hari ini. Sepertinya dirinya yang selalu serius dan menjunjung tinggi efficiency telah membuat karyawannya takut menyia-nyiakan waktu dengan bercanda.

Baiklah, ia akan menerima uluran tangan Micky dengan sikap lebih sportif. Barangkali saja, sikap ceria Micky juga bisa membawa udara baru untuk team mamangementnya di Jepang.

Laki-laki itu bisa bahasa Jepang kan? Nama Fox-T juga sedang melambung di negara sakura itu, kan?

Ide liar berkelibat di kepala Yunna tanpa henti. Seulas senyum nakal menghiasi wajahnya.

Ia menekan intercom, meminta Didi, assistennya untuk menghubungi pihak LIME. Saatnya mengunakan otoritasnya dan memfungsikan 5 cowok kece ini.

“Micky.” panggil Yunna dan laki-laki itu langsung masuk kembali ke kantornya. Tidak lupa melemparkan kedipan centil pada para pengemar abrunya dan menutup pintu kantor Yunna.

“Aku tidak tahu ada banyak perempuan cantik di perkantoran.” ujar Micky jenaka, secara sengaja memancing wajah cemberut Yunna. Perempuan itukan paling sebal kalau dia main-main seperti itu.

“Dasar playboy.”

Micky melempar senyum cuek, ia duduk di meja, di samping Yunna. “Now, apa tugasku. Big bilang kalau kamu mau ke Jepang? Apa aku harus ikut?”

“Kamu tidak mau ikut?”

“Coba lihat,” ujar Micky dan ia mengeluarkan blackberrynya, mengecek kalender kerjanya. Tindakan pura-pura karena sebetulnya ia hafal di luar kepala – tidak ada kegiatan untuk Fox-T sampai penghujung tahun.

“Sudah, tidak usah belaga sibuk. Aku sudah membookingmu dan teman-temanmu sampai end of year. Kalian ikut Kouhaku kan?”

Ia beranjak dari posisinya dan pindah ke balik meja. Mendadak merasa panas bersebelahan dengan Micky.

Laki-laki itu memutar tubuh, menunduk dan mendekatkan kepalanya ke wajah Yunna. “Aku kangen.” ucapnya dan ia menangkap kepala Yunna mengecup kening perempuan itu, kedua pipinya dan bibir Yunna dengan cepat. Semua hanya dalam hitungan detik. Tapi dia tidak lagsung melepaskan rengkuhannya. Ditatapnya mata Yunna ayng membelalak terkejut dengan tindakannya.

“Jangan cemberut, kamu kan hanya menyuruhku untuk tidak menembakku, jadi boleh dong aku tetap merayumu.”

“Man!”

“What’s with man?” tanya Micky terhibur, “Aku tidak bersedia disamakan dengan pria-pria lain yang pernah mengejarmu.” Micky membelai pipi Yunna yang memerah.

Yunna menarik diri, sedikit lebih lama lagi ia membiarkan Micky merayunya maka akal sehatnya akan hilang menjadi debu. Setidaknya ia tahu dirinya tidak kebal terhadap rayuan Micky dan sadar kalau ia harus mengendalikan emosi yang ditimbulkan oleh begundal tampan itu.

Bah! Dia bahkan mulai menyukai rayuan-rayuan Micky. Yunna mendengus kesal. Kekesalan Yunna tidak bertahan lama, ia teringat kejutan apa yang akan ia berikan pada Micky. Mari kita lihat apa laki-laki itu sejantan yang dia pikirkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s