Damn, I Miss You – Chapter 2

Bar kecil yang dimaksud oleh Yogi ternyata terletak di ujung lorong terpencil. Jauh dari pusat keramaian CheongDam. Tampaknya Yogi tidak main-main dengan ketika berkata bar ini adalah tempat rahasia.

Keiko mempersilakan Jack untuk masuk terlebih dahulu kemudian menutup kembali pintu tersebut.

Ruangan itu gelap seketika sampai Yogi menepuk tangannya dua kali dan mendadak lampu laser saling silang menyilang menyala dari langit-langit menunjukan sebuah voyer pendek dengan bangku panjang di kiri kanannya.

Kemudian Jack melihat satu pintu lagi di ujung lorong tersebut. Yogi membuka pintu kaca itu dan sekali lagi menepuk tangannya dua kali.

Bar berdesign etnik Jepang menyambutnya. Dengan bar di tengah ruangan yang berbentuk segitida, ruangan ini persis terbagi tiga. Dua sisi terisi sofa-sofa panjang berwarna hitam yang terlihat nyaman.

Jack memandangi dinding hitam panjang penuh dengan tulisan kanji tidak beraturan yang ternyata terbuat dari mika merah. Jack menduga tulisan-tulisan itu akan menyala jika Yogi menekan tombol khusus.

Tapi yang paling menarik perhatian Jack, ada 6 huruf besar yang memiliki arti berbeda-beda dan cara baca yang berbeda-beda namun memiliki satu kesamaan.

“Menemukan sesuatu yang menarik?” tanya Keiko.

“Aku sedang menebak-nebak apa yang ingin disampaikan kanji-kanji ini…”

“Kamu bisa berbahasa Jepang?”

“Sedikit.”

Keiko tertawa dan menyebutkan satu kalimat pendek, “Keizoku wa chikara nari.”

Jack tidak mengerti.

“Kemampuan bertahan adalah kekuatan.” ulang Keiko dalam bahasa Korea mengira Jack tidak mengerti idiom yang baru saja ia katakan.

“Bukan itu, tapi kamu sadar kalau setidaknya ada 6 huruf di dinding itu yang bisa dibaca Ke.”

“Kalian akan berdiri di sana sepanjang hari atau duduk di sini dan aku bisa mulai membagikan minuman.”

Keiko dan Jack menoleh ke arah Yogi yang sudah berdiri di balik bar dan menuangkan minuman.

Beriringan, Keiko dan Jack duduk di depan bar dan duduk berdampingan.

“Chardonnay untuk Kei.” ucap Yogi dan memberikan segelas minuman kepada Keiko. “Dan kamu?”

“Aku minta Black Label saja.”

Yogi bersiul. “Pilihan yang cukup berat untuk sore hari. Kamu yakin tidak ingin mencoba sesuatu yang lebih ringan?”

Jack tertawa. “Satu gelas tidak akan menyakiti.”

Tidak membantah lebih lanjut, Yogi menuangkan segelas Black Label untuk Jack dan segelas untuk dirinya sendiri.

“Toss.” ucap Keiko dan tiga gelas saling berdenting dan mereka menyesap minuman mereka.

“Kalian sedang apa tadi?” tanya Yogi.

“Dia bingung melihat huruf-huruf kanji yang oppa pasang. Jadi aku berusaha membantunya sedikit.”

“Kanji?? Ah, maksudmu tulisan di dinding itu?” Yogi memasang senyum tipis, “Tadinya aku berpikir untuk menuliskan pepatah pendek di sana, tapi Kei bilang, konsepnya tidak cocok jadi aku memutuskan untuk memasang kanji-kanji itu secara acak. Kamu bisa menebaknya?”

Keiko tertawa, “Maaf oppa, aku sudah membocorkannya tadi.”

“Sebetulnya aku lebih tertarik dengan kanji-kanji yang tidak terpakai dalam pepatah itu.”

“Apa rasanya menjadi artis?” potong Keiko.

Walau merasa aneh dengan pertanyaan Keiko, tapi Jack tetap menjawabnya. “Aku menikmatinya.”

“Benarkah? Kamu tidak stress dikelilingi wartawan atau pengemar kamu?”

“Tanpa mereka aku tidak mungkin ada hari ini.”

Keiko tertawa mendengar jawaban diplomatis Jack. “Kamu pasti sangat mencintai pengemarmu yah. Syukurlah perasaan mereka terbalas.”

“Aku dengar fans bisa sangat royal dalam memberikan hadiah. Pengemarmu juga seperti itu?”

“Oppa, kok nanya begituan sih?” potong Keiko malu. Sedangkan Jack hanya tertawa menanggapi pertanyaan sensitif tersebut.

“Terus terang aku pernah hidup hanya mengandalkan kiriman barang dari mereka. Terutama sebelum debut.” Jack mengedipkan mata ke Keiko, memberitahu perempuan itu kalau ia baik-baik saja.

Yogi yang tidak menyangka Jack akan semudah itu meloloskan diri dari pertanyaannya yang menjebak, tersenyum masam. Tapi kalau dipikir Jack, ia sudah selesai. laki-laki itu salah besar. Ia akan mengunakan kepawaiannya sebagai pengacar di sini. Ia akan membuat Jack mengakui semua keburukannya.

“Kamu pernah tidur dengan mereka?”

Kalau tadi Keiko memekik, sekarang rahang perempuan itu praktis melongo. Ada apa dengan Yogi malam ini?

Ia menghitung dalam hati berapa gelas yang sudah ditenggak Yogi. Seharusnya tidak lebih dari 4. Dan mengenal Yogi, laki-laki itu tidak mungkin mabuk secepat ini.

“Sesudah atau sebelum, aku tahu mereka pengemarku?” Jack balik bertanya. Membuat Keiko kembali terperangah.

Sekali lagi ia menghitung di dalam kepalanya berapa gelas yang sudah ditenggak Jack kali ini.

Setelah kebisuan yang membunuh, akhirnya dua laki-laki itu tertawa berbarengan. Keiko yakin sedikit lagi ia akan mengalami serangan jantung.

“Kamu boleh juga.” aku Yogi akhirnya.

“Percuma aku menjadi lead speaker kalau aku tidak bisa berkelit dari pertanyaan seperti itu.” jawab Jack dan ia menegak isi gelasnya hingga tandas.

Yogi sambil mengisi kembali gelas Jack tertawa lagi.

“Kalau kamu penasaran, aku pernah ….”

“Stop!” pekik Keiko, ia tidak ingin mendengar sepak terjak Jack ataupun membicarakan acara tidur meniduri ini lagi.

“Kenapa Kei? Biasanya kamu tidak ambil pusing membicarakan soal ranjang, penis and sex.” ucap Yogi dan mendenting gelas Keiko dengan gelasnya.

Keiko membuang kepalanya ke belakang, malunya minta ampun. Dari sudut matanya Keiko bisa melihat Jack sedang mentertawainya.

Lebih baik ia keluar dari pada menjadi keledai bodoh.

“No…. Jangan pergi.” ucap Jack menahan lengan Keiko.

Keiko menatap lengan Jack yang entah kenapa terasa panas di lengannya. Tapi mungkin naiknya suhu tubuh mereka lebih disebabkan oleh banyaknya alkohol di dalam darah mereka. Bukan karena hal lain seperti jantung Keiko yang berdebar-debar kencang akibat menerima tatapan membara dari Jack.

Keiko tidak bisa menjelaskan arti pandangan itu selain bahwa Jack amat menginginkannya untuk tetap berada di sana dan berada di tempat lain seperti di atas ranjang.

Bah, ia pasti ikut mabuk malam ini. Sepertinya ada sesuatu di dalam minuman yang Yogi berikan malam ini. Karena belum ada 2 gelas yang Keiko minum dan ia sudah memikirkan hal mesum.

“Duduk lagi ya…” pinta Jack lembut, selembut ular berbisik dan membuat Keiko kembali memikirkan bagaimana rasanya jika Jack berbisik di kupingnya.

“Kalian tidak akan membuatku menjadi penonton kan?” tanya Yogi mencairkan ketegangan. Jika memang ada setruman yang terjadi maka Yogi akan mematahkan aliran itu sebelum terhubung.

Jack menurunkan tangannya dan balik menatap Yogi, mengacungkan gelasnya. “Cheers, Yogi-ssi. Aku tidak berencana melakukan sesuatu pada adikmu ini.”

Yogi menaikan satu alis, dan memberi tatapan jangan-membodohiku-kau-pikir-aku-bodoh.

Jack menegak gelasnya. “Aku serius. Aku tidak mungkin mendengus tulang saat ada anjing yang menjaga.”

Tiba-tiba handphone Jack berdering.

“Maaf, saya angkat ini dulu.”

Keiko memastikan Jack keluar dari bar sebelum ia memelototi Yogi.

Oppa, Kamu kenapa sih?”

“Kenapa? Oppa sudah bilang kalau oppa tidak suka dengan caranya memandangmu. Dia itu serigala berbulu domba, Kei. Memangnya kamu tidak bisa membedakan mana laki-laki baik-baik dan mana yang hidung belang?”

Keiko mendengus kesal, “Mau dia cowok bangsat atau tidak, aku rasa itu bukan urusan oppa. I own my own.”

“Nevertheless, aku tetap tidak setuju kamu berteman dengan dia. Dia cuma akan mempermainkanmu dan membuatmu patah hati.”

“Stop it, oppa. Are you stupid or foxed or you’re just freaking crazy to misfit on this artist? He’s too popular for you to play with too.”

“So you’re telling me, it’s fine for him to flirt on you on my nose?”

“He can flirt or kiss my ass and do anything he like and you can’t do nothing about it. You’ve miss you chances.” bentak Keiko dan segera berhambur keluar bar.

Dengan langkah-langkah panjang Keiko berlari keluar. Ia tidak suka melihat sikap Yogi tadi. Apapun yang pernah terjadi di antara mereka adalah masa lalu. Atau seharusnya Keiko berkata bahwa tidak ada yang terjadi di antara mereka?

Sebuah tangan besar menangkap tangan Keiko, membuatnya terkejut.

“Aku tidak tahu apa yang kalian ributkan tapi ijinkan aku mengantarmu pulang. Aku tidak bisa melihatmu pulang sendiri. Hari sudah terlalu malam. Tidak aman.”

Keiko menatap Jack penuh tanya. Laki-laki ini pasti orang yang keras kepala atau orang yang teramat bodoh. Orang bodoh yang mempunyai senyum sejuta dollar.

“Sebetulnya mau kamu apa Jack? Kita sudah berkenal, minum dan kamu membuat Yogi marah. Terus terang aku tidak suka membuatnya marah.” ucap Keiko sambil terus berjalan keluar dari bar. Ia tidak ingin Yogi menangkap dirinya sedang berbicara dengan Jack lagi.

Salah-salah Yogi akan mengajak Jack berkelahi dan ujung-ujungnya Yogi juga yang rugi,

“Aku ingin mengenalmu lebih baik.”

Keiko berhenti dan memandangi Jack yang lagi-lagi memberinya senyuman tanpa dosa. Senyum yang kalau di film-film akan membuat pemeran utama wanitanya berdebar-debar dan kemudian mengangis haru.

Sayangnya Keiko bukan perempuan yang mudah tersentuh, well, dia cukup sensitif tapi tidak bodoh. Keiko bisa membedakan dengan jelas mana senyum bajingan dan mana senyum yang tulus dari hati.

Kalau yang seperti ini saja ia gagal bedakan, percuma cum laude sarjana psychology.

Keiko tidak menjawab dan membiarkan Jack untuk berjalan di sampingnya sampai mereka tiba di depan mobil Jack.

Jack membukakan pintu penumpang untuk Keiko tapi perempuan itu tidak masuk dan hanya berdiri di sana menatapnya lama.

“Aku minta maaf soal tadi. Aku tidak tahu ada apa dengan Yogi malam ini. Tidak biasanya ia bersikap bermusuhan seperti itu.”

“Abangmu cukup menyeramkan tapi aku tidak ambil pusing.” Jack menumpangkan dagu di atas tangannya yang diletakan di atas pintu mobil. “Tapi siapapun pasti akan bersikap sama jika melihat adik perempuanmu sedang digoda laki-laki.”

Jack tidak menyangka ucapannya itu akan mengundang tawa Keiko. Tapi perempuan itu memang tertawa. Dengan keras pula.

“Sungguh Jack. You’re trying too hard now.” Keiko mengacak-acak rambut Jack yang ternyata sangat halus. Sehalus bulu domba.

Jack menangkap tangan Keiko, menahannya di atas kepala Jack. Sekali lagi mata mereka saling bertaut. Mata Jack menyampaikan dengan jelas apa yang ia inginkan dari Keiko. Ia ingin Keiko menemaninya malam ini.

Lagi-lagi Keiko tertawa.

Jack agak tersinggung sekarang. Tidak ada seorang pun yang pernah menanggapi rayuannya sebagai lelucon. Ia bukan Micky yang memang perayu ulung. Jack hanya melemparkan umpannya pada perempuan yang ia inginkan dan fokus pada pemburuannya.

“Ayolah Jack. Kamu boleh menghentikan rayuan gombal ini. Aku tahu kamu tidak serius dengan ucapanmu. Look, kamu bisa mendapatkan perempuan mana pun dalam sekali tunjuk, untuk apa kamu repot-tepot mengejarku?” ucap Keiko menarik tangannya dari gengaman Jack. “Sekarang, jadi anak baik dan masuk ke dalam mobil. Aku akan pulang dengan bus.”

Sekali lagi, Jack menangkap Keiko. Ia tidak tahu mengapa perempuan ini begitu sering meninggalkannya di tengah pembicaraan dan Jack mulai merasa tidak senang.

“Apa yang membuatmu berpikir aku tidak serius?” tanya Jack sinis.

Tapi ketajaman mulut Jack tidak membuat Keiko takut, perempuan itu malah tersenyum padanya.

“Pertama-tama, kamu seorang artis, Jack. Aku yakin kamu tidak kekurangan perempuan untuk melayanimu. Kedua, kebetulan aku baru melihatmu putus hari ini. Well, walaupun kamu tidak menunjukan apa-apa tapi aku bisa melihat kamu sebetulnya cukup terguncang dengan sikapnya. Ketiga, “Keiko melemparkan senyum cerah, secerah mentari pagi. “Aku, Keiko kebetulan seseorang yang bisa membaca pikiran orang lain.”

Melihat Jack terkejut dan menanggapi ucapan Keiko dari sisi yang berbeda. Sisi mistik seperti kemampuan khusus telepati mungkin karena mendadak Jack melempar tangan Keiko serasa jijik dan ketakuan.

Jadi sekali lagi, tawa Keiko lepas, Oh, Jack ini lucu sekali. Keiko tidak ingat kapan terakhir kalinya ia tertawa sebanyak ini dalam satu hari.

“Bukan kekuatan khusus seperti itu, babo-ya. Aku bisa membaca mata orang sebaik aku membaca buku yang terbuka. Aku tahu kapan seseorang berbohong dan sebaliknya. Dan saat ini Jack, yang sebetulnya kamu butuhkan adalah kasur hangat dan tidur yang banyak. Bukan perempuan bawel yang akan menuntutmu untuk menemaninya berbicara sampai pagi.”

Jack yang masih terperangah mendengar ucapan Keiko, hanya bisa menatap punggung perempuan itu. melihat Keiko melambaikan tangan padanya dan sepertinya perempuan itu juga meneriaki selamat malam padanya saat tiba di seberang jalan.

Jack masuk ke dalam mobil dan duduk termenung. Terus terang agak sulit baginya mencerna kejadian hari ini. Tidak pernah sebelumnya ia ditapik oleh perempuan. Tidak pernah ia ribut dengan kakak laki-laki perempuan yang bahkan bukan pacarnya. Dan yang paling penting, belum pernah Jack memikirkan seorang perempuan lebih banyak dari pada ia memikirkan pekerjaannya.

Menarik.

Amat menarik.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s