Damn, I miss you – Chapter 14

“bogossipo……kangen…..kangen….i miss her…..”
Jack memandangi Max yang kembali berguling-guling si atas kasur sambil mengulang kembali kata keramat tadi.
Ia ingin menyumpal mulut Max karena membuatnya merasa uring-uringan juga.
Situasi agak memanas sejak terjadi insiden pelemparan terhadap Keiko dan Yunna.
Kejadiannya terjadi beberapa hari sejak foto Max tersebar.
Malam itu sepertinya Keiko dan Yunna sedang keluar makan malam. Beberapa wartawan nekad menghampiri mereka dan menanyai soal Perkembangan kontrak Cleo&Co dengan LIME. Situsi tetap tenang sampai mendadak satu perempuan muncul melempar plastik berisi car merah ke arah Keiko, Yunna dan wartawan yang berdiri di dekat mereka.

Pelempar itu segera ditangkap oleh pengawal Yunna tapi dia masih sempat meneriakan wanita jalang ke Keiko dan Yunna. Tapi kemudian Yunna menghampiri perempuan itu dan menamparnya.
“Itu untuk melukai temanku! Saya tidak peduli apa alasanmu…”
“Micky itu milikku!” potong si pelempar yang membuat Yunna kembali melayangkan tangannya tapi Keiko menahan tangan Yunna dan mengelengkan kepala. Kemudian mereka saling berbicara dalam bahasa Inggris dan Jack tindak mengerti.
Kalimat yang berhasil membuat Yunna lebih tenang dan mengucapkan maaf ke pelempar tadi.
Berikutnya para wartawan mengerubuni Yunna dan keiko kembali, menyerbu mereka dengan pertanyaan, tapi pengawal Yunna berhasil menghalau mereka dan memasukan Yunna serta Keiko ke dalam mobil.
Berita selesai.
Baru kemudian ketika Micky pulang, temannya itu mengartikan padanya kalau Keiko mengatakan tidak perlu meladeni orang gila seperti dia dan tidak baik membuat masalah sekarang.
Jack tidak menyangka Keiko akan bersikap setenang itu. Seingatnya Keiko itu perempuan panikan dan amat ceplas ceplos. Ya, dia memang masih ceplas coplos, dengar saja apa yang dikatakan Keiko dalam bahasa Inggris. jack yakin para wartawan itu akan menyorotnya lebih banyak kalau menyadari apa yang dikatakan Keiko.

“Dia sama sekali tidak mencariku, Jack…. Dan aku tidak bisa mencarinya terus. Aku punya harga diri.” ungkap Max.
Jack menoleh dan memandangi Max lagi.
lagi-lagi Mx menyatakan sesuatu ang tidak ingin didengar olehnya. Karena kalau dipikir-pikir Keiko juga tidak pernah mencarinya. Pembicaraan mereka berlanjut begitu saja tanpa kejelasan siapa yang memulai topik baru atau mencari lebih dahulu.
Setiap ada pembicaraan yang terutus, salah satu dari mereka akan melanjutkannya keesokan harinya.

“Kamu ada ide tidak bagaimana caranya agar Keiko mencariku lebih dulu?”
Jack lupa kalau max masih menanti jawaban darinya.
Mendadak Max bangkit dan duduk. “Telepon Micky dong. Dia pasti ada ide.”
“Aku rasa Micky jug tidak dalam posisi terbaiknya, Max. Micky bilang ia tidak bisa menghubungi Yunna sejak Yunna ke kantor LIME.”
Max mengerang kesal.
“Sebetulnya ada apa dengan dua cewek ini? Mereka tidak terkesan dengan status artis kita. Mereka juga tidak terkesan dengan wajah kita. Aku ragu mereka akan terkesan dengan isi kepala kita.”
Jack tersenyum. Ia mengerti bagaimana perasaan Max. Ia pernah merasakan hal yang sama dan dia sudah melewatinya dengan baik.
“Yunna memiliki segala yang kita punya, Max. Bahkan lebih. Jadi untuk apa dia harus terkesan dengan semua itu? Keiko sebagai teman baiknya juga pasti kurang lebih memiliki perasaan yang sama. Kalau kamu mau membuatnya terkesan, kamu harus berpikir di luar kotak.”
“Berpikir di luar kotak? Berpikir bagaimana maksudmu?”
“Entah, sesuatu yang bisa membuatnya tertawa mungkin. Aku pernah mendengar kalau kamu berhasil membuat seseorang tertawa, orang itu akan mengingatmu lebih baik.”
Sebetulnya Keiko yang memberitahunya, dan Jack rasa ucapan Keiko itu benar. Buktinya ia tidak bisa lepas memikirkan perempuan itu sekarang.
“Aku tidak mau dia hanya mengingatku, Jack. Aku mau dia merasakn hal yang sama denganku. Damn, merindu itu tidak enak, apalagi jika orang yang dikangenin tidak merasakan hal yang sama.”
Jack memangku dagu, berpikir.
Belum juga ide muncul di kepalanya, handphonenya sudah berdering.
“Jack, Micky di sana? Kalau di sana, suruh dia cek handphone. Yunna mengila.”
Pikiran dalam otak Jack saling beradu, antara senang bisa mendengar suara Keiko dan panik, takut Max mendengar suara Keiko dan terbingkar sudah rahasianya.
“Ada apa?” tanya Max melihat raut wajah Jack mendadak pucat.
“Shit! Max disana? I hang up. Inget, beritahu Micky. Cuma dia yang bisa menghentikan Yunna.”
“Tunggu….”
Percuma, Keiko sudah memutuskan telepon.
“Ada apa? Ada masalah apa?” desak Max.
“Micky dimana?” ucap Jack gamang, “Aku harus mencari dia.”
Jack berusaha menghindar dari tatapan Max.
Ia tidak bisa menceritakan pada Max mengenai hal itu sampai perasaan Max berubah, sampai Max menyerah.
Mereka keluar kamar dan mendapati Micky sedan di tahan oleh Ben di depan pintu.
Jack menduga Micky sudah membaca pesan dari Yunna atau Keiko dan memutuskan untuk keluar dan menemui Yunna.
“Biarkan aku lewat, Ben. Aku harus menemuinya.” ucap Micky sambil terus berusaha berkelit dari kuncian Ben.
“Tidak ada yang boleh meninggalkan rumah. Aku tidak mau melihat kamu dikeroyok massa.”
“Tidak ada orang di luar sana! Tidak ada yang peduli dengan kemana aku pergi semasa aku keluar seorang diri.”
“Justru mereka akan semakin curiga tolol!”
Mereka mulai bergulat di depan pintu dan saling melemparkan makian lainnya.
Max segera melompat dan menarik Ben. “Hentikan! Pertengkaran kalian tidak akan membantu.
Ben tidak menyerah dengan mudah, walau tangannya ditahan oleh Max, ia mengunakan kakinya untuk mengunci pinggang Micky.
“Ben, biar aku yang menemani Micky.”
Ucapan Jack membuat tiga pasang mata menatapnya.
“Aku akan memastikan tidak ada yang mengikuti kita dan Micky harus pergi.”
“Tapi…”
“Tidak ada tapi, Ben. Dia harus pergi atau sesuatu yang buruk akan terjadi dan kia akan menyesalinya.”
“Kamu…”
Pertanyaan tadi dipotong oleh Max. “Telepon tadi! Siapa pun yang meneleponmu tadi pasti dia memberitahumu sesuatu soal Yunna!”
Micky menatap Jack penuh arti dan Jack mengangguk.
“Siapa yang menghubungi Jack? Pengawal Yunna? keiko? Tapi tidak mungkin, kalian tidak sedekat itu….” ucap Max muai meracau
Syukurlah Ben memutuskan untuk melepaskan Micky saat itu dan Micky melesat keluar sambil meneriaki namanya.
Jack tidak membuang waktu dan mengikuti Micky masuk ke dalam mobil temannya itu.
Salju turun dengan deras hari ini, membuat jalanan macet.
“Damn, it!” maki Micky, mereka kembali terjebak macet. “Kei bilang apa padamu?”
“Tidak banyak.” jawab Jack.
“Damn it! Sebulan menghilang dan mendadak dia memintaku datang ke tempatnya lalu kamu bertindak seakan-akan dia mencoba untuk bunuh diri!” melihat Jack diam, kesadaran menghampiri Micky dengan cepat. “Dia tidak mencoba bunuh dirikan? Dia tidak punya alasan untuk melakukan itu! Dia tidak memiliki perasaan apa-apa padaku. Dia sendiri yang bilang seperti itu dan dia yang meninggalkan aku! Dia… Damnnnnnn it! Kapan dia akan berhenti untuk membuat aku gila?”
Jack tersenyum dan menepuk pundak Micky.
“Bukan cuma kamu yang sedang susah Ky. Setidaknya Yunna merubah pendiriannya dan masih memintamu untuk menemuinya. Max dan aku berada dalam posisi yang lebih mengenaskan.”
Micky memukul gagang setirnya dan meneriaki mobil di samping mereka yang berusaha menerobos jalur mereka.
“Orang gila!” omel Micky. “Kamu masih belum mengatakan padanya?”
“Aku tidak bisa.”
“Sebaiknya kamu segera memberitahunya. Max tidak akan terima kalau tahu kamu membohonginya.”
“Aku tahu. Tapi….”
“Kalau kamu tidak menginginkan Keiko, aku tidak melihat alasan mengapa kamu ahrus takut Max akan berpikir kamu menyembunyikannya.”
“Aku….”
“Kamu menginginkannyakan? Menginginkannya hingga kamu gila. Menginginkannya hingga kamu rela melakukan segala asal memiliki sesaat bersama dia.”
Jack mencibir, mendengar Micky menyuarakan isi hatinya seperti ia mendengar dirinya sendiri yang berbicara.
“Kamu tahu apa yang lebih gila? Aku ingin melindungi Yunna dengan segala cara. Waktu aku melihat dia dikelung wartawan, aku ingin memasang badanku di hadapannya. Kamu lihat betapa pucatnya dia saat itu? Aku pikir dia akan pingsan saat itu juga.”
Tidak, Jack tidak melihatnya karena ia sibuk memperhatikan Keiko. Mengamati kesigapan Keiko dalam melindungi Yunna. Hari itu Jack sadar kalau Keiko dan Yunna itu seperti dua cermin.
Yunna keras di luar namun lembut di dalam sedangkan Keiko lembut di luar tapi berhati baja.
“Jack, kalau sampai terjadi sesuatu padanya malam ini, aku tidak ingin hidup lagi.”
“Jangan mengucapkan kata-kata bodoh. Yunna orang yang bertanggung jawab dan orang bertanggung jawab tidak akan melakukan tindakan bodoh seperti bunuh diri.”
“Kamu tidak mengenalnya Sebaikku Jack. Yunna suka olahraga ekstrim.”
“Kamu mau aku menghubungi Keiko?”
Setelah Micky mengangguk, Jack menghubungi Keiko dan ia membiarkan temannya itu bicara sendiri dengan Keiko.
Entah apa yang dikatakan Keiko tapi hal itu berhasil membuat Micky lebih tenang.
“Dia mau bicara denganmu.” oper Max.
Jack menerima handphonenya.
“Terima kasih.” ucap Keiko.
“Kapan saja aku siap membantumu.”
“Aku tahu, aku hanya berharap dia tidak terlambat. Kalian sudah dekat?”
Jack memutar pandangannya ke jalan raya, “Dua blok lagi kami sampai. Kamu di rumah?”
“Tidak, aku di tempat Yogi.”
“Oh.” jawab Jack singkat, sampai saat ini ia tidak pernah mengeti dengan jelas hubungan di antara dua orang itu tapi selalu ada perasaan tidak nyaman ketika mendengar Keiko mengucapkan nama Yogi. Seakan mereka berada di level kehidupan yang berbeda dengannya.
“Dia memaksaku tinggal di tempatnya sejak insiden cat.”
“Oh.”
“maaf aku tidak memberitahumu sebelumnya.”
“Tidak apa. Kamu tidak perlu melaporkan segalanya padaku. Yang penting kamu aman. Kamu aman kan?”
Keiko menjawab dengan sinis, “Aman banget, Jack. Sampai aku mau mati bosan. Kamu mau ke sini?”
Jack membisu. Ia ingin datang tapi bagaimana dengan Micky. Ia melirik ke teman di sampingnya.
“I’m fine, Jack. Kalau kamu mau menemuinya pergi saja. Bawa mobil ini. Urusanku dengan Yunna tidak akan selesai dengan cepat. Dia harus memberi jawaban padaku sampai aku puas.”
“Bailah, aku akan datang jika kamu memaksa.”
Keiko tertawa!
Jack tidak tahu kalau ia amat merindukan suara tawa itu.
“See you, Jack.”
Jack menurunkan Micky dan langsung melesat ke alamat yang diberikan oleh Keiko.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s