Damn, I love you – chapter 27

Kamar hotel yang Yunna tempati lebih tepat disebut sebagai cottage suite. Dengan dapur pribadi, jaccuzi dan ruang tamu. Yunna tidak mengubris semua kemewahan kamarnya. Ia melepas kimono dengan susah payah. Harusnya ia meminta seseorang membantunya. Kepalanya terasa pening dan tubuhnya lelah.

Setelah berhasil mencopot seluruh pakaiannya, Yunna membalut tubuhnya dengan yukata pendek dan langsung merebahkan diri ke atas ranjang. Ia pasti sakit. Harusnya Yunna tidak memaksakan diri berangkat ke Tokyo di musimk dingin seperti ini tanpa Big. Tubuhnya terlalu rentan untuk menhadapi cuaca dingin di Jepang.

Yunna mengatur nafasnya, berharap ia tidak jatuh sakit. Ia ingin secepatnya menyelesaikan tugasnya di Jepang.

Ia melirik jam di meja. Pukul 3. Masih satu jam lagi sebelum pesta usai dan Micky menyusulnya ke sini. Yunna yakin laki-laki itu pasti akan menyusul kemari untuk memarahinyae, like about, now.

Suara pintu digedor mengumandang ke penjuru kamarnya. Membuat Yunna tersenyum walaupun sakit kepala. Yunna membuka pintunya sambil memgomel, “Kamu tidak bisa membiarkan aku sendirian?”

Yunna menggigit vivirnya saat melihat bukan Micky yang berdiri di sana.

“Menilai dari raut wajahmu, kamu pasti berharap Micky yang datang.” tutur Philip yang bersender di bingkai pintu kamar Yunna. “Boleh masuk.”

Philip tersenyum tipis ketika melihat Yunna membuka pintunya lebih lebar dan sengaja tidak menutupnya kembali setelah ia masuk ke dalam. “Jangan takut, Micky tidak akan terlalu lama. Dia hanya sedang dikerumuni oleh fansnya. Harusnya kamu tidak pergi secepat ini. Kamu melewatkan pertunjukan yang menarik.”

Yunna menjawab dengan senyum, kepalnya semakin pening. Ia tidak bisa menyimak ucapan Philip dengan baik. Hanya samar-samar.

“Aku berharap Mama sudah menyampaikan padamu, tapi melihat kamu membawa Micky ke sini, aku rasa kamu belum mendengarnya.” Philip berlutut di depan bangku Yunna, “Yunbi, maukah kamu menikah denganku? Aku sudah menyukaimu sejak kita kecil, sejak kamu menyelamatkan aku dulu. Aku mengurungkan diri untuk menghampirimu sampai saat ini karena aku berharap aku bisa menjadi laki-laki yang pantas untukmu.”

Philip mengenggam jemari Yunna lebih erat. “Hotel ini aku bangun untukmu. Kamu masih ingat dengan gambar yang kamu buat dulu.” philip mengeluarkan kertas gambar yang sudah usang.

Sebuah gambar rumah yang persis dengan kamar Yunna. Letak kamar, dapur sampai ke jacuzzinya. Coretan tangan khas anak kecil.

Yunna memandangi kertas itu nanar. Pandangannya sudah semakin kabur, hingga akhirnya kepala Yunna terjatuh ke bahu Philip. Philip berpikir kalau Yunna sedang terharu, ia balas memeluk Yunna dan membelai punggung Yunna yang terasa basah.

“Yunna? Yunbi ya?” Philip menegakkan tubuh Yunna dan tersadar kalau tubuh Yunna basah oleh keringat. “Kamu sakit?”

Yunna mengeleng, berbohong. Ia bahkan tidak sanggup duduk dengan tegap. Kepalanya terasa ingin pecah. Dengan segenap kekuatan yang bisa Yunna kumpulkan, ia berkata. “Aku baru melepas kimono. Jadi basah kuyup.” Yunna menyematkan senyum menenangkan Philip. “Nanti malam mau Skiing? Aku sudah membuat jadwal dengan instruktur lokal.”

“Kamu yakin?”

Yunna mengangguk dan berdiri, namun kembali terhuyung dan Philip kembali menangkapnya.

“Thank you.” bisik Yunna, “Sepertinya aku sudah tidak terbiasa mengenakan pakaian ketat.” gurau Yunna.

Philip membantu Yunna berdiri, ia tahu Yunna sedang berbohong tapi dia tidak bisa melakukan sesuatu jika Yunna terus menerus berpura-pura dia baik-baik saja. Jadi philip ikut tertawa. “Jam 6 bagaimana? Kamu tahu aku ini rabun senja. terlalu malam berada di tempat gelap sama saja dengan orang buta.”

Yunna memaksakan dirinya tertawa dengan natural. “Masa sih? Kalau begitu aku akan menjagamu nanti. tenang saja. You can always count on me.”

“Yunbi-ya, kamu tidak sengaja menghindar dari lamaranku kan?”

Yunna termenung sesaat, ia lupa kalau tadi Philip sedang melamarnya. Yunna melemparkan senyum kemah, “You don’t know me well to wed me, Hyukie-ya.”

Gantian Philip yang tersenyum. “Mungkin, tapi kamu tahu aku calon suami paling tepat untukmu kan?”

Yunna tertawa melihat kepercayaan diri Philip. Mengapa semua laki-laki yang mendekatinya merasa mereka tahu apa yang terbaik untuknya? Apa dia terlihat seperti perempuan tak berotak yang tidak bisa memutuskan sesuatu?

“Entahlah, aku memilih untuk menunda mengikat diriku dalam pernikahan selama mungkin. Aku masih 25 tahun, for Godshake. Why can you take it slow?”

“Jadi kamu bersedia mempertimbangkan?” Philip sudah menduga kalau hubungan Yunna dengan Micky itu hanya rekayasa. Philip hanya tidak berpikir, Yunna akan mengakuinya.

“Kenapa tidak?” jawab Yunna pendek, kepalanya semakin berdenyut. Ia berjalan ke mini bar dan menegak air dari botolnya langsung. Sekilas ia melihat ada seseorang berdiri di dekat pintunya. Yunna tidak yakin, dengan pandangan kaburnya, segala hal menjadi begitu muram.

“Jadi kamu dan Micky?”

“Aku serius dengannya.”

Dahi Philip mengerut tidak mengerti ucapan Yunna. Jangan-jangan perempuan itu betul-betul sakit sampai bicara melantur. “Tapi kamu bersedia mempertimbangkan aku?”

“Tentu saja. Kamu anak MyeongRan, pemilik pengeburan kapal dan puluhan hotel yang bertebar di seluruh dunia. Tentu aku harus mempertimbangkanmu.”

Philip tergelak, dasar Yunna. Bisa saja dia bercanda di saat seperti ini.

“Jadi kamu mempertimbangkan aku karena statusku?” tanya Philip berusaha mengerti jalan pikiran Yunna.

Yunna mengangguk, tindakan yang salah besar. Kepalanya seperti dihantam bogem mentah. “Tentu saja. Jika aku menikah, pasanganku harus membawa nilai tambah bagi perusahaanku. Kalau bukan material maka immaterial.”

Philip menepuk kedua pahanya dan bangkit berdiri. Ucapan Yunna sudah menyinggung harga dirinya. Ia tidak menyangka Yunna berubah menjadi perempuan praktis yang sinis.

“Kalau kamu memutuskan untuk tidak jadi ikut bermain ski, aku mengeti.” ujar Yunna ketika Philip berdiri di ambang pintunya.

“Aku akan tetap ikut.” jawab Philip. Ia memutar badannya dan bertanya, “kalau aku hanya sebuah pertimbangan, lalu apa arti Micky bagimu?”

Yunna tertegun. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Baginya, Micky itu boleh ada boleh tidak. Yunna sendiri tidak tahu apa arti Micky. Yunna hanya tahu ia menjauhkan diri dari Micky secepatnya.

“Mungkin aku harus melihat sendiri untuk mengerti? Karena kamu sepertinya tidak tahu mau menempatkan dia dimana.”

Yunna memandangi, pintu yang ditutup oleh Philip. Tampaknya ia sudah membangunkan singa tidur. Pertanyaan Philip tadi membuatnya resah. Kenapa ia tidak bisa menjawab edngan gamblang siapa Micky untuknya? Bukankah sudah jelas Micky hanya laki-laki yang numpang lewat dalam hidupnya? Seseorang yang sama-sama suka melakukan permainan cinta? Partner in crime?

Kenapa mendadak segalanya ia merasa bersalah pada Micky karena sudah memperalat hubungan mereka untuk membuat Philip mundur?

Yunna menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Lebih baik ia mengunakan waktu beberapa jam ini untuk beristirahat.

Dalam tidurnya Yunna bermimpi Micky duduk di sampingnya dan mengelus kepalanya.

Yunna tersenyum dalam mimpinya, “Jangan pergi.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s