Damn, I love you – chapter 23

Bandara Internasional Gimpo terlihat cukup lapang di jam 3 dini hari. Hanya beberapa petugas bandara yang terlihat berlalu lalang. Merapikan raung tunggu atau sekedar berbincang-bincang dengan teman sejawatnya.

Dengan mata sepet dan suasana hati muram, Micky menunggu kopi pesanannya. Ia mengucapkan terima kasih pada pramuniaga dan mengambil 6 gelas kopi hangat dengan nampan ke mejanya.

Teman-teman Fox-T dan Keiko sedang duduk manis di sana. Semua bertampang masam kecuali Keiko yang tetap tersenyum bak matahari pagi.

“Thank you, Micky-ssi.” sahut Keiko dan dia membantu mengoper kopi hangat tersebut.

“Bisa katakan lagi padaku mengapa kita harus ke Tokyo jam 4 pagi dalam keadaan hujan salju?” tanya Ben bersungut-sungut, ia menatap kopi di tangannya enggan. Ia mau tidur bukan minum kopi dan kedingingan seperti ini.

Keiko tersenyum dan menuangkan gula ke gelas Ben, “Yunna meminta kita terbang ke sana. Jadi kita harus terbang ke sana. She owns our soul, isn’t she?” canda Keiko dan ia mengedipkan mata pada Micky.

Micky terkekeh kesal. “Sudahlah Ben. Kita berhutang banyak pada Yunna. Kalau bukan karena dia, kita tidak akan pernah memperbaharui kontrak kita dan kamu tidak bisa membeli toko untuk usaha Papamu.”

Ben tetap mengerutu dalam diam. Disenggolnya Max untuk ikut membantunya, tapi temannya itu terlalu asyik memperhatikan Keiko. Susah yah berteman dengan orang yang sedang dimabuk asmara. Semua orang tidak terlihat.

Ben menoleh ke kanan dan memperhatikan Jack yang sedang mengutak-atik laptopnya, ia menarik satu earphone dari kuping Jack. “Bikin apa sih?”

Jack mendongkak, memandangi Ben dengan tatapan kosong, kemudian mengisyaratkan Ben untuk diam dan merapatkan diri padanya, “Aku menemukan klip Keiko lagi. Bantu aku menghapusnya.”

Ben ingin menjawab panggil Max saja, tapi Jack keburu menarik lehernya, membuatnya keselek ludahnya sendiri.

“Bodoh, jangan panggil Max. Kamu mau dia cemberut sepanjang perjalanan? Belum lagi kalau Keiko melihatnya.” Jack celingukan dan menarik Ben lebih dekat, “Jalan-jalan kita kali ini untuk membuat Keiko melupakan masalahnya dan bersenang-senang. Kamu tidak ingin dia mengingat kejadian buruk itu lagi kan.”

Ben mengangguk mengerti, memang benar. Kemarin saat klip Keiko yang dicium oleh Max yang mabuk menyebar di internet, LIME kelabakan menutupinya. Membuat kejadian itu sebagai teaser MV baru mereka. Keributan itu membuat Keiko tertimpa banyak gosip tidak mengenakan. Sampai-sampai Keiko harus mengambil cuti.

Ia tidak ingin membuat gadis seceria Keiko kembali bersedih. Jadi ia mengangguk dan berusaha membantu Jack semampunya.

Tapi dan tapi, Jack dan dia itu sama-sama bodoh jika sudah menyangkut teknologi. Dikotak-katik seperti apapun juga, mereka tidak berhasil menembus portal dan menghapus klip ciuman Keiko.

“Apa kita panggilkan Micky saja?”

Kedua laki-laki itu sama-sama memutarkan kepalanya dan memandangi laki-laki yang sedang berdiri di pintu cafe, merokok dengan tampang pembunuh.

Sama-sama mereka mengeleng dan berkomentar, “Yunna.” lalu mereka mengangguk bersamaan.

“Memangnya hubungan mereka sekarang gimana?” bisik Ben sekecil yang ia bisa.

“Baik seharusnya. Makanya aku bingung kenapa hari ini Micky pasang tampang jelek begitu.”

Mereka kembali memandangi Micky. Temannya itu sekarang sedang mengetik BB dan membuang rokoknya ke dalam gelas kopi.

“Yunna minta kita berangkat duluan. Dia akan menyusul nanti.” ucap Micky, ia bangkit berdiri. “Kei, kamu tahu gate private jet dia? Yunna cuma memberikan code penerbangannya saja. I’m in sour mood.”

Perempuan yang dipanggilnya itu menoleh dan melemparkan senyum maklum padanya. Micky rasa Keiko pasti sudah sering memaklumi perubahan rencana mendadak yang dilakukan oleh Yunna. Makanya Keiko bisa senyum-senyum seperti ini padanya.

“Tentu saja. Aku akan dengan senang hati mengantar tuan-tuan ke sana.” gurau Keiko berusaha menaikan mood Micky. Ia merasa kasihan padanya. mood Micky bisa tambah buruk kalau laki-laki mengetahui rencana Yunna yang sesungguhnya.

Tapi sebagai sahabat Yunna. Ia tidak bisa menghianati Yunna. Justru ia mengikuti acara jalan-jalan ini untuk memastikan kehadiran lima cowok itu.

Ia menarik tas tentengnya tapi Max mendahuluinya. Keiko tersenyum pada laki-laki itu, “Thank you tapi jangan. Nanti muncul gosip lain lagi.” tolaknya halus.

Ia berjalan mendahului mereka dan memimpin di depan.

Sampai di Gate, mereka langsung diantar ke pesawat pribadi keluarga Kim. Keiko sendiri menyebutnya burung emas.

Ada 12 kursi sebesar kasur berukuran kepompong yang dilengkapi dengan semua multimedia personal yang menjamin kenyamanan selama perjalanan mereka. Kursi itu bisa dibaringkan 180 derajat dan semua dilapisi oleh kulit domba asli berwarna cream gold. Interiornya juga berwarna cream susu dengan aksen ukiran tipis dari emas asli berbentuk ukiran Kim dalam tukisan korea.

“Silahkan pilih tempat duduk kalian masing-masing. Panggil saya jika kalian membutuhkan bantuan.” pramugari itu menunjukan namanya, Lee JiYeong. “Snack akan disediakan 15 menit lagi dan sarapan disajikan 1 jam sebelum mendarat.”

Mereka mengangguk mengerti.

Ben duduk sendiri. Tidak ada alasan untuk tidak mengunakan waktu pernerbangan yang hanya 2 jam setengah ini dengan makan. Ia akan tidur hingga waktunya mendarat.

Max bisa ditebak, dia duduk di samping Keiko. Membantu perempuan itu memakai seat belt dan sebagainya.

Jack duduk di samping Alex. Seperti biasanya.

Menyisakan Micky duduk di kursi paling belakang. Ia perlu privasi sebanyak mungkin. Ia akan menghubungi Yunna sampai bisa. Ia harus memarahi perempuan itu atau ia akan ngambek selamanya.

“Selamat pagi. Your pilot speaking.” bunyi intercom. “Sekarang waktu menunjukan pukul 3.30 KST. Cuaca cukup cerah subuh ini. Maafkan aku karena memaksa kalian berangkat di pagi-pagi buta. Tapi believe me, kalian akan mengerti alasannya nanti. Keiko, thank you sudah membantuku. You’re the best girlfriend I ever have, ever need and ever love.”

Keiko berteriak, “Jangan kupa janjimu!” dan tertawa riang. Hanya dia yang terlihat menikmati penerbangan ini, sedangkan lima cowok lainnya dalam panic mood.

YUNNA MENGEMUDI PESAWAT YANG MEREKA TUMPANGI.

Ben yang pertama kali berteriak minta diturunkan. “Kita belum terbang kan? Aku turun sekarang. Terima kasih atas undangannya, tapi aku masih mau hidup.” melupakan niatnya untuk tidur.

“Kei, Yunna bercanda kan? Dia hanya duduk di kursi co-pilot.” Max memberi tatapan memelas. Keiko hanya mengeleng dan menepuk laki-laki yang duduk di sebelahnya.

“Max. Yunna lebih dulu menyetir pesawat dibanding belajar sepeda. So, relax.”

Sikap optimis Keiko tidak ditanggapi dengan baik oleh Max ataupun pria lainnya. Mereka terus berteriak panik sampai pramugari harus mengancam akan membuat mereka tidur dengan obat penenang.

“Micky….” panggil Alex. “Lakukan sesuatu. Aku lebih baik turun sekarang daripada mati konyol.”

“Benar, Ky. Kali ini aku tidak bisa mendukungmu.” tambah Jack.

Micky tidak tahu harus berkata apa pada temannya. Ia sendiri masih dumb founded. Bengong sampai idiot.

“Ky….” desak Jack. “Panggil Yunna. Hentikan dia. Tarik dia dengan paksa. Aku tidak peduli. Hanya Lakukan sesuatu.”

Micky mendengus, yeah, right. Coba saja kalian yang hadapi perempuan itu sendiri. 3 hari bekerja dengan Yunna sudah cukup memberi gambaran betapa keras kepalanya perempuan itu.

“Kei, kamu yakin Yunna mampu?” tanya Micky dalam bahasa Inggris, ia tahu keiko menguasi bahasa itu dengan baik, Keiko menangguk dan menjawabnya dengan bahasa yang sama.

“She even flies bigger plane even before she got the license. Yogi let her do anything she likes as long as she stop dating…” Keiko mengigit pipinya.

Mata Micky menyipit tajam, ia akan menarik Keiko dan mengintrograsinya begitu ia selesai menenangkan teman-temannya. “Penerbangan ini cuma 2 jam-an. Bertahan saja deh. lagipula apa sih yang bisa terjadi dalam waktu 2 jam. Yunna juga bukan perempuan tidak bertanggung jawab dan merencanakan pembunuhan massal.”

“Terima kasih untuk pembelaanmu, Micky. Aku tersanjung.” ucap Yunna tiba-tiba keluar dari ruang pilot.

“Kenapa kamu ada di sini? Siapa yang mengemudi pesawatnya?” teriak Ben semakin panik. Dia melompat keluar dari bangku. Tidak peduli omelan pramugari ayng memintanya duduk tenang.

Pesawat sudah lepas landas rupanya, Ben bisa melihat langit yang masih gelap di bakik jendela kecil miliknya.

“Aku tidak tahan mendengar teriakan kalian, jadi aku memutuskan untuk menyuruh co-pilot mengambil alih.” tutur Yunna terdengar lebih sabar dari yang ia.

Ia duduk di samping Micky. “Hai. Apa kabar?”

Laki-laki itu membuang muka darinya. Sepertinya ia sedikit kelewatan kali in. Micky terlihat amat marah padanya.

“Maaf Yunna, kami tidak bermaksud meragukan kemampuanmu.” Jack berusaha menjelaskan sikapnya barusan.

Yunna tidak ambil pusing, ia mengibas tangannya dan tersenyum pada teman Micky yang maha ganteng itu.

Dari jarak dekat seperti ini Jack semakin terlihat tidak manusiawi. Seperti Adonis yang kembali hidup. Cuma yang ini berambut hitam dan memiliki senyum menawan dan kelingan anak kecil yang jenaka di matanya.

Sekejap itu, Yunna dibuat mengerti alsan popularitas Jack yang jauh melebihi teman-temannya. Bukan wajah tampan laki-laki itu yang membaut setiap wanita bertekuk lutut. Senyum ramah dan bersahabat Jack yang menarik para wanita itu.

Agak mirip Keiko.

Jack kembali duduk ke bangkunya yang terletak di depan Yunna. Begitu pula dengan Yunna. Ia duduk manis di bangkunya yang terletak di sisi luar dan memperhatikan teman-teman Micky.

Ben sudah duduk tenang dan terlihat sedang tidur pulas dengan earphone di kupingnya. Kalau menurut Yunna, Ben ini polos sekali. Tipe orang yang akan mudah dimanipulasi oleh keadaan. Tapi melihat bentuk rahangnya, Ben tidak sesederhana yang terlihat.

Mungkin Yunna bisa menguji laki-laki itu nanti. Ia paling suka menguak misteri orang. Melihat seseorang melakukan sesuatu yang tidak biasa.Dialihkannya pandangan Yunna ke bangku di depan Ben. Keiko dan Max duduk di sana. max berada di bagian luar. Tapi Keiko memosisikan dirinya dengan bijak, menyamping dan menghadap ke belakang, membuat Yunna bisa melihat dengan jelas wajah sahabatnya itu.

Yunna menyerengit melihat tatapan yang dilempar Keiko ke arahnya. Memang betul Keiko sedang berbicara pada Max, tapi perhatian Keiko jelas tidak pada laki-laki lebih muda itu 2 tahun dari mereka itu.

Keiko sedang melihat bangku di depannya.

“Ky…” Ia merapatkan tubuhnya ke Micky, menarik earphone dan majalah ayng dipegang laki-laki itu dan berbisik,”something happen here.”

Yunna sengaja mengunakan bahasa inggris pada Micky karena ia tidak ingin teman-teman Micky mengerti ucapannya. Sikap yang sering ia lakukan sejak ia tahu micky lancar berbahasa inggris. Salah satu keuntunan baginya jika ingin pembicaraan rahasia.

“Apa yang sedang terjadi?” tanya Micky acuh, ia menjawab dengan bahasa Korea.

Yunna memelototi Micky, kesal. Sekali lagi ia berbicara dengan bahasa inggris pada Micky. “Is there anything i need to know about them?” yunna mengunakan kepalanya untuk menunjuk Max dan Keiko.

“He likes her. Memangnya kamu tidak menyadarinya?” jawab Micky dengan bahasa Inggris. Ia memutuskan untuk bekerja sama atau Yunna akan terus menganggunya dan ia tidak bisa beristirahat.

“Aku tahu, tapi Keiko tidak menyukai Max sebagai laki-laki. Didn’t he know that too?”

“He’s not easy to give up.” Micky melihat Max berhasil membuat Keiko tertawa lagi. Sesuatu yang selalu dilakukan oleh Max belakangan ini. Sejak nama Keiko terseret dalam lumpur karena kedekatannya dengan Fox-T.

Dia juga tahu kalau Cuma sekedar Max mengejar Keiko. Yunna tidak sabar lagi. Ia menaikan nada suaranya, “But do you know that she likes someone else? Someone who’s apparently sitting in front of me?”

Mata Micky membelalak tapi kemudian ia memperhatiakan Keiko dan ia mengerti. “It’s not going to be good.” omel Micky. Ia sibuk memikirkan segala kemungkinan buruk yang akan terjadi sampai ia menoleh dan melihat Yunna tersenyum cerah. “What?”

“I love it when you snarl.” jawab Yunna dan ia tertawa.

Micky mendengus dengan kencang. Kapan ia cemberut. “Jangan bercanda denganku. aku masih marah.”

“And you snarl again.” Yunna tertawa geli.

Micky mengatup giginya lebih erat, ia tidak akan tertawa. Ia harus tetap memasang tampang galak. ia harus membuat Yunna mengerti kalau ia tidak suka Yunna melakukan tindakan berbahaya.

“I don’t snarl dan kamu berutang penjelasan padaku.”

Yunna terkekeh, “I know. I’m sorry. Aku hanya berpikir kita semua perlu berlibur. Jadi aku berpikir kenapa aku tidak menculik kalian dan membawa Keiko sekalian.”

Micky tidak percaya. yunna sedang meminta maaf. yunna loh, perempuan keras kepala ini sedang meminta maaf dengan manis padanya. “Kamu sedang merencanakan apa Yunna?” tanya Micky curiga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s