Damn, I miss you – Chapter 8

Jack bersenandung saat memasuki kamarnya. Ia bisa menganggap hari ini ia mendulang sukses besar. Terlepas bahwa mereka melakukan kencan tertunda, kencan tetap sebuah kencan.
Acara mendaki gunung dengan sekejap berubah menajdi piknik rahasia. Mereka tidak pergi ke Suwon tapi ke Namsan. Dengan alasan waktu.
Sepanjang piknik, Keiko tidak mungkin lebih accomodating dari perempuan lain yang pernah Jack kenal. Tapi Jack yakin semua itu hanya karena Keiko merasa bersalah sudah membatalkan janji mereka kemarin.
Dan Jack tidak ingin membuat hari berantakan dengan bertindak terlalu implusif walau Tuhan tahu betapa seringnya ia ingin merengut Keiko dan mencium perempuan itu sampai puas. Jika memang ia bisa terpuaskan.

“Kutebak kencanmu lancar?”
Jack tergagap mendapati Micky duduk di meja komputer. Ia tidak mengharapkan akan bertemu dengan siapa-siapa.
“So, siapa dia?” desak Micky mulai memajukan kursinya dan mengikuti Jack yang sedang membuka pakaiannya sekarang.
“Kata siapa aku kencan?”
“Oh, ayolah, kamu tidak perlu menutupinya dariku. Kalian menginap? How’s the sex? Kamu tidur dengannya kan?”
Jack mendegus mendengar pertanyaan Micky. Sebagian harga dirinya terusik mendeengar tuduhan tersebut.
“Kamu tidak tidur dengannya? Woohoooo! Kamu membuatku semakin penasaran.”
“Kami hanya teman, Jack. Kebetulan saja kami memutuskan untuk bertemu kemarin.”
Jack tidak perlu menjelaskan mengenai keterlambatan kencan mereka. Yang penting Keiko akhirnya muncul dan mereka menhabiskan waktu bersama dengan baik.
“Right…… Teman yah.” ucap Micky mengangguk-angguk sarkastik. “So, who is she? Kalian berkenalan dimana? Kamu sudah putuskan dengan EunSoo? Tidak perlu menjawab, pasti sudah atau kamu tidak mungkin kencan dengan perempuan baru ini.”
Micky bisa menjadi menyebal kalauia mau dan Jack tidak sedang dalam mood untuk meladeni anak itu. Mendadak ia merasakan desakan untuk mender suara Keiko. Sekedar menanyakan apa dia sudah sampai di rumah tentu saja, tidak lebih.
“Dan Jack dalam meditasi. Really Jack, kalau aku tidak kenal denganmu, akuakan berpikir kamu kena santet. Tapi karena tahu kamu ini bajiangan, sama rusaknya dengan otakku, aku menduga kamu sedang memikirkan perempuan itu.”
Tertarik dengan penyataan Micky, Jack duduk di atas ranjang, satu-satunya opsi yang ia punya sejak Micky masih mendominasi KURSI di kamar mereka.
“Ada masalah di nirwana, Ky?” pancing Jack.
“Kalau ciuman disebut masalah, maka masalah yang sedang aku hadapi sekarang.”
“Kissu?”
“Kiss.” ulang Micky, “Satu ciuman yang membuat aku berpikir bahwa di dunia ini hanya ada dirinya dan diriku dan tidak ada yang lebih penting darinya. Kamu eprnah merasakan ciuman seperti itu Jack?”
“Hummmm?”
“Belum? Aku rasa juga begitu, bagaimana pun daftar mantanmu lebih sedikit dariku tapi aku pikir setidaknya kamu lebih serius dalam hubungan itu dariku. Tapi kelihatannya kita sama-sama tolol.”
“Tunggu dulu…. Jangan samakan aku dengan sepak terjangmu, Micky. Semua mantanku tidak ada yang komplain atau mencari-cariku setelah putus.”
Micky tertawa, “Justru itu maksudku, Jack. Tidak ada dari mereka yang membuatmu cukup serius berhubungan. Dan percaya padaku, perempuan juga punya harga diri. Mereka tidak akan mengemis meminta laki-laki yang jelas-jelas sudah tidak menginginkan mereka kembali.”
“Kembali ke soal ciuman. Aku belum pernah merasa dunia menyempit sepertimu. Tapi aku pernah merasa kalau hanya ciuman tidak cukup. Ciumanayng membuatmu masa seperti petasan yang siap meledak namun terus mengulung hingga ke titik dimana kamu tidak bisa menahan diri dan ingin ….”
Jack mencibir saat mendengar Micky kembali tertawa.
“Maaf” ujar Micky masih tertawa. “Tapi Jack, aku tidak pernah melihat kamu senafsu itu membahas sebuah ciuman. I guess, it’s about the little date with your friend.”
“Bahasa Korea, Micky. Ingat, bahasa korea.” tekan Jack semenjak tidak ada hal lain yang bisa Jack ungkit untuk mengalihkan pembicaraan.
“Temanmu ini pasti cewek menarik. Kamu yakin kalian tidak berpacaran?” ledek Micky.
“Orang baru juga kenal. Masa sudah pacaran. Kalau dia segampang itu aku juga malas.” ucap Jack lebih dimaksudkan untuk dirinya sendiri. Tapi kalau ternyata ia mengucapkannya dengan keras, pusing juga.
Tawa Micky kembali meledak, “So, biar aku simpulkan sedikit. Cewek ini menarik, cantik.”
Jack mengangguk setuju.
“Kalian berkenalan…”
“2 hari yang lalu.” jawab Jack mengisi cerita Micky.
“Dua hari.” Micky mengangguk-angguk mengerti. “Tapi kalian sudah berciuman 2 kali.” lanjut Micky mengacu 2 jari yang diacungkan Jack. “Tapi kamu gagal mengajaknya tidur?”
Jack memutar bola matanya, ia tahu Micky akan terus membahas kencan rahasianya ini sampai Micky mendapatkan jawaban yang ia mau. Nama kencannya itu.
Yang dengan berat hati harus Jack rahasiakan setidaknya sampai urusan diantara Micky dan Yunna selesai.
Yang kemudian menjadi dasar pertimbangan Jack untuk tetap membuat pembicaraan berputar-putar di tempat.
“Ayoolaaah…. Beritahu namanya saja. Setidaknya inisial, capai dong kalau kita terus-terusan menyebutnya sebagai temanmu. Dan nenek-nenek di pinggir jalan juga tahu temanmu itu segudang.”
tiba-tiba pintu kamar terbuka dan sesosok tubuh janggung berkulit sedikit coklat masuk dan berteriak….
“Hyuuuung, bagaimana kencanmu?” Tanya Max penuh semangat.
“Darimana kalian tahu aku kencan?”
“Oh, ayolah. Hyung pakai celemek, mengusir kami semua keluar. Apalagi kalau bukan kencan rumahan? Paling hanya Ben yang tidak tahu. So, Hyung tidur dengannya?” tanya Max terus menekan.
Jack memijit lehernya mulai merasa iritasi dengan pertanyaan yang dilontarkan mereka. Tawa Micky yang mengelagar membuat perasaannya semakin buruk.
“Memangnya aku selalu meniduri perempuan yang kuajak kencan yah? Kenapa sih kalian terus bertanya hal yang sama?”
“sepanjang aku mengenal Hyung?” tanya Max lebih bermaksud retorikal, “Yeap.”
“Jangan melihatku, aku tidak pernah menghitung sepak terjangmu, Jack.”
Max mengibas tangannya, “Fokus Hyung, fokus. Todur atau tidak? Atau aku harus mundur sedikit, kalian berciuman?”
Jack merasa lehernya ditimpa beban 10 ton karena mendadak ia merasa kaku.
“Jaaaaaack! Gimana kencanmu? Sukses? Sukses?” teriak Ben seperti angin ribut.
Dan sekali lagi kamar itu dipenuhi gelak tawa.
Micky menepuk pundak Jack penuh simpati dan dibalas dengan cekikan dari Jack. Demi keselamatan lehernya, Micky pasrah ditarik Jack ke atas kasur dan piting temannya itu.
“Kenapa? Betulkan, Jack pergi kencan? Kalian masak apa? Kok kulkas kosong?”
Kadang-kadang daya amat Max dan Ben bisa amat berbahaya. Kegagalan Jack bisa langsung tercium kalau ia tidak segera mencari akal mengalihkan pembicaraan.
“Kenapa kalian tidak menanyai kencan Micky? Dia yang pergi menemui Medusa kan?”
“Ah benar, gimana tuh Micky? Kamu berhasil membuat dia berubah pikiran?”
Jack menghela nafas lega ketika mendengar Ben menyambut pangalihannya. Dengan cepat pembicaraan bergulir dari remeh temeh pertemuan Yunna dan Micky sampai rencana mereka selanjutnya untuk memuluskan jalan Micky dalam memikat Yunna.
Merasa aman dan jauh dari sorotan, Jack mengelurkan Blakberrynya. Mengetik beberapa kata seperti;
J^K: Lagi ngapain?
Jack memainkan ponselnya sambil menunggu balasan dari Keiko. Ia tetap menyimak pembicaraan teman-temannya dan menimpali di saat perlu. Tidak ingin mereka mengetahui kalau Jack sedang menghubungi Keiko.
Jack sempat berhenti bernafas ketika mendadak blackberrynya berdering. Sama sekali tidak menduganya.
Jack melirik nomor di layar. Nomor Keiko. Panik menyerang, ia tidak mungkin mengangkat telepon perempuan ini dengan tiga temannya berada di sisinya.
“Hyung tidak akan mengangkatnya?”
Jack hanya menatap Max bingung. Dilema.
“Aku keluar dulu.” ucap Jack akhirnya dan tidak menghiraukan teriakan dan ledekan teman-temannya.
Setelah Jack berhasil bersembunyi di kamar mandi, ia menekan tombol terima.
“Lama.” tuduh Keiko membaut Jack tersenyum. Suara Keiko berubah menjadi lebih dalam kalau di telepon.
“Ada apa mencariku?”
“Loh, kan kamu yang texting.”
“Ah, maksudmu pertanyaanku tadi?”
Keiko tertawa, “Playing tricks, Jack?”
“Entah, aku tidak mengerti bahasa Inggris.”
Dan tawa Keiko kembali terdengar. Suara paling indah yang pernah Jack dengar sejauh ini.
“Aku serius, ada apa mencariku? Aku tidak meninggalkan sesuatu di mobilmu kan?”
“Sayangnya tidak. Dan kamu membuatku kesulitan mencari alasan untuk bertemu denganmu lagi.”
“Seriously Jack, rayuanmu mulai terdengar murahan.”
Gantian Jack yang tertawa, ia mulai menyukai sikap sarkastik Keiko.
“Baiklah. Jadi, kapan kita bertemu lagi?” tanya Jack langsung membuat Keiko terkejut nampaknya karena perempuan itu terdiam sebentar.
“Tidak tahu, aku sibuk minggu ini. Memangnya kamu nganggur Jack? Mungkin kamu harus lebih memusatkan perhatianmu pada kariermu.”
“Karierku baik-baik saja, Kei. Terima kasih. Aku lebih khawatir dengan dirimu.”
“Hmm? Ada apa denganku?”
“Kamu sepertinya kehilangan sentuhanmu dalam urus sindir menyindir.”
Keiko tertawa kencang, Jack sampai harus meminta perempuan itu mengecilkan suaranya.
“Jaccck, gantian, aku mau buang air.” teriak Ben mulai mengedor pintu.
“Kamu di kamar mandi?” tanya Keiko terdengar menahan tawanya hingga giginya beradu. “Adouuh, adouuuh….”
Satu alis Jack menukik mendengar kehebohan di ujung telepon. Entah apa ayng dilakukan Keiko tapi Jack mendegnar suara benda jatuh yang cukup keras.
“Oh my Gosh.” ucap Keiko di sela-sela tawanya.
“Kei, kalau kamu tidak segera menjelaskan apa yang terjadi di sana, aku akan datang ke tempatmu saat ini juga.”
“Oh, you wish! Maunya…” tuduh Keiko ceria. “Dan kamu bialng kita hanya berteman?”
“Tentu saja, aku tipe orang yang sangat peduli dengan temanku, Kei-chan.”
Jack kaget mendengar erangan Keiko. “Aku benci nama itu. Aku bukan anak kecil lagi, Jack. Jangan memanggilku sok imut begitu.”
“Jaaaack!!!!!”
astaga, Jack lupa kalau Ben memanggilnya sedari tadi.
“Aku telepon lagi besok. Bye, Kei.”
Ketika Jack keluar dari kamar mandi, Ben menyambutnya dengan seringaian dan menembaknya, “Aku harap kali ini hubunganmu bisa bertahan lama, Jack atau aku melaporkan pada Alex, kamu berpacaran.”
“Aku hanya berteman.” bantah Jack.
Tapi kelihatannya Ben tidak mengubris ucapannya dan buru-buru masuk kamar mandi.
“Serius, just friend.” ucap Jack sekali lagi, kali ini kepada dua temannya yang lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s