Damn, I miss you – Chapter 15

“Kenapa kamu tidak datang hari itu?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Keiko begitu ia berhasil melarikan diri dari Max dan menyusul Jack ke toilet.

Sejak Jack tidak mucul dirumah Yogi sesuai dengan janjinya, Keiko sudah mencoba ribuan kali untuk menghubungi Jack, namun laki-laki itu tidak pernah memberinya jawaban yang memuaskan.

Maka dari itu, ketika Yunna berkata akan mengajak seluruh anak Fox-T ke Jepang, Keiko langsung mengepak kopernya dan bersikeras ikut.

Agak tidak perlu sebetulnya karena ternyata Yunna memang berencana untuk mengajaknya juga. Alasan sahabatnya itu, ia tidak ingin membiarkan Keiko bermuram durja di Seoul hanya gara-gara nyaris dicium artis.

Melihat Jack menatapnya bingung, Keiko mendorong Jack masuk kembali ke dalam toilet. Keiko tahu itu toilet pria tapi tempat itu jauh lebih aman untuk mereka berbicara dibanding berdiri di luar sana.

Berdasarkan reaksi teman-teman Jack saat melihatnya di bandara tadi, Keiko sadar kalau Jack belum membocorkan hubungan mereka kepada anak Fox-T yang lain. Kenyataan yang membuat Keiko semakin bingung dengan sikap Jack. Karena setelah laki-laki itu mengacuhkannya dan Max semakin genjar melakukan pendekatan kepadanya, Jack seharusnya sudah menghilangkan kesalahpahaman kecil mereka.

Untuk apa merahasiakan kalau mereka sudah saling kenal sebelumnya jika memang tidak ada rahasia dibalik pertemanan mereka?!

“Kenapa kamu ke sini? Bagaimana kalau Max mengikutimu kemari?”

Keiko mencibir mendengar nada sinis yang digunakan Jack.

“Hanya itu yang kamu khawatirkan? Kenapa kamu ingin aku terus berpura-pura tidak mengenalmu?”

“Aku tidak melihat ada alasan untuk mengatakan aku pernah mengenalmu sebelumnya.”

Ucapan Jack begitu dingin sampai membuat Keiko bertanya-tanya kemana Jack yang dulu ia kenal. Apa benar yang berdiri di hadapannya ini laki-laki yang sama yang dulu pernah membuatnya tertawa sampai berguling-guling.

“Ada apa denganmu, Jack? Apa aku melakukan sesuatu yang membuatmu marah?”

“Tidak ada.”

“Lalu kenapa kamu mendadak berubah? Kamu bahkan tidak menjawab teleponku?”

“Aku sibuk.”

Keiko menatap mata Jack lebih dalam untuk memastikan laki-laki itu tidak berbohong padanya.

“Begitu.” jawab Keiko sedingin ucapan Jack. “Aku mengerti.”

Keiko membalikkan badan dan keluar dari toilet. Ia tahu kapan waktunya untuk berhenti dan dari sorot mata Jack, Keiko tahu laki-laki itu ingin dia berhenti.

Baik, tidak masalah.

Ia yakin Jack akan memberitahunya jika laki-laki itu sudah siap.

Keiko keluar dan kembali bersama Max. Tidak satu kalipun ia berbicara kepada Jack sepanjang waktu mereka bersama teman-temannya.

Tidak saat mereka tiba di acara peresmian apartement yang harus mereka hadiri karena Yunna diundang.

Tidak saat mereka menuju tempat ski.

Juga tidak saat kembali ke tempat penginapan.

Sejujurnya tidak mudah mengacuhkan Jack seperti itu karena nama Jack kerap kali muncul dalam pembicaraannya bersama Max, atau Ben atau siapapun juga. Belum lagi terkadang Jack dipanggil untuk ikut ngobrol dengan mereka dan terkadang mereka harus saling melontarkan pertanyaan agar tidak memberi kesan aneh.

Tidak sekali jika ketika mata mereka tidak sengaja saling bertemu dan saat hal itu terjadi, salah satu dari mereka pasti buru-buru menoleh ke arah lain. Dan sering kali Jack yang melakukan hal tersebut.

Kalau saja mood Keiko sedikit lebih baik. ia akan sengaja menantang Jack dengan memandanginya dan melemparkan lelucon pada laki-laki itu.

Tapi ia tidak ingin menyiram minyak ke dalam api. Setidaknya tidak ke dalam api yang belum ia tahu apa sanggup ia padamkan atau tidak.

Yang pasti, Keiko marah pada sibuk acuh Jack dan pada permintaan laki-laki itu.

“Kei…” panggil Max membuyarkan lamunan Keiko.

Saat ini mereka berada di bar hotel. Ia menyetujui tanpa sadar saat Max mengajaknya tadi. Keputusan yang amat disesalinya, karena sekarang mau tak mau Keiko harus menemani Max minum dan berbicara. Bicara adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan sekarang.

“Kamu yakin masih mau minum? Ini gelas keempat loh.”

Keiko menatap gelas kosong di tangannya dan cekikikan sendiri, “Really? four? Damn, that was fast.”

“Kei, kamu ngak mabukkan?”

Cekikikan lain keluar dari mulut Keiko. I wish I have, jadi aku tidak perlu memikirkan laki-laki jelek itu lagi.

“Mou ippai!” Satu gelas lagi, pekik Keiko ke arah bartender yang medadak wajahnya mirip sekali dengan Matt Demon. Kemudian Keiko membalikan badan dan menatap wajah Max, “Relax, Maxie, Aku tidak mabuk dan tidak akan mabuk. Aku tidak pernah mabuk.”

Entah apa yang dikatakan oleh Max sebagai balasannya, Keiko tidak menyimak karena ia melihat sosok laki-laki yang menjadi pusat emosinya 4 jam terakhir ini. Berdiri di pintu masuk bar sebelum menghilang di balik pilar???

“Ehm….” Keiko memicingkan matanya, “Mungkin aku sedikit mabuk….” ucapnya tidak yakin.

“Kamu mau balik ke kamar?”

Keiko tertawa mendegnar nada khawatir Max. Oh, seandainya saja ia bisa jatuuh cinta pada laki-laki baik ini segalanya pasti lebih mudah.

“Tidak…” jawab Keiko dengan 3 gelengan kepala yang membuat pikiran Keiko semakin melayang-layang. “Satu gelas lagi dan kamu, Maxie, harus mengatakan padaku kenapa kalian setuju datang ke Jepang atau aku akan memanggil 3 perempuan di pojok sana yang sedari tadi merencanakan cara untuk membunuhku dengan cepat.”

Keiko menarik kepala Max saat laki-laki itu menoleh ke arah 3 perempuan yang Keiko sebutkan. “Oh, no…no… Maxie, kamu tidak boleh melihat mereka atau kamu akan melupakan perempuan tua sepertiku. Apa jadinya malam ini kalau kamu juga meninggalkan aku? Hmm?”

“Jadi semua ini tentang patah hati? Siapa Kei? Biar aku beri pelajaran dia!”

Keiko tertawa mendengar ancaman kosong Max.

“Don’t be such a ninny, aku tidak mau Max yang paling lemah lembut berubah menjadi pembunuh sadis hanya demi kehormatanku.” senyum tipis tersungging.

“Lemah lembut? Kamu membuatku terdegnar seperti tuan putri, Kei.” sembur Max sebal.

“A prince then?” tawar Keiko untuk lelucon konyolnya, “Jangan marah Max. Aku hanya bercanda, now, tell me. Kenapa kalian setuju datang? Karena menurutku kalian tidak mungkin setuju pergi hanya untuk melarikan diri dari situasi panas di kampung halaman kita itu.”

Max kembali bergugam tidak jelas dan membuat Keiko mencubit lengan laki-laki itu.

“Ow! Kenapa cubit sih? Baik, kalau kamu ingin tahu, Jack bilang kalau pergi ke sini bisa membantumu.”

“Jack?”

“Ya, Jack, dia yang paling tua di antara kita dan kami terbiasa meminta sarannya mengenai semua masalah dan aku percaya dia benar. Kamu lebih banyak tertawa setelah berada di sini.”

Keiko memerjapkan mata tidak percaya.

Jack? Keiko menghabiskan isi gelasnya dalam satu teguk sambil terus menatap Max, berusaha mengerti setiap ucapan yang diberikan dari bibir laki-laki itu.

“Sejak gosip kita beredar, Jack dan Alex berulang kali mengatur strategi agar orang-orang tidak membahas masalah kita tapi seberapa kerasnya usaha kita, tetap saja kecolongan. Jack yang paling kesal waktu tahu kamu dan Yunna tetap diteror oleh fans kita. Waktu dia tahu, Jack marah-marah ke management dan minta mereka turun tangan dan sepertinya usaha Jack membuahkan hasil.”

Keiko bisa melihat dengan jelas kebanggaan Max pada Jack dari binar matanya. Tapi apa lantas ia harus lari dan mencari Jack? Keiko tidak yakin. Apapun yang membuat Jack tetap melindunginya jelas bukan atas dasar perasaan tertentu. Karena laki-laki bodoh itu menghindarinya seperti pelaut menghindari badai.

“Terus terang, Kei. Kalau bukan karena Jack, kita tidak mungkin diijinkan untuk pergi ke Jepang.”

“Apa maksudmu? Bukannya Lime memberi ijin karena Yunna yang meminta?”

Mac menegak gelasnya, “Tidak juga, Kontrak Lime dengan Cleo tidak memberi hak esklusif pada Yunna. Simon mengijinkan kita untuk berangkat karena Jack setuju menjadi spokeperson soju yang sudah ditolaknya selama ini.”

“Jack dengan alkohol!”

“Sepertinya kamu sudah mendengar soal kebiasaan minum Jack ya? Dia memang jago minum tapi bukan berarti dia mendukung para pengemar kami untuk minum juga. Dia dari semua orang yang paling mengerti efek buruk minuman keras.”

Keiko terdiam ketika berikutnya Max menceritakan tentang kasus DUI Jack dan nyaris dikeluarkan dari LIME.

“Dia memang berhasil mengalahkan iblisnya sendiri tapi bukan tanpa luka. Pacarnya saat itu memberi dukungan…”

“Pacarnya?” potong Keiko.

Max tersenyum, “Kamu tidak berpikir Jack itu selalu bermain-mainkan? Setidaknya saat dengan Mary. Aku tidak tahu apa alasan mereka sampai putus tapi sepertinya bukan masalah sepele. Sejak Mary, aku tidak pernah melihat Jack serius dengan perempuan lain.”

Keiko memutar-mutarkan gelasnya. Memikirkan semua ucapan Max. Bukan kejutan kalau Jack pernah memiliki pacar. Jack sendiri mengakuinya dan seharusnya ia juga tidak terkejut kalau Jack bisa serius. Lalu kenapa ia merasa sebal dan cemburu.

Cemburu? Keiko menghela nafas, damn, dia memang cemburu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s