Damn, I love you – chapter 34

Mereka telah kembali ke rumah Yunna setelah makan malam heboh itu. Micky berdiri di taman gantung, persis di dekat ayunan. Melihat pemandangan Seoul di malam hari. Kilau lampu di ujung mata dan kerlip bintang di langit sana.

Yunna tidak menjelaskan mengapa Micky diundang masuk ke rumahnya kali ini. Micky juga tidak bertanya sebab ia sudah terbiasa dengan sikap Yunna yang seenaknya. Paling-paling Yunna ingin menanyainya lebih rinci mengenai apa yang ia lakukan hingga orang tua Yunna bersedia memberikan restu mereka.

Micky tersenyum, well, i love her damn enough to make me jump off the roof. Kalau itu yang dibutuhkan. Bersikap jujur lebih mudah dibanding menyerahkan hidupnya.

“Kopi?” sodor Yunna yang sudah muncul kembali dengan pakaian rumah.

Kaos singlet basket berwarna merah dan celana pendek. Tubuh Yunna menebarkan wangi mawar.

“Kamu sudah mandi?”

“Kamu menunggu lama ya?”

“Tidak juga, aku sedang menikmati pemandangan itu. Mungkin aku harus mencari rumah baru yang pemandangannya semenakjubkan ini.”

Yunna duduk di ayunan dan ikut memandangi cahaya kota yang berwarna-warni itu. Sudah lama Yunna tidak duduk diam dan menikmati malam. Akhir-akhir in Yunna sibuk melarikan diri dari rumah, kantor, dari semua tempat yang pernah didatangi Micky.

Micky bergabung dengannya, menyesap kopi dengan berisik.

“Toffe Nut Latte? Darimana kamu tahu aku suka minuman ini?”

“Aku mendengar salah satu lagumu.”

Micky terkekeh, “Jadi kamu tidak sepenuhnya menghindari aku?”

“Lagumu itu diputar dimana-mana. Mau menghindar juga susah.” omel Yunna malu.

Micky meletakan tangannya di sandaran ayunan. Menikmati waktunya bersama Yunna. Ia ingin memeluk perempuan di sampingnya itu tapi Micky takut Yunna belum memaafkan dirinya.

“Jadi kamu mencintaiku?” tanya Yunna tiba-tiba.

“Sejak pertama kali aku melihatmu.”

“Pertama kali bertemu? Di peluncuran itu?”

“Bukan, aku melihatmu pertama kali saat hujan deras. Kamu berdiri di pinggir jalan, menatap langit dan tersenyum seakan mensyukuri hujan itu.”

Dahi Yunna mengerut, sekali ini ia tidak merasa Micky sedang mencoba untuk merayunya. Tapi ia tidak bisa mengingat kapan kejadian itu.

“Kamu tidak melihatku. Aku berada di dalam mobil saat itu. Berlindung dari hujan. Aku ini benci sekali berbasah-basah, tapi melihat kamu saat itu. Aku berubah menjadi pencinta hujan.”

Yunna membisu, sekali ini ia tidak bisa mengomeli Micky karena kembali mengucapkan kalimat-kalimat gombal. Yunna merasakan ketulusan dari ucapan Micky.

Micky merengkuh jemari Yunna dan mengusapnya pelan. “Kamu masih marah padaku?”

Yunna hanya bisa mengeleng. Ia memandangi mata Micky yang menatapnya lekat. Membuat perutnya bergeleyar panas.

“Aku serius saat mengatakan aku ingin menikah denganmu. Mungkin tidak sekarang tapi Kamu mau mempertimbangkannya?”

Micky mendekatkan tubuhnya dan merengkuh pipi Yunna. Membelai kulit lembut perempuan itu. Setiap jemarinya bisa merasakan aliran panas di tubuh Yunna saat ia menelusuri tengkuk dan pundak polos Yunna.

Micky menurunkan kepalanya dan mengecup pundak tersebut, “You’re lovely.” bisiknya. Dari sana Micky mengecup leher, kuping, pipi dan memutar tubuh Yunna agar menghadap kepadanya.

Mengecup bibir Yunna kembali. Micky mencium dengan perlahan, seakan tidak ingi kehilangan satu momen pun darinya. Setiap sentuhan dilakukannya untuk memuja Yunna. Dadanya bergemeruh, betapa ia merindukan Yunna. Betapa ia menginginkan perempuan itu berada dalam pelukannya kembali.

Geramannya dijawab dengan erangan Yunna. Dan itu cukup membuat Micky mengila. Ia merengkuh belakang kepala Yunna, meloloskan jari-jarinya di antara rambut Yunna, memosisikan tubuh mereka untuk memudahkannya mencium lebih dalam lagi. Seolah akan menelannya, seolah tidak pernah puas.

Ia mendorong tubuh Yunna agar rebah di ayunan dan memosiskan tubuhnya di atasnya. Dada mereka semakin menghimpit. Kelembutan bertemu dengan kehangatan.

Micky kembali mengerang saat Yunna menyusupkan jemarinya ke punggung Micky, mengelusnya naik turun.

Ciuman Micky mendadak menjadi buas, ia memainkan lidahnya untuk mendesak Yunna menyambutnya dan saat perempuan itu mengabulkannya, Micky mengambil semua yang ditawarkan padanya.

Ia membelai betis, paha dan menyusupkan tangannya ke balik kaos Yunna.

“Kamu yakin?” tanya Micky serak, pandangan matanta tidak lepas dari mata Yunna. Ia perlu tahu Yunna tidak akan menolaknya. Tidak saat kontrol dirinya berada di ambang batas.

“Aku akan membunuhmu jika kamu tidak melanjutkannya.”

Dan lepas sudah pertahanan Micky. Ia mengendong Yunna ke kamar dan merebahkan perempuan itu ke atas ranjang. Micky lanjut mencium Yunna.

Yunna-nya.

Micky terbangun saat ia mendengar gemuruh hujan. Ia terkejut mendapati ada seseorang yang tidur di sampingnya.

Ia memandangi wajah Yunna yang masih tertidur pulas dan mengecup hodung perempuan itu. Tidak ada wanita yang secantik Yunna-nya. “Damn, I love you.” bisik Micky.

“Damn, I love you, too.” balas Yunna.

Micky melonjak kaget dan jatuh terguling ke bawah ranjang. Tidak menyangka Yunna sudah terbangun dan mendengarnya.

“Kamu tidak apa?” tanya Yunna yang sekarang setengah terduduk. Ia lupa kalau ia masih belum mengenakan pakaiannya kembali begitu juga dengan Micky. Sepertinya hal itu juga disadari oleh Micky karena Yunna melihat bukti gairah laki-laki itu.

Spontan Yunna kembali berteriak dan menutupi wajahnya dengan selimut.

Advertisements

One thought on “Damn, I love you – chapter 34

  1. Pingback: Damn, I Love You – Synopsis and Links « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s