Damn, I love you – chapter 25

Micky mengedarkan pandangannya ke balik kaca tembus pandang dari jendela pesawat. Mereka sudah tiba di Haneda Airport, Tokyo, Jepang. Salju tipis terlihat menutupi sebagian  hamparan padang di samping Haneda Airport. Tidak ada hujan atau angin yang menerpa ketika pesawat mereka mendarat. Hanya suasana hening di pagi hari dan suara intercom pengumuman yang menyambut mereka. Menciptakan suasana muram yang dibencinya.

“Kalau setiap kali kita tiba di airport bisa sehening ini, aku akan menyarankan LIME untuk membeli pesawat pribadi juga.” celetuk Alex.

“Memangnya kamu tidak tahu siapa yang membocorkan penerbangan kita? Pak Simon memakai 10 menit saat depart and landing kita sebagai sarana iklan.” papar Max sinis.

Jack menepuk pundak Max, “Kenapa kamu?”

“Nothing.”

“Keiko menolakmu lagi?”

Max menoleh dan memandang memelas pada Jack, “Kamu harus membantuku, Jack. Keiko melarangku untuk berada di dekatnya selama liburan ini.”

Jack menepuk-nepuk pundak Max lagi, “Dia hanya tidak mau kalian tertangkap oleh media atau pengemar kita.”

“Dari mana kamu tahu? Bisa saja dia memang menolakku.”

“Mana mungkin dia menolak kamu. Kei cuma tidak ingin membuat gosip.”

“Sekarang kamu jadi penghubung Keiko?” tanya Max dan ia menatap Jack penuh curiga. “Sebetulnya aku bingung dengan hubungan kalian. Tadi di pesawat Kei melarangku untuk menganggumu, dia bilang kemungkinan kamu sedang sibuk membuat lagu.” melihat Jack tertegun, Max semakin ganas, “Ucapannya benar? Darimana dia tahu kamu sedang membuat lagu? Kalian bahkan tidak pernah berbicara berduaan?”

Jack tidak bisa menjawab, jadi ia memilih menghindar dengan tertawa, “Semua orang juga tahu kalau aku sedang membuat lagu. Mungkin Yunna cerita padanya atau Ben atau Micky. Mana aku tahu Keiko tahu darimana.”

Max tidak puas dengan jawaban Jack tapi ia tidak bisa menanyai temannya lebih jauh. Yunna datang mendekat.

“Barang-barang kalian sudah ada semua? Aku sudah memesan kamar untuk kita. Kebetulan teman Mama ada yang baru meresmikan apartement barunya.”

Max dan Jack mengangguk dan mengikuti Yunna keluar dari airport dengan jalur khusus. Valet turun dan membukakan pintu mobil limosine Roll Royces untuk mereka.

“Gila! Seumur hidup aku belum pernah naik mobil semewah ini. Milikmu Yunna?”

Yunna hanya tersenyum tipis pada Ben. Tidak mau mengakui ataupun membantah. Ia terus menerus melirik ke luar jalan. Ia membiarkan Ben terus mengoceh seorang diri.

Micky yang memperhatikan tindak tanduk Yunna, jadi bingung. Yunna bukan orang yang akan menjawab sesuatu dengan senyuman. Tampaknya bukan hanya dirinya yang menyadari ketegangan Yunna. Keiko meliriknya penuh pengertian, meminta Micky untuk mencoba membuat Yunna tenang.

Micky menarik bahu Yunna, membuat kepala perempuan itu rebah di dadanya dan Yunna tidak menolak. Yunna juga tidak menoleh padanya. Terus menatap ke luar jendela.

Ini benar-benar aneh.

Saat Yunna mendadak memutar kepalanya, micky terkejut dan membuat dagunya terantuk kepala Yunna.

“Maaf.” itu saja yang Yunna katakan sebelum ia pindah tempat duduk di samping Keiko dan berbicara dengan sahabatnya itu.

Micky tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi sepertinya masalah serius. Sesekali Keiko melemparkan pandangan padanya sebelum kembali berbicara pada Yunna. Yang membuat Micky berasumsi kalau mereka sedang membicarakan dirinya.

Ia melihat Yunna mengelengkan kepala dan kembali berbicara dengan serius. Micky ingin bertanya pada Max yang duduk dekat mereka tapi sepertinya Max tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan dua perempuan itu. Jadi Micky kembali berasumsi kalau Yunna dan Keiko berbicara dengan bahasa selain Korea dan English.

Di saat seperti ini Micky menyesali dirinya berhubungan dengan perempuan pintar. Ia tersenyum saat Keiko dan Yunna melempar senyum padanya, bergantian.

Damn, Micky jadi merasa seperti tontonan umum. Dua perempuan itu tidak seharusnya berdekatan. Dia jadi tidak tahu apa yang mereka rencanakan. Mudah-mudah bukan sesuatu yang berbahaya.

Tiba-tiba Keiko memanggilnya datang, Micky sampai menunjuk dirinya sebelum menghampiri dua perempuan itu.

“Yunna ingin aku bertanya,”

Yunna mengerang mendengar ucapan Keiko tapi dia tidak menghentikannya. Tindakan aneh Yunna membuat Micky semakin tegang.

“Yunna bertanya, apa kalian bersedia bernyanyi di acara pembukaan hotel milik teman Mama Yunna dengan gratis.” tandas Keiko dengan senyuman lebar.

“Aku akan membayar. Aku tidak mau berhutang.” bantah Yunna.

“Kenapa kamu harus membayar bantuan seorang pacar, Yunna-ya.”

Yunna kembali mengerang kesal, “Dia bukan pacarku, kamu kan tahu soal itu Kei.”

“Deal.” jawab Micky cepat. Ia tidak mau mendengar Yunna kembali menolak mengakui hubungan mereka. ” Aku akan memberitahu mereka untuk menyiapkan sebuah lagu. ” ia mencubit pipi Yunna, “Aku ini pacarmu, baik kamu mau mengakuinya atau tidak.”

Yunna mengendikkan bahu, “Kalian manggung dan aku tetap akan membayarnya. Atau lupakan sama sekali gagasan ini.”

“Lalu membiarkan Tante MyeongRan merendahkanmu?” tegur Keiko lagi. “Kamu tahu dia akan memojokanmu dan mengataimu tidak tahu malu kalau datang bersama Micky.”

Yunna mengigit bibirnya, sialan Keiko, dia kan tidak perlu terlalu serius dengan sandiwara ini sampai harus membuatnya terlihat tidak berdaya.

Tapi Yunna menekan harga dirinya, ia menunduk lemas. Ia perlu terus berpura-pura jika ingin Micky menyetujui untuk membantunya. Ia berjanji ini akan menjadi yang terakhir. Ia cape terus menerus memanipulasi orang.

“Bilang, Yoochun-ah, bantu aku.” pinta Micky sebagai syarat.

Keiko tertawa mendengarnya, ia tidak menyangka Micky akan memeras Yunna. Mungkin ia harus menarik kekhawatirannya. Sepertinya Micky tahu bagaimana mengatur Yunna.

Sebab berikutnya ia mendengar Yunna memanggil nama Korea Micky, walaupun dengan cemberut. Tapi setidaknya Micky mendapatkan yang ia mau bukan.

Tawa Keiko kembali meledak saat melihat Micky mencubit kedua pipi Yunna.

Astaga, belum ada laki-laki yang berani memperlakukan Yunna seperti anak kecil.

Di balik tawa Keiko dan wajah ceria Micky, hati kecil Yunna menangis. Sekali ini semuanya tidak akan berakhir baik. Sekali ini ia akan menderita karena kehilangan. Sekali ini Yunna yang akan merugi.

Bukan untuk masalah MyeongRan. Yunna yakin rencananya akan berjalan sesuai rencana. Tapi urusannya dengan Micky yang akan membuat hati laki-laki patah. dan hatinya hancur.

Tapi jika memikirkan resiko jangka panjangnya, Yunna rasa kehilangan laki-laki ini sekarang akan lebih mudah dibanding setelah mereka semakin terikat.

Micky hanya membuatnya lebih sadar akan sekitarnya. Micky hanya membuatnya ia tertawa lebih banyak. Micky hanya membuatnya merasa ia patut dicintai, dibutuhkan dan berhak untuk hidup bahagia.

Tapi semua itu salah.

Jika Yunna membutuhkan tawa, dia akan menonton film komedi atau pergi ke ujung dunia dan mencari sesuatu untuk di tertawakan. Jika ia memerlukan kesadaran, ia akan minta diajari oleh dosen terkenal. Jika ia perlu dicintai….

Ia akan menemukan orang yang bisa mencintainya sekaligus berguna untuk masa depannya.

Ya, Micky bisa tergantikan.

Micky harus bisa tergantikan.

Tanpa terasa, mereka sudah tiba di La

Mereka tiba di sebuah daerah elite kawasan Shibuya-ku. kawasan yang lengkap dengan toko-toko barang-barang ternama, sekolah berskala internasional dan taman-taman asri. Sebuah kawasan lux bernama Daikanyama.

Limonsine mengelinding pelan melewati pintu gerbang berbentuk susunan batu yang dirambati oleh tanaman rambat yang saat ini berselimut salju. Sebuah konsep hunian ramah lingkungan yang hanya sanggup tercipta dengan bugdet miliyaran dollar.

Yunna tidak sempat memuji penataaan lobby yang simple dan elegan yang dimasukinya. Matanya membaca satu per satu nama tamu yang tertera di karangan bunga. Karangan bunga yang berbaris dengan rapi di sepanjang lorong hingga ke ruang pesta.

“Kalian check in dulu. kita akan bertemu kembali di sini 15 menit lagi.” ucap Yunna yang lebih menyerupai perintah.

Yunna dalam war-mode-on.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s