Damn, I love you – chapter 30 (reviewed)

Hari ini genap 26 tahun usia Yunna. Tidak ada pesta besar-besar. Tidak ada kue tar dan lilin. Langit gelap tak berbintang malam ini. Mungkin Tuhan mengerti kalau Yunna menginginkan kesunyian total. Setelah semua kegagalannya, Yunna merasa ia siap mengakhirinya.

Yunna melirik ke bawah. Permukaan air danau terlihat lebih jauh dari yang Yunna ingat. Tidak apa, Yunna tidak peduli lagi. Dipejamkan matanya dan Yunna melompat turun dari tebing.

Sepuluh detik kemudian, Yunna mendarat di dalam laut dan berteriak girang. “Sekarang giliranmu, Big! Kamu kalah taruhan.”

Yunna sedang kerajinan cliff diving 2 bulan ini. Rangsangan adrenalin yang diberikan saat ia terbang sesaat di udara berhasil membuat Yunna mempertahankan kewarasannya 2 bulan ini. emosi Yunna menjadi lebih stabil dan ia tidka lagi memikirkan Micky.

Yunna memicingkan matanya dan melihat laki-laki berperawakan lebih kecil dari Big, berdiri di tepi jurang dan melompat dari sana.

Rasa ngeri mencengkram Yunna begitu laki-laki itu mendarat tak jauh darinya. Yunna tidak menyangka melihat orang yang melompat lebih seram dari olahraga itu sendiri. Mungkin sebaiknya Yunna segera menyingkir ke tepi danau sebelum Big melompat turun.

Yunna melirik kembali tepi Jurang. Big tidak ada di sana, malah beberapa orang berkumpul di sekitar mulut jurang itu dan menunjuk-nunjuk ke bawah.

Rasanya Yunna menddenger teriakan Keiko. Tapi mana mungkin sahabatnya itu ada di sini? Kei kan tidak suka olahraga ekstrim.

Jantung Yunna menderap lebih cepat saat Yunna yakin kupingnya tidak salah mendengar. Keiko berteriak sekuat tenaga kepadanya.

“Apa?” balas Yunna berteriak.

Kali ini tidak hanya suara perempuan yang berteriak ke arahnya, tapi juga suara laki-laki. Percuma, Yunna tetap tidak bisa mendengar dengan jelas teriakan mereka.

Yunna memutar tubuhnya, siap berenang menuju tepi danau. Lebih baik ia segera naik dan bertanya apa mau mereka. Sesosok tubuh laki-laki menghalanginya.

Dalam kegelapan, Yunna tidak bisa melihat ngan jelas wajah orang itu. Tapi Yunna masih mengingat dengan jelas suaranya.

“Mereka bilang, kita harus berbicara sampai tuntas.” ucap Micky.

Kalau tadi Yunna hanya berdebar-debar. Sekarang Yunna tidak lagi bisa merasakan jantungnya.

Micky berenang menarik Yunna yang sedang bengong ke tepi danau. Terlalu melelahkan untuknya berbicara sambil berenang seperti ini. Belum lagi detak jantung yang berpacu akibat ia melompati tepi jurang itu. Micky sang acrophobia, melompati jurang setinggi 15 meter untuk berbicara dengan Yunna.

Sampai di tepi danau, Micky berdiri menyilangkan tangan di dada, memandangi wajah kaget Yunna. Micky mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi Yunna. Memastikan perempuan itu nyata berdiri di hadapannya. Setengah tahun berpisah dengan Yunna, rupanya tidak membuat tubuhnya lupa pada perempuan itu.

Micky tetap berubah menjadi bodoh dan tidak mampu berkata-kata. Micky hanya mampu mengarahkan tangannya untuk merapikan rambut basah Yunna agar terselip rapi di balik telinga. Rambut Yunna lebih panjang sekarang, sudah melewati bahu. Micky ingin melihat rambut itu dalam terang, apa masih sendah yang Micky ingat.

Hanyut dalam pikirannya sendiri, membuat Micky tidak sadar akan perubahaan mimik Yunna.

Yunna mundur beberapa langkah dari Micky dan berlari menuju jalan raya. Yunna tidak ingin bertemu dengan Micky. Dia tidak siap bertemu dengan laki-laki itu sekarang. Yunna tidak mau bertemu dengannya kapanpun juga dan mengalami kegilaan lagi.

Sudah cukup apa yang Yunna rasakan setengah tahun ini. Perasaan hampa dan tertinggal. Perasaan rindu tak terujung. Yunna tidak ingin merasakan semua itu kembali. Yunna baru saja merasa lebih baik hari ini. Yunna baru saja merasa hidup kembali.

Dia tidak ingin kehilangan apa pun yang berhasil ia kumpulkan setengah tahun ini untuk hidup.

“Saranghae” ujar Micky tahu-tahu sudah menyusul dan memeluk Yunna dari belakang.

“Lepaskan aku.” ujar Yunna panik, ia berusaha melepaskan diri tapi Micky memeluknya dengan erat termasuk dua tangannya.

“Tidak. aku pernah melakukannya sekali dan dibutuhkan 4 bulan bagiku untuk sadar kalau aku sudah kehilangan hal terpenting dalam hidupku. 2 bulan lagi untuk melacak keberadaanmu. Jadi jangan memintaku untuk melepaskanmu.”

Bukannya tersentuh oleh ucapan Micky, Yunna malah menyikut perut Micky dan mencolok dada telanjang Micky dengan telunjuk. “Jangan membohongiku! Kamu” satu tusukan, “tidak” satu tusukan lagi. “mungkin!” tusukan lain. “mencariku.” tusukan terakhir terasa lebih menyakinkan karena Yunna mengerahkan seluruh kekuatannya.

Yunna membalikan badannya dan berjalan dengan cepat kembali menuju jalan raya. Dia melihat mobil Big dan Keiko keluar dari mobil itu bersama kelaurga Micky dan teman-temannya.

Oh, Yunna mengerti sekarang. Pantas saja Micky mendatanginya, laki-laki itubpasti mendengar apa yang telah ia lakukan untuknya dan memutuskan untuk meminta maaf dengan mengatakan Micky mencintainya.

Geram akan ketololan Micky, Yunna membalikan badannya dan menghampiri Micky kembali yang terduduk di tempat Yunna meninggalkannya tadi.

“Kamu datang karena orang tuamu kan?” melihat Micky tidak menjawab, Yunna melanjutkan cercaannya, “Aku sudah menduga. Tapi asal kamu tahu saja, aku tidak membawa keluargamu kembali karena kamu. aku melakukan investasi besar di Han Il Kwan dan mamamu sedikit banyak menjadi penghalang di sana.”

“Dia tidak tahu soal itu.” teriak Jack tahu-tahu sudah berdiri di belakang Yunna.

“Oh? Kalau begitu dia mendengar soal Kontrak kita?” dengus Yunna, “Aku pikir kamu tipe orang yang bisa menjaga mulutmu, Jack.”

Jack mengeleng lagi. Membuat Yunna semakin bingung.

“Lalu kenapa dia bisa ada di sini? Setelah, ” yunna mengeluarkan jarinya untuk menghitung. Pura-pura tentunya karena Yunna masih mengingat dengan jelas kapan terakhir kalinya ia bertemu dengan Micky.”6, 7 bulan?”

“Damn it, I say I love you, Yunna! Apa itu tidak cukup menjelaskan kehadiranku di sini? Aku tidak bisa hidup tanpamu. Oh, dunia tetap berputar. Walau tidak ke arah yang aku inginkan. Tapi di sini, ” Micky menunjuk dadanya. “Mati. Kosong. Hampa. Orang berkata kamu tidak tahu apa yang kamu punya sampai kamu kehilangannya. Aku tahu aku kehilanganmu. Apa kamu tahu apa yang hilang dalam hidupmu, Yunna?”

Yunna mengigit bibirnya, tubuhnya gemetar oleh amarah dan perasaan sesak. Yunna ingin memukuli Micky sampai puas sekaligus memeluk laki-laki itu karena sudah kembali kepadanya.

“Percuma, Yoochuna. Orang tuaku tetap tidak akan menyetujui hubungan kita.” jawab Yunna lirih, ia masuk ke dalam mobil dan mengunci dirinya di dalam sana. Dibiarkannya Big mengurus Micky yang terus mendesak untuk diberi kesempatan untuk berbicara dengan Yunna.

Yunna melipat kakinya dan menunduk. Ia menangis dan terus menangis meski Big sudah menjalankan mobil mereka dan Micky sudah tidak ada terlihat.

Saat mereka tiba di rumah. Yunna sudah tertidur dengan air mata yang membasahi pipinya.

Big membopong Yunna hingga ke kamarnya dan menutup pintu tersebut. Kemudian dia duduk merenung sampai Keiko pulang dan menegurnya.

“Tadi” ucap Keiko ragu. Ia takut menyebutkan kekacauan di pinggir danau kepada Big. Rasanya Keiko sudah memperkeruh keadaan dengan mempertemukan Yunna pada Micky.

“Dia…” Big menghela nafas berat. “Jangan pernah lagi memintaku untuk mempertemukan mereka, Kei. Kondisi Yunna baru saja membaik. Bagaiana kalau…” Big memijit keningnya, menekan-nekan uratnya yang tegang, “Bagaimana kalau dia memutuskan untuk melakukan hal yang lebih berbahaya lagi dari lompat tebing ini?”

Big menatap Keiko dengan mata lelahnya, “AKu tidak yakin aku sanggup kehilangan dia. Lebih baik aku bunuh sekalian Micky jadi laki-laki itu tidak akan muncul di hadapan Yunna.”

“Yunna akan membenimua jika kamu sampai membuatnya terluka barang serambut pun.” ucap Keiko sama lelahnya. Leluconnya tidak terdengar lucu kali ini.

Keiko menghepaskan tubuhnya di samping Big. Keiko perlu melepaskan ketegangannya juga. “Aku minta maaf Big. Aku pikir kita bisa membuat Yunna kembali ceria dengan mempertemukan mereka. Mereka saling mencintai, kamu tahu itu kan?”

Big mengangguk. Ia tahu. Sangat mengerti. Tapi lalu apa? Cinta mereka tidak mungkin bersatu. Sama seperti dirinya dulu yang ditolak oleh Papa Yunna. Micky tidak akan memiliki kesempatan untuk membuktikan dirinya. Selamanya mereka harus memendam cinta mereka dan tidak bisa saling memiliki.

Seandainya saja ada sesuatu yang bisa dilakukan Micky untuk meyakinkan Papa Yunna, Big akan membantunya. Big ingin melihat Yunna bahagia.

Big membuka matanya. Sebuah ide cemerlang muncul di benaknya.

Ada. Ada satu hal yang dimiliki Micky yang akan membuat papa Yunna mempertimbangkan laki-laki itu. Satu hal yang dimiliki oleh Micky dan tidak olehnya.

“Kei, kamu bisa mengumpulkan Micky dan teman-temannya besok? Aku punya berita baik untuknya.”

Ucapan yang segera ditanggapi oleh Keiko dengan senyuman khas miliknya, senyum penuh harapan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s