Damn, I miss you – Chapter 7

Jack duduk di samping mini bar. Ia tahu seharusnya ia berhenti
menunggu kedatangan Keiko sejak jam 12 berlalu. Tapi yang ada, ia
tetap duduk di sana dengan celemek terpasang dan berulangkali
memanaskan iga babinya.

Jarum jam menunjukan pukul 2 saat Jack akhirnya menyerah dan melipat celemek. Mematikan lampu dan masuk ke kamarnya.
Kalau dipikir-pikir hari ini ia sudah melakukan hal tergila dalam hidupnya. Mengusir empat temannya dari rumah hanya untuk menyiapkan rumah kosong demi makan malam dengan Keiko.
Untungnya mereka tidak bertanya lebih detail atau Jack akan mengalami kesulitan mengarang alasan.
Jack bukan tipe orang yang bisa berbohong.
Lalu setelah semua kesulitannya, perempuan itu bisa-bisanya tidak datang.

Kecewa sudah pasti, marah tentu saja. Benci….
Jack merenung. Benci kata yang terlalu kuat untuk saat ini.
Benci membutuhkan alasan yang lebih menyakitkan, sesuatu yang membuat
hatinya teriris-iris dan berhenti serta berbalik.
Benci adalah saat seseorang membuatnya merasa tertinggal dan tak
berdaya untuk memberontak.
Benci adalah apa yang ia rasakan pada orang yang menyakitinya.

Sedangkan yang ada sekarang, Jack tersenyum. Hari ini hanya sebuah kebodohan yang takterukur. Jack terlalu yakin sudah berhasil membuat Keiko mempertimbangkan dirinya. Jack terlalu percaya diri dan menganggap Keiko sudah dalam genggaman. Dan di atas segala
kebodohannya, Jack tidak meminta nomor telepon Keiko.

Kalau ini rasanya menunggu seseorang, Jack tidak akan pernah mau lagi merasakannya.
Rasanya tidak enak. Cemas dan gelisah. Berdebar-debar setiap saat dan terus berangan-angan memikirkan berbagai kemungkinan adegan yang terjadi saat Keiko datang. Lelucon apa yang akan ia lemparkan untuk membuat perempuan itu nyaman. Lagu apa yang akan dia setel untuk
membangun suasana. Kata-kata apa yang harus ia ucapkan untuk membuat Keiko tersentuh.
Semua antisipasi sia-sia.
Damn, ia berubah sepuitis Micky sekarang.
Tahu kencannya akan gagal seperti ini, Jack tidak akan mengusir teman-temannya. Setidaknya kalau ada Micky atau Max, mereka bisa melewatkan malam dengan minum-minum. Dua temannya ini juga tidak akan mengumbar kedatangan Keiko.

Tiba-tiba handphone Jack bergetar. Buru-buru Jack mengangkatnya. Seulas senyum muncul tanpa Jack mau saat mendengar suara Keiko.
“Jack?”
“Hei.”
“Maaf, aku tidak bisa ke sana. Ada sedikit masalah di sini.”
Suara Keiko terdengar tulus tapi Jack bukan orang yang mudah memaafkan orang yang melanggar janji. Ia tetap diam mendengarkan penjelasan Keiko.
“Ganti dengan lari pagi bagaimana? Aku berencana untuk peri ke Suwon Park pagi ini. Ehmm, Jack, masih di sana?”
“Aku tidak suka lari.” jawab Jack lebih galak dari yang ia maksud.
“Sepeda?”
“Aku tidak suka olahraga.” tandas Jack.
“Ehmm, jadi gimana dong?” tanya Keiko terdengar resah.
“Hiking. Kalau hiking aku mau. Aku jemput sekarang.”
“Tunggu, tunggu… Sekarang? Jam 2 pagi? Tidak mau.”
Jack ingin tertawa mendengar kepanikan Keiko tapi ia belum selesai.
“Kalau kamu mau aku memaafkanmu. Hiking.”
Keiko terdiam.
Jack menduga perempuan itu sedang mempertimbangkan permintaannya.
Silahkan pakai waktumu Keiko-ssi.
Tapi setelah 2 menit 3 detik berlalu, Jack tidak seyakin tadi. Jack akan menghitung sampai 30 kalau Keiko belum menjawab juga, maka tamat sudah. Ia tidak memiliki kesempatan sama sekali dengan perempuan bermata abu-abu ini.
“Aku ingatkan dulu, aku tidak pernah hiking sebelumnya.”
Jack tersenyum lega. Dan senyum itu tidak pernah meninggalkan wajahnya sepanjang sisa pembicaraan mereka.
Mereka membahas segala hal mengenai hiking, apa saja yang terpikir oleh mereka.
Saat Jack menutup telepon, senyum di wajahnya sudah sampai ke kuping. Ia tidak ingat kapan pernah ngobrol selama Satu jam dengan perempuan di luar pembicaraan bisnis.
Rasanya menyenangkan bisa berbagi sesuatu dengan Orang lain selain teman-teman lakinya.
Jack melirik jam, ia punya 2 jam untuk menyiapkan peralatan hiking dan sarapan.
Tidak perlu tidur.

DUA JAM berikutnya, Jack menunggu di seberang bus stop mereka dulu. Di depan coffee shop yang ditunjuk oleh Keiko. Jackturun dan memesan dua americano dan memasukannya dalam tumblar.
Keiko pasti sama ngantuknya dengan dirinya. Sedikit kopi baik untuk mereka.
“Terima kasih.” ucap Jack saat menerima kopi pesanannya dan ia kembali keluar coffee shop itu dan melihat Keiko sudah berdiri di samping mobilnya.
Perempuan itu mengenakan jaket training biru gelap dan celana senada. Walau Keiko mengunakan kacamatainus ala ibu guru, Jack tidak mungkin tidak mengenali mata abu-abu perempuan itu.
“Hai.” Jack membuka pintu mobilnya dengan tampang masam.”Kata kamu kamu tidak punya celana training selain yang pink kemarin.”
Kontan tawa Keiko meledak. Tidak menyangka Jack akan menaruh dendam atas keusilannya. “Kemarin celana ini belum kering. Beneran, aku tidak ada maksud apa-apa kok. Ini aku bawain sup. Kamu pasti kurang tidurkan.”
Jack meletakan tumblar yang diberikan Keiko di sampingnya tanpa memperhatikan lebih lanjut.
“Masih ngambek?”
“Masih.” jawab Jack sok ketus padahal dalam hati ia sudah guling-guling senang dengan perhatian Keiko.
“Kamu mau membatalkan saja?”
“Ngak!” jawab Jack cepat.
Terlalu cepat.
Jack sebal melihat Keiko tersenyum penuh kemenangan ri sampingnya.
“Aku kuliah psikology, Jack. Jadi mohon dicatat hal itu sebelum kamu mengusiliku.” Keiko mengambil tublarnya dan menuang segelas untuk Jack.
Sup kaldu ayam dan sedikit jahe untuk menolak masuk angin. Baik untuk orang yang sering bergadang.
Well, setidaknya itu yang Keiko baca di internet. Ia belum pernah membuat sup sebelumnya. Menu masakan Keiko hanya berputar di masakan barat saja. Jadi ketika Jack berkata bahwa sup buatannya masih layak minum, Keiko lega luar biasa.
“Baguslah. Ini pertama kalinya aku masak masakan Korea. Lumayan itu sama baiknya dengan enak.”
Jack memasang tampang cemberutnya lagi.
Damn, lagi-lagi ia salah strategi.
“Kita mau berangkat ngak sih? Aku tidak suka hiking panas-panas.”
Jack menyalakan mesin mobilnya sambil ngedumel.
“Kamu dan Micky pasti cocok. Sama-sama tukang mengeluh.”
“Masa? Rasanya aku tidak sedang mengeluh.”
Jack memutar bola matanya, mendadak ia merasakan firasat hiking kali ini akan membuatnya cape fisik dan hati.

Hampir satu jam kemudian, kira-kira jam 7, matahari sudah timbul di ufuk, bersemu merah malu-malu di balik awan.
Jack menurunkan peralatannya dari bagasi dan ketika ia mendongkak, ia melihat Keiko sedang memandangi matahari.
Kemilau merah menerpa sosok Keiko membuatnya terlihat berkilau.
Semilir angin yang memainkan rambut Keiko membuat perempuan itu semakin mirip lukisan.
Jack tidak tahu harus memanggil Keiko untuk membantunya atau membiarkan perempuan itu tetap dalam lukisan.
Ehmmmm….
“Aku baru tahu Taman Suwon ada tempat hikingnya. Kamu yakin lintasan kita aman?”
Kalau saat ini Jack adalah kaset yang sedang dimainkan, maka suaranya pasti seperti kaset rusak yang digesek oleh DJ.
Tidak mengubris pertanyan Keiko, Jack mengendong tas ranselnya dan mulai berjalan ke hiking track.
“Jack, pertanyaan lain, kamu yakin kita aman dari sorotan orang? Kamu yakin tidak perlu mengunakan kacamata hitam atau memasang hoodie?”
Jack tetap berjalan dan membiarkan Keiko mengikutinya. Perempuan ini punya sindrom terlalu banyak berpikir.
“Jack, hikingnya naikin tangga toh? Bagus deh, soalnya aku tidak yakin sepatuku mengatasi medan berat.”
Dan bawel. Tapi Jack melirik juga ke kaki Keiko. Tidak ada yang salah dengan sepatu itu.
Ketika Jack mengalihkan pandangannya ke wajah Keiko, Jack tersadar kalau Keiko hanya sekedar mencari-cari alasan untuk mendapatkan perhatiannya.
“See, you are one fine good man. Jangan marah lagi yah. Aku janji tidak akan membatalkan janji kita. Walau sebetulnya aku kan tidak pernah berjanji aku akan datang.”
Jack memalingkan wajah dan terus mendaki.
“Jack, tunggu…..Argh…….” pekik Keiko.
Jack masih terus berjalan. “Aku tidak akan tertipu, Kei. Jadi kamu tidak perlu bersandiwara. Kamu benar, kamu memang tidak berjanji padaku. Tapi kupikir kita punya kesepakatan.”
Jack menoleh ke kanan, tapi Keiko tidak ada di sisinya.
Jack menoleh ke belakang panik, dan melihat perempuan itu duduk di bangku yang memang tersedia di sepanjang pendakian.
Dengan sepatu terlepas.
“Ada apa?” tanya Jack begitu tiba di samping Keiko.
Keiko memijit telapak kaki kirinya. “Keseleo. Kan aku sudah bilang sepatu itu tidak cocok untuk mendaki.”
Jack mengangkat sepatu Keiko. Sepatu itu memang lebih tipis dari sepatunya.
Ia melirik kaki Keiko dan meletakkan ranselnya di tanah. Kemudian Jack menarik kaki Keiko dari tangan perempuan itu dan mulai mengamatinya.
Sepertinya tidak terlalu parah.
“Kamu bisa berjalan?”
Keiko mengangkat pundaknya dan Jack menghela nafas. Apa katanya tadi soal hari ini.
“You know what. Kamu bisa terus mendaki. Aku akan turun. Aku rasa aku bisa turun sendiri. Belum terlalu jauh juga.”
Keiko bangkit berdiri, mengunakan kakinya yang sehat untuk menopangnya.
Tiba-tiba Jack jongkok di depannya. “Naik.”
Keiko menatap punggung bidang Jack. Terpana dan terharu. Jack memang laki-laki yang baik.
Keiko naik sesuai perintah Jack dan digendong oleh Jack. Sedangkan ranselnya dioper ke depan.
Untung Jack hanya membawa sedikit barang. Atau ia tidak yakin bisa mengendong Keiko sekaligus tas itu sampai atas.
Sepanjang perjalanan, Keiko diam membisu. Sebagian dari dirinya ingin menikmati perhatian Jack. Ia belum pernah digendong oleh laki-laki manapun dan sikap Jack padanya membuatnya tersentuh.
Tapi sebagian dirinya yang lain merasa bersalah. Keiko sudah memperalat kebaikan Jack untuk mengisi kekosongan hatinya. Mengunakan kedekatan mereka untuk mengantikan apa yang telah hilang dari hubungannya dengan Yogi.

Tanpa sadar Keiko mengencangkan pelukannya dan meletakan kepalanya di bahu Jack.
Biar deh, Keiko berjanji tidak akan bermanja-manja lagi pada Jack. Cukup hari ini saja. Keiko memerlukan energi tambahan untuk menjalani hari esok.
Akhirnya mata Keiko terpejam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s