Damn, I love you – chapter 21

“Selamat pagi Micky-ssi.” tegur Mama Yunna tajam.

Micky membalas dan membungkuk hormat pada Perempuan paruh baya yang bertampang keras itu. “Selamat pagi, Tante.”

“Aku tidak akan bertanya apa yang kamu lakukan sepagi ini di kamar anak saya. Tapi dengan hormat, silakan tinggalkan rumah ini. Saya ingin berbicara empat mata dengan anak saya.” tegur Mama tidak membuang waktu.

“Tetap di tempatmu, Micky.” perintah Yunna.

Dalam hati Micky merengut kesal, bisa-bisanya Yunna memerintah dirinya. Tapi melihat situasi tegang saat ini, lebih baik ia diam dan menurut. Menikai situasi lebih dulu sebelum bertindak.

“Mama tidak berhak mengusir Micky. Ini rumahku. Apa yang aku lakukan di sini bukan urusan Mama.” jawab Yunna tenang. “Dan sebelum Mama berpikri ang bukan-bukan. Tidak, aku tidak tidur dengannya. Micky memang menginap tapi kami tidak melakukan hal tercela.”

Mereka tetap berdiri di posisi masing-masing. Di pojok ruangan. Seakan-akan mereka berdiri di atas ring tinju dan siap saling menjatuhkan. Micky seakan melihat kilatan cahaya di mata dua wanita itu.

Yunna membuka suara terlebih dulu. “Ada apa Mama kemari?”

“Mengunjungi putrinya yang nakal.” jawab Mama.

Mau tak mau Mama mengerutkan dahi dan mulai memperhitungkan langkah-langkahnya. Yunna tidak akan mau mengaku kalau dia peduli pada Micky jika ia bertanya langsung. Jadi mungkin jika ia terus mengancam Micky, Yunna akan kelepasaan dan mengaku?

“Mama tidak akan berpikir kamu have sex dengannya, Yunna-ya. Mama mengenalmu cukup baik dan Mama tahu kamu tidak mungkin membiarkan laki-laki sepertinya menidurimu.” tandas Mama Yunna tidak malu-malu. Jika anaknya memutuskan untuk bersikap lancang, maka ia kan meladeninya. Dia tidak membesarkan dua anak keras kepala Hanya ngan berpangku tangan.

Ia tahu ucapannya sudah membuat sepasang anak muda itu memeah malu. Bagus, biar mereka tahu bagaimana perasaannya saat menemukan putrinya keluar kamar dengan laki-laki.

Yunna memutuskan untuk ikut duduk, tidak di sofa yang sama.

“Jadi apa mau Mama? Kenapa Micky harus pergi?”

Mama menghela nafas, kekeras kepalan Yunna pasti diwarisi dari ayahnya. “Kamu yakin mau dia mendengarkan pembicaraan kita?” tanya Mama melirik Micky ang sekarang berdiri di belakang sofa Yunna.

Anaknya betul-betul kelewatan. Dipikirnya ia tidak tahu apa kalau hubungannya dengan Micky hanya untuk membuatnya kesal?

Mama memandangi Micky. Tatapan penuh penilaian. Dari segi fisik, Micky tidak tercela. Tingginya mungkin sekitar 180cm, bahu bidang, berkulit putih sehat. Ia tidak menemukan sejarah penyakit turunan dari laporan kesehatan Micky. Jadi tidak akan ada maslah jika nanti mereka akhirnya menikah.

Bukannya ia menyetujui hubungan anaknya dengan artis tanggung ini. Tapi ia lebih berharap Yunna menemukan laki-laki dengan mental baja dan sanggup mengatur Yunna. Seseorang yang berasal dari latar belakang serupa dengan keluarganya. Jadi Yunna tidak perlu menjelaskan jika suatu saat Yunna harus lembur bekerja dan tidak pulang. Atau ketika Yunna melakukan tindakan tidak masuk akal dalam menjalankan perusahaannya. Dan tidak jarang keputusan-keputusan itu terdengar kejam dan tidak bermoral. Seseorang yang bisa mengimbangi Yunna dan membuat Yunna tersenyum bahagia.

Ia melihat Yunna melirik Micky, sepertinya bimbang mau melibatkan laki-laki itu atau tidak. Sepertinya dugaannya benar, putrinya ini masih belum menunjukan kulit aslinya pada Micky. Berarti dugaannya benar, Yunna hanya pura-pura pacaran dengan Micky.

Kalau Yunna serius dengan laki-laki ini maka Yunna, seperti dulu akan memaksa laki-laki itu untuk tetap berada di sisinya , berbagi suka dan duka.

Namun berikutnya, Mama menahan nafas.

Anak laki itu mengecup kening Yunna dan membuat anaknya tersipu malu.

Ada apa ini? Tidak pernah ia melihat putrinya bersikap malu-malu. Bahkan tidak ketika dengan Big dulu.

Micky membungkuk lagi ke Mama Yunna, “Tante saya oamit dulu. Masih ada pekerjaan. Selamat pagi Tante.”

Mama tidak memperhatikan Micky yang keluar. Matanya lekat memandang Yunna. Mungkin Yunna tidak sadar kalau ia sedang memperhatikan Yunna. Atau putrinya itu tidak akan memandangi punggung Micky dengan mata menerawang dan jelas terlihat sedang mabuk kepayang pada anak laki itu.

Gawat, ini betul-betul gawat. Ia harus menanyai Yunna langsung. Pikir Mama.

“Mama pikir kamu main-main dengannya. Tapi membawanya ke rumah, keberapa kalinya? 4? Amat sangat tidak sepertimu.” mama menatap putrinya itu khawatir, “Kamu tidak seriuskan berpacaran dengannya? Papa mungkin belum berkomentar apa-apa karena dia berpikir kamu hanya sementara dengannya. Tapi percaya Mama, Papa tidak mungkin duduk diam kalau dia mendengar berita ini.”

Yunna memasang aksi bisunya kembali. Tampangnya disetel kaku tak terbaca. Tapi ia sudah terlalu sering menangani topeng terlatih Yunna itu. Jadi ia tahu tombol mana ayng harus ditekannya untuk membaut putrinya itu menurunkan pertahanannya.

Tombol tantangan.

Mama menyerah berkas tebal ke Yunna. Semua laporan kegiatan Yunna dan latar belakang Micky ada di sana.

“Mama sudah dengar soal kontrak kamu dengan Lime. Mama duga kamu melakukannya untuk dia kan?” mama mengeleng, “Mama tidak habis pikir. Apa yang kamu lihat dari laki-laki itu sampai bersedia mempertaruhkan imej perusahaanmu?”

Yunna tersenyum melihat fotonya yang dipeluk Micky. Sepertinya itu foto saat ulang tahun Papa dulu. “Aku melakukan kontrak dengan LIME untuk melindungi artis mereka yang diperas oleh LIME. Mama bisa membaca kontrak itu kalau mau.”

Mama tahu Yunna akan menjawabnya demikian, tapi sebagai orang tua, ia tahu Yunna mempertimbangkan kontrak tersebut karena Micky yang memintanya. big sudah memberikan laporan lengkap padanya. “Baik, Mama tidak akan mendesakmu di sana. Mama juga tidak akan memberitahu Papa soal kehadiran Micky hari ini. Tapi Mama minta kamu ke Jepang.”

Yunna mendengus, benar saja dugaannya. Mama yang biasa tidak mungkin sesantai ini menanggapi kehadiran Micky di rumahnya. Ia sudah menunggu-nunggu kapan Mama akan menunjukan belangnya.

Sungguh, hidup dalam keluarga yang penuh intrik membuat Yunna belajar banyak. Ia tidak bisa menghadapi orang tuanya ataupun orang lain tanpa berpikir kalau mereka mengingginkan sesuatu lebih dari apa yang mereka perlihatkan.

Sejauh ini hanya Micky yang berhasil mematahkan kecurigaannya tersebut. Hanya Micky yang tampil polos serta apa adanya.

Bah! Bahkan laki-laki itu terlalu transparan sampai membuatnya pusing menghadapi keterus terangan Micky.

Eh, kenapa juga Yunna jadi memikirkan laki-laki itu kembali? Fokus Yunna, fokus! Mama sedang menawarkan perjanjian damai denganmu.

“Aku harus bertemu dengan siapa? Kapan dan Dimana?”

“Dasar anak nakal. Dengarkan dulu perkataan Mama sebelum kamu memasang tampang galak seperti itu.”

Mama menepuk sofa di sampingnya, meminta Yunna duduk di sampingnya. Yunna menurut, ia pindah ke samping Mama dan tiduran di paha Mama. Dia mungkin anak nakal tapi ia anak manja dan nakal Mama. Ia membiarkan Mama menyisir rambutnya dengan tangan.

“Anak Tante MyoengRan akan datang ke acara peresmian hotel milik MyeongRan di Tohoku, Jepang. Kamu harus bertemu dengannya.”

Yunna bangkit ingin menolak, tapi Mama menahannya dan membuatnya tetap tertidur.

“Mama tidak meminta kamu untuk meneruskan pertunangan kalian. Mama hanya pusing. Hampir seriap hari MyeongRan menelepon mama dan meneror Mama dengan pertunangan kalian itu. Padahal papa sendiri belum menyetujuinya. Tapi kamu tahus endiri kita memerlukan dudunan MyeongRan jika Papa ingin berhasil ddengan kampanyenya.”

“Mama ingin aku melakukan apa?”

“Lakukan apa yang harus kamu lakukan asal MyeongRan berhenti meneror Mama. Tapi ingat, jangan sampai menyingungnya.”

Yunna tersenyum penuh arti membuat Mama Yunna tertawa.

“Ingat jangan membuat MyeongRan marah.”

“Baik, aku akan mengukirnya dalam hatiku. Tidak boleh membuat MyeongRan marah. Puas, Ma?”

Mama tertawa, dasar anak keras kepala.

“Yunna-ya, kalau kamu bukan anak Mama, kamu pasti sudah Mama kirim ke laut untuk menjadi santapan hiu.”

“Justru aku yang sedang bingung. Orang tua lain mana mungkin ada yang membiarkan anaknya mempermainkan rekan bisnis orang tuanya dengan senang hati seperti ini. Mama terlalu menyukai semua pekerjaanku ya?
“Terus terang, anakku, Mama bisa mati kebosanan kalau kamu mendadak berubah alim.”

“Aku jadi ragu kalau kenakalanku itu berasal dari Papa seperti yang Mama akui.”

Mama Yunna tertawa terbahak-bahak.

“Sudahlah anak nakal. Kamu ikut mama pergi sarapan. Mama lapar.”

Yunna memutar bola matanya. Sungguh hati ia semakin meragukan gaya lemah lembut yang ditunjukan ibundanya itu. Mengenal Mama yang selalu tampil pantas dan selalu menjunjung tinggi tata krama, akan sangat mengejutkan kalau ternyata Mama juga mengenakan topeng kepantasan selama ini.

Kalau benar seperti itu, Yunna semakin enggan untuk menikah dengan orang seserius Papa. Padahal Papa termasuk orang tua paling bijaksana dan amat akomodatif untuk anak liberal sepertinya.

Kalau ia ingin menikah, lebih baik ia mencari seseorang yang bisa membuatnya selalu tertawa dan boleh bersikap apa adanya.

Mungkin seseorang yang bisa bernyanyi dan memainkan piano untuknya kalau ia sedang suntuk.

Bah! Kenapa lagi Yunna kembali memikirkan Micky.

Laki-laki itu terlarang, Yunna-ya! pekik Yunna dalam hati dan ia mengedip-ngedipkan matanya saat melihat Mama masih duduk di sampingnya dan menatapnya dengan tatapan, anakkku-sudah-gila.

“Mama masih di sini?”

“Tentu saja, kita mau keluar makan pagi. Berhenti melamun dan segera ganti pakaianmu. MAMA-LA-PAR.”

Yunna buru-buru bangkit berdiri dan melakukan perintah Mama. Tidak baik membuat Mama kelaparan, karena menurut pengalamannya Mama bisa berubah menjadi monster ketika sedang LA-PAR.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s