Damn, I miss you – Chapter 12

Jack keluar dari rumah Keiko dengan sejumlah tekad untuk memastikan bahwa Keiko aman malam ini. Ia memutari kompleks Apartemen itu 3 kali untuk memastikan tidak ada wartawan yang berkeliaran.
Sebetulnya tindakannya ini agak tidak perlu, dari hasil pengintaiannya, tempat tinggal Keiko ini memiliki jumlah sekurity yang lebih dari cukup, mereka tidak memperbolehkan orang-orang untuk berdiri terlalu lama di lobby atau area umum lainnya. Yang terpenting, mereka tidak mengijinkan wartawan untuk masuk ke kawasan mereka.

Puas dengan hasil pengamatannya, Jack berjalan kembali menuju area parkir. Berjalan dengan langkah-langkah santai.
Satu minggu ke depan, Fox-T praktis tidak memilki jadwal kecuali latihan-latihan rutin yang menyangkup tarian, latihan vokal dan rapat-rapat standard biasa. Satu minggu ini, ia bisa bertemu ngan Keiko dengan lebih leluasa.
Menurutnya, Keiko membutuhkan hiburan lebih jika memang perempuan itu ingin menjalankan niatnya dengan mengunci diri di rumah sampai ia yakin tidak ada media yang mengekspos Keiko.
Jack menghela nafas muram, ia ingin sekali mengabulkan keinginan Keiko itu.
Tapi mustahil membendung keingintahuan massa jika sudah menyangkut kehidupan percintaan anak-anak Fox-T.
Perempuan mana pun yang terlihat berada di sekitar Fox-T pasti akan dipertanyakan. Kecuali staff mereka tentunya. Tapi mereka pun tidak luput dari sorotan. Para pengemar Fox-T selalu menganggu mereka dengan menitipkan hadiah atau sekedar bertanya-tanya soal jadwal kerja Fox-T.
Lamunan Jack terhenti ketika ia mendengar suara Max tak jauh darinya. Terdengar marah dan sedang bertengkar.
Jack menyerengit.
Tidak mungkin Max ada di sini.
Ia pasti salah dengar.
Perlahan, Jack mendekati arah suara dan ia melihat sosok jangkung Max berdiri menjulang dan menakuti-nakuti satpam yang berdiri di hadapannya.
Jack rasa Max tidak sadar kalau tubuh si satpam memang lebih kecil dari Max tapi lebih berotot dan Jack tidak akan mencoba merengut kerah satpam itu seperti yang dilakukan oleh Max.
Jack mengenali petugas keamanan itu karena dia orang yang sama yang mempersilakannya masuk. Keiko pernah memberitahunya kalau petugas itu tidak akan mempersilakan orang yang tidak terdaftar dalam daftar tamu Keiko dan Yunna untuk melewati lobby lift khusus.
Mau tak mau Jack tersenyum lebar, ia mungkin tidak bisa menunjukan kedekatannya dengan Keiko di depan umum tapi statusnya lebih diakui oleh Keiko.
Ia buru-buru bersembunyi di balik pilar besar, ketika melihat Max memutar tubuh ke arahnya.
“Panggil Lee Keiko turun, dia akan membuktikan kalau aku ini temannya.” gerutu Max emosi.
Jack terus mendengar Max berteriak-teriak dan memaksa. Sebaiknya ia segaer menyuruh Keiko turun sebelum sekurity itu memanggil teman-temannya dan mengusir Max dengan kasar.
Biar tidak ada wartawan, Jack tidak bisa menjamin tidak ada orang usil yang akan merekam adegan pengusiran tsebut dan menguploadnya ke youtube.
Bisa runyam urusannya.
Jack mendengar Keiko menjawab panggilannya dengan cepat dan mengerutu saat mendengar Max berada di bawah.
“Really Jack, what’s with you guys and persistance? Ini sudah malam!”
Amukan Keiko membuat Jack tesenyum simpul. Menurutnya kemarahan Keiko lebih bisa diterima dibanding tangisan dan rengekan. Dan suara perempuan itu ketika mengucapkan bahasa Inggris terdengar lebih sexy.
“Aku tidak mengerti Kei. Tapi aku sarankan kamu segera turun, Max itu berkepala beton. Mengusirnya hanya akan membuatnya semakin ngotot.”
Gerutuan lain dilontarkan oleh Keiko sebelum ia menyetujui untuk mengurus Max
“Kamu berutang padaku, Jack.” tuntut Keiko dan hubungan terputus.

Beberapa saat kemudian, Jack melihat Keiko muncul dari balik lift. Masih mengunakan pakaiannya tadi. Rok pensil dan kemeja.
Dasar bandel, bukannya dari 1 jam yang lalu Jack sudah menyuruhnya untuk beristirahat?
Jack melihat Keiko meminta maaf pada sang sekurity dan mengandeng tangan Max masuk ke dalam lift.
Untuk alasan yang tidak ingin diakui oleh Jack, ia merasa ingin terbang dan memutuskan gandengan tangan Keiko dan Max.
Sigh…. Ia harus mengontrol emosinya lebih baik. Yang harus ditaklukan itu hati Keiko, bukan dirinya.
Jack menghabiskan beberapa menit berikutnya menatap pintu lift tersebut berharap Keiko muncul kembali dan menendang Max. Hanya beberapa menit karna berikutnya satpam yang tadi disibukan oleh Max melihat dirinya dan bermaksud menghampiri Jack.
Setelah melemparkan senyum tipis ke arah petugas keamanan itu, Jack menuju tempat parkir.
Sepuluh menit berlalu dan Jack masih duduk diam di dalam mobil. Ia sudah memindahkan mobilnya tidak jauh dari parkiran mobil Max. Ia ingin melihat senidir Max pulang. Sebab menurutnya apapun yang diinginkan oleh Max tidak mungkin sampai membuat laki-laki itu menginap dan menurutnya lagi, urusan tersebut tidak akan menghsbiskan waktu terlalu lama.
Hal berikutnya yang Jack ketahui, ia baru meninggalkan area parkit pukul 1 pagi, sepuluh menit setelah mobil Max mengelinding keluar.
3 jam lebih waktu yang dihabiskan oleh Max di dalam sana dan mau tak mau Jack mengeram, mengutuki dirinya sendiri mengapa ia tidak mengintupsi kunjungan tersebut.
Sebagai yang tertua di antara anak Fox-T, ia memiliki hak khusus untuk memerintah. Tapi ia jarang mengeksekusi kekuasaannya tersebut. Sampai ia lupa kaalu ia berhak menyuruh Max membeli apa kek yang penting membuat Max pergi dai rumah Keiko lebih cepat.
“K calling.” ucap autobot dari radio mobil Jack.
Buru-buru Jack menekan tombol jawab di gagang kemudinya dan suara panik Keiko langsung menyambutnya.
“Jack, kamu harus membantuku. Aku tidak mau tahu apa yang kamu lakukan, hanya pastikan Max membatalkan niatnya. Aku tidak bisa, aku tidak mungkin mengikutinya! Kalian anak Fox-T betul-betul memberikan definisi baru untuk kata gila! You have to stop him! Aku tidak sanggup melakukan apa yang dia minta. Setidaknya tidak dalam waktu dekat ini. No, aku tidak bisa melakukannya selamanya. Kalian artis, aku orang biasa, kita hidup di dua dunia berbeda. Tidak mungkin disatukan. Tidak mungkin….”
“Kami juga manusia, Kei.” ucap Jack menghentikan Keiko.
Ia tidak sanggup mendengar Keiko menarik garis darinya. Ia tidak mau mendengar seseorang mengatakannya lagi. Ia tidak ingin mendengarnya terutama dari Keiko.
“Benarkah Jack? Aku tahu kamu makan, tidur, kentut dan suatu saat nanti akan mati. Tapi kalian jelas bukan manusia yang sama sepertiku. Kalian menarik sesuatu yang tidak akan bisa dilakukan manusia biasa. Manusia sepertiku. Kalian menciptakan sesuatu yang tidak bisa diciptakan manusia biasa. Kalian dipuja, dicintai dan dielu-elukan oleh manusia biasa. Manusia dengan kemampuan seperti kalian todak bisa disatukan dengan manusia biasa. Nilai kalian akan berkurang.”
Hening.
Semua hening kecuali di dalam kepala Jack.
Tangisan Mary, raungannya, ucapannya yang menghujam, dan saat semua pertengkaran itu selesai, Jack bukan lagi orang yang sama.
Ia tidak lagi mampu mencintai. Ia tidak lagi mampu memeluk seseorang tanpa mendengar setiap tuduhan yang Mary lontarkan padanya. Menghantuinya sampai Jack berhenti berusaha mencari. Sampai Jack berhenti mempercayai.
Ia tidak tahu apa yang sudah ia lakukan sampai harus kembali mendengar semua tuduhan itu. Ia tidak tahu apa yang sudah ia lakukan sampai mau mendengar semua omong kosong ini.
Karena apa yang dikatakan Keiko itu jelas omong kosong!
Apa yang berbeda darinya dan Keiko? Keiko merasa kesal, ia juga bisa merasakan hal yans sama, apalagi setelah ia melihat Keiko mengandeng Max tadi. Keiko merasa lelah? Ia juga! Lebih parah malah. Tapi apa semua itu membuatnya berhenti?
“Karena itu Jack, aku bilang kamu berbeda.”
Jack terkejut mendengar Keiko menjawabnya, sepertinya ia tidak sadar sudah menyuarakan isi hatinya dengan keras.
Melakukan pembicaraan serumit ini pukul 1 pagi, dengus Jack, wajar saja ia tidak lagi berpikir dengan jelas.
Kemudian Jack mendengar Keiko tertawa. Bukan tawa sinis tapi tawa riang perempuan itu yang biasa. Tawa yang membuat perasaan Jack seribu kali lebih baik.
“Jack kamu harus menyumpal mulutmu kalau tidak ingin aku mendengar isi kepalamu. Apa kamu selalu menjadi ember besar yang luber kemana-mana saat terlalu penuh?”
Gurauan Keiko membuat Jack mendengus dengan hidungnya.
Membuat auara yang amat tidak idol-like.
Jack bahkan tidak tahu kalau ia bisa menimbulkan suara seperti itu. Mungkin ia harus mengembalikan pembicaraan mereka ke topik awal. Semakin mengenal Keik, Jack semakin sadar kalau perempuan itu sering tidak fokus.
“Jadi apa yang kamu infin aku lakukan? Kalau boleh tahu apa yang diminta Max dan apa yang kalian bicarakan sampai jam 1 pagi?”
“Aku mendengar ada yang cemburu nih.” gurau Keiko lagi.
“Fokus, Kei. Aku sudah hampair sampai di rumah dan aku sudah capai sekali. Aku tidak ingin bergadang malam ini. Aku butuh tidur.”
“Right, you need your beauty sleep. Kamu yakin kamu laki-laki, Jack?”
Satu gurauan lagi dan Jack akan memutuskan untuk mematikan sambungan telepon dan melupakan pembicaraan mereka.
“Max memintaku untuk kencan di Lotte World, hari Sabtu ini. Dia bilang dia akan mengatur agar kami bisa masuk ke sana malam hari. His plan sounds crazy. Gila banget!”
“Yang punya Lotte World teman baik Max, jadi aku rasa dia memang sanggup melakukan hal itu.”
“Well, still, that’s crazy! Dia lupa ya kalau foto kami bisa muncul kapan saja dan boom, situasi lepas kendali dan aku dikeroyok massa. I don’t want that. Aku tidak mau dan tidak bersedia menjadi tumbal kalian. Kalau kalian mau menciptakan skandal, cari orang lain.”
“Dia tidak sedang menciptakan skandal, Kei. Max berusaha membuatmu mengeti kalau artis punya cara berkencan sendiri dan semua akan baik-baik saja.”
“Jadi kamu setuju aku pergi dengannya? Kamu menyetujui kegilaan ini?” tanya Keiko terdengar seperti ceret tua yang mendidih.
“Tidak.” jawab Jack oendek.
“Kamu terdengar setuju beberapa saat tadi.”
“Aku hanya memberitahumu kalau rencana dia tidak gila dan completely safe. Bulletproof.”
Jack mencibir saat mendengar Keiko tertawa, perempuan itu mentertawakan bahasa Inggrisnya.
“Kamu comot darimana kalimat tadi, Jack? Misssion Imposible?” Keiko pasti mendengar Jack bergugam tidak jelas hingga meminta maaf padanya. “Maaf, maaf. Aku cuma tidak ingin membahas masalah Max. Kamu cukup beritahu padanya aku tidak akan datang.”
“Dan membongkar hubungan kita? Aku pikir kamu berencana menunggu hingga hubungan Micky dan Yunna lebih stabil.”
“Kamu benar. Aku tidak berpikir jernih.” dan Keiko kembali tergelak, ” Aku sedikit mengerti mengapa tadi kamu protes untuk berbicara di pagi buta seperti ini. Kamu sudah sampai mana?”
Jack harus bertepuk tangan untuk kemampuan Keiko memping-pong pembicaraan mereka. Ia menyerah, “Satu blok dari rumah Fox-T.”
“Mereka akan bertanya soal keterlambatan pulang kamu ini?”
“Biar aku yang memusingkan hal itu, Kei. Kamu cukup beritahu aku apa rencana Max. Seluruh rencana Max.”
“No, Jack. Aku tidak akan membahas masalah ayng sudah amat jelas bagiku. Au tidak akan datang hari Sabtu nanti.”
“Tidak kalau aku yang memintamu?”
“Jangan bercanda Jack. Kamu tahu tidak mungkin bagiku terlihat bersama kalian.”
“Tapi kamu bersedia mempertimbangkannya kalau aku yang mengajak?”
Jack tersenyum saat mendengar Keiko meringkis, kelihatannya Keiko betul-betul akan mempertimbangkannya kalau ia yang mengajak. Dua point untuk team Jack dan nol untuk team Max.
“Kita teman, Jack. Aku tidak bisa menolak ajakan semudah aku menolak ajakan Max.”
Damn, haruskah Keiko mengingatkannya pada status mereka yang tidak jelas itu?
“Sebagai teman, aku harus memikirkan perasaanmu juga.”
Mungkin Keiko memang harus mengingatkannya.
Keiko menguap, “Jack, sleep well. Aku ngantuk. Jangan meneleponku kalau kamu tidak berniat memberitahu apa yang ingin aku dengar. Nite nite…”
Jack cukup yakin Keiko akan meneleponnya kembali besok pagi. Keiko akan terlalu penasaran untuk tidak bertanya bagaimana caranya atau apa reaksi Max nanti.
Tapi Jack sama sekali tidak berniat mengubah pendirian Max. Hanya sedikit mengalternya. Mungkin dengan membawanya juga dan beberapa teman mereka.
Apa serunya ke tempat hiburan tanpa teman?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s