Damn, I love you – chapter 22

“Ma, kita ada dimana?” tanya Yunna celingukan. Ia belum pernah datang ke restaurant Korea ini. Dari pintu depan, ada pigura kuno khas Korea jaman 1930an. Tapi di dalamnya, Yunna terkesan. Bangku tersusun rapi dan pelayannya tersenyum ramah.

Ia membaca nama Han Il Kwan di playcard meja resepsionis.

“Kim Chun Yang-ssi.” sapa sang pramusaji. “Mari saya antar.”

Yunna dan Mama mengekori sang pramusaji ke ruang VIP. Yunna bisa melihat Mama sudah memesan terlebih dahulu. Dua galbitang (sup sapi) dan 1 fried pan untuk bulgogi. Menu sederhana khas Korea Selatan. Namun tidak luput dari mata yunna, atau dalah kasusnya, lidahnya bahwa makanan ini terbuat dari bahan berkualitas tinggi dan diracik sedemikian rupa hingga Yunna merasa bahwa ia belum pernah makan sup seenak itu.

“Bagaimana?”

Yunna tersenyum dan mengangguk, “Mama berencana untuk menanyakan penilaianku atas sup ini atau restaurant ini?”

Mama tertawa, tidak sia-sia membesarkan anak yang pintar. yunna menjadi cepat tanggap. Tapi mungkin Yunna belum tahu seberapa seriusnya pertanyaannya itu.

“Dua-duanya.”

Yunna mengelap bibirnya dan menaggak posisi duduk. Saat ini akan bersikap sebagai seorang business woman, bukan lagi putri Kim Chun Yang.

“Aku terkesan. Restauran ini punya ciri khas. Aku rasa tidak akan ada orang hang akan melupakan pigura utama di depan sana. Kebersihan dan keramahan layanan juga terjamin. Terlihat dari betapa bersihnya ruangan ini. Kita tahu tidak banyak orang yang mengunakan ruang VIP tapi aku tidak mencium bau apek ataupun jejak baru dibersihkan. Artinya karyawan di tempat ini rajin. Sedangkan makanannya.” Mata Yunna berbinar ketika ia bertepuk tangan. “Aku rasa Mama juga belum pernah memamasak Galbitang seenak itu! Dagingnya lembut dan baunya tidak menusuk hidung, tapi begitu masuk ke dalam mulut, aku tahu bumbu-bumbu yang dipakai tetap original dan terjaga keistimewaannya.”

Yunna menegak teh hijau miliknya. “Jika Mama memutuskan untuk berinvestasi, aku setuju.”

Tawa Mama Yunna membuat putrinya mengerutkan dahi.

“Apa aku salah?”

“Tidak, tidak.” ujar Mama Yunna masih tertawa, oh ini lucu sekali. “Yunna, Mama tidak tahu kamu bisa ceroboh. Masa kamu tidak tahu siapa pemilik restaurant ini?”

Yunna masih ingin bertanya lebih lanjut namun suara ketukan di pintu menghalanginya.

Seorang nenek mungkin berumur akhir 70an, masuk ke dalam ruangan. Beliau mengenakan hanbok sederhana berwarna biru tua.

Annyeonghaseyo

. Kim Chun Yang-ssi. Maaf saya terlambat menjamu anda.”

Mama Yunna berdiri dan menyambut nenek itu dengan hormat. Menarikan bangku untuknya duduk.

“Tidak perlu repot-repot. Justru saya yang harus meminta maaf karena membuat anda bangun sepagi ini.”

Nenek tersebut duduk di samping Mama. Tersenyum dengan ramah. “Kim Chun Yang-ssi. Tidak perlu terlalu formal denganku. Cucuku yang nakal itu pasti membautmu pusing. Walau harus saya akui saya tidak bisa menyalahkannya tidak bisa menahan diri. Anak anda teramat cantik.”

Dahi Yunna mengerut. Cucunya? Apa dia nenek Keiko. Tapi seingatnya orang tua Keiko dan seluruh keluarganya berada di Cina. Mereka bukan pemilik restaurant. Tapi menilai ucapannya, cucu nenek ini terpikat pada anak mama. Kalau bukan Yogi berarti dirinya?

Mata Yunna nyaris meloncat keluar karena terkejut. Ia tidak menduga akan bertemu dengan nenek Micky. Sekarang, di sini. Diliriknya wajah puas Mama.

Sial, harusnya ia tahu Mama tidak mungkin menyia-nyiakan waktu untuk mengenal kelaurga Micky.

“Anak saya masih banyak kekurangannya. Halmeoni

. Boleh saya panggil anda, demikian?”

Nenek Micky tertawa terkesan dengan sikap Mama. “Kita akan menjadi besan, jadi silahkan. Usiaku ini memang selalu menjadi masalah. Saya akan sangat beruntung jika memiliki klaia sebagai besan. sudah saatnya cucuku yang nakal itu meluruskan hidupnya.”

Yunna tidak tahu harus berkomentar apa. Ia masih tidak percaya ia bertemu dengan keluarga Micky bersama Mama. Orang-orang pasti akan berpikir kalau hubungannya dengan Micky akan menjadi lebih serius sekarang.

“Sayang anakku masih di Amerika. Situasi di sana masih panas.” ujar sang nenek dan ia mulai menceritakan soal cabang-cabang Han Il Kwan yang dibuka oleh dua anak perempuannya.

Dari sana Yunna tahu kalau Mama Micky itu master chef. Seorang ahli masakan Korea. Walau sebagian besar masakan yang laris di Amerika adalah BBQ tapi pemilihan bahan dan bumbu masih diurus langsung oleh Mama Micky.

“Maka dari itu Grace belum juga membiarkan Anna kembali ke Korea. Padahal Yoochuni sudah memohon sejak setahun yang lalu. Walau saya mengerti kekhawatiran Grace. Tidak mudah meyakinkan pelanggan jika sang koki utama tidak di tempat. Sampai sekarang saya sendiri masih harus datang untuk melakukan cek berkala demi memastikan tidak ada perubahan dari segi bumbu dan kualitas masakan.”

Mama mengangguk simpati. “Saya mengerti.”

“Tapi kata Yoochun, dia akan pergi ke Amerika dan menjemput mereka. Saya tidak terlalu yakin mengingat perusahaannya bernaung cukup ketat.”

Mama kembali melontarkan simpatinya. yunna mendengarkan dalam diam. Ia tidak bani mengomentari, salah-salah Nenek Micky akan menilainya terlalu ikut campur dan tidak sopan.

Nenek Micky terkesan sangat tradisional dan kaku. Jadi ketika sang nenek mengeluarkan Iphone 4 dari sakunya dan mengangkat telepon. Yunna hampir menyemburkan teh yang diteguknya.

“Yoochunie? Tebak Halmeoni bersama siapa.”

Jantung Yunna berdetak lebih cepat. Gawat, ia belum memberitahu Micky kalau ia sedang bersama neneknya. Bagaimana kalau Micky marah?

Halmeoni bersama Kim Yunna-ssi dan Ibunya.” jawab Nenek Micky membuat Yunna menahan nafas. “Kamu mau datang? Bukannya katamu, hari ini kamu sibuk? Baiklah-baiklah, halmeoni tidak mungkin menolak cucu tersayangnya. Tapi mungkin kamu harus bicara dengan mereka terlebih dulu.”

Nenek Micky mengoper handphone canggih itu ke Yunna, walau canggung dan terperangah, Yunna tetap menjawab, “Ha..hallo.”

“Kamu di sana? Kok bisa? Nenek cerita apa?”

Yunna menelan ludah, bagaiman ia menjawab pertanyaan Micky tanpa membaut Mama dan Nenek laki-laki itu memandangnya bingung. “Mama mengajakku kemari. Masakan nenekmu betul-betul lezat.”

“Kamu ada di cabang yang mana?”

Pertanyaan yang bagus, ternyata ada lebih dari satu restauran milik dan ia tidak tahu dia berada dimana. Ia terlalu sibuk membaca berkas mengenai putra tante MyeongRan hingga tidak memperhatikan jalan.

Ia berbisik pada Mama, “Kita dimana?”

“Shinsa-dong.” jawab Mamanya. Yunna mengulingkan mata melihat Mama menikmati kecanggungannya. Hari ini Mama sukses membuatnya mati kutu.

“Shinsa-Dong.” ulang Yunna pada Micky.

“Ok, tunggu aku di sana. Aku akan menjemputmu.”

“Jangan.” teriak Yunna panik, Mama dan nenek Micky memandanginya bingung. kembali mengontrol volume suaranya. “Maksudku tidak perlu. Aku bisa pulang dengan Mama.”

“Kalau begitu kita bertemu di rumahmu? Aku perlu tahu apa saja yang telah diceritakan nenek.”

Dahi Yunna mengerut, kenapa Micky terdengar lebih panik darinya. Apa ada sesuatu mengenai keluarga Micky yang disembunyikan dan tidak boleh ia ketahui. rasanya ia tidak pernah mendengar berita buruk soal Micky. Malah saking biasanya ia sampai tidak memperhatikan kalau nenek Micky memiliki restaurant tua dengan nama besar.

“Aku tidak bisa. Aku harus ke Jepang besok pagi, sedangkan pekerjaanku masih banyak.” tolak Yunna akhirnya. Ia perlu membeli waktu untuk membaca ulang latar belakang Micky.

“Aku sudah dengar soal itu. Kamu mengatur untuk membawa serta Teman-temanku? Apa yang akan kita lakukan di Jepang, Yunna-ya?”

Yunna cemberut mendengar nama panggilan Micky untuknya, “Berhenti memanggilku seperti itu, Kamu terdengar seperti Mama.”

“Ada apa dengan Mama?” tanya Mama Yunna.

Yunna semakin cemberut. Bagus ia lupa sama sekali kalau saat ini ia sedang berbicara dengan dua orang tua di sisinya dan ia melirik handphone yang ia gunakan.

Matanya kembali digulirkan, ia berbicara mengunakan handphone Nenek Micky! Hebat!

“Aku akan menghubungimu sebentar lagi.” tutup Yunna dan ia menyerahkan kembali handphone tersebut pada Nenek Micky. “Maaf.”

Nenek itu tertawa, “Tidak apa. Saya senang melihat hubungan kalian baik-baik saja.” nenek memasukan handphone tersebut ke dalam saku hanbok. “Dia tidak pernah membawa satupun pacarnya ke rumah. Makanya ketika ibumu memesan ruangan di restauran ini. Saya tidak bisa menahan diri untuk tidak memperkenalkan diri. Saya sudah penasaran ingin mengenal perempuan yang membuat cucuku itu bertobat.”

Yunna tersenyum canggung. Bagaimana kalau Nenek sampai ahu bahwa hubungannya dengan Micky itu hanya sandirwara? Hati Nenek pasti akan hancur. Dan semua ini salah Mama. Ia melirik Mama yang berlaga tidak bersalah.

Halmeoni, kami berpamitan dulu yah. Saya ada meeting 1 jam lagi.” yunna menendang kaki Mamanya dari balik meja.

Mama meletakan cangkir teh dengan anggun. Tidak terlihat kalau kakinya baru saja ditendang oleh anaknya. “Benar. Anak saya ini sangat sibuk. Saya sampai khawatir dia tidak akan pernah menikah. Tapi melihat dia berpacaran dengan cucu anda. Mungkin saya bisa merasa lebih tenang sedikit”

Mata Yunna melotot horor. Astaga, Mama memang paling bisa menyaring di sungai keruh. Dengan kalimat itu, Mama memberi kesan kalau ia dan Micky akan menikah. Yang mungkin baru akan terjadi seribu tahun lagi.

“Ma.” panggil Yunna disertai tendangan. Kali ini lebih kencang.

Yunna menarik nafas lega, ketika akhrinya Mama berdiri dan berpamitan. Yunna ikut membungkuk dan memberi salam pada sang Nenek.

Ia hampir berlonjak ketika Nenek itu memeluk dan mencium pipinya. “Baik-baik nan Yoochun yah.”

Yunna hanya bisa menangguk dan keluar dari restoran tersebut dengan kekesalan menumpuk.

Begitu ia dan Mama masuk ke dalam mobil, Yunna langsung menanyai Mama. “Kenapa Mama memilih makan di sana? Hubunganku dengan Micky belum seserius itu.”

“Mama tidak ada maksud apa-apa. Masakan di restoran itu enak. Bukankah kamu juga berpendapat demikian?”

Yunna mendengus pada sikap belaga bodoh yang Mama mainkan sekarang. “Kalau Micky sampai marah dan memutuskanku, Mama yang tanggung jawab.”

“Kalau Micky memutuskanmu hanya karena kita menemui neneknya. Maka Mama akan mengatakan dia itu laki-laki bodoh dan tidak serius denganmu. Tapi tentang saja, ada seribu laki-laki yang lain yang siap mengantikan posisinya.” tutur Mama cuek. “Atau kamu tidak mau dengan pria lain selain Micky?”

Yunna siap membuka mulut untuk membalas ucapan Mama namun ia menutupnya kembali. Tidak terbayangkan olehnya jika ia harus berpacaran atau berhubungan dengan pria selain Micky. Dahi Yunna mengerut. Ok, pasti ada yang salah dengan dirinya. Sejak kapan ia berpendapat bahwa Micky lebih baik dari pria lain?

“Bagaimana Yunna? Saat ini Mama setidaknya punya sepuluh nama eligable man untuk menjadi pendamping putri mama yang cantik.”

Lagi-lagi Yunna membuka lalu menutup mulutya. Ia tidak tahu harus berkata apa. Jika ia membantah, maka sama artinya dia mengakui bahwa ia tidak mau laki-laki selain Micky, padahal hubungannya dengan laki-laki itu tinggal satu minggu. Batas waktu taruhan mereka dan Yunna pasti berhasil membuat Micky membencinya.

Tapi jika ia menyetujui untuk dikenalkan dengan pria lain, berarti ia mengakui kalau hubungannya dengan Micky tidak serius dan Mama pasti akan mulai menganggunya dengan menjodohkannya dengan 10-20 laki-laki eligable versi Mama.

Yunna terselamatkan dengan dering telepon.

Ia mengangkatnya.

“Kamu bilang akan menelepon kembali.” tegur Micky begitu Yunna menjawab.

“Maaf. Tadi aku sedang bicara dengan Mama.”

“Kamu masih bersama dia? Tidak jadi ke kantor?”

Yunna menatap Mamanya yang sedang memandanginya tertarik. “Jadi, aku harus lembur malam ini. Sampai dimana tadi? Ah, benar. Aku pernah bilang kalau aku membooking Fox-T sampai awal tahun kan? Aku mengundang kalian ke Jepang bersamaku. Aku akan mengirimkan detailnya melalui e-mail”

Yunna melihat mata Mama melotot dan memperingatinya. Tapi Yunna membalasnya dengan tersenyum puas. “Kita akan bersenang-senang di sana.”

“Kamu jangan macam-macam Yunna. Membawa Micky bertemu dengan putra MyeongRan! Mama melempar kepalanya ke belakang, pening.

“Kata Mama, lakukan apa yang harus aku lakukan bukan? So, watch me.”

Yunna melompat turun dari mobil begitu kendaraan itu berhenti di lobby kantornya. Tidak ambil pusing dengan Mam yang masih meneriakinya dari mobil.

Ia yakin Mama tidak akan turun dan mengejarnya, membuat mereka jadi tontonan.

Dalam hati Yunna sudah geregetan. Kenapa sulit sekali baginya untuk pergi dan bersenang-senang tanpa memilki agenda tersembunyi. Apa seluruh hidupnya harus menjadi ajang pertempuran.

Mendadak Yunna merasa lelah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s