Damn, I miss you – Chapter 14

“bogossipo……kangen…..kangen….i miss her…..”
Jack memandangi Max yang kembali berguling-guling si atas kasur sambil mengulang kembali kata keramat tadi.
Ia ingin menyumpal mulut Max karena membuatnya merasa uring-uringan juga.
Situasi agak memanas sejak terjadi insiden pelemparan terhadap Keiko dan Yunna.
Kejadiannya terjadi beberapa hari sejak foto Max tersebar.
Malam itu sepertinya Keiko dan Yunna sedang keluar makan malam. Beberapa wartawan nekad menghampiri mereka dan menanyai soal Perkembangan kontrak Cleo&Co dengan LIME. Situsi tetap tenang sampai mendadak satu perempuan muncul melempar plastik berisi car merah ke arah Keiko, Yunna dan wartawan yang berdiri di dekat mereka. Continue reading

Damn, I miss you – Chapter 13

Sesuai prediksi, 7 jam sebelas menit kemudian telepon dari Keiko masuk ke handphone Jack. Membuat iphone tersebut meraung-raung ke seluruh isi rumah. Membangunkan Micky dan membuat Ben yang memang sellau bangun paling pagi muncul di kamar Jack dan melempar iphone itu punggung Jack.
Sekedar catatan, Jack selalu tidur terlengkup kalau kecapaian, sekaligus mengurangi mimik tidurnya yang terlalu kelewat ekpresif.
“Jack, kamu harus menelepon Max sekarang dan menyuruhnya pulang. Aku perlu tidur…..”
Ucapan Keiko membuat Jack melek total. Ia langsung terduduk dan memerjapkan matanya.
“Kamu bilang Max melakukan apa?” Continue reading

Damn, I miss you – Chapter 12

Jack keluar dari rumah Keiko dengan sejumlah tekad untuk memastikan bahwa Keiko aman malam ini. Ia memutari kompleks Apartemen itu 3 kali untuk memastikan tidak ada wartawan yang berkeliaran.
Sebetulnya tindakannya ini agak tidak perlu, dari hasil pengintaiannya, tempat tinggal Keiko ini memiliki jumlah sekurity yang lebih dari cukup, mereka tidak memperbolehkan orang-orang untuk berdiri terlalu lama di lobby atau area umum lainnya. Yang terpenting, mereka tidak mengijinkan wartawan untuk masuk ke kawasan mereka. Continue reading

Damn, I miss you – chapter 11

“Terima kasih sudah mengantarku, Max.” ucap Keiko begitu ia tiba di are parkir gedung apartement. Max menurunkannya di sana atas dasar keamanan.
Keiko melambai pada mobil Max saat mobil itu keluar dari area parkir.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Jack yang entah muncul darimana membuat Keiko berteriak panik.
“Damn it, Jack. Jangan mengageti aku seperti itu.” geuttu Keiko dan berdua mereka berjalan menutu lift. “Aku baik-baik saja. Kenapa bisa banyak wartawan di sana? Bukannya Wartawan panggilan Yunna sudah pergi setelah Simon keluar gedung.”

Continue reading

Damn, I miss you – Chapter 10

Keiko sedang berdiri di depan lobby LIME. Menunggu Jack datang. Laki-laki itu menyelipkan kertas padanya saat ia berpura-pura memberikan evaluasi fisik untuk semua anak asuh LIME.
Ia baru saja selesai membantu Yunna, pura-pura bekerja sebagai assisten Yunna untuk mengelabuhi Simon, si pemilik LIME. Keiko yakin usaha Yunna akan membuahkan hasil dalam waktu dekat. Penawaran yang Yunna berikan jauh lebih dari cukup untuk membuat Simon makmur sampai 2 tahun mendatang. Continue reading

Damn, I miss you – chapter 9

Di lantai 48, tidak jauh dari rumah Fox-T. Terjadi kehebohan yang tidak jauh berbeda, hanya saja suara yang dihasilkan lebih melengking dan kadang diselingi oleh suara bariton Hugh Jackman.
Keiko dan Yunna sedang menonton Real Steel.
Keiko tersenyum keyika mendapati Yunna sedang memandanginya.
“Ceritakan sekarang atau aku akan meminta Big yang mencari tahu.”
Keiko tergelak, “Astaga, kamu tidak perlu mengancamku seperti itu. Aku pasti akan menceritakannya saat sudah tepat.”
“Dan kapan Saat yang tepat itu Kei?”
“Saat kamu dan Micky juga berpacaran.”

Continue reading

Damn, I miss you – Chapter 8

Jack bersenandung saat memasuki kamarnya. Ia bisa menganggap hari ini ia mendulang sukses besar. Terlepas bahwa mereka melakukan kencan tertunda, kencan tetap sebuah kencan.
Acara mendaki gunung dengan sekejap berubah menajdi piknik rahasia. Mereka tidak pergi ke Suwon tapi ke Namsan. Dengan alasan waktu.
Sepanjang piknik, Keiko tidak mungkin lebih accomodating dari perempuan lain yang pernah Jack kenal. Tapi Jack yakin semua itu hanya karena Keiko merasa bersalah sudah membatalkan janji mereka kemarin.
Dan Jack tidak ingin membuat hari berantakan dengan bertindak terlalu implusif walau Tuhan tahu betapa seringnya ia ingin merengut Keiko dan mencium perempuan itu sampai puas. Jika memang ia bisa terpuaskan.
Continue reading