Damn, I miss you – chapter 9

Di lantai 48, tidak jauh dari rumah Fox-T. Terjadi kehebohan yang tidak jauh berbeda, hanya saja suara yang dihasilkan lebih melengking dan kadang diselingi oleh suara bariton Hugh Jackman.
Keiko dan Yunna sedang menonton Real Steel.
Keiko tersenyum keyika mendapati Yunna sedang memandanginya.
“Ceritakan sekarang atau aku akan meminta Big yang mencari tahu.”
Keiko tergelak, “Astaga, kamu tidak perlu mengancamku seperti itu. Aku pasti akan menceritakannya saat sudah tepat.”
“Dan kapan Saat yang tepat itu Kei?”
“Saat kamu dan Micky juga berpacaran.”

“Ah, itu mah sama saja menunggu petir menyambar gedung kita.”
Suara mengelegar menyambar dan memecahkan langit mendadak terdengar, membuat Yunna dan Keiko mematung untuk sesaat.
hanya sesaat karena kemudian dua perempuan itu terrawa cekikikan. Mendengar bad oman mereka ditanggapi.
“Aku tidak tahu bagaimana denganmu, tapi aku menganggap petir tadi sebagai isyarat kamu memang harus pacran dengan Micky.”
“Dan kamu dengan laki-laki di telepon tadi.”
Melihat Keiko hanya mengangkat bahu dan pura-pura sibuk membaca, Yunna melempar bantal sofa. “Ayolah, aku perlu tahu siapa nama laki-laki tadi. Setidaknya aku bisa melakukan banckgroucnd check untukmu.”
“No, no. Sekali ini biar aku yang mengurusnya sendiri.”
“Jadi kamu mengaku ada sesuatu di antara kalian?” tanya Yunna semakin girang.
Keiko cukup maklum dengan reaksi norak Yunna karena sahabatnya itu sudah menunggu satu tahunan untk mendengarnya membicarakan laki-laki lain selain abang Yunna itu.
“So, you’re officially out of Yogi?” tanya Yunna hati-hati.
Keiko mengeleng, “Entah, yang pasti aku menikmati waktu dengan cowok ini. Dia gila kalau kamu mengeerti maksudku.”
“Ah, gila….tentu aku megnerti. Laki-laki gila selalu bebas keluar masuk dalam kehidupan kita.”
Keiko tertawa mendengar lelucon Yunna.
“Dia jago masak.”
Keiko kembali tertawa melihat Yunna memasak wajah terus-kenapa-dengan-cowok-yang-bisa-memasak-kita-punya-koki.
“Aku serius, Yunna. Jaman begini mana ada sih laki-laki yang bisa memasak?”
“Fine, dia memasak.” gerutu Yunna.
“Dia punya otot yang impressive.” lanjut Keiko dan mereka berdua cekikikan. keiko tahu seberapa tergila-gilanya mereka berdua dengan otot.
“Lebih tampan dari dia.” Keiko menunjuk Hugh Jackman di layar projector. Film tersebut otomatis terlupakan sekarang.
“Tidak mungkin, tidak ada laki-laki yang lebih seksi dari pada Hugh Jackman.”
“Menurutku Jack…man masih kalah darinya.”
Keiko nyaris saja selip dan mengucapkan nama Jack. Tapi sepertinya Yunna tidak memperhatikannya.
“So, this man who’s cuter than Jackman date you and???? Asli deh, Kei, kamu kok jadi suka berbicara muter-muter, ayolah ceritakan lebih detail.”

“Well, well, well, aku harap aku tidak menganggu kalian ladies.”
Kepala dua perempuan itu menoleh ke pintu masuk penthouse dan melihat Yogi berdiri di sana sambil membawa wine dan pizza.
Dalam hati Keiko merasa lega. Sedikit lebih lama maka Keiko pasti sudah mengumbar semua ceritanya. Yunna terkenal dengan presisinya dan sahabatnya itu selalu emndapatkan apa yang ia mau.
“Oppa?! Ngapain di sini? Dimana Michiko?” tanya Yunna yang sudah celingukan di voyer untuk mencari kakak iparnya.
“Michiko di rumah Papa. Aku ke sini disuruh memata-matai kalian. Kenapa kamu tidak datang tadi, Yunna?”
“Sibuk.” jawab Yunna dengan mulut penuh pizza.
Yogi hanya mencibir mendengar jawaban klasik Yunna. Paling-paling adiknya ini takut diintrograsi orang tuanya.
“Aku dengar kamu akan membawa artis di acara peluncuranmu kemarin?” tanya Yogi.
“Suka-suka.” balas Yunna.
Yogi mengoyangkan telunjuk jarinya, “No, no, no Kamu tidak akan menghindar dari pertanyaanku.”
“Urus masalahmu sendiri oppa.” ancam Yunna cuek.
“Entah ada apa dengan kalian, kemarin Keiko dengan…”
“Yunna akan membawa pacarnya itu ke uang tahun Papa.” potong Keiko menyelamatkan diri.
Kontan Yogi menaikan suaranyad an melarang Yunna dan dua kakak beradik itu terlibat dalam adu mulut sengit.
Untuk sementara Keiko aman.
“Kamu dengar, Yunna? Kalau kamu tidak ingin membuat Oppa turun tangan, sebaiknya kamu memastikan artismu itu bersih dari masalah. Kamu tahu oppa tidak mungkin membantah jika Papa sudha menyuruhku untuk mengurusmu.” tegas Yogi yang hanya ditanggapi dengan cibiran dan juliran lidah dari Yunna.
Sejak Yogi menikah dengan kakak Keiko, abangnya itu sudah kehilang rasa hormat Yunna dan hubungan mereka belum pulih sampai sekarang.
“Urus urusanmu sendiri Oppa. Kudengar pernikahanmu…..”
Yunna menutup mulutnya saat melihat Yogi membantu Keiko membuka botol wine. Ia tersenyum dan meninggalkan dua orang itu. Ia sudah mendengar dari Keiko soal pertemuan mereka kemarin ini berakhir buruk. Harusnya Yunna sudah bisa menebak alasan kedatangan mendadak Yogi ke rumahnya ini.
“Done, mana gelasnya Yunna?” seru Yogi setelah berhasil menyabut penyumbat wine.
“Dia pasti kabur ke kamar.” jelas Keiko dan menyerahkan gelas kepada Yogi.
“Dia sama artis itu serius?”
“Cuma Yunna yang tahu.”
Yogi tertawa mendengar Keiko mengelak membocorkan rencana Yunna. “Baiklah, oppa tidak akan membahas masalah adik nakal itu. Bagaimana denganmu? Kalau aku tidak salah mendengar tadi, kamu pergi kencan sekarang?”
Yogi tersenyum ketika melihat Keiko menatapnya curiga. “Tidak peru defensive, aku hanya bertanya sebagai oppa. Kamu kencan dengan Jack atau laki-laki kemarin siang?”
Melihat Keiko tetap membisu, Yogi memosisikan dirinya lebih nyaman dengan duduk menghadap Keiko di sofa. Ia tahu Keiko sedang mempertimbangkan pertanyaannya.
“Dengan Jack kalau oppa memang penasaran. Tapi belum ada yang serius.” Keiko menegak gelasnya.
“Jack dan Micky. Jadi kalian berputar di kalangan artis sekarang.”
“Yunna tidak tahu soal Jack dan aku minta oppa menutup mulut juga. Aku tidak ingin Yunna berpikir aku merencanakan sesuatu.”
Dahi Yogi mengerut, “Kalau memang tidak ada apa-apa, kenapa harus bersembunyi?”
“Karena aku tidak mau terlibat gosip.”
Right, good excuse Keiko. Kamu membuat Yogi semakin curiga padamu.
“Gosip…. Khas selebritis.” dengus Yogi dan ia menyesap wine.
Untuk beberapa saat mereka hanya menegak minuman mereka dan mengucah pizza. Kejadian baru karena selama ini tidak pernah ada istilah kehabisan topik bagi mereka berdua.
“Kei.”
Jantung Keiko berhenti mendetak mendengar panggilan Yogi. Laki-laki itu mengunakan nada yang sama seperti yang selama ini Yogi gunakan untuk memanggilnya.
Ia hanya bisa mematung saat Yogi mengenggam jemarinya dan menarik tubuhnya mendekat.
Keiko berusaha mendorong Yogi agar menjauh darinya. Ia tidak ingin membuat dirinya kembali rapuh. Terlebih setelah ia berhasil menarik garis di antara mereka.
“Sebentar saja, Kei. Oppa memerlukan sedikit tambahan tenaga.”
Keiko mendorong Yogi lebih keras, hingga pundak Yogi kembali menyentuh sofa.
“Kalau oppa membutuhkan tambahan tenaga, oppa bisa meminta Unni melakukannya. Unni istri oppa dan hanya unni yang berhak melakukannya. Aku bukan ban serep atau charger instan.”
Keiko langsung meninggalkan ruang tamu dan masuk ke kamar Yunna.
“Kalian bertengkar lagi?” tanya Yunna menilai wajah Keiko yang kusut, Yunna menerima pelukan sahabatnya dan menerima segukan dan air mata Keiko.
“Kenapa kamu meninggalkan kami berdua? Kamu tahu dia pasti akan melakukan sesuatu yang akan disesalinya.”
“Aku pikir kalian perlu menyelesaikan pembicaraan kalian.”
“Aku sudah bicara padanya dan aku pikir dia sudah mengerti, Yunna. Tapi lihat saja apa yang ia lakukan! Dia memelukku!”
“Mana aku tahu, Kei. Dia datang dengan membawakan pizza dan wine seperti dulu. Aku pikir kalian sudah mencapai suatu kesepakatan.”
“Apparently not!”
“I donno Kei, he’s just so into you. Menikah tidak membuat perasaannyapadamu berhenti dan even if I hate to say this but hell, I’ m so jealous bout you.”
Keiko memukul punggung Yunna sebal, dia lagi dusing dan sedih begini Yunna maalh bercanda.
“Begini deh, aku punya saran. Mumpung kamu sekarang punya kencan, gimana kalau kamu dan Yogi lalu kakakmu dan kencanmu itu double date.”
Melihat Keiko memberinya tatapan kamu-gila, Yunna hanya membela dirinya.
“it’s better than we told hom to stay away!. Kamutahu diatidak mungkin mendengarkan, ditambah lagi dia itu kakak iparmu dan Michi itu istri gila yang merelakan suamiya selingkuh dengan adiknya sendiri. Klian persis Cleansing Cream BEG dalam kasus terbalik.”
“Maksudmu iparku yang tidak bisa berhenti memikirkan adik iparnya sedangkan seharusnya kalau menurut lagu itu aku sebagai adik yang terus memendam perasaanku?”
“Kamu masih bisa berteriak, wae, wae, waejyo, unni kalau kamu mau, tapi aku ragu Michi akan memberikan jalan keluar untuk kalian.”
Keiko tersenyum mendengar jawaban Yunna yang ngasal, Yunna pasti berharap ia berhenti menangis dan melihat masalah dengan lebih tenang.
“Ketawa dong Kei. Itu lelucon terbaikku loh.” pinta Yunna yang segera dikabulkan oleh Keiko dengan senyuman.
“We’re sucks.” ucap Keiko yang dengans egera dibantah Yunna.
“No, they sucks! Abangku sucks dan lupakan soal dia ok. Masukan dia ke dalam kotak dan aku akan mengirim dia ke Alaska dalam paket kilat.”
Keiko tertawa, “Dan kamu bilang kamu tidak punya lelucon lain, Yun? Sepertinya berteman dengan Micky membawa dampak baik untukmu.”
“Yeah, Micky, bener banget.” ucap Yunna memutar bola matanya. “Aku akan membawanya ke ulang tahun Papa akhir minggu nanti. Big bilang itu saat yang paling tepat untuk memberi pernyataan pada mereka.” wajah Yunna bersemu saat melihat Keiko memandanginya, “Oh, stop it, aku dan dia hanya pura-pura.”
“Menurutmu dia sudah pulang?”
“Oppa? Harusnya.”
Berdua mereka menempelkan telinga didaun pintu.
Tidak ada suara.
“Ah, sudahlah, aku tidak peduli dia masih ada di sana atau tidak. Aku mau kembali ke kamar.” ucap Keiko dan ia membuka pintu.
Tidak ada orang di luar.
“Pikirkan saranku. Menurutku sih, lebih baik kamu menunjukan pada oppa kalau kamu sudah move on. Dengan begitu dia akan menyerah sendiri.”
Keiko mengangguk.
Double date, pikir Keiko di kamar…..
Kencan ganda……
Bukan saran gila kalau seandainya hubungan Keiko dengan Jack sudah berkembang lebih jauh. Saat ini mereka masih bertahan di ground 1.
Lalu seandainya Jack bisa diajak pergi, bagaimana ia mengusulkan hal ini ke Yogi? Atau Keiko bilang sama Michi saja?
Ah, sudahlah, saat ini lebih baik ia memikirkan soal panggilan interview yang ada de mejanya.
Keiko duduk dan membaca 3 surat panggilan interview. Yang lucu, tidak satupun dari panggilan kerja ini dikirim oleh Keiko. Ia membaca satu amplop. Dari kantor pengacara, pasti Yogi deh.
Keiko membuang surat itu, cukup soal hukum, ia tidak meu bertemu dengan Michi atau Yogi terlalu sering.
Surat berikutnya, Fashion director? Pasti kerjaan Yunna.
Dua kakak beradik ini tidak bisa lebih mirip lagi nampaknya.
TV network? Dari siapa?
penasaran, Keiko membuka amplop itu. Audisi VJ? Ada-ada saja, siapa yang kurang kerjaan memasukan CV-nya ke sana?
Audisi Jumat depan, jam 9 pagi di NKTV.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s