Damn, I miss you – chapter 3

Begitu masuk ke dalam bus, Keiko memasang earphone di kuping. Lagu In Heaven – JYJ tak sengaja terpasang.
Jigeum waseo malhal sudo eobseo (Untuk saat ini, aku tidak bisa berkata apa-apa)
Neoui gijeok geu modeun ge heosang gata (Keajaiban dalammu-semua terasa mimpi)
Majimak geu moseubdo seoseohi gieok sogeman (Sosok terakhir dirimu terpatri di dalam ingatanku, begitu lekat)
Jamgyeojyeo ganeun geotman gata (Aku bertanya-tanya apa kamu memperhatikanku dari suatu tempat)
Air mata mengalir pelan di wajah Keiko.

Kilasan kenangannya dengan Yogi berputar di kepala Keiko seraya film hitam putih. Pertemuan mereka di rumah Yunna yang diawali dengan jabat tangan sederhana.
“Ini yang namanya Keiko? Aku harap kamu sesabar namamu. Karena Yunna itu cewek paling gila yang pernahku kenal.”
Kalimat perkenalan paling aneh yang pernah Keiko dengar tapi juga yang paling berkesan. Karena setelah itu Yogi mengajaknya bergabung ke firma pengacara Yogi sebagai assistant. Untuk Keiko yang saat itu hanya mahasiswa psikologi, tawaran Yogi terlalu menarik untuk ditolak.
Dari pekerjaan dan banyaknya waktu yang mereka habiskan bersama, tidak aneh jika akhirnya ia memendam perasaan tertentu pada Yogi. Terlebih jika Yunna ikut mendukungnya. Sahabatnya itu sering meninggalkan Keiko agar biasa berduaan dengan Yogi dalam berbagai kesempatan.
Tapi kemudian, suatu hari, Yogi pulang bersama Michiko, kakak tiri Keiko dan mengumumkan kalau mereka akan menikah.
Semua orang terkejut. Tapi tidak ada yang benari berkomentar sampai akhirnya mereka menikah. Tidak ada juga yang bertanya kapan Yogi dekat dengan Michi dan kapan mereka berpacaran hingga akhirnya menikah. Tidak ada yang ingin membahas.
Baru tiga bulan terakhir ini Keiko tahu dari Michi kalau ia sudah hamil 2 bulan saat mereka menikah dan ayah dari anak itu memang Yogi. Mereka bertemu di bar dalam keadaan mabuk berat dan tidak sadar saat semua sudah terlambat.
Tidak ada cinta dalam pernikahannya dan Michi tidak ingin bersikap egois dengan menahan Yogi di sisinya. Michi meminta Keiko untuk kembali berteman dengan Yogi.
“Setidaknya kamu bisa membuatnya pulang ke rumah dalam keadaan tersenyum.” ucap Michi sambil menimang putranya.
Air mata lain turun di pipi Keiko.
Untuk alasan itu juga akhirnya Keiko menerima permintaan Michi untuk bertemu dengan Yogi hari ini.
Oh, mereka memang tertawa, bercanda dan bersikap sewajarnya. Terima kasih untuk Jack dan pacarnya yang brutal, Keiko bisa bersikap lebih wajar. Tapi lihat saja mereka, lihat bagaimana Yogi bereaksi saat Jack mendekatinya. Lihat bagaimana ia bereaksi saat Yogi mengumbar semua perasaan terpendamnya.
Rasa sakit di hatinya belum berkurang sejak setahun yang lalu.
Tok Tok Tok.
Keiko menoleh jendela dan mendapati Jack berdiri di sana dan menunjuk padanya.
Keiko menoleh ke kiri dan kanan, melihat apa Jack sedang meminta pertolongannya untuk memanggil orang lain. Tapi tengah malam begini, bus hanya berisi dirinya dan supir bus di depan.
Ia melihat bibir Jack bergerak-gerak, dicopotnya earphone Keiko dan ia mendengar dengan samar kalau Jack memintanya turun.
Keiko mengerutkan dahi dan berjalan ke pintu bus, melihat papan nama jalan, tinggal sati stop lagi ia sudah tiba di rumahnya. Rumah Yunna sebetulnya, karena mereka tinggal bersama, Keiko praktis numpang tinggal di situ karena Yunna menolak menerima bayaran darinya. Sahabatnya yang bodoh itu hanya memintanya untuk memasak untuknya sesekali sebagai ganti uang sewa.
Ia bisa berjalan untuk sisa perjalanannya.
“Aku pikir kamu tidak akan menoleh juga.” sambut Jack begitu Keiko turun dari bus. Keiko melihat mobil Jack di parkir di depan bus stop. Spion kanannya terlihat terlepas kembali dari perekat yang Keiko pasang.
Tunggu, berarti Jack mengikutinya?
“Iya, aku mengikuti kamu sebab aku merasa aku harus meluruskan satu hal padamu.” ujar Jack seakan bisa membaca pikiran Keiko.
Dahi Keiko berkerut ingin membantah tapi Jack keburu menurunkan bibirnya ke bibir Keiko dan menciumnya.
Keiko segera mendorong Jack begitu ia tersadar.
“Kamu gila ya?!” teriak Keiko kesal. Tidak mengerti kenapa Jack begitu keras kepala.
“Marah lebih baik daripada menangis kan?”
Keiko tertegun. Ia tidak menyangka Jack akan menciumnya hanya untuk membuatnya berhenti menangis, karena hell, dia kan sudah berhenti menangis!
“Ada yang pernah bilang padamu kalau kamu itu tukang ikut campur?” tuduh Keiko
“Sering.”
“Opportunitis?”
“Selalu.”
“Bajingan?”
“Sebagian orang.”
“Pencari penyakit?”
“Nah itu baru. Aku orang yang jarang sakit.”
Keiko memutar bola matanya, jelas Jack sengaja mengartikan ucapannya secara harafiah.
“Kalau kamu sendiri? Ada yang pernah memberitahumu kalau malam hari itu berbahaya?”
Keiko memejamkan matanya, menahan emosi.
“Dan tidak boleh memejamkan mata di depan pria?”
Keiko buru-buru membuka matanya kembali, takut Jack kembali menciumnya. Tapi ia melihat Jack tersenyum menahan tawa.
Hell, he’s a rake.
Sweet rake.
Sayang Keiko tidak bisa mengakuinya sebagai sweet rake of mine. Karena Jack bukan miliknya. Hentikan Kei, kamu harusnya marah dan memarahi kelancangan laki-laki ini, bukan terpesona padanya.
“You know what, Aku akan memaafkan kamu sekali ini asal kamu tidak muncul lagi dihadapanku. Aku tidak mau berurusan dengan para pengemarmu.” ucap Keiko dan ia membalikan badan, berjalan ke arah rumah.
Jack tersenyum dan mulai mengikuti Keiko. Ia tidak akan membiarkan Keiko mengacuhkannya lagi.
“Aku hanya ingin berteman. Apa itu tlalu sulit untuk kamu terima?”
“Teman tidak berciuman, Jack. So, you way out of it.”
“Bisa berbicara bahasa Korea saja? Bahasa Inggrisku tidak lebih baik dari anak TK.”
“Bagaimana kalau tidak berbicara sama sekali?” tanya Keiko sarkastik.
“Itu, Kei, tidak akan pernah terjadi kecuali kamu menginginkan kegiatan lain yang mengunakan bibir untuk terjadi.”
Keiko menghentikan langkahnya dan menatap Jack dengan pandangan you-gotta-be-joking.
Jack tertawa melihatnya. Ia tidak tahu berciuman bisa membuat seorang perempuan sesebal itu padanya. Mungkin kepawaiannya sudah menurun,
“Boleh aku jujur?” tanya Jack berusaha untuk serius.
“Kayak kamu tidak akan tetap bicara saja kalau kularang.”
Jack tertawa, sepertinya ia berhasil membuat perempuan itu terus bersilat lidah dengannya. Lebih baik Keiko mengingatnya sebagai bajingan daripada tidak sama sekali.
“Aku tidak akan minta maaf untuk ciuman tadi. Walau aku secara pribadi lebih menganggapnya sebagai kecupan. Ciuman memerlukan ekstra keahlian.” Jack nyaris tertawa terbahak-bahak saat melihat Keiko memutar bola matanya. Tapi demi kebaikan dirinya lebih baik ia menahan diri. Akan sulit untuk mempertahankan pembicaraan ini jika Keiko memutuskan untuk lari dan menghindarinya di kemudian hari.
Jack mengangkat telunjuknya, meminta Keiko menahan ucapannya.
“Aku berjanji tidak akan menyerangmu di kemudian hari. Setidaknya tidak saat kamu tidak mengijinkannya.”
“You can’t be serious.” teriak Keiko.
Jack tertawa,”Maaf, tapi kamu membuatnya terlalu mudah.”
“Dan kamu bilang kamu tidak mengerti bahasa Inggris.”
“Kalau hanya sepenggal dan bahasa umum, cukup mengertilah. Micky, anak Fox-T juga pernah tinggal di Amerika dan dia cukup sering mengajari kami.”
“Like I care.”
“Ayolah Nona, kamu bisa mengunakan bahasa Korea untuk semua kata yang kamu ucapkan tadi. Aku bersedia mengajarimu kalau kamu mau.”
Keiko tertawa menghina, “Jack, aku sadar ini tengah malam dan kamu minum cukup banyak, tapi aku tidak tahu kamu semabuk ini.”
“Kamu sebetulnya orang Jepang atau orang mana sih?”
“Ayah tiriku orang Jepang tapi Ibu kandungku orang Amerika.”
“Pantesan. Warna matamu terlalu abu-abu untuk orang Asia. Aku suka abu-abu.”
“Jack, kamu yakin tidak mabuk? Topik pembicaraanmu lompat sana lompat sini.”
“Yeap, aku sesadar orang yang baru bangun pagi.”
Keiko tergelak, “Kamu tahukan pernyataanmu tadi bisa kontradiktif untuk sebagian orang.”
“Mungkin, tapi untukku bangun tidur artinya siap bekerja dan aku selalu dalam kondisi terbaikku.” Jack tersenyum, ia menarik tas Keiko, walau sebenarnya yang ingin ia adalah lengan perempuan itu. “Biar aku yang bawakan.”
“Thank you, Jaejoong-ssi. Tapi aku bisa mengurus bawaanku sendiri.”
Lalu mendadak geledek menyambar dan hujan turun dengan deras, membuat mereka basah kuyup dalam sekejap.
Keiko mendongkak ke langit dan berteriak, “You gotta be kidding!”
Membuat Jack tertawa, “Aku tidak tahu harus menganggap aku beruntung atau sial sekarang.” dan ia kembali teregelak melihat Keiko mendengus kepadanya.
“Sial seribu kali sial, Jack. Pertama-tama kamu membuat aku basah kuyup karena pacar gilau.”
“Ex girlfriend.”
Keiko tidak mengubris komentar Jack dan kembali mengomel dan terus berjalan, “Lalu kamu membuatku bertengkar dengan Yogi. Dan sekarang aku kembali basah kuyup.”
Jack pasti akan menyarankan untuk mengunakan mobilnya jika ia berhadapan dengan perempuan lain. Tapi menilai reaksi Keiko sepanjang hari ini perempuan ini pasti aka menolaknya. “Aku harap rumahmu tidak jauh.”
Keiko berhenti tepat di depan gedung apartement tempat tinggalnya, “No way! Eng eng.” Geleng Keiko, “Kamu tidak akan naik ke atas.”
“Jadi kamu tinggal di sini?”
Jack mendongkak dan takjub dengan kemewahan gedung apartement tersebut. Ia tidak menyangka orang yang tinggal di daerah GangNam tetap mengunakan bus untuk transportasi.
“Aku tinggal dengan temanku.” ujar Keiko menjelaskan. Ia mulai mengigil diterpa hujan dan ia yakin Jack juga merasakan hal ayng serupa. Penampilan Jack sama menyedihkannya dengan dirinya.
“Oh, baiklah, kamu boleh naik ke atas tapi berjanji dulu kamu tidak akan macam-macam.”
Jack menyilangkan jari telunjuk dan jari tengahnya, berjanji. “Aku bersumpah.”
Dengan dengusan dan langkah menghentak, Keiko menunjuk jalan melewati sekuriti lobby dan menuju lift khusus menuju penthouse.
Keiko hanya berharap Yunna tidak ada di rumah atau ia harus menjelaskan bagaimana ia bisa membawa seorang artis pualng dalam keadaan basah kuyup. Ia yakin Yunna tidak akan terkesan.
“Penthouse?” tanya Jack dengan nada tak percaya, sungguh sebetulnya siapa Keiko? Apartement atau villa di GangNam setidaknya bernilai 6 miliyar Won, tapi sebuah penthouse? Setidaknya berharga dua kali lipat.
Saat Keiko membukakan pintu ‘rumah tinggalnya’ Jack praktis terperanggah.
(Nanti disusul keteerangan detail rumahnya)
“Sebetulnya kamu siapa, Kei?” tanya Jack tanpa sadar.
“Salah Jack. Seharusnya kamu bertanya siapa temanku yang memiliki penthouse ini. Sebab aku hanya menumpang.”
Jack tetap tidak merasa nyaman mendengar penjelasan Keiko, atau dalam hal ini ketidak jelasan dari penjelasan Keiko itu.
Teman atau bukan, Keiko jelas dari golongan yang berbeda dengan dirinya, seorang cheobol mungkin?
“Aku tidak bisa membocorkan siapa temanku, karena dia amat membenci publikasi dan kamu harus bersyukur dia tidak ada di rumah atau pengawalnya akan mengusirmu detik kamu memasuki rumah ini tanpa ijin.” Keiko melempar kaos gobrong dan handuk untuk Jack. “Kamar mandi di pintu kedua sebelah kiri dan jangan sentuh apapun. aku tidak mau dia menyadari aku membawa tamu pulang.”
Jack mengikuti petunjuk Keiko dan membuka pintuyang ternyata bukan kamar mandi tapi kamar Keiko. Karena Jack melihat foto perempuan itu tergantung di dinding. Keiko tampak berbeda dengan rambut panjang.
Matanya kemudian menyapu deretan foto lainnya yang disusun di atas rak pendek. Keiko dengan seorang perempuan berambut pendek yang cantik luar biasa. Keiko dengan perempuan berambut panjang yang mirip dengan Keiko, tapi berusia lebih tua dan mengendong anak. Kemudian Keiko dalam berbagai pose dan pakaiaan lagi-lagi bersama cewek rambut pendek yang cantik itu.
Tidak ada foto Keiko dengan abangnya. Aneh.
Jack kembali berjalan menuju pintu lain di ujung kamar, sebuah kamar mandi Jack harap. Dan terima kasih, tebakannya benar. Karena mendadak Jack merasa tidak nyaman berada di kamar seorang perempuan yang baru dikenalnya.
Ia mendengar suara pintu dibuka dan ditutup kembali.
“Kamu di dalam?” Tanya Keiko dan Jack menyahut. “Kalau mau keluar mau keluar ketuk dulu.”
Kemudian Jack mendengar suara pintu lemari mengayun dan pikiran Jack bergerak liar. Keiko sedang berganti pakaian di luar sana dan ia di dalam kamar mandi ini.
Sekejap, Jack termenung, membayangkan tubuh Keiko yang pasti terlihat luar biasa. Karena Jack tanpa sengaja menilainya saat pakaian Keiko basah kuyup melekat di tubuh perempuan itu.
“Jack…” panggil Keiko. “Kamu masih hidup kan?”
Bola mata Jack memutar, memangnya dia akan pingsan hanya karena tersiram hujan sedikit. Ide itu cukup menggoda, tapi Jack tidak mau bermain api. Lebih baik melakukan segalanya dengan perlahan kalau Ia memang memutuskan untuk mendekati Keiko.
Jack memandangi kaos yang Keiko berikan, damn…. Kaos saja D&G. Bukannya mau protes, pakaian Jack juga rata-rata bermerk, tapi tidak sedikit yang ia dapat dari pengemarnya.
Keiko pasti orang kaya dan walau sebal, Jack harus mengakui bahwa Keiko mungkin pernah mengundang laki-laki lain ke rumah ini dan laki-laki itu meninggalkan kaos ini.
“Ini kaos siapa sih?” teriak Jack, suaranya terdengar lebih kesal dari yang mau.
“Yogi.”
Jawaban Keiko membuat Jack mengerang.
“Are you sure, you’re fine there?”
“Aku tidak mengerti pertanyaanmu, tapi kalau yang kamu maksud kondisiku saat ini,” Jack mencopot seluruh pakaiannya dan menyilangkan handuk ke pinggang, dan membuka pintu, “Aku dalam masalah.”
Jack puas melihat Keiko terperangah melihat penampilannya. Tidak sia-sia ia menghabiskan berbulan-bulan di gym, otot-otot tubuhnya terpahat sempurna.
“Ma..masalah apa?” ucap Keiko tergagap, tidak menyangka akan disuguhi dada polos Jack. Kulit Jack seputih porselin dan tanpa bulu sedikitpun. Kalau Jack berdiri di samping patung Dewa Romawi, Keiko yakin semua orang/perempuan akan meraba dada itu dengan perlahan dan menyentuh otot lengan Jack yang sempurna.
“Kaos ini bau.”
Moment out.
“Pakai itu atau kamu boleh kembali dengan handuk. Sialhkan pilih sendiri.” tukas Keiko dan ia menyalakan TV dan AC.
“Kamu kejam juga yah.” ucap Jack sambil mengusap-usap lengan dan dada telanjangnya. Kemudian duduk di samping Keiko. Di atas kasur. “Geser sedikit.”
Keiko menyingkir, membiarkan Jack menarik selimutnya dan membungkus dirinya dengan selimut itu. Lebih baik mengorbankan selimut itu daripada melihat dada enjang Jack dari dekat.
“Ganti HBO dong, ini hari Jumat kan, aku mau nonton Walking Dead.”
Keiko merubah saluran TV tanpa meboleh, ia bersumpah tidak akan melihat laki-laki seksi di sampingnya sepanjang malam ini lagi. Atau Keiko tidak berani menjamin tidak akan bertindak macam-macam.
Ugh, sekarang Keiko terdengar seperti perempuan mesum.
“Kei…”
“Apa?” jawab Keiko terlalu cepat dan ia menoleh. Kesalahan fatal karena ia langsung disambut dengan full expose dari wajah mulus Jack. Keiko tidak menyangka ada laki-laki yang memiliki kulit lebih putih dan mulus dibanding peremuan. Tapi ternyata memang ada dan laki-laki itu duduk sepuluh senti darinya.
Jack tersenyum ketika melihat Keiko menelan ludah. Woohooo, ternyata Keiko tidak sekebal yang ia duga. Mungkin kalau ia berusaha lebih keras, Keiko mau mempertimbangkan keputusannya untuk tidak tidur dengannya?
“Kelihatannya aku tidak bisa pualng.” ucap Jack. Melihat Keiko tidak bergeming, Jack kembali menjelaskan, “You know, hujan, aku tidak punya baju.”
“Uhm..”
“Kamu yakin kamu tidak tertarik untuk menjadi pacarku, Keiko? Menilai caramu memandangku saat ini…”
“Seperti apa?” tanya Keiko serak.
“Seperti ini.” dan Jack memberikan tatap serigala-melihat-domba terbaiknya.
Keiko mengerang dan membuang kepalanya ke belakang, “Aku tidak mungkin melihatmu seperti itu. Dan kalau seandainya benar, semua itu karena…”
Apapun yang ingin Keiko katakan semua tertelan oleh bibirnya, ehm, bibir Jack.
Jack mencium sudut bibirnya, bermain-main sebentar di sana sebelum ia menyelipkan lidahnya ke dalam dan membuat Keiko merasa tersulut api.
Kemudian tangan Jack mengelus punggung Keiko, menariknya mendekat, membuat Keiko praktis berada di atas dada Jack yang entah bagiamana sudah terbaring di atas kasur. Lalu tangan itu turun menunju pinggul dan berhenti di atas…
Keiko tersendak dan melepaskan diri dari Jack. Berdiri dengan tangan teracung pada Jack.
“Out. Now.” desis Keiko.
Mungkin menurut Keiko ia sudah bersikap semarah yang ia bisa tapi dari sudut pandang Jack, Keiko hanya menolak mengakui bahwa perempuan itu tertarik padanya. Bahwa mereka sama-sama saling tertarik.
Tersenyum simpul, Jack menahan tubuhnya setengah duduk, memamerkan dada telanjangnya lagi. Tersenyum semakin lebar ketika melihat dada Keiko naik turun, mungkin karena marah mungkin karena gairah.
Jack berharap untuk alasan yang kedua sebab ia belum puas bermain.
“Mungkin kamu tidak mengerti, aku bilang keluar!” desis Keiko lagi, ia ingin menarik Jack tapi ia tidak mempercayai dirinya untuk berada lebih dekat dari satu meter dari Jack. Lihat saja bagaimana tadi ia terlena pada ciuman Jack.
Hell, Jack membuatnya terengah-enggah hanya karena ciuman, Yunna pasti akan mentertawainya dan mengatakan kalau semua ini karena ia terlalu lama tidak berhubungan badan. Dia single gitu loh dan Keiko bukan tipe perempuan yang bisa melakukan one-night-stand.
She make love type of girl and not have sex type. Aka, ia harus serius dan dalam status pacaran atau sesuatu yang lebih serius daripada kenalan.
Dan Jack ini seorang kenalan, betul?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s