Damn, I miss you – chapter 1

Kira-kira 2 jam setelah keributan di depan cafe itu.

Keiko sedang berada di toilet wanita. Padahal adegan sedang seru-serunya. Wolfgang aka mozart dipaksa untuk meninggalkan kekasihnya dan harus pergi ke Salzburg bersama ibunya, hidup dalam kemiskinan.
Keiko pasti sudah menangis jika bukan karena menahan kencing. Buru-buru Keiko mencuci tangannya dan bergegas masuk kembali ke ruang opera.
Keiko celingukan mencari bangkunya, ia menyesal tidak memperhatikan nomor bangku tempatnya duduk tadi. Sekarang ia harus mengandalkan kepala Yogi untuk tahu dimana ia harus duduk.

Melihat sebuah tangan terangkat dan melambai padanya, Keiko segera menghampiri. Dalam keadaan remang-remang seperti itu, dia hanya bisa melihat itu tangan cowok.
“Hampir saja aku tidak bisa kembali.” bisik Keiko ketika duduk kembali ke tempatnya. Matanya langsung memandang ke arah panggung dan menonton aedgan haru lainnya.
Tidak begitu mengerti apa ayng terjadi di sana. Keiko kembali mendempet ke arah Yogi dan bertanya pada iparnya itu.
“Aku kurang tahu. Aku juga baru tiba.”
Keiko segera menengok, dan memekik, “Kamu!” serta merta Keiko membungkam mulutnya sendiri dan kembali berbisik pada laki-laki yang tersenyum mentertawainya itu, “Maaf, aku salah bangku.”
“Ssst… Tidak apa duduk saja di sini, kosong kok.”
“Tidak bisa, nanti oppa mencariku.”
“Kamu yakin bisa menemukan dia?”
Keiko mengedarkan pandangannya dan menunduk, “Ngak tahu dimana. Susah cari dia.”
“Susah di sini saja, nanti selesai Act 1, aku akan menemanimu mencarinya.”
Tidak ada pilihan, Keiko duduk di samping Jack dan kembali larut menonton pertunjukan di hadapannya.
Jack, yang sudah 3 kali menonton pertunjukan Mozart ini memfokuskan dirinya untuk memperhatikan perempuan di sampingnya.
Jack tidak percaya dengan sebuah kebetulan. Tapi apa yang terjadi saat ini membuktikan kebetulan itu memang ada.
Kei, perempuan itu ternyata sangat konsentrasi jika sedang melakukan sesuatu. Sepanjang pertunjukan tidak sekalipun Kei ini menoleh kembali padanya. Hanyut dalam nyanyian dan akting para aktornya.
Jack memakluminya, Ben memang tampil prima malam ini. Walaupun masih terdengar sedikit serak – suara Ben sedikit pecah akibat saat latihan terlalu sering memaksakan diri. Ben lupa kalau dia bernyanyi seriosa bukan nada-nada pop seperti lagu-lagu mereka yang biasa. Tapi Ben memang jenius, anak itu bisa menguasai teknik-teknik menyanyi yang memusingkan dalam waktu singkat.
“Ah….” pekik Keiko saat melihat Mozart “Ben” didorong oleh Prince of Vienna.
Jack tersenyum, ia tidak akan menganggu perempuan itu sekarang. Sebentar lagi waktu istirahat. Ia akan bertanya nama lengkap Kei dan berkenalan dengan baik padanya.
“Aaaah….. Jadi Amande itu alter ego Amadeus Mozart….” gugam Keiko ketika Act 1 berakhir.
“Benar, nantinya Amande itu yang mendesak…..”
“Stop, stop, jangan bercerita padaku. Aku mau menontonnya sendiri.”
Jack tertawa. “Jack, Jaejoong kalau kamu ingin mengetahui nama Koreaku.”
Keiko menjabat tangan Jack, “Lee Keiko. Tidak ada nama lain. Kamu sudah nonton berapa kali?”
Jack mengeluarkan 4 jari tangannya dan Keiko kembali memekik heboh.
“Wah…habis berapa duit itu?”
Jack seperti bisa melihat perhitungan di kepala Keiko, dan ia kembali tersenyum, perempuan ini ceria sekali. “Gratis kok. Ben, si mozart memberikannya padaku.”
“Kamu kenal dengan yang memerankan Mozart. Wow! Eh, dia anggota Fox-T juga ya, lupa aku. Titip salam yah, beritahu padanya, ddaebak!”
“Kamu mau bertemu dengannya?”
“Dengan siapa?”
“Dengan Ben.”
Keiko mengibas tangannya, “Tidak perlu, nanti orang-orang melihatku heran. Aku tidak suka menjadi sorotan publik.”
Keiko tahu ia pasti mengejutkan Jack dengan ucapannya. Tidak mungkin seseorang melewatkan kesempatan untuk bertemu dengan artis sepertinya. Tapi orang lain itu bukan Keiko yang sudah sering menjadi korban bulan-bulanan media pers. Keiko sering menjadi korban wawancara karena sahabatnya itu seorang pengusaha sukses, anak politikus dan seorang perempuan yang teramat unik.
Unik karena sebagai pemilik fashion brand Cleo&Co yang terkenal, Yunna–sahabatnya malah selalu menghindari pers. kelangkahan tersebutlah yang menyebabkan pers semakin penasaran dengan Yunna.
Tapi sepertinya Keiko sudah membuat Jack kecewa dengan penolakannya itu. Jack mengacuhkannya sampai akhir Act pertama usai.
“Kamu marah?” tanya Keiko.
“Tidak, aku hanya sedang berpikir bagaimana caranya supaya kamu mau pergi denganku setelah ini.”
Keiko tersipu, dasar. Sepertinya gosip kalau Jack ini perayuukung bukan sekedar kabar burung.
“Cukup bertanya. Setiap pertanyaan pasti memiliki jawaban.”
“Kamu mau pergi minum denganku?” tanya Jack dan ketika melihat Keiko terkekeh, Jack merasa tertipu, “Kamu tidak akan membuatku menunggu jawabanmu kan?”
Keiko mengeleng, “Kenapa minum? Kenapa tidak makan?”
“Kamu mau pergi makan? Mau makan apa? Aku kenal restaurant chige yang enak.”
“Apa kamu selalu berusaha sekeras ini dalam mengejar perempuan?”
“Kalau dibutuhkan.” tutur Jack dengan senyum terbaiknya. “Sepertinya oppa mu berhasil menemukan kita.”
Keiko menoleh dan melihat Yogi menghampirinya. “Oppa, di sini.” Keiko menghampiri Yogi dan menariknya kembali ke bangku Jack. “Lihat aiapa yang berhasil kutenukan.”
Yogi membungkuk sedikit memberi hormat, ia merasa tidak nyaman melihat Keiko bertemu kembali dengan Jack.
“Jangan memelototinya seperti itu, oppa-ya. Justru kita harus berterima kasih karena aku tadi nyasar. Kalau Jack tidak memberikan bangku padaku, aku harus menunggu di luar.”
“Memangnya kamu tidak bisa meneleponku?”
Keiko menepuk jidatnya, lalu memasang tampang lugunya. “Sorry oppa. Maafkan aku juga, Jack. Aku sama sekali tidak terpikir untuk mengunakan handphone.”
“Pasti dia langsung duduk dan menonton sampai matanya mau keluar ya?”
Jack mengangguk dan terkekeh, membuat Keiko bersemu merah.
“Oppa jangan mempermalukan aku dong. Nanti aku beritahu Jack kalau biasanya oppa akan langsung terti….”
“Kamu mau mengajak kemana tadi?” potong Yogi. “Aku kenal tempat minum yang cukup tersembunyi.”
“Ah, paling-paling oppa mengajak kamu ke pub miliknya sendiri.” sambar Keiko meledek Yogi.
“Kamu punya pub?” tanya Jack tertarik. Ia sangat suka minum tapi selama ini sulit sekali menemukan tempat minum yang terlindungi dari publik.
“Cuma bar kecil yang tidak mencolok.”
Jack membaca kartu nama yang dikeluarkan Yogi, K-Bar berlokasi di daerah CheongDam. Melihat dari nomor alamatnas eperetinya bar ini betul-betul tersembunyi.
Lampu kembali diredupkan, tanda babak kedua akan segera dimulai.
“Kalian duduk di sini saja, dua temanku tidak jadi datang jadi tempat ini kosong.”
Yogi berterima kasih dan dengan senang hati duduk VIP seat. Sayang ia tidak bisa duduk di antara Keiko dan jack, tapi dari samping sini seharusnya ia tetap bisa melindungi Keiko dengan baik.
Ia tidak buta dari perhatian yang diberikan Jack pada adik iparnya ini. Ia bersyukur ia menemukan Keiko di saat yang tepat. Atau Kei pasti sudah berjanji untuk pergi berduaan setelah ini. Yogi tidak mungkin membiarkan hal itu terjadi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s