Damn, I miss you – chapter 4

Jack tertawa terpingkal-pingkal.
“Kei, kamu boleh mengambil nafas. aku tidak berniat menerkammu. Maaf soal ciuman tadi. Hujan, dingin, bukan situasi terbaikku untuk bersikap gentelmen.” tutur Jack dan membalut tubuhnya dengan selimut. Lebih untuk menutupi kondisi salah satu tubuhnya yang bandel daripada menyelamatkan Keiko.
Jack memutuskan untuk mengambil jalan panjang. Ia tidak ingin membuat Keiko takut padanya. Tidak setelah ciuman tadi. Ciuman yang kalau mau diberi nilai tidak akan muat dalam skala satu sampai sepuluh. Karena Jack belum pernah menciuma seseoran dalam keadaan lepas kontrol. Ia tidak pernah melakukannya hanya karena terdesak dorongan untuk mencium.

Ok, sekarang ia mulai terdengar gila. Mungkin ia terserang demam karena kehujanan setelah minum-minum.
Jack bangkit dan berjalan menghampiri Keiko namun perempuan itu mundur dan merapat ke pintu keluarnya, ketakutan.
Shit, Jack tidak suka melihat Keiko takut padanya. Bukan raut wajah yang menyenangkan terlebih karena ia tahu apa yang membuat Keiko takut padanya
Jadi Jack duduk kembali di atas kasur dan menunggu Keiko menenangkan diri.
“Aku…” ucap Keiko serak, “Ehem. Aku…”
“Aku minta maaf.” ucap Jack mendahului, “Aku sudah bertindak seperti bajingan. Tapi setidaknya dari ciuman itu aku tahu satu hal. Kita tidak mungkin. Kamu terlalu kaku untukku.”
Jack tahu ia tidak terdengar meyakinkan, tapi itu kalimat terbaik yang ia punya untuk menenangkan Keiko. Karena tidak pernah sekali pun ia meminta maaf karena mencium seseorang. Yang ada mereka malah meminta Jack melanjutkan ke tahap berikutnya dan berikutnya.
Okay, ia betul-betul harus berhenti mengabungkan Keiko dengan ciuman dalam satu kalimat atau ia akan terus memikirkan hal tersebut dan —
Keiko tersenyum, tersenyum lalu tertawa dan berjalan menghampiri Jack.
“Jack, you’re too gentlemen then you think. To lie like that. And I don’t care if you don’t understand as long as you hear it. You’re good man. And I honor you for that.”
Keiko menepak lengan Jack yang terbungkus dalam selimut. Melihat Jack memandanginya bingung, Keiko kembali tertawa dan duduk di samping Jack. “Aku bilang aku memaafkanmu.”
Jack yakin Keiko berkata sesuatu yang lebih panjang dari memaafkan. Seandainya ada Micky di sini, ia bisa meminta temannya itu mengartikan untuknya. Tapi karena tidak ada Micky, Jack harus mendesak Keiko untuk menjelaskan.
Dan Keiko malah mentertawakannya, besok, Jack akan mengambil kelas bahasa. Ia tidak mau dibodoh-bodohi seperti ini.
“Ayolah, aku memang tidak pandai berbahasa Inggris tapi aku juga tidak bodoh untuk menilai panjangnya kalimatmu tadi, Kei.”
Keiko terpingkal-pingkal melihat Jack memasang tampang memelas. Cukup senang berhasil membuat Jack merasakan sedikit perasaannya tadi. Ehm, perasaannya sekarang. Karena Keiko masih merasa berdebar-debar duduk sedekat ini dengan Jack. Ia hanya pura-pura, takut Jack menyerangnya lagi.
Lebih baik bertahan di zona aman bernama ‘teman’.
“Kei, kamu di dalam?” panggil Yunna dari balik kamar.
Berdua, Keiko dan Jack memasang tampang panik dan bangun terburu-buru.
Masih ingat dengan selimut yang membalut Tubuh polos Jack, sekarang selimut itu nyangkut di kaki Keiko, membuat perempuan itu jatuh terjebam dengan muka menyentuh lantai dan Jack kelabakan menutupi tubuh polosnya.
“Kei, are alright? What’s with the noise?” panggil Yunna lagi, kali ini dengan gedoran.
Keiko buru-buru berdiri dan menarik Jack ke arah kamar mandi, tidak memperhatikan kalau sebetulnya Jack tidak membawa serta handuknya. Dan buru-buru menutup pintu kamar mandi tersebut.
“Hei, what’s up?” tanya Keiko membuka pintu kamarnya, mempersilakan perempuan berambut pendek aka sahabat baiknya aka induk semangnya aka Yunna masuk.
“Ada apa tadi? Kamu jatuh?” tanya Yunna curiga.
Keiko mengelus pipinya yang mencium lantai tadi, “Aku terpeleset.”
“Hmm? Wae? Kamu nonton blue film?”
Keiko memutar bola matanya atas tuduhan tak mendasar Yunna yang Keiko tahu hanya sekedar lelucon tapi dengan Jack di balik pintu kamar mandinya. Keiko harus membela diri.
“Beneran nonton Blue film?” Yunna menekan keyboard laptop Keiko dan hanya disambut dengan layar hitam. Kecewa tidak mendapatkan tontonan menarik, Yunna melempar dirinya ke atas kasur. Dan mendapati handuk Keiko ada di sana.
“Tumben berantakan.” dilemparnya handuk tersebut ke Keiko dan Yunna mulai melempar-lempar bantal.
“Ada apa, Yunna-ya? Mencariku tengah malam begini?” Keiko ikut tiduran di atas kasur, menarik satu bantal untuk sandaran kepala.
“Aku bertemu dengan Micky Fox-T tadi.”
Keiko memasang wajah terkejut, hampir saja berkata bahwa ia juga bertemu dengan Jack, tapi Yunna keburu melanjutkan ceritanya.
“Dan aku menciumnya di depan Mama!”
Keiko pasti sudah tersedak air jika saat ini ia sedang minum. Ada apa ini? Dua orang yang tinggal bersama-sama sekarang juga bertemu dan dicium oleh superstar Fox-T.
God really have good joke.
“Kamu tidak akan berkomentar sesuatu?” tanya Yunna bingung melihat Keiko hanya mendengarkan.
“Aku hanya berpikir kamu kebanyakan minum, tapi karena tidak tercium bau alkohol sedikitpun aku menduga kamu sengaja?”
Yunna terkekeh, “Cuma kamu yang paing mengerti aku. Ehm, Big juga sih, soalnya dia langsung nodong menanyakan apa rencanaku nan mencium playboy tampan itu.”
Keiko menaikan satu alisnya, Yunna mengakui kalau ada laki-laki tampan, sejak kapan?
“Bagaimana menurutmu kalau aku meminta dia untuk berpura-pura menjadi pacarku? Kamu tahu, aku mulai malas mendengar Mama menyodorkan calon-calonnya padaku.”
“Masih?”
“Setiap hari, hari ini dia malah datang ke acara launching dan menarikku ke luar untuk memberikan folder tebal daftar calon pilihannya.” Mendadak wajah Yunna bersemu.
“And which part of this story Micky involve with?” tanay Keiko sengaja mengunakan bahasa Inggris, ia tidak ingin Jack mendengar pembicaraan ini.
“And he showed up, act like my lover and out of nowhere he kissed me.”
“He kissed you? Bet he’s one good kisser.” seepeti temannya yang sedang bersembunyi itu.
Yunna terkikik.
Astaga, kapan terakhir kalinya ia mendengar Yunna mengikik? 7 tahun yang lalu mungkin? Saat ia membuat Yunna mabuk? Sebelum Yunna diculik pastinya karena biarpun Yunna sempat lebih ceria saat berpacaran dengan pengawalnya, Yunna teap tidak pernah tertawa segirang ini.
“Oh my, did i just giggle?” tanya Yunna mendadak serius membaut Keiko tersenyum.
“If he can make you giggle and smile this bright, I approve even if you ask him to marry you.”
Pernyataan yang sukses membuat Yunna dan Keiko kembali tertawa geli.
“Okay, I’m glad to hear you agree with it. Kamu tahu betapa berartinya dukunganmu untukku, Kei.”
Keiko merangkul leher Yunna dan mencekiknya, tidak terlalu kencang, hanya gemas. “Okay, aku kembali ke kamarku. Silakan nonton kembali blue film-mu dan I shut my ear when you scream, Oh goood oh goooood.”
Keiko menepuk pantan Yunna ketika sahabatnya itu keluar dari kasur.
Begitu Yunna menutup pintunya, Keiko buru-buru mengunci pintunya dan membuka pintu kamar mandi.
Hampir saja ia kembali berteriak kalau Jack tidak segera membungkam mulutnya.
“Ssssst….. Kita tidak ingin temanmu kembali kemari dan melihatku seperti ini kan.” ucap Jack yang dengan posisinya membungkam Keiko hanya menyisakan sedikit jarak antara tubuhnya dengan tubuh Keiko, errr, tepatnya hanya satu langkah dan tubuh mereka sudah menempel.
Keiko menyelipkan jarinya di antara tangan Jack dan mulutnya, berusaha mendapatkan kembali kebebasan tapi sia-sia. Tangan Jack ayng diletakan di belakang kepala Keiko membuatnya praktis terkunci.
“Kamu harus berjanji kamu tidak akan berteriak dulu.”
Keiko mengulingkan bola matanya sebelum mengangguk kencang.
“Ehm, mungkin akan lebih baik jika kamu memejamkan matamu dan membiarkanku keluar untuk mengambil handuk.” Jack tersenyum, “Kamu tidak akan mengintip kan?”
Jack membungkam mulutnya erat-erat, menahan tawa saat mendengar Keiko menghentakan kakinya.
“Kamu tidak bisa menyalahkan aku berpikir demikian setelah kamu menatapku penuh nafsu seperti tadi.”
Keiko bergugam di balik tangan Jack, sepertinya mengomel mendengar suara eraman perempuan itu.
“Kamu membuatku ingin menciummu lagi, Kei.” ledek Jack dan sesuai harapan, Keiko memelototinya dan menghentak-hentakan kaki kesal.
Jack tidak tahan untuk tidak tertawa.
“Keiko-ssi, kamu cewek paling mengemaskan yang pernah kukenal.”

Keiko berpikir Jack akan kembali menyerangnya/menciumnya tapi ternyata laki-laki itu melepaskan dirinya dan menghilang ke dalam kamarnya dan dari suara yang ia ngar, sepertinya Jack mengenakan kembali handuk dan selimutnya.
“Kamu sudah boleh kelaur.” panggil Jack dan Keiko mendengus.
laki-laki itu bertindak seolah-olah kamar ini miliknya dan bukan punya Keiko.
“Yang tadi itu temanmu?” tanya Jack yang sudah berpakaian rapi.
Dia memutuskan mengenakan kembali celana basahnya dan kaos yang tadi Keiko berikan. Dingin dan ketat lebih baik daripada telanjang dan bergairah.
Keiko mengangguk, jiwanya masih belum kembali setelah melihat Jack telanjang bulat dan kaos ketat yang laki-laki itu kenakan sama sekali tidak membantu.
“Aku dengar ia menyebut nama temanku tadi.”
Keiko menatap Jack waswas, menunggu ucapan laki-laki itu selanjutnya.
“Temanmu bernama Yunna? Kim Yunna? Sang pemilik Cleo&Co?”
Dari cara Jack menuturkan, Keiko tidak bisa tidak merasa curiga. Sepertinya Micky memiliki agenda tertentu dan pertemuannya dengan Yunna bukan secara kebetulan.
“Oh, jangan berprasangka buruk dulu. Micky hanya membutuhkan bantuan kecil dari temanmu dan mendengar cerita kalian tadi sepertinya temanmu juga memerlukan bantuan Micky.”
Keiko memberi tatapan yang lebih menusuk, Jack sebaiknya memberinya penjelasan yang baik atau Keiko akan keluar dan memberitahu Yunna untuk membatalkan niatnya.
Sepuluh menit kemudian, tepat setelah Jack menyelesaikan ceritanya, Keiko tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Jack.
“Kalau hanya itu yang kalian inginkan, aku akan membantu. Tapi kamu harus terus memberitahuku rencana kalian dan semua hal yang berhubungan dengan mereka.”
Jack menjabat tangan Keiko. “Deal.”
Dan mereka sama-sama tersenyum sambil tetap berjabat tangan mereka.
Sepuluh detik berlalu dan tangan mereka masih bertaut.
Lima belas detik kemudian mereka kembali tertawa.
“Aku tahu tidak sepantasnya aku bertanya, tapi hibur aku, boleh aku menciummu?” tanya Jack.
Lima detik berikutnya mereka habiskan hanya untuk saling memandang dan sekali lagi Keiko tergelak.
“Good one, Jack. Tapi aku tidak tergoda.”
“Yah, tidak ada salahnya aku mencoba.”
Keiko tersenyum, “Tapi kusarankan tinggalkan pikiran mesummu dan celana basahmu di kamar mandi sebelum kamu naik ke atas kasur.”
“Kamu mengijinkanku naik ke atas kasur?” tanya Jack takjub.
“Kamu lebih suka tidur di lantai?”
dahi Jack berkerut tidak mengerti. Dan tiga detik berikutnya ia menepuk kedua tangannya. Ia tidak bisa pulang karena Yunna bisa saja mendengarnya dan membuat Yunna curiga dengan kehadirannya dan persetujuan Keiko lalu rencana Micky bisa berantakan sebelum dimulai.
Jadi Keiko menawarkan untuk menginap.
Di sini.
Di kamar perempuan itu.
Jack tersenyum semuringah, “Ada saran aku harus mengenakan apa sebagai ganti celana basah ini.”
Keiko terlihat berpikir sejenak sebelum membuka pintu lemari pakaian dan melempar. Celana training padanya. Entah Keiko sengaja atau tidak tapi celana itu berwarna pink dan ada gambar hello kitty.
“Hanya itu yang aku punya. Oh!” keiko kembali ke lemari dan memberinya kaos lain, kali ini kaos singlet hitam berbahan rip yang bisa melar.
jack menerima semua itu dan masuk ke kamar mandi.
tidak ada masalah, Keiko yang akan terkejut.
Ia keluar kamar mandi dan tersenyum penuh kemenangan saat melihat Keiko mengerang dan menutup wajah dengan bantal.
Di atas kasur.
Kalau saja Keiko tidak menhina ukuran pinggangnya yang memang kecil. size 36,ukuran perempuan sama dengan ukuran Keiko, Jack pasti sudah kembali berpikiran mesum.
“Aku tidak bangga dengan kecilnya pinggangku ini, Kei. Untuk catatan, Aku bahkan sudah berusaha untuk memperbesarnya. Tapi tetap saja, ukurannya sekecil ini.”
Sepertinya pembrlaan diti Jack tidak membuat Keiko merasa lebih baik karena Keiko kembali menutup wajahnya denga bantal plus memukul-mukul bantal tersebut.
“Untungnya pinggangku ini tidak menganggu aktifitas seksualku.”
Satu bantal melayang menyebrangi ruangan dan ditangkap dengan sukses oleh Jack.
“Aku berubah pikiran, kamu tidur di lantai!”
Jack memejamkan matanya dengan puas. Ia memang sengaja membuat Keiko marah padanya karena ia tidak ingin tidur seranjang dengan perempuan itu. Kontrol dirinya tidak sebaik itu. Dia bukan Micky yang bisa mengendalikan diri dengan baik. Ia cuma laki-laki biasa yang terpesona pada kebaikan dan keceriaan Keiko. Dan bibir Keiko, rambut halus perempuan itu dan mata abu-abu Keiko.
“Jack…” panggil Keiko tepat saat Jack mulai memikirkan bagian tubuh Keiko lain yang membuatnya tertarik.
“Kamu kedinginan ngak? Kamu tidak akan sakit kan? Aku tidak mau besok managermu atau agensimu menuntutku karena sudah membuat artianya jatuh sakit.”
“Tidur, Kei.”
“Kamu yakin? Kamu perlu selimut tambahan? Bantal?”
“Tutup mulutmu atau aku akan naik ke atas kasur dan kamu tahu lita tidak akan pernah tidur.”
Syukurlah, Keiko mendengarkan ancamannya. Karena mendengar suara Keiko yangmendadak tersengar serak dan dalam di kupingnya membuat gairah Jack kembali. Dua kali lipat lebih ganas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s