Damn, I miss you – chapter 6

Satu jam kemudian, Keiko masuk ke salah satu gereja tua daerah Jongno, satu-satunya gereja anglican ala roma di Seoul berdiri tegak dengan segala kemegahannya.
Ia menebar pandangannya mencari sosok laki-laki yang amat ia kenal dan menemukan Yogi duduk di deretan tengah barisan kiri gereja.
Tempat ini memang selalu sepi terlebih di hari Sabtu siang. Keiko melihat hanya ada dua pengunjung dan satu pelayan gereja di sudut kanan.
Mereka aman.
Keiko duduk di samping Yogi.
“Aku pikir kamu tidak akan datang.” bisik Yogi dengan suara pelan.

Keiko tidak menjawab. Ia menatap lurus salib besar di atas podium. Gereja ini merupakan tempat favoritenya untuk menyepi. Begitu pula dengan Yogi.
Keiko ingat betapa seringnya dulu ia menjelajahi bangunan-bangunan tua bersama Yogi.
Dari gedung imperial, istana kerajaan sampai kedai-kedai teh di Insa.
Tapi tidak ada yang menandingi batu-batu dingin di gereja ini. Keiko merasa ketenangan menyelimutinya dengan cepat.
“Dia mengantarmu pulang?”
Walau Keiko tahu siapa ‘Dia’ yang Yogi maksud tapi ia tidak berniat menjawab. Keiko tetap membisu. Ia datang bukan untuk menjawab pertanyaan dari Yogi.
“Kamu tidur dengannya?”
Keiko melirik Yogi dan mendengus. Ia tidak akan membuat Yogi puas dengan mendengar pengakuan darinya. Ia tidak berkewajiban untuk menjawab pada Yogi lagi.
“Kamu pasti tidur dengannya! Aku lihat kalian keluar bersama.!” desis Yogi frustasi. “Kalian berpacaran sekarang? Aku tidak tahu kamu segampang itu. Atau karena dia seorang artis maka kamu setuju saja?”
“What are you trying to say, Yogi-ssi?” balas Keiko dengan suara setenang air danau tak berarus.
“I want you back.”
“Aku tidak pernah kemana-mana.”
“But still i lose you, I lose us! Beritahu aku apa yang harus aku lakukan agar kamu mau kembali. Kemarin segalanya masih baik sebelum dia muncul. Kita masih tertawa bersama.”
“Kamu salah. Kita berhenti tertawa karena kamu bersikap seperti orang gila yang cemburu buta.” bantah Keiko membetulkan.
“Kamu ingin aku bagaimana, Kei? Diam saja melihat cowok lain bermain mata denganmu?” Yogi mengenggam tangan kiri Keiko erat, meremasnya. “Tidak mungkin bisa, Kei.”
Keiko menarik tangannya dari Yogi. Menolak kontak fisik apapun dari laki-laki yang pernah dicintainya ini.
“Aku datang untuk memberitahumu bahwa ini pertemuan terakhir kita.”
“Don’t say that! Apa kamu takut pada kakakmu? Michi tidak memusingkan hubungan kita. Dia merestui kita. Aku mendengarnya sendiri.”
Keiko tertawa sumbang, “Kamu memintaku untuk menjadi simpananmu? Serendah itukah kamu melihatku?”
“Bukan, bukan itu maksudku.”
Keiko mengangkat tangannya, meminta Yogi berhenti berbicara.
“Apa kamu berpikir karena aku menyerahkan diriku dulu padamu maka sekarang aku akan melakukannya lagi?” Suara Keiko sedikit naik, “Damn it, Yogi. I’m not a whore and your wife is my sister. Half blood or not I still love her with all my heart! If you really care about me like you said, you should let me go.”
“Aku tidak pernah menganggapmu seperti itu. Kamu tahu hal ini dengan jelas.”
“Kalau begitu berhenti membuatku merasa demikian!”
“Then stop seeing Jack.”
Keiko memelototi Yogi sekarang setelah selama stengah jam berbicara dengan laki-laki itu tanpa memandang kepadanya.
“Apa hubungannya Jack dengan kita?”
“Kalau dia tidak muncul, kamu pasti bersedia tetap menemaniku. Aku tahu pasti hal itu.”
“Kemarin aku memang bersedia bertemu denganmu, tapi hanya untuk memberitahumu kalau kemarin adalah pertemuan terakhir kita. Aku sama sekali tidak berminat unuk tetap berteman dengan orang yang tidak mengerti batasan tata krama. Kamu suami kakakku dan mulailah bersikap demikian. Apapun yang pernah terjadi di antara kita dulu, semua masa lalu. Kubur, buang ke laut. Terserah tapi berhenti mengungkitnya like it matter. Cause it’s not. Not anymore.” tandas Keiko dan ia bangkit berdiri.
“Next time I see you, oppa. Kamu adalah kakak ipar dan aku adik ipar.”
Kemudian Keiko pergi meninggalkan gereja itu dengan dagu terangkat dan punggung tegap. Ia harus menunjukan keyakinannya pada keputusannya itu.
Sampai di luar, Keiko menghabiskan beberapa menit untuk memandangi gereja berwana bata di hadapannya. Melahap dengan habis semua detail dan keagungannya. Mematrinya dalam hati karena ia tahu ia tidak akan pernah kembali ke gereja itu.
Kenangan di antara mereka terlalu banyak tersimpan di dalam gereja ini.
Kalau Keiko ingin memulai lembaran baru maka ia harus berhenti menoleh ke belakang.
Sebuah sepeda menyerempet bahu Keiko membuatnya goyah dan terjatuh.
“Awal yang bagus Kei.” bisik Keiko.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya seorang laki-laki dengan sepeda di sampingnya. “Aku agak terburu-buru tadi.”
“Tentu saja tidak,” tukas Keiko sengit. “Tapi aku bisa sendiri.”
Keiko menolak uluran tangan laki-laki itu dan berdiri sendiri.
Ia mengibas-ngibas kotoran di celananya dan tersenyum lebar untuk menangkan si penabrak yang ternyata laki-laki tampan.
“Max.”
“Max what?!” tanya Keiko bingung.
Sepertinya dua hari ini populasi pria di Korea mendadak menjadi lebih tampan dari yang pernah diingat Keiko.
Laki-laki itu tertawa, “Maksudku namaku Max. Changmin kalau kamu memilih nama Korea ku tapi kurasa Max lebih gampang diingat untuk orang asing sepertimu. Kamu bukan orang Korea kan?”
Dan pria Korea mendadak memiliki kemampuan linguistik yang menakjubkan.
“Blasteran Inggris dan Jepang. Tapi aku besar di sini.”
“Lalu?”
Keiko menaikkan satu alisnya. “Lalu?”
“Namamu, kamu belum menyebutkan namamu.”
“Dan untuk kamu memerlukan namaku, Max-ssi?”
“Supaya aku bisa memanggilmu kalau kita kebetulan bertemu lagi. Aneh dong kalau nanti aku melambai tangan padamu dan memanggilmu, “Hei, makan yuk Hei.” atau “Rumah Hei jauh dari sini?”
Keiko tertawa mendengar kelakar Max. Satu lagi ia bertemu laki-laki gombal maka Keiko akan pergi ke Jeju dan merakit kayu.
“Jadi?” tanya Max, lagi-lagi disertai senyum. Yang menurut Keiko imut.
“Jadi apa?”
“Ehm, kamu yakin kamu baik-baik saja? Apa kepalamu terantuk sesuatu? Apa aku perlu mengantarmu ke rumah sakit.”
Okay, Keiko memberikan nilai untuk usaha laki-laki ini membuat Keiko tertawa.
“Lee Keiko. Kepalaku baik-baik saja.” ucap Keiko dan ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Max tersenyum culas, mengambil tangan tersebut tapi bukan sekedar jabat tangan yang ia lakukan, ia mengecup tangan Keiko dan menatap perempuan itu dengan pandangan nakal.
Keiko terkejut, sudah lama tidak ada yang memberinya kecupan tangan seperti ini sejak ia tidak tinggal lagi di London.
“I’m Max and at your service, my lady.” tutur Max membuat Keiko balas tersenyum merasa pernah mendengar cerita tentang Max, laki-laki lebih muda dan perayu sejati.
“Kamu pasti Max dari Fox-T.”
“Kamu membutuhkan waku cukup lama untuk menyadarinya.” Max melepaskan gengamannya. Tidak sopan memegang tangan perempuan lama-lama.
“Aku ingat ada seseorang yang pernah berkata padaku kalau di antara 5 anggota Fox-T ada 1 bajingan sejati, satu perayu ulung dan 1 tearjerker.”
“Tearjerker? Apa itu sebutan baru untuk playboy? karena aku jelas bukan bajingan, aku tidak pernah membuat perempuan patah hati.” Max mengedipkan matanya centil. “Aku juga tidak pernah merayu, aku hanya berkata jujur dan memuji perempuan cantik. Seperti dirimu.”
Keiko memutar bola matanya, lagi-lagi iya bertemu perayu wanita. mungkin ada sesuatu dalam dirinya yang menarik perhatian para laki-laki gombal ini. Sesuatu yang harus segera ia rubah kalau ia ingin hidup tenang.
Mungkinkah caranya berpakaian? Keiko melirik kaki sekilas, ia mengenakan skinny jeans gelapdan kaos polo Fred Perry. Sangat casual. Jadi cross that.
“Ada yang pernah mengatakan kalau matamu luar biasa untuk orang Asia?”
Sebetulnya ada, temanmu yang baru saja menginap di rumahku, jawab Keiko dalam hati. Tapi ia yakin Max akan membelalakkan matanya kalau mendengar Keiko menjawab seperti itu.
So, demi kehormatan dan kerahasiaan serta kelangsungan rencana membuat Yunna tersenyum — nama proyek yang baru saja terlintas di kepala Keiko.
Ia tersenyum sopan.
“Sudah kuduga, pasti ada banyak yang bilang begitu yah. Tidak mungkin ada orang yang melewati matamu kalau mereka memandangmu seperti ini. Terlalu cantik.”
“Jadi maksudmu mataku ini tidak cocok untuk wajahku?”
Max mengaruk kepalanya merasa sudah salah bicara, Keiko tidak terpesona dengan rayuannya.
“Oh, aku hanya bercanda Max. Jangan memasang tampang muram seperti itu. Aku orang luar jadi kamu tidak perlu takut aku sesensitif orang Korea.”
“Touche, Kei. Touche.”
Keiko tertawa, “Siapa yang mengajarimu kata itu? Micky?”
“Kamu kenal dia?” tanya Max lebih terdengar kecewa dibanding terkejut.
“Tidak, aku belum pernah berkenalan dengannya.” Keiko tidak berbohong, ia hanya mendapatkan informasi lebih tentang laki-laki yang satu itu dari dua orang berbeda yang kelihatannya cukup akurat.
“Kamu mau kemana? Perlu tumpangan?”
Keiko melirik sepeda Max. Kendaraan yang terlalu berbahaya untuk dirinya.
Keiko bisa membayangkan pengemar Max meneriakinya dan menariknya turun dari sepeda begitu merka tahu Max yang memboncenginya.
“Kei….” panggil Yogi tiba-tiba dari pintu gereja.
Keiko melihat iparnya itu dan tersenyum kepada Max.
“Baiklah. Sampai jumpa Kei-ko-chan.” ucap Max dan mengayuh sepedanya.
Tidak sampai sepuluh langkah, Max memutar sepedanya kembali dan mengeluarkan handphonenya.
Memotret Keiko dan menjejalkan kartu namanya ke tangan Keiko.
“Telepon aku…” ucap Max tanpa suara.
Keiko memutar bola matanya.
“Laki-laki lain lagi, Kei?” tanya Yogi yang mendadak sudah berdiri di samping Keiko.
Malas menanggapi rengekan Yogi, Keiko melangkahkan kakinya.
“Tunggu.” Yogi menarik tangan Keiko. “Aku sudah memikirkan ucapanmu dan memutuskan untuk mengikutimu. Mulai sekarang aku akan bersikap dengan pantas selayaknya kakak iparmu.”
Keiko menatap mata Yogi, memastikan kesungguhan laki-laki itu.
“Truce?” tanya Yogi dengan senyum lemah.
Keiko melepaskan tangannya dari Yogi dan membuang nafas. “Truce.”
“Kalau begiu ijinkan oppa mengantarmu pulang. Terlalu berbahaya membiarkan Kamu sendirian di jalanan. Kamu masih menolak bekerja di tempat oppa?”

Dan Yogi terus menunjukan perhatiannya kepada Keiko. Sebatas perhatian kakak kepada adik. Karena Yogi terus mengunakan kata oppa untuk menunjuk dirinya. Satu hal yang belum pernah dilakukan Yogi sepanjang Keiko mengenal laki-laki itu.

Mungkin ia juga harus melakukan bagiannya, bersikap senormal adik kepada abangnya.
Keiko membalas perhatian Yogi dengan cibiran dan ledekan.
Sampai Yogi menurunkannya di lobby apartement dan Keiko melangkah turun.

Dari balik kemudi Yogi memandangi punggung Keiko. Membisikan salam perpisahan pada satu-satunya cinta dalam hidupnya. Ia mungkin tidak bisa mencintai Michi seperti ia mencintai Keiko tapi Keiko benar. Ia tidak boleh terus mengingjnkan Keiko kembali kepadanya sebagai kekasih. Akan terlalu kejam baginya dan bagi Keiko.
Orang lain tidak akan bersikap ramah pada wanita penganggu rumah tangga terlepas apapun kisah mereka. Faktanya ia sudah menikah. Dengan kakak Keiko pula dan jika ia mencitai Keiko ia akan melindungi perempuan itu dari jauh.
Mungkin ia bisa mulai dengan mencarikan Keiko pekerjaan dan memaksa Yunna untuk memberikan Keiko mobil.
Ia dan adiknya berhutang sebanyak itu pada Keiko.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s