Damn, I miss you – Chapter 10

Keiko sedang berdiri di depan lobby LIME. Menunggu Jack datang. Laki-laki itu menyelipkan kertas padanya saat ia berpura-pura memberikan evaluasi fisik untuk semua anak asuh LIME.
Ia baru saja selesai membantu Yunna, pura-pura bekerja sebagai assisten Yunna untuk mengelabuhi Simon, si pemilik LIME. Keiko yakin usaha Yunna akan membuahkan hasil dalam waktu dekat. Penawaran yang Yunna berikan jauh lebih dari cukup untuk membuat Simon makmur sampai 2 tahun mendatang.

Bagaimana kalau Simon sampai mengetahui, cross that, bagaimana kalau Micky dan Yunna mengendus hubungan mereka.
Keiko memutar bola matanya, kayak ada hubungan saja antaranya dengan laki-laki gila itu. Mereka hanya menghabiskan satu hari Minggu bersama….
Keiko tersenyum mengingatnya.
Satu hari yang menyenangkan memang tapi hanya itu.
Tidak lebih.
Jack tetap menekankan bahwa mereka berteman dan Keiko sendiri tidak mendorong laki-laki itu untuk menaikan level pertemanan mereka. Toh mereka tidak sedang diburu waktu, pendekatan ini lebih baik dilakukan perlahan.

Keiko menoleh ketika mendengar suara langkah Kaki mendekat.
Keiko membalikan badan. “Lima menit lagi, aku….”
Keiko membelalak ketika melihat Max yang ada di sana sedangkan Jack, anak bodoh itu masih jauh ada di belakang.
“Kamu menunggu seseorang?” tanya Max melongo ke kiri, kanan, depan, be….
“Apa kabar?” teriak Keiko panik, memaksa Max untuk melihat padanya lagi.
Keiko melihat Jack menghilang di balik lorong. Bersembunyi mungkin.
Max tertawa, “Kamu semangat sekali. Aku kaget melihat kamu di dalam tadi. Kamu bekerja untuk Yunna?”
“Semacam itu.” ucap Keiko, matanya masih memandangi lorong tempat Jack menghilang,
“Semacam itu? Kamu mencari siapa sih?”
Keiko menarik pipi Max panik, membuat Max kembali menatap Keiko dan memperpendek jarak di antara mereka.
Salah paham dengan tindakan Keiko, Max ikut meletakkan tangannya di pipi Keiko, mengelus pipinya.
“Aku tidak tahu kamu seantusias itu.” bisik Max dengan jarak setipis kertas dari bibir Keiko.
Ia bahkan bisa mencium wangi mentol dari mulut Max.
Keiko menelan ludah.
Astaga, setelah berhasil kabur dari buaya ia bertemu serigala?
Hidup tidak bisa lebih menegangkan dari ini.

Malah hidup tidak pernah semenarik ini.
mendadak puluhan kilat blitz menyambar Keiko dan Max. Keiko tidak sempat menghitung berapa banyak wartawan yang mengerumuni mereka, Max menutup wajahnya dengan tas yang dibawa Max dan menariknya masuk ke bagian dalam gedung. Tapi paling sedikit ada 10 orang dan Keiko melihat sekilas lambang beberapa surat kabar dan Infotainment.
Keiko cuma bisa melongo saat ia sampai di lorong yang ternyata dipenuhi juga oleh wartawan lain dan Max, terima kasih untuk Kelincahannya, kembali memanuver dirinya dan memasukan mereka ke dalam tangga darurat.
“Ke atas?” cuma itu yang bisa Keiko katakan sebelum Max menariknya ke arah berlawanan.
“Ke bawah saja, mobilku di parkir di bawah.”
Keiko mengikuti dan mereka berlari seperti orang gila.
Ia tidak boleh tertangkap, pekik Keiko dalam hati. Dia tidak ingin terlibat skandal.
Tidak boleh teerlibat skandal.
“Sini.” ucap Max menunjuk mobil Z4 abu-abu, Keiko langsung duduk begitu Max berhasil membuka pintu.
“Cepat, mereka sudah keluar dari tangga darurat.” ucap Keiko sambil terus mengintip.
Max berhasil menstater mobil itu tanpa kendala.
Bagaimana pun juga mereka bukan sedang dalam film laga dan menaiki mobil curian, tentu saja memacu mobil mereka tidak akan menjadi masalah.
“Kita mau kemana?” tanya Keiko bingung.
Mereka tidak mungkin ke rumahnya atau para wartawan tersebut akan mengikuti mereka ke sana. Hotel atau tempat yang terbuka juga bukan pilihan baik.
“Masuk toll dulu, nanti kita pikirkan.”
Max menjejak pedal gas dan mereka melewati kerumunan wartawan yang menanti di depan pintu keluar parkiran. Kerumunan kedua ada di depan lobby dan sebagian di pintu keluar gedung LIME.
Keiko tidak berani melihat ke belakang, hell, dia bahkan tidak berani mengangkat wajahnya.
Terus menunduk sampai Max memacu mobilnya dengan kecepatan normal.

“Kayaknya kita sudah aman untuk sementara.” ucap Max saat mereka sudah masuk ke tol arah bandara. Toll terjauh yang terpikirkan oleh Max karena ia tidak yakin harus pergi kemana. Pikiran Max diselak oleh makian Keiko.
“Damn, damn, damn. Do you think they’ll have my face? Mereka memotret wajahku?”
Keiko mengerang saat melihat Max mengangguk, dan melanjutkan sumpah serapahnya.
Max menatap Keiko takjub.
“Kamu cewek pertama yang aku kenal bisa menyumpah sehebatku.”
Ia baru sekali ini melihat ada orang yang panik sehebat Keiko karena terlihat bmesraan bersamanya. Reaksi Keiko bahkan lebih parah dibanding reaksi managernya.
Ah, sebaiknya ia menghubungi managernya itu dulu dan menjelas situasi mereka tadi.
Max bisa membayangkan betapa hebohnya masalah ini. Kemarin baru saja muncul foto Micky berciuman dengan Yunna dan hari ini dirinya.
Max melirik Keiko yang terlihat semakin shock dan panik. Sampai mengigit-gigit kuku jari. Max menyentuh jemari Keiko itu dan memintanya untuk tidak khawatir.
Keiko tertawa gugup, “Oh, you don’t know what the hell…” Keiko menghela nafas. Max tidak mengerti masalah apa yang akan ia hadapi kalau ia sampai teerlibat masalah seperti skandal dengan artis. Mungkin ia bisa sedikit memberi gambaran padanya.
“Max, aku tinggal sendiri di Korea, kakak perempuanku sudah menikah dan kedua orang tuaku ada di Jepang.”
“Mereka akan marah?” potong Max.
Mendengar Keiko tertawa, Max mengerutkan dahinya.
“Oh bukan orang tuaku yang aku pusingkan, Max. Orang tua Yunna.”
“Orang tua Yunna?”
“Mereka waliku di sini dan aku rasa kamu tahu siapa mereka. Dan,” Keiko menelan ludah, “Shit, Max, kamu harus memastikan mereka tidak mendapatkan foto wajahku atau hubungan Micky dan Yunna akan hancur berantakan.”
“Aku tidak mengerti.”
Keiko menceritakan dengan cepat soal latar belakang Yunna dan ketidaksukaan Orang tua Yunna dengan dunia entertainment.
“Aku mengerti soal itu, tapi apa hubungannya denganmu?”
“Karena Kakekku itu dosen Papa Yunna, kalau Kakek sampai melihat aku tidak dijaga dengan baik.” Makiannya kembali terdengar kali ini menyangkup anggota tubuh. “Max, please, help me. Bantu aku, aku akan lakukan apa saja asal mereka tidak memajang fotoku.”
Keiko menunggu Max saat laki-laki itu menghubungi managernya dan mendengar Max berbicara membuat Keiko berpikir Max ini orang yang terus terang dan simple.
“Benar, aku tidak mau mereka memasang foto pasanganku. Lakukan apa yang perlu dilakukan, hyung sudah biasa mengurus hal seperti ini kan. Percaya deh hyung, kita tidak membutuhkan publikasi seperti ini. Perempuan itu cuma teman, dan bukan orang penting.”
Keiko nyengir mendengar penjelasan Max. Right, dia cuma cewek biasa cuma kebetulan pipinya dielus oleh Max, penyanyi terkenal dari band Fox-T.
telepn ditutup.
“Selesai. Mereka tidak akan memajang foto wajahmu, tapi tidak bisa menjamin berita aku bersama perempuan dalam posisi seperti kita tadi tidak akan menjadi berita.”
Keiko mengangguk. “Kamu yakin mereka tidak akan memasang fotoku dengan jelas atau inisialku?”
“Cukup yakin, LIME sudah sering menutupi skandal-skandal seperti ini. Managerku tahu apa yang harus dia lakukan, tapi besok aku pasti dipanggil dan managerku akan memarahiku. Jadi, aku harap kamu bersedia membuat pengorbananku lebih berarti.”
Seringaian Keiko muncul kembali, oho, Max seorang opportunitis juga? Ada apa dengan para artis ini?
“kamu tidak akan memintaku memberimu kencan atau sesuatu yang seperti itu kan? You’ll heard too shallow for that.”
“Shallow ya? Cetek maksudnya?” tanya Max sempat-sempatnya tersenyum. Ia tidak menginginkan Keiko sebagai pacar, setidaknya belum. “Nope, aku tidak akan meminta kencan darimu, cuma jadi pemeran wanita di MV baru Fox-T aja. Tuhan pasti kecewa kalau hasil karyanya yang cantik tidak diperlihatkan ke banyak orang.”
Tawa Keiko meledak, “You gotta be kidding! Kalian pasti mengikuti kelas merayu wanita bersama-sama yah.”
“Kalian?”
O..Ow….
“Kamu, Micky.” ucap Keiko cepat menutupi.
“Ah, Micky. Secara teknis dia yang mengajari kami.”
Syukurlah Max tidak curiga dengan ceritanya. Ia tinggal menutupi dengan tertawa.
membicarakan soal rayu mayu ini, Keiko jadi memikirkan Jack lagi.
Nasib laki-laki bagaimana ya? Dia pasti kaget melihat kejadian tadi dan apa yang harus ia katakan soal ini?
Well, mereka memang tidak memiliki kesepakatan apa-apa, tapi Keiko yakin Jack apsti terkejut melihat dirinya dalam posisi nyaris berciuman dengan Max.
“Ada apa? Apa ada hal lain yang membuatmu khawatir? Wajahmu jelek banget.”
“Ow, Max, thank you atas penghinaannya, aku lebih nyaman sekarang.” canda Keiko dan ia berhasil membuat Max tertawa.
“Kamu dan sarkasme.” tutur Max.
“Yah, begitulah, sarkasme nama tengahku.”
Mereka tertawa sampai Max mendadak terdiam.
“Ada apa?”
“Tidak.” Max tersenyum, “Aku hanya berpikir, apa karena kamu orang asing jadi cara berpikirmu lebih terbuka dan sangat kontradiktif.”
Keiko memberi pandangan and-your-point-is pada Max.
“Kamu menolak terlihat bersama denganku tapi kamu tidak menolak menghabiskan hari denganku.”
Keiko langsung menjelaskan. “Terlihat dan menikmati itu dua hal yang berbeda,Max. Untuk menikmati aku perlu merasa belong there, ehm, merasa nyaman. Sedangkan berada dalam sorotan media membuat aku gila.”
“Tapi berteman dengan Yunna dan sekarang dengan artis, kamu tidak akan bisa menghindari berada dalam sorotan.” desak Max.
Ia tidak bisa membantah soal Yunna, persahabatan mereka sudaah terjalin sejak mereka duduk di sekolah menengah. Sedangkan untuk pertemanannya dengan artis….
“Aku rasa aku tidak bisa berbuat banyak soal itu. Aku tidak bisa menghindar dari lingkaran pertemanan Yunna karena dimana ada Yunna pasti ada aku.” Keiko merengut, “That sounds wrong. Aku tidak menyesal sudah berteman dengan Keiko tapi memang terkadang aku berpikir hidupku pasti lebih normal kalau tidak mengenal Yunna.”
“Menurutku kamu tetap tidak akan pernah hidup normal.” potong Max. “Pertama, penampilanmu, coba bilang padaku, seberapa sering kamu membuat laki-laki dalam segala bentuk menoleh dan minta kenalan padamu?”
“Itu tidak relevan.” bantah Keiko.
“Entu saja relevan. Kamu itu cantik, Kei. DiSembunyikan seperti apapun seseorang pasti bisa menemukan berlian. Manusia diciptakan seperti itu.”
Melihat Keiko mendengus, Max cuma tertawa, “Serius Kei, aku bukan bukan sedang merayumu. Terus, point lain yang menjadi penyebab kamu tidak akan hidup normal Kei.”
Max melemparkan senyum serigalanya, “Cara kamu membawa dirimu.”
“Kenapa dengan pembawaanku?”
“Kamu terelau ramah.”
Keiko bingung, “Terlalu ramah? Aku baru tahu ramah bisa membuatku terjebak masalah.”
“Kamu pasti terjebak masalah kalau kamu tidak menjaga perimeter pergaulanmu, Kei. Contohnya saja tadi, kamu menyentuh pipiku.”
Keiko mengerang. “Oh, ayolah… Itu kan hanya…”
“Terlepas dari alasanmu, Kei. Kita sebagai orang Korea tidak menyentuh lawan jenis kalau tidak dekat. Hal itu hanya akan membuat orang salah paham.”
Keiko memutar bolamatanya, damn, sekarang ia diceramahi tentang kepantasan.
“Mind your own, urus dirimu sendiri.” gerutu Keiko.
“Aku harap aku bisa, tapi karena untuk sementara kamu stuck with me, aku rasa kamu tidak punya pilihan selain mendengarkan saranku.”
Keiko tertawa menghina, “Sungguh Max, i’m 25, kamu seharusnya memanggilku nuna.”
“25?” tanya Max dan ia memandangi Keiko tidak percaya. “Kamu tidak terlihat 25. Padahal mererka bialng orang Eropa lebih cepat tua dibanding orang Asia.”
Keiko tersenyum. Menurutnya Max hanya mengatakan ia terlihat muda karena tidak enak sudah menguruinya tadi. Semua orang juga berkata ia terlihat lebih dewasa daripada umurnya.
Keiko mengeluarkan handphonenya yang bergetar dari dalam tas dan melihat nama Yunna tertera di sana.
Buru-buru Keiko mengangkatnya, Yunna pasti sudah melihat berita mengenai dirinya dan Max sekarang. Keiko yakin foto mereka sudah tersebar di internet, lima menit setelah mereka tertangkap basah.
“Aku melihat fotomu dengan Max. Kenapa kamu bisa berciuman dengannya? Jangan bialng dia Sunday boy. Max so not your type, my dear friend.”
Keiko tertawa mendengar kelakar Yunna. Sahabatnya itu selalu saja bisa melihat lelucon di balik setiap malapetaka.
“Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah bertanya. and no, it’s not him.”
“Hum? Lalu kapan kamu berkenalan dengan Max? Terus kenapa kalian bisa difoto seperti itu? Kadang aku khawatir denganmu Kei. You’re too easy on guys. Ah, mata. Wajahmu tidak terlihat tapi orang yang melihat bajumu dan hadir di rapat tadi pasti tahu itu kamu.”
Keiko cemberut, tadi Max ayng berkata kalau ia ini gampangan, sekarang Yunna juga. Apa benar sikapnya terlalu terbuka untuk ukuran orang Asia?
Keiko mendengar Yunna bertanya, “Kamu mau aku mengurusnya?”
“Yes, please, help me to fix it. He said they will handle it but I know you can do better job.” Keiko melirik Max sesaat. “Yes, still with him. Ok, tell me when everything’ve been settle.”
“Kamu selalu berbicara dengan bahasa Inggris?” tanya Max.
“Kalau dengan Yunna. Ehm, sebentar.”
Handphone Keiko bergetar kembali. kali ini Big, pengawal Yunna yang pasti ditugasi untuk merapikan masalah.
Keiko melemparkan senyum tidak enak pada Max sebelum mengangkat telepon. Big langsung menyerocos panjang pendek dan memintanya untuk tenang.
“Err, Kei, Yogi sudah mendengar masalah ini.”
Keiko membisu, ia lupa sama sekali dengan abang Yunna/matan pacar/iparnya itu.
Layar handphone Keiko kembali berkedip, menunjukan second call dari Yogi.
“Dia di line 2.” ucap Keiko pendek dan kali ini Big yang terdiam.
“Kamu tidak akan mengangkatnya?”
Keiko mendesah, “Dia pasti akan memarahiku dan menyuruhku ke London detik ini juga. Jadi mungkin lebih baik aku tidak mengangkatnya.”
Keiko mendengar Big tertawa.
“Kalau kamu masih bisa melucu di saat seperti ini berarti kamu tidak sepanik yang aku pikir. Saranku, Kei. Kamu anagkat telepon Yogi dan biarkan dia mengurusmu. Kamu tahu dia bisa diandalkan.”
Keiko terdiam, memang benar, di dunia ini yang bisa menjamin pers untuk menutup mulutnya adalah dengan ancaman politik atau tuntutan pengacara. Dan Yogi adalah kombinasi keduanya.
Tapi, Keiko mendesah kembali. Dia harus menaruh mukanya kemana kalau sekarang ia kembali membiarkan Yogi mengurus dirinya terlebih setelah semua yang ia katakan ada Yogi kemarin?
“Kei?” panggil Big. “Max itu Sunday Boy?”
Keko tertawa, pertanyaan big mengembalikan kesadarannya.
“Tadi Yunna juga bertanya hal yang sama, bukan kok.”
“Aku pikir juga begitu, kamu terrlalu tua untuknya.”
“Damn it, Big. Aku ngak setua itu kale….”
“Cuma kasih tahu kamu saja kok. Bye, Kei.”
Kemudian telepon dari Mama Yunna, Papa Yunna dan setelah perdebatan batin, Keiko mengangkat juga telepon dari Yogi. Keiko berhasil membuat pembicaran sesingkat mungkin.
Hanya 5 menit 26 detik dan itu pun sudah cukup membuat kuping Keiko merah kesal. Yogi betul-betul memintanya pergi ke London sampai gosip mereda.
setelah serbuan telepon selesai, Keiko menatap Max yang melihatnya terpangah.
“Sekarang kamu mengertikan kenapa aku tidak boleh teerlibat masalah.”
Max mengaruk kepalanya, pusing dengan semua hal yang terjadi di seputar Keiko.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s