Damn, I love you – chapter 19

Yunna mematung. Ia tidak menyangka Micky akan menyatakan kembali perasaannya secepat ini. Ia bahkan tidak berpikir kalau Micky masih akan mempertahankan pikiran bodoh untuk membuatnya terpesona.

Oh, betapa ingin dirinya terbuai oleh semua rayuan manis Micky. Betapa ingin dirinya terlena oleh belaian lembut Micky. Betapa ingin dirinya menerima perasaan Micky. Berharap dirinya boleh bersikap jujur dan mengaku bahwa ia memilki perasaan serupa.

Bahwa ia juga merasa nyaman saat bersamanya. Bahwa ia merasa tepat berada di sampingnya, Bahwa segalanya menjadi lebih serhadana saat Micky di sisinya.

Ia bisa tersenyum. Ia boleh bersikap manja, apa adanya dan tidak perlu memperhitungkan setiap tindakannya.

Yunna yang ia pikir ia sudah kehilangan dirinya yang ceria. Dirinya yang dulu sebelum ia memahami betapa kejinya dunia ini.

“Maaf, lagi-lagi aku mengatakannya.”

Yunna mengeleng di dada Micky. Bukan Micky yang salah. Mereka tidak akan saling bertaut seperti ini jika Yunna tidak memancing Micky dan terus muncul dan menganggu laki-laki ini. Mereka tidak akan saling mengenal jika Yunna tidak menginjinkan semua itu terjadi.

“Aku yang salah.” tutur Yunna. “Kamu tidak akan menyukaiku jika seandainya aku tidak membuat perjanjian aneh denganmu.” Yunna kembali mengeleng. “Aku yang membuat kamu terjebak denganku.”

“Tapi aku yang jatuh cinta padamu. Kenapa kamu yang disalahkan?”

Yunna tertawa getir, “Like you can help it.” jawab Yunna angkuh. “Aku tahu siapa diriku, Micky. Aku bisa membuat seorang presiden merubah keputusannya jika aku menginginkannya. Jadi mungkin aku bisa membuat kamu berhenti menyukaiku.”

Micky tertawa, konyol sekali mendengar kelakar Yunna ini. Memangnya Yunna itu ahli hipnotis. “Mau mencobamya?” ia melepaskan pelukannya.

Yunna mendongkak dan menatapnya penuh perhitungan. Lalu tersenyum. Senyum angkuh perempuan itu yang entah kenapa sekarang ini malah membaut Micky gemas.

“Kamu menantangku untuk membuatmu membenciku, Micky?” tanya Yunna terkesan. Sungguh tantangan yang tidak biasa.

“Yes, Yunna-ya. Aku menantangmu untuk membuatku berhenti mencintaimu.” ujar Micky. “1 bulan bagaimana?”

Yunna tidak bisa menahan tawanya. Ia tidak paham bagaimana Micky selalu berhasil membuat segala hal yang ia pandang serius menjadi permainan konyol tanpa beban. Yunna akan kehilangan semua ini jika ia berhasil membuat Micky. Dan Micky pasti akan membencinya jika ia benar-benar memperlihatkan semua kegilaannya pada Micky.

Yunna hanya berharap, saat semua ini selesai, Micky akan menyisakan sedikit tempat di hatinya untuk Yunna. Sedikit saja hanya agar Micky bisa tetap mengingatnya.

Yunna bisa merasakan panas di matanya dan pilu di hatinya kembali. Tapi ia bukan Yunna jika ia tidak bisa menunjukan dirinya yang sekuat patung. Tampil tak tersentuh.

“1 minggu.” Yunna membalas dengan canda, “Cukup 7 hari untuk membuatmu berhenti menyukaimu dan balik membenciku setengah mati. Karena yang kamu rasakan itu bukan cinta Micky. Kamu belum cukup mengenalku untuk mencintaiku.”

Micky tersenyum mendengar kecilnya keyakinan Yunna pada cintanya. “Baik. 1 minggu. Kalau kamu gagal, kamu harus bersedia mengenakan gaun putih dan berdiri di sampingku.”

“Menikah? Kamu gila ya? Untuk sebuah permainan bodoh ini kamu bersedia mempertaruhkan masa depan kamu?”

Micky ingin membetulkan pemikiran Yunna yang melompat jauh itu. Ia tidak membahas pernikahan hanya sebuah foto Yunna dalam baju putih karena menurutnya Yunna amat cocok dengan warna polos itu.

Tapi setelah Yunna mengungkit pernikahan, pemikiran itu tidak buruk juga. Putri mereka pasti anak cantik luar biasa seperti ibunya dan pintar seperti ibunya. sedangkan yang laki-laki, Micky yakin mereka juga akan sekuat dan seberani ibunya. Micky cukup akan menyumbangkan tinggi tubuhnya dan kemampuan musiknya pada mereka.

“Tidak bisa.” jawab Yunna mantap. “Jika kamu menang, aku akan mengabulkan satu permintaanmu yang personal. Satu hal yang tidak menyangkut pernikahan atau janji masa depan lainnya. Tapi jika aku yang menang, aku akan memberimu 10 persen sahamku di Cleo. Menang atau kalah, kamu tetap untung. bagaimana?”

“Aku tidak peduli dengan uangmu.”

“Aku tahu! Tapi aku tidak bisa menikah denganmu. Tidak selama aku masih seorang Kim Yunna dan kamu seorang idol.” tandas Yunna.

“Aku…” yunna menatap Micky. Laki-laki itu jelas terluka oleh ucapannya. “Maaf. Aku tidak bermaksud menghinamu. Kalian penyanyi yang hebat.”

Micky bersandar di meja kerja Yunna. “Tidak masalah. Kamu hanya mencoba untuk melukaiku dan membuatku membencimu. Cukup berhasil kalau aku belum cukup mengenal sifatmu yang seperti landak. Kamu akan menghalau semua orang yang ingin berdekatan denganmu kan? Tapi aku beritahu satu hal, Yunna-ya. Aku tidak akan menyerah. Biarpun nanti aku berdarah-berdarah, aku pasti berhasil memelukmu dan meyakinkanmu bahwa tempatmu adalah di sisiku.”

Yunna mengulingkan matanya, sial. Kepercayaan diri Micky tidak mudah diruntuhkan. Mungkin tadi dia sengaja membuatnya merasa bersalah. “Kamu keras kepala juga ya.”

Micky tertawa, ia yakin Yunna ingin menghinanya lebih parah dari itu. Ia tahu Yunna lebih berhati-hati sekarang karena Yunna takut melukainya lagi. Nampaknya Yunna punya kelemahan juga. “Aku bisa melakukan banyak hal Yunna-ya. 1 minggu dari sekarang, kamu akan berdiri di altar gereja dan menerimaku sebagai suamimu”

Yunna mengerang, “Oh, please no more marriage deal. Aku tidak bisa menikah denganmu dalam dunia ini.”

“Kenapa kamu begitu takut dengan pernikahan? Apa kamu takut aku menyiksamu?”

“Melawan bantinganku saja kamu tidak bisa, mana mungkin kamu bisa menyiksaku?” ungkit Yunna yang biasanya akan membuat Micky kembali bercanda.

Tapi sekali ini, Micky hanya menatap Yunna dengan penuh, “Penyiksaan tidak selalu fisik yang tersakiti, Yunna-ya.”

Yunna tertegun, sekilas Micky terlihat menakutkan. Hanya sekilas karena sekarang laki-laki itu kembali tersenyum lebar.

“Sebetulnya aku hanya meminta kita berfoto bersama. Aku belum pernah melihat kamu mengenakan baju putih, padahal kamu pasti cocok sekali mengenakan warna tersebut.

Bola mata Yunna kembali mengelinding ke belakang dan sepertinya sulit kembali ke posisinya yang semula. Micky mengalahkannya kali ini.

Yunna menunjuk Micky.

“Satu minggu dari sekarang kamu akan menyesal karena tidak menerima lenawaranku, Micky-ssi. Aku tidak pernah kalah dalam bertaruh.”

“Begitu juga denganku. Yunna-ya.” Senyum Micky penuh percaya diri.

“Berhenti memanggilku Yunna-ya. Kamu terdengar seperti ibuku.” gerutu Yunna sebal. Ia sudah ingin memprotes panggilan Micky ini tapi belum ada kesempetan.

“Kamu ingin aku panggil apa? Cupcakes? Sweating? Pooh bear?” Micky tertawa melihat wajah Yunna yang berubah semakin masam seiring makin konyolnya nama panggilan yang ia sebut.

“Panggil Yunna-ssi.”

Uri Yunna

.”

Bah! Dengus Yunna. Uri Yunna. Memangnya dia miliki Micky? Walaupun panggilan itu terdengar menyenangkan saat diucapkan oleh Micky, tapi Yunna tidak ingin mengakuinya jadi, sekali lagi ia mendengus dan ngotot dipanggil Yunna-ssi.

Uri Yunna.” jawab Micky. “Oh, kamu juga boleh memanggil nama koreaku, Yoochun. Chunie atau Yooachuna. Terserah kamu.”

“Yoo Chun?” rasanya baru kali ini ia mendengar nama Korea Micky dan entah kenapa namau itu terdengar tepat bagi laki-laki itu. Yoochun.

“Bisa ucapkan sekali lagi?” tanya Micky berbinar-binar. Ia sering btanya-tanya bagaimana Yunna akan menyebutkan nama Koreanya. Yang asli jauh lebih baik.

“Micky-ssi.” ujar Yunna dengan tangan bersilang di dida

Micky tertawa, ia seharusnya tahu, Yunna akan memakai setiap kesempatan untuk membuatnya kesal. Ia bangkit berdiri. “Aku akan membuatmu menyebut namaku lagi.”

Diulurkan tangan kanannya pada Yunna, membantu perempuan itu bangkit. Ia menarik tas kerja Yunna.

“Kerjaanmu sudah kelarkan? Mari kita pulang. Besok aku harus bangun jam 4 pagi untuk latihan.”

Micky kembali tertawa mendengar Yunna mengomel panjang pendek. “Kenapa kamu tidak bilang sih, aku tidak akan menahanmu semalam ini kalau tahu kamu masih ahrus bekerja besok. Ini sudah jam 1. Rumah kamu jauhkan? Mana cukup kamu beristirahat kalau menagantarku dulu?”

Bagaimana mungkin Yunna bersikeras mengatakan kalau dia tidak memiliki perasaan padanya. Lihat saja semua perhatian yang Yunna berikan sekarang ini. Mengkhawatirkan jam istirahatnya?

Ia punya waktu satu minggu untuk membaut Yunna mengaku kalau Yunna peduli padanya, kalau Yunna juga mencintainya.

Setelah perdebatan konyol di tempat parkir, akhirnya Yunna setuju naik mobil Micky. Mereka melakukan adu suit terlebih dulu dan Micky berhasil mengalahkan Yunna. Ia sedikit curang sebetulnya. Ia terlambat 2 detik dari Yunna saat mengeluarkan jarinya. Tapi sepertiya Yunna tidak menyadari hal itu. yunna terlalu serius memikirkan untuk mengalahkannya.

Yunna tertidur lima menit setelah mereka masuk ke dalam mobil. Micky tersenyum, “Dan kamu khawatir aku yang kurang beristirahat, Yunna-ya?”

Micky memastikan posisi tidur Yunna setiap kali ia berhenti di lampu merah. Ia tidak ingin Yunna terbangun dengan sakit leher. Perjalanan cukup lancar. Jalanan Seoul di subuh hari memang latif sepi. Dalam waktu 30 menit, mereka sudah tiba di parkiran penthouse Yunna.

Ia mengendong Yunna hingga ke atas. Ia mendudukan Yunna di atas sofa ruang tamu. Cukup lega mendapati tempat itu sesepi biasanya. Tidak teerbayang kalau ternyata ada pembantu atau pengawal Yunna menyambut mereka. Dia pasti langsung diusir pulang.

Dilepaskannya sepatu Yunna di ruang tamu. Lalu ia membopong Yunna kembali ke kamarnya. Menidurkan Yunna di atas kasurnya.

Setelah melakukan peperangan batin, akhirnya Micky memutuskan untuk melepaskan baju Yunna juga dan mengantinya dengan gaun tidur satin yang ia temukan tersampir di depan pintu kamar ganti.

Ia berdiri di samping kasur, memperhatikan Yunna yang tertidur pulas. Ia tidak tahu bagaimana caranya menganti pakaian Yunna tanpa membuatnya terbangun.

Ia sudah sering mencopot pakaian wanita. Namun tidak pernah dalam keadaan tertidur seperti ini. Dia kan bukan hentai atau pervert psycho.

Tapi melihat Yunna tertidur dengan blazer dan rok pensil ketat, pasti tidak nyaman.

Dengan hati-hati, Micky mulai melepaskan kancing blazer, memutar tubuh Yunna dan menarik keluar blazer itu dari tangan Yunna. Masih mudah. Lalu kemeja putih Lolos ngan gampang. Ia baru mendapat masalah ketika harus mencopot rok. Ia tidak bisa menemukan resleting dimana pun juga.

Dicarinya sekali lagi, Micky sudah nyaris menyerah ketika ia akhirnya menyadari kalau rok yang dikenakan Yunna itu cukup melar, artinya ia cukup menarik rok itu ke bawah dan betul saja, rok itu mulus dengan lancar.

Micky menelan ludah. Sebaiknya ia segera memakaikan pakaian Yunna atau ia akan menelanjangi Yunna dan melakukan hal-hal tidak baik terhadap perempuan itu.

Gaun satin yang ia pakaikan ke tubuh Yunna sama sekali tidak membantu. Lehernya berbentuk V dan berbelanan super rendah. micky bisa melihat tepian brukat dari pakaian dalam Yunna. Belum lagi potongannya yang pendek. Rasanya gaun itu tidak sampai setengah paha jika Yunna dalam posisi berdiri.

Sebetulnya apa sih yang dipikirkan Yunna dengan mengenakan pakaian seksi seperti ini saat tidur? Lebih baik telanjang sekalian kalau pakaian itu tidak bisa menutupi apa ayng seharusnya ditutupi oleh selembar pakaian itu!

Damn, damn, damn!

Micky menarik selimut untuk menutupi tubuh Yunna. Berharap selembar kain itu bisaa membuat dirinya kembali waras dan berhenti membayangkan tubuh mulus Yunna.

Ia nyaris berteriak ketika tangan Yunna menahan tangannya, berpikir kalau Yunna terbangun.

Micky yakin Yunna tidak akan menerima bantuannya menganti pakaian perempuan itu dengan baik. Salah-salah ia malah dituduh sudah berbuat kurang ajar dan ia tidak diijinkan untuk mendekati Yunna lagi.

Bisa kacau.

Ia mengatur kembali nafasnya dan menarik tangan yang tadi ditangkapmoleh Yunna ketika yakin Yunna kembali tertidur. Dilepasnya jari Yunna satu per saru, semua dengan perlahan dan tanpa suara.

“Jangan pergi.” bisik Yunna.

Micky mematung. Suara Yunna terdengar begitu kesepian dan memilukan. Ia tahu Yunna mungkin hanya mengigau. Tapi ia tidak bisa tidak menghiraukan Yunna.

Micky duduk di samping ranjang Yunna, membiarkan tangannya tetap digenggam oleh perempuan itu.

Dalam diam, ia memperhatikan wajah pulas Yunna. Ia tersenyum. Diam begini, Yunna tidak terlihat seperti perempuan galak yang biasa. Yunna malah terlihat semanis anjing poodle.

Micky menahan derai tawanya, Yunna pasti akan memasang wajah jutek lagi kalau mendengar ia membandingkan perempuan itu degan anjing ningrat tersebut.

Ia membetulkan posisi tubuhnya. Mencari pose nyaman. Setengah jam berlalu dan Micky masih saja tidak bisa tidur.

Tinggal 2 jam lagi dan ia harus kembali bekerja. Digerakan sedikit tangannya. yunna masih mengenggam tangannya, tidak seerat tadi. Ia bisa menarik tangan Yunna ikut dengannya.

Micky tidur di samping Yunna. Di atas kasur.

Advertisements

3 thoughts on “Damn, I love you – chapter 19

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s