Damn, I love you – chapter 29

Seoul sudah memasuk musim semi saat Micky tersadar. 4 bulan terakhir dilewatinya seperti mayat hidup. Tidak hanya kehidupan percintaanya yang hancur berantakan. Dia, Jack dan Ben keluar dari LIME dan hidup terseok-seok dalam morat-marit keramaian Seoul.

LIME menolak memberikan liburan pada FOX-T dan yang laling parah, Pak Simon meminta Micky untuk membuat kunjungannya ke Amerika sebagai dokumentasi FAMILY REUNITED. Anak-anak Fox-T yang mengerti kebencian Micky akan eksploitasi kehidupan mereka langsung menolak.

Tapi tidak sampai di situ, Pak Simon terus mendesak sampai-sampai berani menekan mereka dengan perhitungan bonus tidak masuk akal. Akhirnya Micky, Jack dan Ben memutuskan untuk menuntut LIME. Max dan Alex tidak bisa ikut serta karena mereka terlanjur terikat kontrak dengan pihak ketiga.

Micky menatap layar komputer dengan gamang. Ia tidak tahu apa yang membuat ia tersadar. Mungkin perasaan jenuh yang mulai mengerogotinya karena hidup serampangan. Mungkin karena ia mendengar berita mengenai Yunna dari TV yang pasti dinyalakan oleh Jack di ruang tamu.

Jack tinggal bersamanya sejak mereka keluar dari LIME.

Micky terpekur. Mengingat kebodohannya untuk menepati janjinya kepada Yunna. Micky tidak menghubungi Yunna. Dia juga tidak mencaritahu bagaimana keadaan perempuan itu sejak Micky menginggal Yunna di Jepang.

Micky menajamkan kupingnya untuk mendengarkan suara rerporter lebih jelas.

“Kim Yunna bersama CLEO&Co melansirkan produk pakaian prianya hari ini. Dengan mengandeng designer asal New York. Mister Jacobi. Clothing line ini akan membawa angin segar di dunia fashion Korea. Mari kita saksikan beberapa contoh pakaian CLEO&Co.” suara musik mengisi latar belakang. “Kemeja casual berubah menjadi fashionable ditangan Mister Jacobi. Betul-betul cocok dengan semangat musim semi.”

Micky ingin berlari dan ikut menonton. Micky rindu padanya.

Damn, ternyata empat bulan masih belum cukup untuknya melupakan perasaannya pada Yunna. Seluruh sel dalam Tubuh Micky serasa kembali hidup saat ia mendengar suara Yunna. Micky bahkan bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri yang mendadak bergerak lebih cepat.

Damn, I love her. damn! Damn! Damn!

Micky berlari keluar dan mematung ketika melihat bukan Jack yang berada di sana.

Ricky, adiknyayang ternyata sekarang berambut gondrong sebahu sedang duduk di depan TV. Micky berjalan perlahan dan ikut duduk di samping Ricky. Ia tidak percaya adiknya yang sedang duduk di sampingnya sampai Ricky bersuara dan menepuk pundaknya.

“Menurutmu kalau aku menjadi model akan berhasil tidak?”

Pertanyaan yang aneh dan tidak mampu dicerna oleh Micky. Jadi alih-alih Micky menjawab, ia malah bertanya balik, “Sejak kapan kamu ada di sini?”

“Hyung, aku akan menganggapmu gila kalau seandainya aku tidak mengingat berapa banyak botol wine yang kita habiskan semalam.” jawab ricky cuek, ia berdiri dan mengikuti cara model-model di TV berjalan.

Micky baru teringat. Kemarin adiknya itu muncul di rumahnya bersama Mama. Malam-malam pula, berikut koper besar mereka. Micky tidak terlalu ingat reaksi dia seperti apa semalam. Ia sudah setengah mabuk.

“Since when did you get foxed with wine?” tanya Ricky dengan bahasa inggris yang fasih.

Mendadak perut Micky merasa mual dan ia segera berlari ke dapur, memuntahkan isi putnya. Dirasakannya punggung Micky ditepuk-tepuk dan dipijit.

“Mulai sekarang kamu harus membatasi jumlah alkohol yang kamu minum, Yoochuna. Mama tidak mau melihat kamu masuk rumah sakit.” ucap Mama Micky penuh kasih.

Micky ingin menangis saat itu juga. Ia menangis. Rasanya sudah puluhan tahun ia tidak pernah mendengar suara Mama memanggilnya seperti itu. Rasanya serperti ribuan tahun sejak seseorang membelaimya penuh kasih seperti yang Mama lakukan sekarang.

Satu jam berikutnya, Micky dan Jack duduk di Ruang tamu, mendengarkan kisah Mama dan ricky.

“Jadi koki baru itu muncul begitu saja suatu pagi dan minta dipekerjakan oleh Tante Grace secara gratis?” tanya Micky tidak percaya.

“Well, he’s handsome as hell if you wanna take it into account. And You know, Grace. Lagipula, ternyata koki itu jago sekali. Masakannya membuat Han Il Kwan lebih ramai dari sebelum-sebelumnya.” semprot Ricky senang.

“Berhenti memanggil Grace hanya dengan namanya, Yoo hwana. Kita sudah di korea sekarang.” tegur Mama. “benar kata Adikmu. Koki itu hebat sekali.”

Micky tidak tahu apa yang membuat cerita Mama terdengar tidak masuk akal. Yang jelas batinnya tidak terima urusan kepulangan Mama berakhir semudah ini.

“Kenapa dia mau dibayar gratis kalau dia sehebat itu?” tanya Micky skeptis.

“Dia sudah jatuh cinta sejak pandangan pertama melihat Grace dan begitu melihat iklan di depan restaurant kita. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut.” tandas Mama.

Baiklah, setidaknya itu menjelaskan sedikit ketidak masuk akalan cerita ini, tante Grace walaupun berusia 40an, badannya masih seseksi Demi Moore. Mungkin Micky saja yang terlalu curiga.

Jack menepuk pundak Micky. “Aku punya berita baik untukmu. Kemarin aku berhasil meyakinkan pihak Jepang untuk menerima kita dalam naungan mereka. Kita bisa kembali bernyanyi bulan depan. Semua masalah ktia selesai.”

Micky membisu.

Benarkah semua masalah terselesaikan? Lalu kenapa ia tidak bisa tersenyum lega? Kenapa rasanya ada sebuah batu besar mendesak di dadanya dan membuatnya ingin berteriak? Kenapa Micky malah merasa hampa?

Micky menukikan bibirnya tipis. Kemudian kembali ke dalam kamar. Kalau ada satu hal yang bisa membantunya berpikir lebih jernih. Maka musik adalah jawabannya.

Begitu menedngar suara keyboard berkumbandang dari kamar Micky, Jack tidak perlu bersikap malu-malu lagi sekarang.

“Kim Yunna yang mengirim koki itu dan meyakinkan tante Grace kan?” tuding Jack tepat sasaran. Wajah Mama Micky sampai pucat pasi mendengar tuduhannya. “Tenang aku tidak akan membocorkan rahasia ini.”

“Sebetulnya siapa Kim Yunna ini? Kenapa dia mau membantu kami?” tanya Mama Micky. Dia tidak menyembunyikan rasa penasarannya. Sejak dia pulang kemarin ia berharap bisa menemukan seseroang yang menjelaskan siapa Kim Yunna selain fakta bahwa perempuan itu sangat kaya dan memiliki perusahaan fashion terkenal di Korea Selatan.

“Sepertinya kita harus pindah ke tempat lain. Aku tidak mau Micky mendengar pembicaraan ini.” pinta Jack.

Akhirnya mereka keluar dan pergi ker restauran nenek Micky. Di ruang VIP tersebut, Jack memaparkan semua informasi yang ia tahu. Dari awal pertemuan sampai taruhan Micky yang berakhir dengan menyakitkan.

“Dia perempuan yang sama dengan yang di TV tadi.” jawab Jack saat ditanyanoleh Ricky mengenai penampilan Yunna.

Ricky bersiul panjang, “Tidak herang, hyung seperti orang kehilangan nyawanya. Kalau kau yang patah hati, aku pasti sudah terjun darinlantai 30 atau pergi berlutut di depan rumah perempuan itu sampai dia menerimaku kembali.”

Jawaban Ricky menerima dua tanggapan berbeda. Cubitan dari Mamanya dan tawa dari Jack.

“Masalahnya tidak sesederhana itu. Yunna tidak bersedia bertemu dengan Micky lagi.dan abangmu itu punya sindrom pria gentlement. Sekali berjanji dia akan menepatinya sejmur hidupnya.”

Ricky tertawa mendengar penyataan Jack yang sulit dipercaya namun nyata. Abangnya itu memang punya sindrom Mr.Gentleman yang akut, kronis malah.

“Jadi maksudmu sebetulnya mereka sama-sama cinta tapi keras kepala?” tanya Mama Micky gusar.

“Pastilah Ma. Kalau tidak mana mungkin Kim Yunna ini membantu kita untuk kembali ke Korea? Atau menurut tebakanku Kim Yunna ini juga yang membantu Jack untuk mendapatkan kontrak di Jepang itu.”

Mama Micky membelalakan matanya, sedetik ia meraskan kerunyaman urusan cinta anaknya ini. Ia menyesali ketidak hadiran dirinya di samping Micky. Kalau saja dia tidak meminta Micky untuk membawanya pulang, anak ya tidak perrlu terlibat dengan perempuan itu.

Sedikit banyak Mama Micky merasa bertanggung jawab sudah membuat anaknya menderita. Jadi begitu Jack berkata dia ingin mengatur pertemuan Micky dengan Yunna, Mama Micky langsung mengajukan diri untuk membantu.

Tapi membairkan Micky berhubungan dengan perempuan nekad seperti Yunna juga bukan hal baik.

• – • – • – • – • – • – • – • – • – • – •

Di tempat lain, tak jauh dari restauran Nenek Micky. Seorang perempuan duduk ngan tangan bersilang di dada dan wajah cemberut.

“Big, sampai kapan kamu akan menahanku di sini?” omel Yunna. Sudah dua jam ia duduk di depan dokter ahli gizi dan 2 jam ini juga Yunna menolak untuk diberi suntikan.

“Sampai kamu menyerahkan tanganmu pada dokter itu dan mendapat suntikan.” balas Big tidak kalah galak. Ia sudah cape melihat tingkah pola Yunna yang semakin hari semakin membuatnya khawatir.

Mungkin tidak ada yang mengetahui perubahan fisik Yunna yang semakin kurus dan lemah. Tapi Big tidak bisa dikelabui ngan dandanan Yunna yang semakin tebal dan pakaian berlapis-lapis yang dikenakan perempuan itu

“Big, sebagai majikanmu, aku memerintahkanmu untuk mengurus urusanmu sendiri.”

“Sebagai pengawalmu, kamu adalah urusanku!”

Yunna memutar tubuhnya sambil tetap melipat kedua tangannya dengan erat, marah.

Big menguncang tubuh Yunna, “Stop membuat tubuhnya menderita. Aku tahu kamu hanya berusaha melupakan dia. Tapi jika kamu tidak sanggup, aku bisa menyeret laki-laki itu detik ini juga. Sudah cukup aku melihatmu mengancurkan dirimu sendiri.”

Yunna menekan kedua bibirnya, menahan tangis. Yunna benci Big yang sok ikut campur. Yunna benci pada Big yang berkata jujur. Tapi Yunna tetap tidak akan mengakuinya. “Dia masa lalu. Sama sepertimu.”

Ganti Big yang terperangah.

“Benar Big. Aku membebaskanmu dari tugas. kamu boleh pulang ke rumahmu, pensiun atau bekerja untuk oppa. Aku tidak peduli. Aku tidak butuh pengawal sok tahu sepertimu.”

Big melepaskan Yunna, anti mencambak rambutnya yang pendek. “Kamu membuat aku gila.” Big mengacungkan jarinya ke wajah Yunna. “Baik, kalau kamu ingin menyingkirkan aku. Tidak masalah. Tapi biar aku beritahu satu hal. Kamu salah. Micky tidak pernah menjadi masa lalu kamu. Karena kamu terus menyeretnya dalam benakmu. Karena kamu terus memanggilnya dalam tidurmu. Karena kamu terus mencintainya. ”

Suara Big semakin besar, “Kamu pergi ke Amerika ddengan menyodorkan koki keluargamu pada Tante Micky hanya untuk membawa keluarganya pulang. Kamu pergi ke Jepang dan memohon-mohon pada Artic untuk menerima Micky dan teman-temannya sampai tidak tidur berhari-hari.”

Big menatap Yunna membalas tatapannay dengan pandangan kosong. Padangan yang selama 4 bulan ini big lihat dari mata Yunna, jika Yunna tidak memikirkan Micky.

“tadinya aku pikir kamu akan berhenti setelah puas menebus dirimu dengan membantunya diam-diam.” dengus Big. “tapi kemudian, kamu mulai lembur gila-gilaan. Aku sampai harus menyelamatkan anak buahmu dari dirimu sendiri. Jadi kalau kamu mau aku berhenti. Dengan senang hati akan aku lakukan.”

Yunna menarik baju Big saat pengawalnya itu menghampiri pintu. Yunna menyandarkan keningnya ke punggung Big yang lebar dan menangis sesegukan. “Maaf.” bisik Yunna berulang kali.

Pundak Big diturunkan, ia memutar tubuhnya dan memeluk Yunna. “Berhenti membuatku khawatir ok. jadi anak baik dan terima suntikannya.”

Buuk.

Yunna menendang perut Big sekuat tenaga, melepaskan diri dari pelukan pengawalnya itu dan kabur keluar dari klinik tersebut.

Yunna tidak ingin mendengar semua ucapan Big. Yunna tidak mau mendengar ia sudah mengacau. Hidupnya baik-baik saja walaupun tanpa tawa. Hidupnya berjalan deengan normal walaupun hatinya kering kerontang.

Saat Micky menghilang dari hidupnya. Laki-laki itu sudah membawa kabur jiwanya, tawanya, hatinya. Saat pagi datang dan Yunna sibuk bekerja, kerinduannya bisa lebih ditekan. Segalanya memburuk saat Yunna sendirian. Ia tidak bisa berhenti memikirkan Micky. Senyumnya, leluconnya, tawanya, wajahnya.

Big benar, yunna selalu menyeret bayangan Micky dalam hidupnya. Kalau dia ingin menghentikan kegilaan ini, Yunna harus bertemu dengan Micky. Meluruskan kesalah pahaman mereka.

Tidak sampai sepuluh langkah. yunna berhenti.

Apa yang dia pikirkan, apa yang bisa ia daapt dari menemui Micky? Mereka tetap tidak mungkin bersama. Orang tuanya tetap tidak akan setuju. Micky tetap tidak akan mengereti dirinya dan yunna tidak akan bersama dengan pria yang kurang dari itu.

Yunna memutar badannya, kembali ke ruangan dokter gizi tadi dan menemukan Big sedang diurus oleh sang dokter cantik.

Yunna mengulurkan tangannya, “Silahkan suntik.”

Big mengunakan sepuluh detik berikutnya untuk memarahi Yunna dan melihat Yunna hanya diam mendengarkan Big kembali khawatir. Tapi kemudian, ia melihat binar mata Yunna yang selama ini menghilang dan Big berteriak. “Uri Yunna sudah kembali.”

Yunna kembali melanyangkan tinjunya ke perut Big. Lupa kalau tangan itu baru saja disuntik, alhasil Yunna berteriak kesakitan dan dihadiahi ceramah panjang sang dokter gizi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s