Damn, I miss you – Prologue

Di sebuah kedai kopi daerah Dongdaemun.

Jack menghempaskan tubuhnya, dengan terengah-engah dia meminta maaf keterlambatannya. “Maaf, jalanan macet.”

Keiko memasang tampang cemberut. “Bisa tidak sekali saja kamu menepati janji kita?”

“Aku sudah meminta maaf kan? Kamu tahu jadwalku super padat.” bantah Jack

“Aku tidak mau mendengar keluhanmu. Seharusnya kamu tahu betapa pentingnya hari ini.”

“Makanya aku berusaha untuk datang. Kamu pikir aku akan membatalkan janjiku dengan anak-anak kalau tidak karena kamu yang meminta?”

“Oh, jadi sekarang aku yang memintamu datang?” sengit Keiko.

“Kamu ingin aku bagaimana? Aku sudah datang, kenapa masih saja marah?”

Keiko melipat tangan di dada dan berdiri. Sudah cukup omong kosong ini. “Dasar gila!”

“Aku yang seharusnya bilang begitu!” marah Jack tidak mau kalah. Dia menarik tangan pacarnya, mantan pacarnya dan mengeluarkan cincin berlian yang ia berikan.

EunSoo membelalakan mata tidak percaya dan menyiram gelas Jack, namun gagal. Isi gelas itu malah mengenai perempuan yang duduk di belakang Jack.

“Waeeeee!” teriak Keiko dan memutar badannya dan mendelik kesal pada pasangan di belakangnya itu.

Ia siap berdiri dan melabrak mereka jika saja pasangan itu tidak kembali bertengkar.

Oppa harusnya membelaku dan bukannya berdiri di pojokan dan menertawaiku.” teriak EunSoo kesal. “Kita putus.” seru EunSoo dan menunggu Jack mengatakan sesuatu.

Saat Jack hanya memasang tampang nosan, Eun Soo kembali berteriak. “Kamu tidak membantahnya?”

“Untuk apa? Kalau mau putus ya putus saja.” jawab Jack santai, ia malah melepaskan hoodie dan memberikannya ke Keiko. “Diganti dulu saja dengan ini. Lalu ini kartu namaku. Aku akan membayar biaya laundrynya.”

Keiko menerima kartu nama tersebut dan membaca nama Jackson Kim. Berikut nomor telepon. Tidak ada keterangan apa pekerjaan pria itu.

Tapi Keiko rasa tidak perlu juga. Semua orang pasti mengenali wajah tampan Jack kemanapun dia pergi. Sebab Jack itu penyanyi kondang yang tergabung dalam grup Fox-T.

Keiko hendak memasukkan kartu nama tersebut ke dalam kantung jasnya saat ia teringat kalau ia harus melepaskan blazer basahnya itu. Yogi mengambil kartu nama itu dari Keiko, “Biar aku yang simpan. Kamu ganti dulu pakaianmu.”

Jack melihat Keiko tersenyum pada Yogi dan mendadak timbul perasaan iri dalam hatinya. Jack tidak pernah melihat senyum seperti itu dari pacar-pacarnya. Yang ada mereka hanya cemberut kesal padanya.

“Sekarang kamu bermain mata dengan perempuan lain? Teriak Eun Soo memekikkan telinga. Membuat perhatian kembali padanya.

“Kita sudah putuskan? Apalagi sih yang kamu ributkan?” tutur Jack bosan dengan teriakan Eun Soo.

Dalam hati Jack bingung, kenapa setiap kali ia berpacaran perempuan-perempuan itu berubah menjadi ular berbisa yang baru puas jika sudah membuatnya sesak nafas. Dibiarkannya EunSoo mengambek seorang diri.

Jack malah lebih suka memperhatikan gadis yang tersiram tadi. Perempuan itu sudah duduk kembali ke mejanya tapi dari posisi duduknya, Jack bisa mendengarkan dengan baik pembicaraan mereka.

Keiko yang mengenakan hoodie dari Jack. Duduk kembali dan mengomel, “Oppa hanya akan diam saja? Cih, Aku mulai bertanya-tanya apa yang dilihat unni dari oppa. Mungkin aku harus memberitahu unni kalau suaminya itu laki-laki payah. Barangkali saja unni mau menceraikan oppa.”

Yogi menyeringai, “Oppa akan dengan senang hati membiarkanmu melakukan hal itu. Tapi aku ragu, kamu bisa merubah pendirian Michi.”

“Cih, jadi sekarang gimana? Aku tidak mungkin mengatur ulang janji temu dengan catering untuk hari ini. Dan unni akan membunuh oppa jika oppa tidak berhasil mendapatkan catering yang dia minta.”

Yogi tertawa, “Tadinya aku bingung kenapa Michi menyuruhmu yang mengurus ulang tahun anak kami. Tapi sepertinya kakakmu itu sudah menemukan orang yang tepat.”

Lagi-lagi Keiko mencibir malas, dia sama sekali tidak senang dimintai tolong oleh unni.

“Sudahlah, biar aku yang mengurusnya nanti. Sekarang, kita nonton yuk. Oppa mendapatkan tiket musikal yang kamu mau.”

Keiko memekik gembira ketika melihat tiket Mozart yang dikipas oleh Yogi. “Dapat darimana? Bukannya tiketnya sudah sold out?”

“Truce?”

Keiko terkekeh. “Belum, oppa harus membelikan aku handphone yang sama dengan Oppa. Baru aku memaafkan oppa.”

Jack tersenyum, sepertinya pasangan di belakangnya ini bukan sepasang kekasih seperti yang diduganya.

Oppa betul-betul kelewatan.” teriak EunSoo dan ia berlari meninggalkan meja.

Jack hanya berdiri menghampiri Keiko serta Yogi lagi. “Saya belum menerima kartu namamu.”

“Kamu tidak akan menyusul pacarmu?” tanya Yogi pada Jack.

Jack mengibas tangannya cuek, “Biarkan saja.” ia menjulurkan tangannya meminta kartu nama dari Keiko yang dibalas dengan lirikan bingung dari perempuan itu. “Kartu nama?”

Keiko memutar bola matanya dan balas mengibas tangannya, “Sudahlah. Aku tidak akan memusingkan hal sepele seperti itu. Sebaiknya kamu segera keluar. Pacarmu menyeramkan.”

Ucap Keiko menunjuk EunSoo yang berdiri di balik kaca cafe dan melemparkan tatapan membunuh kepada Keiko.

Keiko, Yogi dan Jack sama-sama memandangi EunSoo dan seakan bekum puas membuat keributan. EunSoo menghantam spion mobil Jack dengan tasnya.

Spion Audi R4 itu mendarat ke trotoar dengan suara nyaring.

Puas akan hasil karyanya, EunSoo menantang Jack dengan menyeringai dan mengacungkan jari tengahnya ke Jack sebelum berjalan pergi bak model

“Masih tidak akan mengerjarnya?” tanya Keiko masih terpana melihat kekasaran pacar Jack itu.

Yogi mengeluarkan kartu namanya kepada Jack. “Barangkali kamu memerlukan pengacara untuk menuntut dia, saya bisa membantu.” tawar Yogi.

Oppa!” erang Keiko malu.

Jack menerima kartu nama itu dan buru-buru keluar dari itu dan menilai kerusakan yang telah dilakukan oleh EunSoo. Dasar perempuan gila, Jack tidak akan mencari dia walaupun hanya untuk minta ganti rugi. Lebih baik ia menganti seluruh nomor telepon dan pindah rumah dibanding ditoror oleh perempuan gila itu lagi.

Di dalam cafe, Keiko dan Yogi masih memperhatikan Jack. Mereka tidak bisa tidak membicarakan mereka.

“Kira-kira dia akan menuntut?”

Oppa pesimis. Tapi lebih baik dia tahu oppa akan membantunya jika dia berubah pikiran.”

“Aku pikir oppa bercanda.” tutur Keiko, dia masih melihat ke luar kaca. Jack sedang berusaha memasangkan kembali spion tersebut ke mobilnya. Mengundang Keiko untuk tertawa. “Oppa sebentar, biar aku bantu dia.”

Yogi tidak sempat melarang Keiko yang sudah melesat keluar. Dalam hati ia ingin memarahi keramahan Keiko. Padahal ia sudah sengaja menyodorkan kartu namanya untuk menjauhkan Keiko dari pria tampan namun berbahaya itu.

Ia menyusul Keiko keluar.

“Pakai ini untuk sementara.” ucap Keiko menyodorkan lakban hitam dari tas. “Lakukan seperti ini.” ujar Keiko mengambil alih dan menempelkan spion itu dengan sempurna.

“Kei, kalau kita tidak jalan sekarang, kita akan terlambat.” desak Yogi.

Keiko mengangguk dan mengaitkan lengannya ke Yogi. Dan mereka jalan kaki emnuju pelataran parkir.

Jack berdiri di samping mobilnya, memandangi mereka dan tersenyum.

Setidaknya ia tahu nama perempuan itu sekarang.

Walau hanya sepatah, Kei. Nama yang cocok untuknya.

Advertisements

One thought on “Damn, I miss you – Prologue

  1. Pingback: Damn, I Miss You – Synopsis and Links « Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s