Damn, I love you – chapter 28

Pukul 5 kurang lima belas menit. yunna berdiri di depan kios peminjaman alar ski. Ia memilih peralatan berwarna pink yang norak. Yunna memerlukan sesuatu yang mencolok untuk mengalihkan perhatiannya dan tentu saja untuk memperlancar misi tersembunyinya.

Ia menyapa Keiko yang muncul dengan anak Fox-T. Yunna tidak berani berbicara dengan Micky terlalu banyak. Perasaan tegang dan kepala pusingnya sudah cukup membuat Yunna merasa kalut.

“Kita akan dipandu oleh Tachibana-san.” Yunna memperkenalkan pelatih ski. “Kita siap berangkat begitu Philip tiba.”

“Kamu mengajak dia?” tanya Micky sinis.

“Tentu saja. Dia temanku.” jawab Yunna santai. Semakin Micky sinis kepadanya, semakin baik. Artinya ia semakin dekat dengan tujuannya. Walau hatinya merasa sakit mendengar cara Micky berbicara padanya.

Philip tiba dengan berpakaian ski engkap. Termasuk mengunakan topi dan kacamat rayband khas skier.

“Bagus. Semua sudah lengkap.” ucap Yunna dan ia memimpin rombangan bersama Tachibana. Sepanjang perjalanan ke dengan cable car, Yunna membisu.

Pikirannya sibuk dengan segala rencana miliknya sendiri. Kembali memperhitungkan resiko dan rintanan yang akan ia hadapi seandainya ia gagal meluncur dan mendarat dengan selamat.

Yunna memutuskan untuk meluncur dari tebing tertinggi area ski. Tachibana memberitahunya kalau mereka tidka boleh melewati batas merah yang terbentang di sisi kanan are luncur. Daah tersebut yang akan menjadi tujuan Yunna.

Tadinya ia tidak mau melakukan sesuatu yang berisko maut, tapi yunna harus merubah strateginya saat mendengar Philip rabun senja. Yunna tidak mungkin bisa menyingkirkan
Philip hanya dengan menganggak status Micky atau menunjukan kedekatannya dengan pria lain. Latar belakang dan status Philip membuat laki-laki itu jauh lebih unggul daripada pria lainnya.

Hanya ada satu cara untuk menyingkirkan Philip dan Yunna berharap sekaligus Micky juga. Ia akan membuat dua laki-laki sadar kalau tidak ada satupun diantara mereka yang menginginkan seorang istri yang nekad dirinya. Tidak satu pun dari mereka yang mau memiliki seorang istri yang tidak bisa dikontrol oleh mereka.

Yunna menurunkan kacamata ski dan mengambil ancang-ancang untuk turun dari cable car. Ia sudah melihat garis merah pembatas area yan gditujunya.

Tidak mempedulikan teriakan Tachibana dan Keiko. Yunna melompat dan mendarat dedngan sukses di atas salju.

“Damn it.” teriak Micky. Ia segera menyusul Yunna.

Dia terlambat selangkah. Yunna sudah berada jauh di depannya. Micky mengayuh papan ski dan sticknya dengan lancar. Micky sudah menguasai skiing sejak ia rremaja. Ajdi menembus hujan salju dan tanjakan terjal bukan masalh untuknya.

Sedari tadi, Micky sudah memperhatikan tindak tanduk Yunna. Ia memiliki firasat jika Yunna akan melakukan sesuatu yang nekad. Yunna terlalu diam semenjak mereka tiba di hotel. Yunna juga menolak untuk bertukar pandang dengannya dan berada di sisinya terlalu lama.

Micky melihat jaket shocking pink yang dikenakan oleh Yunna melesat dengan cepat di depannya. Jaraknya sekitar 20 meter.

Ia bersyukur Yunna mengenakan pakaian dan peralatan yang mencolok mata. Membuat Micky lebih mudah mengikuti perempuan itu.

Saat ia berhasil menjajarkan dirinya dengan Yunna, Micky berteriak, “Kamu sudah gila? Meloncat turun seperti tadi.”

Micky bisa melihat Yunna mendengus dibalik muffler yang dikenakan Yunna. Heran, bagaimana ia mengerti Yunna sebaik dirinya sendiri.

“Kita akan mati konyol kalau tidak segera kembali.” micky berhenti di ddepan Yunna, menghalangi perempuan itu melajukan tongkatnya.

Micky tidak tahu bagaimana ia bisa membaca raut wajah Yunna dari balik pakaian dan kacamata skinya. Tapi ia bisa melihat Yunna menatapnya.

Sesirat pransangka merayapi Micky, “Kamu sengaja. Kamu sengaja turun dari cable car untuk mengetahui siapa yang akan menyusulmu kan? Kamu sengaja memancing calon tunanganmu untuk berbuat nekad. Kamu pasti menyesal melihat aku yang menyusulmu kemari.”

Meliaht Yunna hanya mematung mendengar tuduhannya. Amarah Micky memuncak. “Aku tidak pernah berkomentar saat kamu memojokkan Pak Simon untuk menandatangi kontraknya. Aku tidak mengeluh saat kamu menyuruh kami naik ke atas panggung dan mempermalukan Tante MyeongRan. Tapi aku marah sekarang, Yunna. Aku tidak suka kamu mempertaruhkan keselamatanmu hanya untuk membuat Philip mundur.”

Yunna tetap mematung.

Kesadaran lain sampai di benak Micky. Yunna juga melakukan aksi berbahaya ini untuk membuatnya marah. Semua demi taruhan konyol mereka.

Cukup sudah, Micky tidak akan membiarkan Yunna bertindak bodoh hanya untuk membuat dia menjauh. Micky akan mundur dengan sekarang. Sebelum Yunna melakukan kebodohan lainnya, seperti menerrjang jurang.

“Kalau kamu berniat membuatku tidak menyukai padamu. Kamu berhasil. Aku tidak akan muncul lagi di hadapanmu.”

Micky mengayuh tongkat sticknya dan melewati Yunna. Micky tidak mau tahu lagi. Terserah Yunna, dia mau berbuat apa sekarang. Micky tidak akan meladeninya lagi.

Saat ia tiba di puncak bukit, Ben segera menyambutnya. “Maaf aku tidak menyusulmu. Ada insiden kecil. Philip terkilir.”

Micky melihat kerumunan di bangku tunggu. Kaki Philip sedang dipijit oleh Tachibana dan Keiko memegangi perban putih. Teman-temannya segera menghampirinya saat menyadari Micky sudah tiba.

“Gila, waktu kamu lompat tadi, jantungku nyaris copot.” seru Max. “Aku pikir kamu takut ketinggian? Atau phobia itu tidak berlaku di sini?”

Micky tertegun. Benar, ia lupa sama sekali dengan ketakutannya. Sejak ia menaiki cable car, Micky berusaha tidak melihat ke bawah. Oleh sebab itu juga ia terrus memerhatikan gerak gerik Yunna.

“Dimana Yunna?” tanya Keiko bergabung dedngan mereka. “Kamu tidak meninggalkan dia di tengah badai kan?”

Micky menoleh keluar jendela. Nyaris tidak ada yang terlihat selain bayangan putih dan semburan salju.

Panik dan kalut, Micky segara berjalan kembali ke pintu keluar, dia sudah memasang papan seluncurnya kembali ke kakinya saat ia melihat sepatu shocking pink muncul di hadapannya.

Micky mendongkak dan melihat Yunna masih dalam pakaian lengkap. Kacamata rayband masih terpasang di matanya, tapi muffler dan jaket tebal sudah dicopot Yunna.

“Kamu bersungguh-sungguh dengan ucapanmu?”

Micky tidak perlu bertanya ucapan mana yang sedang dipertanyakan oleh Yunna. Ia ingin mencekik perempuan itu karena sudah membuatnya khawatir bahkan saat ia memutuskan untuk menjauhi Yunna.

Micky mengangguk, lebih baik mempertahankan kebisuannya daripada ia menyemburkan kalimat kepeduliannya pada Yunna. Perempuan itu memintanya untuk berhenti dengan segala cara. Akan terlalu kejam jika Micky tidak menuruti keinginan Yunna seteah perempuan itu mempertaruhkan nyawanya sendiri.

“Jadi kamu akan menghilang begitu saja?” ulang Yunna.

Micky kembali mengangguk. Perasaan tercekat di keronggannya semakin menjadi. Sedikit lagi ia akan mengalami serangan asma. Lebih baik segera menyingkir dari ini.

“Sekedar untuk informasi. Aku pemain ski profesional. Kamu tidak seharusnya mengkhawatirkan keselamatanku.”

Emosi Micky kembali naik ke permukaan. “Dan untuk informasimu, kamu sudah membuat Philip terkilir karena dia ingin mengejarmu. Aku ucapkan selamat padamu karena sudah membaut dua cowok menunjukan kepeduliannya.”

“Dua cowok yang tidak aku harapkan.” tandas Yunna tidak kalah sengit. Ia harus melemparkan semua racunnya untuk memastikan Micky menghilang.

“Well, kamu boleh sedikit merasa lega. Tidak tahu dengan dia, tapi aku tidak akan peduli padamu lagi.” balas Micky.

Kalau saja Micky menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang. Dia akan melihat Yunna jatuh tersungkur.

Pingsan.

Sayang Micky dan keempat temannya sudah masuk ke dalam cable car dan menuju hotel. Sepanjang perjalanan, Micky tidak bersuara. Amarah melumat dirinya sampai habis. Tidak pernah terlintas dalam otakmya bahwa Yunna akan menghalalkan segala cara untuk membuktikan ucapannya.

“Kita akan pulang? Dengan apa?” tanya Jack realistis. Walau dia amelihat pertengkaran Micky dan Yunna. Ia tidak mengerti apa yang diributkan pasangan itu. Bukankah Micky sudah tahu kalau Yunna itu ekstrimis? Dan bukankah Micky juga tahu Yunna itu penyuka segala olaraga ekstrim? Atau temannya ini terlalu larut dalam pikirannya sendiri hingga kehilangan akal saat melihat Yunna menghilang dibalik hujan salju, berpikir bahwa Yunna akan tersesat dan mati kedinginan?

“Aku akan mengurus tiket pulang kita.” ucap Micky geram. Ia lebih ingin membungkam mulutnya dan minum sampai mabuk. Untuk melupakan semua kekacauan ini.

Tadi Micky terlalu emosi hingga kelepasan mengatakan bahwa dia tidak ingin melihat Yunna lagi. Micky termakan ucapan Yunna.

“Ky, aku rasa kita harus memikirkan baik-baik masalah ini. Pak Simon tidak akan senang mendegnar kita sudah menyingung perasan Yunna.” tutur Alex, diluar konteks. Namun tetap masuk akal.

Micky terdiam. “Aku akan mengurusnya. Semua ini karena taruhan bodoh itu!” serunya semakin geram.

Micky menceritakan semua dalam satu tarikan nafas. Berharap teman-temannya itu memberi masukan berarti. Bukannya malah membuat perasaannya semakin campur aduk. Antara marah, dan menyesal. Dua kombinasi terburuk yang membuat kepala Micky ingin meledak.

“Kenapa dia berusaha sekeras itu untuk melenyapkanmu?” tanya Ben naif.

“Karena tidak ada masa depan untuk hubungan kami, Ben. Atau kamu lupa aku hanya penyanyi miskin yang mengharapkan belas kasih Pak Simon untuk bertahan hidup?”

Jack tidak setuju dengan klaim yang dikemukan Micky. Semua orang tahu seberapa keras usaha mereka untuk menaikan citra dan penghasilan Afox-T dua tahun terakhir ini. Yang paling penting, Jack tahu Yunna tidak memandang rendah Micky atau dirinya atau teman-temannya.

“Lalu kamu menyerah begitu saja?” tegur Jack masam. “Kemana playboy kita yang mengaku sanggup membuat Medusa memenggal kepala ya sendiri?”

“Playboy itu pualng sebelum dirinya berubah menjadi patung penghias taman.” jawaab Micky lunglai.

Tidak ada yang berani menanggapi Micky. Kondisi Micky terlalu menyedihkan hingga tidak lagi sanggup mereka lihat. Teman-temannya hanya berharap semua pengorbanan Micky membuahkan hasil.

Entah apa yang akan Micky lakukan jika dia harus kehilangan kesempatan untuk membawa pulang orang tuanya setelah kehilangan cinta dalam hidupnya.

Karena itulah arti Yunna bagi Micky. Perempuan itu adalah cinta dalam hidupnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s