Damn, I miss you – Chapter 5

“Jack…”panggil seseorang.” Jack!!!! Angkat handphonemu.”

Jack terbangun ketika menerima tusukan di bawah ketiaknya.

“Hummm!!”

“Handphone, angkat. Berisik.” ucap Keiko melempar iphone Jack ke pangkuan laki-laki itu dan kembali keluar kamar.

Jack mengangkat telepon dengan suara segar, managernya tidak akan mengetahui kalau ia baru saja bangun. Dan sungguh Jack berharap ia tetap tidur saja. Hari ini Sabtu dan seharusnya ia tidak bekerja.

Tapi apa mau dikata, sebagai penyanyi profesional, Jack tetap harus datang dan muncul kapanpun agensinya menelepon dan siapapun penontonnya.

Jack bangun, menuju kamar mandi dan melihat pakaiannya sudah tersetrika dan dilipat rapi di atas meja wastafel.

Bibir Jack membntuk seulas senyum. Tidak apa deh Keiko menolaknya, berteman dengan orang sebaik Keiko tidak akan pernah rugi.

Jack buru-buru mandi dan mengintip dari balik pintu, takut kalau Yunna atau orang lain menemukannya.

“Tunggu saja di meja makan. Yunna sudah berangkat pagi-pagi tadi. Kamu aman.”

Jack tidak menuruti perintah Keiko, ia malah memakai kesempatan itu untuk mengeksplorasi penthouse. Bentuk penthouse ini agak aneh, seperti yerbagi menjadi dua bagian. Kamar Keiko terletak di ujung kiri, menghadap ruang makan dan dapur. Sedangkan di sisi lain, ujung satu lagi yang lebih dekat sengan pintu keluar ada satu taman gantung dan ruang tamu dan satu ruangan lagi terletak di bagian depan. Lalu ada taman gantung berikut kolam renang!

Jack keluar dan segera menepi di tiang beranda, walaupun terik matahari membuatnya kepanasan, Jack tetap berdiri di sana menikmati pemandangan kota dari seberang sungai Han.

Sungguh pemandangan yang menakjubkan.

“Aku pasti membeli penthouse di daerah sini suatu hari nanti.”

“Kalau Yunna menandatangani kontrak dengan kalian dalam waktu dua tahun, kamu pasti bisa membelinga” keiko mengoper piring berisi sandwich dan Jack melahap satu tangkap dengan cepat.

“Kenapa penthouse ini dibagi menjadi dua?” tanya Jack ketika digiring kembali oleh Keiko. Perempuan itu takut ada yang melihat Jack berdiri di luar sana.

Alasan yang cukup aneh karena penthouse ini ada di lantai 48. Kalaupun ada stalker nekad rasanya mustahil ada yang mengintip sampai setinggi ini.

“Yunna hanya berkeliaran di ruang tamu dan kamarnya sedangkan aku mendominasi dapur dan kamarku. Jadi Yunna dengan sengaja membari tempat ini menjadi dua. Dia jarang makan di rumah kalau kamu penasaran kenapa tidak ada meja makan di sini.”

Memang aneh tapi Jack merasa bar pendek di depan dapur juga cukup menyenangkan terlebih jika penghuni penthouse sebesar 400m2 ini hanya dua orang.

“Kamu tidak bekerja hari ini?” tanya Keiko sambil mencuci bekas piring yang mereka gunakan.

Jack termenung, terlalu asyik memperhatikan punggung Keiko. Mendadak ia memikirkan kehidupan berkeluarganya nanti. Dengan ia yang memandangi istrinya mencuci piring, tapi mungkin ia ikut membantu karena ia sendiri suka masak.

“Kamu sempat malam ini?” tanya Jack alih-alih menjawab pertanyaan Keiko.

“Kamu tidak sedang mengajakku kencan kan, Jack?”

Jack mengeleng, “Tidak, aku hanya ingin memasak sesuatu untukmu.”

“Dan itu bukan kencan?” tanya Keiko dengan kerlingan di matanya, gemas dengan kekonyolan Jack.

“Nope, kalau kencan maka aku harus menjemputmu dan mengantarmu pulang, membawakan bunga, dan berpakaian rapi.” Jack menuang segelas ait untuknya. “Sedangkan ajakanku, kalau kamu bersedia untuk datang.” ditegaknya air itu. “Kamu harus datang sendiri, ke rumahku dan pualng sendiri. Tidak ada bunga, coklat atau lainnya. Lalu aku akan menerimamu masuk dengan celana pendek dan celemek.”

Keiko tertawa mendengarkan penjelasan Jack yang terlampau mendetail. Entah apa yang dipikir Jack hingga menawarinya kencan rumahan seperti itu. Karena terserah Jack melabelinya apa, ajakan ke rumah dengan dua orang saja terdengar lebih dari kencan di kuping Keiko.

“Kita lihat saja nanti. Kalau aku tidak sibuk.” jawab Keiko mengantung.

“Kamu kerja? Kerja apa?”

Keiko mengelap tangannya ia sudah selesai mencuci piring, berdiri menyandar di samping basin. Kemudian memperhatikan teko di sebelah Jack yang sudah habis separuh.

“Kamu mau minum lagi?” tanya Keiko mengelak. Ia sedikit malu dengan status penganggurannya.

Jack mengeleng, “Kamu belum menjawabku, Kei. Kamu kerja apa?”

“Kenapa Jack? Sekarang kamu ingin menawariku pekerjaan?”

Jack tersenyum, “Tidak juga, tapi kalau kamu berminat, aku punya lowongan yang pas untukmu.”

“Oh yah?”

“Jadi pacarku.”

Keiko tergelak mendengar rayuan Jack yang super kacangan.

“Konyol ya? Rasanya pas aku mendengar Micky berkata seperti itu, dia terlihat keren sekali.”

Tawa Keiko semakin kencang, “Kalau Micky separah itu aku jadi ragu Yunna bisa bertekuk lutut pada temanmu. Kamu yakin kalian perayu paling baik di antara Fox-T?”

Jack terlihat berpikir sejenak. “Sebetulnya Max yang paling hebat, tapi dia lebih kecil dari kita semua jadi aku rasa kamu atau Yunna tidak akan tertarik pada pria yang lebih muda.”

“Well, you never know.” jawab Keiko usil.

“Masa kamu suka dengan daun muda? Gawat dong.”

Mau tak mau Keiko tertawa lagi. Rasanya Jack ini blak-blak sekali orangnya. Apa dia tidak pernah menyaring ucapannya atau memang filternya sedikit bocor?

Jack melirik jam tangannya. “Ehm, Kei. Dengan berat hati aku harus ijin pamit. Pikirkan kembali ajakanku ya.”

Keiko memasang tampang plos, pura-pura lupa untuk mengetahui apa Jack akan mengulang ajakannya dengan sedikit lebih berani. Seperti mengajaknya kencan sungguh-sungguh.

“Aku akan memasak DaeJi GalBi

kalau itu bisa membuatmu berubah pikiran.”

“Iga babi??? Lucu, apa aku kelihatan seperti penyuka babi?”

“Aku melihat pajangan babi di kamarmu dan bantal kepalamu.”

Keiko mencibir, “Apa tidak terpikir olehmu kalau aku suka babi yang imut dan merasa kasihan pada binatang berkaki empat itu untuk dimasak?”

“Nope, tidak sedikitpun.” ucap Jack mantap.

Keiko mendesah, “Seperti kataku tadi, biar aku pikirkan dulu. Pergi ke rumah artis sama menyeramkannya dengan mengunjungi penjara.”

Jack terdiam mendengar penyataan negatif Keiko yang walaupun menohok tapi tidak terlalu jauh dari kenyataan.

Pengemar fanatiknya banyak yang berkeliaran di sekitar rumah Fox-T hanya sekedar untuk mendapatkan foto dirinya atau teman-temannya walau hanya sekilas dan tidak jarang banyak dari mereka yang menunggu di depan pintu rumah berharap salah satu dari mereka keluar dan menyapa.

Jack bukan merasa terganggu tapi melihat keekstiman prilaku ssaesang, sebutan untuk para fans hardcore itu, Jack khawatir mereka akan membahayakan keselamatan mereka sendiri.

“Kamu terlihat cukup serius kalau sedang berpikir.” komentar Keiko mengembalikan Jack dari lamunannya.

“Kalau kamu memutuskan untuk datang, jangan memberitahu nama atau alamat tujuanmu. Masuk dari tempat parkir mengunakan kartu ini.” Jack memberikan kartu akses rumahnya. “Cari nomor 14.”

Keiko menatap kartu akses yang diberikan Jack dengan segelimat pikiran runyam. Saat ia tersadar dan ingin menolak, Jack sudah menghilang dari hadapannya.

Ia mendengar suara pintu depan terbuku dan tertutup.

“Dia…” gugam Keiko. “Well at least he knows how to deal it secretly.”

Keiko menyiman kartu tersebut ke dalam saku celana dan berjanji akan mengembalikan kartu tersebut. Mungkin melalui pos karena jika mereka bertemu lagi, yang kemungkinannya kecil, maka Keiko tidak boleh bersikap seolah mengenal Jack.

Demi Yunna dan Micky, sebaiknya ia tidak mengaku mengenal Jack atau Yunna akan mencurigai ia yang mendalangi semua ini.

Keiko masuk kembali ke kamarnya dan memandangi handphonenya. Membaca ulang SMS yang dikirim Yogi.

Maaf, Kei. Kembalilah. Oppa berjanji tidak akan mengungkit masa lalu. Just stay with me. That’s all.”

Jemarinya menari-nari di atas tombol delete sebelum akhirnya memindahkan pesan tersebut ke lock folder di Blackberrynya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s