Damn, I miss you – chapter 11

“Terima kasih sudah mengantarku, Max.” ucap Keiko begitu ia tiba di are parkir gedung apartement. Max menurunkannya di sana atas dasar keamanan.
Keiko melambai pada mobil Max saat mobil itu keluar dari area parkir.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Jack yang entah muncul darimana membuat Keiko berteriak panik.
“Damn it, Jack. Jangan mengageti aku seperti itu.” geuttu Keiko dan berdua mereka berjalan menutu lift. “Aku baik-baik saja. Kenapa bisa banyak wartawan di sana? Bukannya Wartawan panggilan Yunna sudah pergi setelah Simon keluar gedung.”

Jack mengaruk kepalanya, sejauh yang Jack tahu, wartawan selalu berkeliaran di gedung LIME. Baik yang dengan sengaja menunggu artis lewat atau sekedar nongkrong mengharapkan sesuatu terjadi.
Hari ini mereka pasti sukses besar, foto Max dan Keiko ada dimana-mana. Walau diburamkan, posisi kepala Max dan Keiko cukup dekat untuk membuat orang salah paham.
Saat Jack mellihat Max menghampiri Keiko tadi, jantung terasa pindah ke ulu hati. Situasinya deengan Keiko sudah cukup rumit karena Jack tidak bisa meneruskan pendekatannya dengan Keiko tanpa membuat teman-temannya curiga setelah Keiko bertemu dengan keempat temannya itu. Alex bahkan sudah mulai bertanya-tanya padanya kenapa ia terus menerus melirik ke cewek itu hari ini.
Dan sekarang, Jack harus bersaing dengan Max?
Ima…. Kenapa juga Max bisa kenal dengan Keiko? Lalu kenapa juga Keiko tidak bercerita padanya kalau dia kenal, mereka kenalan kan?
Mereka sudah sampai di penthouse. Lagi-lagi tempat itu kosong.
Keiko mempersilakan Jack duduk dan menyuguhkan minuman sebelum mereka duduk di mini bar.
“Kalau ada yang ingin kamu tanyakan, tanya saja.” celetuk Keiko terlihat tidak sabar.
“Terus terang aku tidak tahu harus bertanya apa dan sejauh apa aku boleh bertanya.”
“Kamu bisa memulainya dengan, kapan bertemu dengan Max.” ucap Keiko, sambil melemparkan senyuman penuh arti.
“Baik, kapan kamu bertemu dengan Max.” ikut Jack.
“Sehari sebelum kita piknik, waktu aku jalan-jalan ke Cheong Dong. Aku bertemu dengannya di depan gereja.”
Cheong Dong, pikir Jack, berarti saat Max pergi bersepeda.
“Sabtu ya. Apa karena itu kamu batal ke tempatku?”
Keiko mengikat rambutnya dan mulai memakai celemek. Jack membantu mengingat tali celemek tersebut.
“Thank you. Enggak, aku tidak bisa datang karena aku dipanggil unni ke rumahnya. Menjaga anak.”
“Kamu mau masak apa?” tanya Jack membuka kulkas.
“Ramyun. Kamu mau?”
Jack mengeluarkan telur, daging dan kimchi. Ini kedua kalinya ia membantu Keiko memasak, jadi ia cukup hafal dengan letak barang-barang di dapur tersebut.
“Kamu cemburu?” pancing Keiko, ia mulai menyalakan kompor.
“Enggak juga, teman tidak saling cemburu.”
Keiko diam-diam tersenyum.
“Kamu berharap aku cemburu?” tanya Jack, sekarang mereka berdiri bersebelahan. Jack sedang memasukan 2 bungkus ramyun dan Keiko mencenurkan sosis yang sudah ia potong-potong.
“Tidak juga. Tidak ada yang harus dicemburui juga. Aku dan Max hanya berteman.”
“Teman.”
Kalau yang Keiko maksud dengan teman adlah seperti mereka, Jack sama sekali tidak merasa senang. Mungkin dia harus btwnya lebih jelas, tapi bagaimana kalau Keiko marah dan menganggapnya terllau ikut campur?
Hubungan abu-abu ini terelihat mulai menyebalkan sekarang.
“Telur?” tanya Keiko. Ramyun sudah teerlihat matang.
Jack mengeluarkan 2 telur dan menyemplungkannya ke dalam panci.
“Kimchi?”
“Nanti tunggu telurmya setengah matang.”
“Okay.”
Lalu mereka sama-sama menatap riak dalam panci, gelembung putih telur yang membumbung tinggi namun tidak sempat luber keluar karena Jack mengecilkan api dan mulai memasukan kimchi.
Sesaat mereka hanya terdiam menunggu masakan mereka matang.
“Pernah makan langsung dari pancinya?”
Keiko menatap Jack penuh horor.
“Mau coba?” tanya Jack dan ia mulai memindahkan panci teersebut ke atas tatapan panas dan meletakannya di tengah mini bar.
Sekarang mereka duduk berhadap-hadapan dengan sumpit dan sendok di tangan.
“Tanpa mangkok?”
Jack menyeringai, “Kita akan mengunakan ini.” ucapnya dan mengangkat tutup panci di hadapan Keiko.
Ia mengambil sedikit ramyun dan memindahkannya ke atas panci, meniupnya dan menyodorkannya ke Keiko.
“Aaaa….” perintah Jack.
“No, aku akam memakannya sendiri.” tolak Keiko dan ia mulai menyiduk ramyun dari panci ke dalam mulutnya.
Entah ia lapar atau terlalu lama ia tidak makan Ramyun, mie itu terasa enak sekali malam ini. Keiko mulai menyumpit lebih banyak dan lebih cepat sampai Jack meneriakinya curang dan dalam waktu sekejap isi panci itu tandas, pindah ke perut mereka.
“Kamu curang Jack, sendokan terakhirmu itu lebih dari setengah panci.” protes Jack saat mereka mencuci panci dan perkakas lainnya.
Jack menawarkan untuk ikut membantu.
sekali lagi mereka berdiri berdampingan dan tangan mengenakan sarung karet untuk mencuci.
“kamu mau aku masak lagi?” Jack tertawa saat mendengar Keiko mengerutu dan berkata kalau ia bukan cewek rakus. “Ngak kok, kalau kamu masih lapar, aku bersedia memasakkannya lagi.”
“Tidak usah, aku tidak akan bisa menghabiskan satu bungkus lagi.” Keiko memoyongkan mulutnya cemberut.
“Aku akan membantumu.”
“Memangnya kamu tidak takut gemuk?”
Pertanyaan Keiko membuat Jack kembali tertawa, “Gemuk? Kei, diantara kami berlima aku yang paling susah menimbun lemak. Kamu lihat otot ini.” Jack mengeraskan otot tricepnya. “Aku perlu 30 butir telur untuk memastikan jumlah protein yang aku makan cukup untuk membuat otot-ototku muncul. Jdi setengah porsi ramyun.” Jack menyentil kuku.
“Kamu membuatku iri, Jack…..” gugam Keiko. “Aku harus berlari 1 jam untunk membakar setengah porsi ramyun yang kumakan tadi. So, no, thank you, no more ramyun.”
Jack menyerahkan sumpit yang sudah disabuni ke Keiko untuk disiram. Ia mulai menyukai acara cuci mencuci ini.
“Sebetulnya aku mau tanya, kamu tidak makan saat bersama Max tadi?”
Keiko mengeleng, menyibakan kuncir rambutnya.
“Tumben, Max kan paling doyan makan. Kalian kemana saja tadi?”
“oh, Max sempat menawarkan untuk makan dulu tapi aku tidak mau menyiramkan minyak ke dalam api. Jadi kami hanya muter-muter di toll sampai Yunna memberitahu kami kalau situasi sudah cukup aman untukku kembali.”
Untuk Max yang tidak pernah melewatkan satu kali pun waktu makan sampai menahan dirinya demi Keiko, Jack harus mengacungkan jempol untuk Max. Max sudah melakukan hal yang benar untuk melindungi Keiko, lalu kenapa ia tidak merasa senang atau bangga pada Max?
“Dia sempat kesal sih, karena katanya dia itu tidak pernah skip meal, tapi aku bilang padanya kalau dia ingin makan silakan, aku tidak akan turun dan ikut makan bersamanya.”
Mood Jack kembali naik, harusnya ia tahu Max tidak mungkin melakukan hal berlebihan. “Dia memang seperti itu.” tutur Jack membenarkan.
Keiko memonyongkan mulutnya lagi, “Tapi selanjutnya dia ngambek dan mengancam kalau dia sampai sakit maag maka aku yang harus bertanggung jawab. Gila banget kan?”
Jack mengangguk-angguk, bukannya bermaksud menyemangati tapi Max memang orang yang seperti Keiko ceritakan dan apa untungnya bagi Jack dengan berbohong bagi Max.
“Jadi aku meminta Max untuk mengantarku pulang dan dia ngebut dari tol sampai depan lobby tadi. Kok kamu malah senyum-senyum begitu sih, Jack?”
“Yah….. Gimana?”
“Dasar cowok! Kalian selalu saja saling mendukung untuk hal-hal seperti ini.”
“Aku tidak sedang membelanha kok, aku hanya bialng kalau Max memang orang yang seperti itu.”
Keiko mematikan kran air dengan kasar dan melepas sarung tangan karetnya, juga dengan kasar.
“Kenapa marah sih?” tanya Jack geli dengan sikap Keiko yang mendadak seperti anak kecil.
“Aku tidak sedang marah. Cuma kesal. Kamu tahu kan semua maslah ini tidak akan terjadi kalau kamu tidak memintaku menunggumu di lobby?”
“Benar juga sih, tapi kan bukan aku yang membiarkan Max menyentuh pipimu.”
Jack yakin ia melihat asap keluar dari kepala Keiko.
“Aku melakukannya karena aku tidak mau ia melihat kamu datang.”
“Aku tidak memintamu untuk melindungikua juga, Kei.” jawab Jack dengan tenang.
sekarang mereka sedan gi kaamr Keiko dan perempuan itu membuka lemari mengambil pakaian ganti.
“Right, so everything is my fault. Damn it, Jack. You’re so superticious.”
“Aku tidak mengerti.” ucap Jack lagi dan Keiko menghentakan kakkinya kesal. Sungguh Jack ingin memeluk Keiko saat itu juga untuk menenangkan perempuan itu tapi melihat Keiko ngambek memberi kesenangan sendiri untuknya.
“Aku bilang kamu keterlaluan dan aku meneysal sudah membela,u!” seru Keiko dan ia berjalan menuju kamar mandi. “Aku mau mandi, kamu tunggu di luar.”
Jack tersenyum saat pintu kamar mandi di tutup dengan kencang oleh Keiko.
Ia mendengar suara air mengalir dan suara Keiko. Saat teersadar kalau Keiko kembali memaki-maki di dalam sana, Jack terkekeh.
Ia sudah terelalu khawatir. Keiko sama sekali tidak terelihat panik atau ingin menangis. Dia malah marah-marah karena Max tidak bersikap gentlemen.
Jack lega karena Keiko lebih kuat dari yang ia duga. Mungkin ia harus kembali mempertimbangkan ucapannya untuk mempertahankan Keiko sebagai teman saja. Ia sadar sudah menginkan Keiko sejak ia pertama kali melihatnya memarahi EunSoo.
Keiko punya semangat yang tidak mudah dipatahkan dan mampu bersikap realistis lebih baik dari semua perempuan yang ia kenal. Keiko tidak pulang dalam keadaan menangis atau ketakutan sepeti yang ia duga akan akeiko lakukan karena Keiko bilang ia tidak suka menjadi bahan gosip.
Dan semua orang tahu semua perempuan yang terlihat dekat dengannya akan menjadi sorotan publik. Sepuluh kali lipat lebih parah daripada yang akan Keiko alami besok saat semua mata tertuju padanya dan semua mulut membicarakan foto Max dan Keiko.
pengemar Max tidak akan membiarkan idola pujaannya direbut oleh perempuan biasa. Tidak peduli apa pendapat Max tentang Keiko, para pengemar Max akan menemukan kelemahan Keiko dan menyerang, meneror Keiko habis-habisan.
Tapi semua akan berlalu lebih cepat daripada jika Keiko terlihat bersamanya.
di antara mereka berlima, fans Jack bukan yang terbanyak tapi mereka terkenal paling fanatik dan ekstrim. Tidak hanya sekali Jack mendengar para pengemarnya itu meneror artis-artis yang terfoto bersamanya. Tidak hanya sekali ia melihat perlakuan kasar para pengemarnya pada para perempuan yang kebetulan berteman dengannya atau pacar dari teman-temannya.
Oleh sebab itu Jack tidak pernah muncul di publik bersama perempuan mana pun. EunSoo pengecualian, cewek itu gila dan cuek. Tapi Jack tidak akan bertemu dengannya kalau ia tidak tahu EunSoo akan memutuskannya hari itu.
Jack menatap pintu kamar mandi dan tersenyum pendek, ia akan mempertimbangkan kembali keputusannya jika Keiko sanggup melewati besok.
Ia keluar kamar dan pulang ke rumah.
Dari dalam mobil, Jack mengirimkan pesan.
“Jalja, istirahatlah.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s