Damn, I love you – chapter 32

Micky mengecek jam untuk memastikan dia tidak salah waktu. Menurut informasi dari Keiko, Yunna selesai meeting 10 menit yang lalu. Micky meremas dadanya. Sial, jantungnya berdebar terlalu kencang.

Walau Micky berikut mobil merah mencoloknya terlindung dengan ddengan baik di balik didnding gedung perkantoran. Tetap saja Ia mereasa panik dan takut. Sedikit-sedikit Micky terkejut ketika mendengar bunyi langkah orang. micky membayangkan petugas keamanan menghampirinya dan mengadukannya kepada Yunna. Mengagalkan seluruh rencananya.

Micky mengibas kedua tangannya, berusaha menenangkan pikirannya. Yunna akan muncul sebentar lagi dan ia harus berhasil menculik Yunna dalam satu serangan. Semoga saja Jack berhasil menahan Big sesuai dengan rencana mereka atau Micky harus melawan Big terlebih dahulu.

Micky menundukan kepalanya di balik kemudi ketika melihat bayangan Yunna di area lobby.

Damn, Micky umurnya seperti dipotong sepuluh tahun. Ampun deh, cukup sekali ini Micky menculik seseorang. Dia tidak mau lagi melakukan kejahatan lain.

Jantungnya tidak cukup kuat menahan beban mental dan ketegangan.

Ini dia kesempatan Micky, Yunna melewati lobby seorang diri.

Dia mengambil nafas panjang dan segera memacu mobilnya menghampiri Yunna. Mobil ferarri merah itu berdecit kencang ketika Micky memaksa kendaraannya berhenti di depan Yunna. Dalam tiga hitungan, Micky mendorong Yunna masuk ke dalam mobilnya dan menculik perempuan itu.

“Kamu gila ya?” omel Yunna ketika ia melihat oran gyang telah berani menculiknya di tempat terbuka.

“Maaf tapi aku perlu berbicara denganmu.”

“Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Micky-ah. Semua sudah selesai.”

“Belum. Kita belum usai, Yunna. Aku tidak menerima penolakanmu.” tantang Micky. Ia melajukan mobilnya secepat kilat, takut Yunna akan memutuskan untuk meloncat keluar dari mobil. Yunna bisa senekad itu bukan?

Micky tidak tahu, ia tidak yakin bagaimana perasaan Yunna saat ini. Oh, Yunna tetap terlihat setenang orang yang akan pergi jalan-jalan. Tidak ada rasa panik, ataupun takut terpampang di wajah Yunna.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Micky retorikal. Lagi-lagi otaknya mempermainkan dirinya.

Yunna mendecis. “Baik. Terlepas pada kenyataan bahwa saat ini aku sedang diculikoleh mantan pacarku.”

Micky meringkis menddengar humor Yunna. Sial, perempuan ini tidak akan memberinya kesempatan untuk membela diri ya?

“Maaf deh. Tapi aku sudah kehabisan ide. Kamu terus menolak untuk menemuiku”

“Untuk alasan yang baik.” tandas Yunna acuh.

Micky menhela nafas lelah. Cape juga berbicara dengan orang bebal. “Begini saja. Kamu janji untuk menemaniku hari ini. Pasang senyummu dan aku akan pergi selamanya. Aku tidak akan muncul lagi.”

“Kayaknya dulu kamu pernah ngomong begitu.”

“Aku tahu. Tapi salahku yah kalau aku terlalu mencintaimu hingga tidak ingin kehilangamu? Aku tidak ingin menyesal karena tidak berjuang sekuat tenagaku untuk meyakinkanmu, Yunna. Setidaknya jika setelah hari ini kamu masih berpikir untuk tidak menerimaku. Aku pasrah.”

Yunna mendengus masam dan mengunci mulutnya. Ia tidak ingin lagi berbicara pada laki-laki gila itu.

Laki-laki gila yang dicintainya.

Seulas senyum tipis mencuat di bibir Yunna namun ia buru-buru menghapusnya. yunna tidak ingin Micky menyadari betapa sedang dirinya melihat Micky mau berbuat nekad untuknya.

Micky berani menculiknya, melakukan kejahatan yang melanggar hukum hanya untuk berbicara dengan Yunna. Coba kapan lagi Yunna bisa melihat Micky yang gila?

“Ngomong dong. jangan diam saja.” panggil Micky. Membuat Yunna menahan tawanya.

Gawat, Yunna harus memikirkan sesuatu atau dia akan mulai tertawa cekikikan karena tidak tahan melihat wajah memelas Micky.

“Aku menemukan nama panggilan yang pas untukmu. Nuna!” ucap Micky mantap.

Ledekan yang langsung dibalas oleh Yunna dengan tinju ke lengan Micky. “Sial, aku cuma beda satu tahun darimu. Kenapa memanggilku, nuna!”

Micky tertawa, “Tetap saja kamu lebih tua. nuna.” Micky sengaja menekankan kata nuna. Memancing amarah Yunna.

“Yaa!Kamu, gila ya? Cari ribut, ya? Dasar micky mouse.”

“Nuna jelek.”

“Tikus dekil.”

“Nenek tua.”

“Binatang pengerat.”

“Nae sarang.” kekasihku ucap Micky.

Yunna mengigit bibirnya. Sialan, Yunna harus membalas apa sekarang? Laki-laki itu memang buaya darat. Paling bisa membaut jantungnya berdebar-debar tidak karuan.

Sebentar marah, sebentar sedih dan detik berikutnya membuat Yunna tersipu malu.

“Janji jangan marah dan tetap memasang senyummu.” ucap Micky ketika mereka berhenti di depan rumah yunna.

Sebuah rumah besar di atas bukit yang pekarangannya saja memakan lahan puluhan meter.

Micky menekan bel intercom dan menyebutkan namanya. “Park Yoochun dan Kim Yunna.”

Pintunbesi tersebut terebuka otomatis dan mobil Micky mengelinding pelan masuk.

Advertisements

One thought on “Damn, I love you – chapter 32

  1. Pingback: Damn, I Love You – Synopsis and Links « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s