Damn, I love you – chapter 20

Bunyi alarm membangunkan Yunna. Ia merenggangkan badannya dengan penuh semangat. Ia tidur dengan nyenyak semalam. Terlalu nyenyak malah.

Memutar badannya ke kiri dan kanan.

Yunna mengedipkan mata, melihat bayangan yang di pantulkan kaca seluruh badan di hadapannya itu. Dahinya menyerengit, kapan ia menganti pakaiannya?

Yunna mengulang kembali kejadian semalam. Ia naik mobil Micky, lalu tertidur di dalam mobil yang artinya laki-laki itu mengendongnya ke atas!

Dibungkamnya mulutnya agar Yunna tidak berteriak. Ia tidak ingin Keiko atau Big yang ada di kamar sebelah mendengarnya lalu masuk ke kamarnya.

Ia menoleh ke kiri dan kanan, mencari handphonenya. Sekarang baru pukul 7. Micky seharusnya ada di tempat kerjanya. Dia bilang dia ada pekerjaan jam 4 pagi kan?

Ia menekan tombol 2, speed dial Micky. Satu nomor setelah nomor Big.

“Suara apa itu?” ucapnya bingung mendengar bunyi lagu yang tidak dikenalnya, suara piano menjadi pengiring utamanya.

Yunna bangkit, mencari-cari asal suara.

Kemudian suara laki-laki mengisi suara lagu tersebut.

“Oh, Micky, teleponmu berbunyi, coba cek aku barangkali Mama yang menelepon. Atau mungkin Ben mau membayar hutang. Mungkin juga Max yang mengajak minum, astau Alex butuh supir. Tapi yang pasti tidak mungkin aku, aku lebih suka mendatangimu langsung… Oh Micky…..”

Yunna tertawa terbahak-bahak. “Lagu apa itu?!” yunna menemukan handphone yang ia cari. Tentunya milik Micky. Tapi dimana si empunya?

Dibacanya nama yang penelepon, Ben. Dan tawa Yunna kembali meledak. Ia mengangkat handphone tersebut, lupa kalau telepon itu bukan milikinya dan langsung menjawab, “Ben? Kamu berhutang apa sama Micky?”

“Oh shit! Dia cerita apa padamu?!” ucap Ben spontan, baru kemudian dia meminta maaf dan bertanya dengan siapa dia berbicara.

Tawa Yunna menderai kembali, apa katanya soal Ben. Laki-laki yang satu ini betul-betul kocak. “Hai juga Ben. Ini Yunna. Aku tidak tahu Micky berada dimana. Api kalau kamu bersedia menunggu sebentar. Aku pasti bisa menemukan dia.”

Ben menyahut setuju, dan Yunna memulai pencariannya. Ia bangkit dari kasur bertepatan dengan Micky yang masuk dari kamar gantinya.

Dia sedang menghanduki rambutnya yang basah. Membuktikan Micky habis mandi. Yunna bisa melihat butiran air yang menuruni dada bidang dan putih milik Micky.

Tanpa sadar Yunna menelan ludah. Kenapa Micky jadi terlihat seksi?

Suara panggilan Ben, membuat Yunna kembali tersadar, “Oh ya.” Yunna mengoper handphone tersebut kepada Micky. “Ben.”

Yunna masuk ke dalam kamar ganti, menyisakan sedikit celah di pintu agar ia bisa tetap melihat Micky. Laki-laki itu menunduk sambil terus mengeeringkan rambutnya. Duduk dengan santai di atas kasurnya dengan hanya mengenakan handuk.

Kalau Yunna menundukan kepala, ia bisa melihat ke balik handuk tersebut dan mengetahui… Ia menunduk sedikit dan kaget begitu melihat Micky bangkit.

Reflek Yunna juga meluruskan kepalanya, mengantuk lampu di meja wastafel. Membautnya mengaduh kesakitan.

“Ada apa?” tanya Micky, tahu-tahu sudah ada di depan Yunna.

Wajah Yunna bersemu merah, melihat Micky dari dekat. Butiran air masih menetes di wajahnya, di lengan Micky. Yunna mengambil handuk yang lebih dari kolong meja dan melemparnya ke dada Micky, “Buruan di lap, nanti masuk angin.”

Ia membalikan badan dan pura-pura sibuk mencari sikat gigi baru.

“Ini.”

Yunna melihat sikat gigi yang biasa ia pakai sudah diberi odol. Mau tak mau Yunna menerimanya dan mulai menggosok giginya.

Rasaanya aneh sekali bergosok gigi dilihati oleh orang lain. Micky berdiri di sampingnya, mencolokan hairdrier dan mulai mengeringkan rambut. Terlihat sudah terbiasa dengan kehadiran perempuan di sampingnya.

Sebersit rasa cemburu membakar Yunna. Ia memelototi Micky, “Airnya kena aku.” gutunya ngan mulut penuh busa odol. Ia melepeh dengan kesal. Dan melihat Micky tetap meneruskan mengeringkan rambutnya.

Yunna kembali berteriak kesal ketika Micky dengan sengaja mengarahkan rambut basah tersebut ke Yunna.

“Micky….yaaaa!”

Dengan cuek dan tentunya tersenyum nakal, Micky tetap mengibasi rambutnya yang tidak jugs kering ke arah Yunna.

“Ky…. Serius lah.” Yunna mendorong Micky, mengambil handuk baru untuknya.

Dasar usil, Micky malah mempertahankan posisinya, menganggu Yunna.

“Bilang, Yoochun-ah minggir.”

Yunna mendengus dan mengacuhkan Micky, ia berjongkok dan memaksa menjejalkan tangannya di antara kaki Micky. Kenop lemari persis berada di sana.

Dengan lihai Micky mengepit tangan Yunna, menghalanginya.

Yunna belum menyerah, dengan tangan satunya ia melepkan kembali tangannya, namun kembali gagal, Micky berjongkok dan menangkap tangannya, menahannya ke atas meja.

“Yoochun-ah.”

Yunna menjulurkan lidahnya, “Kapan-kapan.”

“Yoochun-ah atau aku akan menciummu seka…”

“Yoochun-ah.” teriak Yunna cepat.

Micky melepaskan gengamannya, kuncian kakinya dan keluar dari kamar ganti tersebut. Membiarkan Yunna memakinya dari pintu.

Ia tidak ambil pusing. Ia terlalu senang dengan kemenangan kecilnya. yunna memanggil nama koreanya. yunna memanggilnya Yoochun.

Ia mulai bersenandung kegirangan sambil mengenakan baju yang ia pakai semalam. Sebetulnya dia ogah mengenakan pakaian itu kembali. Kulitnya itu sensitif, ia baru taruhan sebelum sore menjemput, kulitnya pasti sudah kemerah-merahan. gatal.

Tapi mau bagaimana lagi, ia harus bertahan sampai ia beertemu teman-temannya. Ia bisa meminjam baju Jack nanti.

Ditatapnya pantulan dirinya. Senyum ceah masih menghiasi wajahnya. Ia yakin hari ini akan menjadi hari yang baik.

Pagi-pagi ia sudah melihat Yunna sedang check on him. Walaupun jantungnya melakukan salto dan membuatnya nyaris terkena serangan asma. Ia tidak bisa berhenti merasa puas sudah menganggu Yunna.

Semalam Yunna menunjukan kepeduliannya akan kesehatan Micky. Dan pagi ini Yunna menunjukan ketertarikan pada fisiknya.

Klik, pintu kamar ganti kembali terbuka. Kali ini Micky betul-betul mengalami serangan jantung.

Yunna keluar hanya dalam balutan handuk yang menutupi dari dada ke sengah paha. Rambutnya yang pendek malah memerkan tengkuk dan lehernya yang seksi.

Pernahkah Micky berkata kalau ia secara khusus menyukai lekuk tengkuk dan leher perempuan. yunna memilki salah satu tengkuk terindah yang pernah ia lihat. Yang paling indah.

Yunna mengambil lotion dari meja riasnya dan kembali ke dalam kamar mandi.

Meniggalkan Micky yang masih terpana.

“Aku boleh ikut ke tempatmu?”

Micky tidak mendengarnya sampai Yunna kembali keluar dan berdiri di hadapannya. Sudah berpakaian lengkap. Skinny jeans dan atasan swaeter berwarna peach. Membuat Yunna terlihat cantik luar biasa.

“Apa aku pernah bilang padamu kalau kamu cantik?” tanya Micky belum teresadar sepenuhnya dari sihir Yunna.

Yunna mendengus, “Seribu kali.”

“Aku rasa belum cukup.” ucapnya dan ia menarik Yunna, mengecup bibirnya lembut, “You are beautiful.”

Satu kecupan dan Yunna lumer dalam pelukan Micky. Ia membiarkan Micky menciumnya lagi dan lagi. Wangi sabun mawar menyerbu penciumannya. micky pasti mengunakan sabun miliknya.

Mendadak ia merasa geli dan ia tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa, walaupun Micky masih menciumnya.

“Apa?”

“Apa kata teman-temanmu kalau mencium wangi mawar dari tubuhmu.”

Micky mencium lengan dan bajunya. Yunna benar ia tercium seperti wanita. Micky menyeringai nakal, “Aku akan bilang kita menghabiskan malam bersama.”

Yunna tertegun sebentar sebelum memulaskan senyum liciknya, “Ah….itu akan menjadi gosip panas. Penyanyi Fox-T, Micky menghabiskan malam dengan pacarnya, sang pewaris cheobol

, Kim Yunna.”

“Terserah mereka. Toh mereka tahu kita bersama. Malah akan mempermudah hubungan kita saat kita mengumumkan pernikahan kita.”

Yunna melepaskan diri dari pelukan Micky. “Berhenti membicarakan pernikahan. Kamu tidak tahu apa-apa soal aku.”

“Menikah sajalah denganku…”

Micky yang mengikuti dia dari belakang, menabrak Yunna saat perempuan itu berhenti di depan pintu.

Mama Yunna berdiri di pintu masuk yang letaknya berseberangan dari pintu kamar Yunna.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s