Damn, I love you – chapter 18

Yunna menekan intercom. “Istirahat siang dan segera kosongkan lantai ini. Jika saya melihat ada satu kepala saja yang masih ada di luar sana, orang itu akan aku kirim ke Vietnam.”

Ancaman Yunna bekerja dengan baik. Ia tahu tidak akan ada karyawannya yang bersedia pergi ke Vietnam dan mengurus production manufacturenya di sana. Derap langkah para pegawainya berhenti terdengar setelah 10 menit berlalu. Yunna mengintip dari jendelanya dans etelah yakin tidak ada siapa pun di luar sana. Ia duduk kembali ke kursinya.

“Kamu bilang Big menyuruhmu datang? Aku tidak percaya pengawalku mendadak mempercayaimu.” Yunna sudah menceritakan pada Micky kalau Big tidak suka padanya.

“Mana aku tahu. Dia cuma bilang dia sedang sakit dan aku sebagai pacarmu.” Micky mengunakan dua jari kiri dan kanannya untuk membentuk tanda petik. “Aku harus membantumu. Pak Simon langsung meluluskan ijin untukku datang ke sini begitu aku bilang kamu memanggilku.”

“Tck. Kenapa aku yang harus membayar kehadiranmu di sini.”

“Kamu tidak mau aku datang?” goda Micky, gemas melihat Yunna cemberut.

“Iyah, aku sebal melihat wajahmu.”

“Ouch, you break my heart.”

“Like you have one.”

Micky tertawa kencang, “Ah, kamu benar. Hatiku sudah kuserahkan padamu.”

Yunna memasang tampang ingin muntah dan membuat Micky terpingkal-pingkal. Ia tidak menyangka Yunna bisa membuat mimik konyol seperti itu.

“Serius Ky. Kenapa kamu ada di sini. Aku bisa kok hidup tanpa asisten. Semua berjalan baik-baik saja.” ucap Yunna sengaja memanjangkan kata baik-baik saja.

“Tentu saja kamu bisa sendiri. Karyawanmu tadi sudah menceritakan hasil kerjamu seminggu ini. Aku terkesan.”

Yunna mengigit bibirnya. Sial, kalau begini caramya ia mana mungkin berbohong. Karyawannya pasti melaporkan dirinya throwing tantrum.

“Beritahu aku apa yang bisa aku bantu.” Micky menariks alah satu berkas dari meja Yunna dan mulai membaca laporan tersebut. Kepalanya pusing melihat tulisan Kanji wara-wiri.

“Katanya mau membantuku.”

“Berikan padaku sesuatu dalam bahasa Korea atau Inggris. Aku jamin tidak akan mengecewakanmu.”

Micky langsung berbicara satu kalimat panjang. “When, in the course of human events, it becomes necessary for one people to dissolve the political bands which have connected them with another, and to assume among the powers of the earth, the separate and equal station to which the laws of nature and of nature’s God entitle them, a decent respect to the opinions of mankind requires that they should declare the causes which impel them to the separation.”

Yunna terkesan. Micky baru saja membacakan kalimat pembuka dari Deklarasi Amerika dengan pelafan yang baik dan amat American.

“Aku sempat tinggal di Virginia saat remaja sampai high school.”

“Orang tuamu ikut kembali ke Korea?”

“Tidak. Mama dan adikku masih di sana.”

“Ayahmu?”

“Mereka sudah bercerai.”

“I’m sorry.” yunna memarahi dirinya. Ia lupa kalau orang tua Micky telah bercerai. Ia terlalu senang mendengar cerita Micky.

“Cerita masa lalu.” Micky tidak ingin membicarakan masalah keluarganya. dengan segera ia mengalihkan pembicaraan. “Kantor kamu berantakan sekali sih.”

Micky berdiri dan mulai membereskan ruangan Yunna yang memang sedikit berantakan hari ini. Baiklah, amat berantakan. Tanpa Big yang membantunya Yunna selalu kesulitan mencari berkas-berkas yang ia butuhkan. Jadi ia terus menerus mengacak-acak satu lemari ke lemari lainnya. Alhasil, berkas-berkas itu bertebaran di seluruh ruangan.

Yunna membiarkan Micky merapikan ruangannya. Sebab ia sendiri tidak tahu harus meminta Micky melakukan apa untuknya. Kehadiran laki-laki itu sudah lebih dari cukup baginya.

Ia mungkin tidak suka berada keramaian tapi ia lebih membenci kesendirian.

Beberapa jam ke depan. Yunna kembali larut dalam pekerjaannya. Teleconference dengan kepala cabangnya yang di Jepang, Indonesia, Singapura. Lalu melakukan rapat singkat dengan staffnya. Dari satu jam, berubah menjadi 3 jam. Mendadak hari Yunna kembali normal.

Saat ia kembali ke ruangannya, hari sudah gelap. Ia melihat Micky yang duduk di meja tamunya, sibuk dengan laptop.

“Hai, maaf aku sibuk sendiri.” tutur Yunna, dihempaskan tubuhnya ke sofa yang ada di sisi kanan Micky. Ia merenggangkan tubuhnya yang lelah.

Laki-laki itu mengulurkan earphone, “apa?” tanya Yunna walau bingung, ia tetap mengambil earphone tersebut dan memasangnya ke kuping.

Sebuah denting piano mengalir indah. Lagu yang belum pernah didengarnya. Bertempo sedang, mirip-mirip dengan lagu London Bridge is Falling Down. Yunna tahu itu lagu anak-anak tai iramanya yang ceria membuat Yunna ikut bersenandung dan mulai bergoyang. “This is good!” komentar Yunna membaut Micky tersenyum. “Dance with me.” serunya dan Yunna menarik Micky.

Micky memindahkan suara ke speaker dan dia berdiri, mengikuti Yunna menari. Menambahkan gerakan-gerakan konyol yang dengan suksesnya membaut Yunna tertawa terbahak-bahak. Dari tarian pinggul ala Beyonce sampai joget ala asereje yang jadul banget dipraktekan Micky.

Semua rasa penat dan lelah hilang tersiram tawa.

Ketika akhirnya mereka berhenti berjoget, Yunna sudah melepas blazer dan sepatu tingginya.

Mendadak lagu Never Gonna Leave Your Side Daniel Beddingfield bergulir.

Micky menatap dan tersenyum simpul pada Yunna yang berdiri tak jauh darinya. Diambilnya kedua tangan Yunna dan diletakannya ke bahu Micky. Tangannya sendiri merangkul pinggang Yunna.

Mereka melakukan tarian waltz sederhana. Kepala Yunna disandarkan ke bahu Micky dan mereka menari walau lagu itu sudah selesai dan hanya keheningan yang mengiringi.

Mendadak Micky bernanyi untuknya. Lagu yang sama hanya saja lirik tersebut diubah menjadi bahasa Korea. Suara rendah Micky mengalir memenuhi Yunna.

“Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu selamanya. Selamanya memelukmu, girl. Aku tidak akan melepaskanmu. Karena aku berada di rumah saat aku bersamamu.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s