Damn, I love you – chapter 33

Yunna turun dari mobil Micky dengan wajah tenang namun tak diragukan lagi, sesungguhnya Yunna marah besar pada Micky. Micky sudah kurang ajar mencampuri urusannya dengan orang tuanya.

Ada alasan mengapa Yunna tidak berani menemui orang tuanya akhir-akhir ini. Yunna takut orang tuanya mengetahui betapa buruk kondisinya saat ini. Yunna tidak ingin membuat mereka khawatir. Namun sepertinya baik dia datang atau absen dari peredaran keluarganya, mereka tetap khawatir, ya.

Yunna penasaran apa yang dijanjikan oleh Papa atau Mama pada Micky sampai membuat laki-laki ini menculiknya kemari.

Perasaan terkesan dan haru yang tadi Yunna rasakan untuk Micky, pupus sudah. Micky ternyata mengincar ikan kakap besar.

Papa Yunna melebarkan kedua tangannya, siap memeluk Yunna ketika melihat putrinya turun dari mobil Micky. Tapi Yunna hanya memberinya pelukan singkat dan tidak antusias, lalu langsung masuk ke dalam rumah dan duduk di meja makan.

Meja memang sudah terisi penuh dengan masakan kesukaan Yunna. Mama Yunna sengaja memasaknya untuk menyambut putrinya dan ‘calon menantunya’.

Papa Yunna mengangguk kecil tanda setuju pada Micky dan mereka masuk ke dalam rumah juga. Lumayan juga laki-laki itu bisa membawa Yunna kemari. Berdasarkan laporan yang ia terima, Micky menculik Yunna kemari?

Papa Yunna terkesan, amat terkesan. Mungkinkah Micky mampu mengontrol Yunna? Tidak terlalu kelewatan jika ia memberi tes terakhir untuknya kan?

Setelah mereka semua duduk di meja makan, dan memulai makanan pembuka. Papa Yunna menyadari Yunna dan Micky sedang bertengkar. Dua anak itu tidak saling berbicara.

Kebetulan sekali, pikir Papa Yunna. Dia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menguji Micky dan Yunna. “Yoochun-ah, terima kasih sudah membawa Yunna ke sini. Saya akan mengabulkan permintaan anda. 200 Juta Won akan ditransferkan ke rekening anda selesai makan malam.”

Papa Yunna menahan geliat tawa di pipinya ketika melihat Yunna mendelik terkejut. Bagus-bagus, pikir Papa Yunna dalam hati. Anaknya yang keras kepala itu ternyata masih menyimpan hati pada Micky. Sekarang dia ingin mendengar apa yang akan dikatakan Micky jika ia menjelek-jelekan nama Yunna.

“Kamu menerima uang untuk membawaku ke sini? Jadi sekarang kamu berubah menjadi orang materialistik?” tegur Yunna sengit.

“Aku tidak. Om, aku tidak pernah meminta uang untuk ini. Aku hanya meminta restu om untuk berpacaran dengan Yunna. Tolong Om, jelaskan pada Yunna.”

“Aku tidak mungkin salah ingat. Kamu menawarkan untuk membawa Yunna kemari dan saya akan membantu. Kamu sedang kekurangan uangkan?”

Micky memijit keningnya, astaga kenapa situasi jadi rumit begini. Ia melihat mata Yunna berkilat membencinya.

“Yunna, kamu tahu aku tidak mungkin meminta uang. Aku tidak pernah kekurangan uang. Aku memiliki saham di restauran keluargaku yang memberi lebih dari cukup untuk biaya hidup sampai aku kembali berdiri di atas panggung. Seandainya pun aku tidak bisa kembali benyanyi sudah ada banyak tawaran drama dan aku tinggal memilih salah satunya. Aku tidak butuh uang dari ayahmu. Semua ini hanya salah paham.”

“Aku tidak percaya. Aku tidak pernah mendengar mengenai sahammu di Han Il Kwan. Dan Papa tidak mungkin berbohong. Sekarang aku mengerti kenapa kamu ingin aku kembali. Kamu pasti berharap aku akan memberimu job setelah menjadi pacarku kan?”

Micky menjengut rambutnya kesal. “Yunna, coba lihat mataku dan baca apa aku sedang berbohong atau tidak. aku mencintaimu. Dulu ataupun sekarang. Aku mencintaimu. Aku mencintamu bukan karena kamu orang kaya, memiliki perusahan besar atau anak politisi berpengaruh.” Micky memegang kedua pundak Yunna dan mencengkramnya, “Aku mencintaimu karena kamu perempuan paling menyebalkan yang membuatku tidak bisa tidur jika belum mendengar suaramu. Aku mencintaimu karena kamu membuat aku merasa terpenuhi. Aku mencintai emosimu yang meledak-ledak. Aku tetap mencintai saat kamu melakukan cliff diving. Membuat aku menemukan keberanian untuk melawan acrophobiaku. Aku mencintaimu saat kamu mau membela teman-temanku dan aku mencintaimu karena kamu, Yunna dan aku tidak mau hidup tanpamu.”

Yunna tertegun. Lagi-lagi Micky menyerangnya dengan rentetan pernyataan cinta. Kalau saat ini Yunna tidak luluh maka dia adalah perempuan paling tolol sedunia dan dia akan kehilangan pria yang paling mencintainya dalam hidup ini.

“Kamu takut ketinggian?”

Micky mendesah, dari semua ucapannya, Yunna malah memilih untuk membahas kelemahannya. Tapi apa pilihan Micky selain menganggup dan mengakuinya.

“Kamu tidak meminta uang 200 juta pada Papa?”

Kali ini Micky mengerang dan menatap Yunna memperingati. Perempuan itu tersenyum jahil padanya dan Micky merasa perjuangannya telah selesai.

“Jadi kenapa Papa bilang seperti itu?” tanya Yunna pada Papanya yang sudah tersenyum semuringah pada mereka.

“Karena anakku. Papa bosan diacuhkan olehmu. Papa juga bosan makan malam berduaan dengan Mama saja. Papa mau anak Papa dan calon menantu Papa setidaknya seminggu sekali duduk di sini dan makan bersama.”

Yunna mencibir, “Tidak mungkin. Yoochun itu sibuk, begitu juga aku. Setahun sekali saja.”

Rasa senang Micky melambung tinggi ketika Yunna menyebut nama Koreanya lagi. Sudah dua kali, entah Yunna sadar atau tidak. Dengan euforia serupa, Micky kembali berjanji pada Papa Yunna. Dia akan melakukan apa saja yang diminta orang tua itu. Karena tanpa jasanya Yunna masih akan tetap memasang tampang cemberut dan menjauhinya.

“Kami bersedia datang di semua acara penting keluarga dan aku berjanji akan membawanya pulang menemui Om.”

“Om? Kamu harus memanggilku Papa.”

“Oh, jangan mulai deh…” erang Yunna. dia menunjukan tangannya yang merinding melihat Papa beradu gombal dengan Micky.

Yunna mengulir matanya dan menatap putus asa pada Mama yang sepertinya menikmati interaksi Micky dengan ayahnya itu.

“Suatu saat nanti Yunna, kamu akan belajar lebih mudah memiliki suami mantan perayu. Mereka akan selalu memujamu walau kamu sudah berkeriput dan kamu tidak lagi bisa menemaninya kemana-mana.” bisik Mama Yunna bijaksana.

Yunna cuma bisa memutar bola matanya mendengar nasehat tersebut.

Advertisements
Posted in Uncategorized

One thought on “Damn, I love you – chapter 33

  1. Pingback: Damn, I Love You – Synopsis and Links « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s