Damn, I miss You – Chapter 16

Tak jauh dari tempat Keiko dan Max duduk, Jack terpekut memikirkan semua ucapan dua orang itu.
Masa lalunya.
Ia mendengus, Tahu apa Max mengenai Mary? Atau mengenai keputusannya untuk tidak lagi mengikut sertakan hatinya dalam setiap hubungannya atau mengenai keraguannya dalam hubungannya dengan Keiko?

Tapi kemudian, Jack mendengar Keiko berkata, “Aku rasa semua orang punya masa lalu, Max. Bagian dari diri kita yang ingin kita kubur dan lupakan. Tapi sekeras apapun juga usaha kita untuk menguburnya, menenggelamkannya, tetap saja hal itu kembali muncul di permukaan. Persis seperti alarm. Berapa sering kita matikan, tetap saja pada akhirnya kita mengaturnya untuk kembali menyala.”

“Aku lebih memilih untuk menghadapi masalah itu dan menuntaskannya.” jawab Max angkuh.

Jack mencibir, sungguh, terkadang kepercayaan Max bisa membuat seseorang mencekik adik kecilnya ini.

Keiko tertawa, “Maksudku bukan Jack itu pengecut, hanya saja beberapa orang kadang menjadi defensif jika menyangkut masalah hati.”

Jack ingin mengangkat kedua tangannya menyoraki Keiko yang sudah membelanya. Kei memang selalu bisa diandal untuk bersilat lidah. Biar Max tahu kalau hidup itu bukan hitam putih dan sesederhana yang Max kira.

“Kadang kita berubah menjadi orang yang 100 persen berbeda saat kita terluka. Beberapa berhasil bertahan, beberapa hancur dan sebagian lainnya mengumpulkan apa ayng tersisa dan membangun di atas kepingan runtuh. Bukan pondasi yang bagus tapi lebih baik daripada tidak.”

Jack mematung mendengar Keiko mengulang ucapannya pada perempuan itu saat ia mengomentari hubungan Keiko dengan Yogi. Ia tidak menyangka kalau Keiko akan mengikat ucapannya kata demi kata dan mengunakan omongannya untuk mendeskripiskan dirinya.

Yang setelah mendengarnya seperti ini, Jack tidak bisa tidak mengakui kalau ucapan itu persis mengambarkan dirinya saat ini.

“Apa hubunganmu dengan Jack, Kei?”

“Hubungan apa?”

“Ayolah, tidak mungkin kamu bisa mengatakan hal tadi kalau kamu tidak pernah mendengar cerita Jack sebelum ini. Ucapanmu barusan persis seperti ucapan Jack. Kata demi kata.”

Jack harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Keiko. Tapi apa?

“Jangan belaga bodoh, aku sudah curiga dengan kalian karena terkadang kalian sering kali menghilang di saat bersamaan. Saat Jack tidak ada di rumah, handphone kmau pasti tidak bisa dihubungi. Lalu di Gimpo airport, kecurigaanku semakin bertambah. Satu-satunya orang yang tidak kamu ajak bicara hanya Jack.”

“Aku menyapanya kok, kalian dia belagu itu kan masalah dia.” ucap Keiko membela diri.

Lalu tiba-tiba tangannya ditarik oleh orang bertudung hitam dan tahu-tahu Keiko sudah berlarian keluar dari bar menuju lorong hotel.

“Hei….” teriak Max mengejar tapi Keiko sempat melihat bartender menahan Max, mungkin minta Mac membayar tagihan mereka dan memberi waktu yang cukup untuk Keiko serta penculiknya ini masuk ke dalam lift.

Keiko tidak perlu menebak siapa Laki-laki yang menculiknya ini. Ia terlalu hafal punggung laki-laki bodoh itu.

“Kamu gila ya? Kenapa kamu menarik aku pergi?” protes Keiko, masih berusaha melepaskan tangannya dari Jack tapi gengaman tangan laki-laki itu sama keras kepalanya dengan siempunya.

“Aku berusaha menyelamatkanmu, apalagi coba?” jawab Jack sambil menekan angka 45, lantai kamar Keiko.

Keiko tidak ingin bertanya darimana Jack tahu lantainya, mungkin saja Jack juga berada di lantai yang sama.

“Menyelamatkan aku? Menyelamatkan dirimu maksudnya? Karena aku sama sekali tidak merasa terancam bahaya.”

Jack tidak menjawab dan terus menatap pintu lift yang memantulkan bayangan Keiko. Perempuan itu menyilangkan tangan di depan dada dan memelototinya. Kalau di situasi lain, Jack pasti sudah ikut membalas menaikan dagu dan menantang Keiko.

Tapi saat ini, Jack tidak yakin ia bisa mengontrol dirinya, begitu ia menatap Keiko langsung, ia pasti akan langsung menyergap perempuan itu, memeluknya, menciumnya.

Damn, betapa ia merindukan perempuan ini!

Keiko menekan angka 20, 2 lantai dari angka di monitor.

Oh, tidak, Jack tidak akan membiarkan Keiko pergi.

Jack memunggungi pintu lift, menghalangi jalan keluar. Sambil menahan tombol tutup.

“Mau kamu apa sih?” tanya Keiko ketus dan kembali menekan nomir lain, membuat pintu lift kembali terbuka sedikit sebelum ditutup kembali oleh Jack.

“Oh, please! Biarkan aku keluar. Aku sudah aman, Max tidak mungkin mengikutiku kalau aku turun di sini!”

Jack membiarkan Keiko keluar dan mengikutinya. Ia tidak berpikir kalau Max bisa saja mengikuti mereka ke kamar Keiko dan membuat usahanya semakin terlihat bodoh.

Untuk sesaat mereka hanya terdiam menyelusuri lorong. Membiarkan lorong nasib yang menentukan tujuan mereka. Damn, Ia semakin puitis sekarang. Micky akan bertepuk tangan dan menyuruhnya menuliskan semua ucapannya tadi untuk dijadikan lirik.

Sibuk dengan pikirannya, Jack tidak menyadari kalau Keiko mengarahkannya ke kolam renang sampai ia mendengar suara cipratan air. Dan menemukan Keiko berada di tengah kolam renang. Dengan pakaian lengkap.

Belum selesai rasa terkejutnya, Jack sudah disiram dengan air dingin.

“Itu untuk mengacuhkan aku dari kemarin!” seru Keiko dari dalam kolam.

Kalau Kei berpikir ia aman berada di dalam kolam, perempuan itu salah besar. Jack melepas pakaiannya, tidak mengubris teriakan panik Keiko dan mencopot celananya hingga tinggal boxer hitam dan menceburkan dirinya.

“Oh, nO…. You don’t” pekik Keiko dan berenang menjauh, semakin ke pojok belakang kolam renang.

Jack berenang dan dalam sekejap sudah sampai di hadapan Keiko.

“Jangan mendekat, atau aku akan berteriak.” ancam Keiko yang tentu saja tidak digubris oleh Jack. Ia tetap berjalan mendekat, mendesak Keiko ke tepi kolam

“Teriak saja.” ucapnya saat jarak mereka bersisa 1 meter.

Ia tahu Keiko tidak akan melaksanakan ancamannya saat melihat perempuan itu memerjapkan mata dan mulai mengedarkan padangannya, mencari jalan keluar mungkin.

“Jack, aku serius. Jangan mendekat.” ucap Keiko, sedikit lagi ia akan mencapai tepi kolam, ia bisa saja langsung melompat naik, tapi Keiko ragu ada cukup waktu baginya. Jack bsia dengan mudah menariknya turun kembali ke kolam.

“Aku hanya ingin memelukmu.” ucap Jack tanpa berpikir, ia tidak bermaksud berkata demikian. Tapi ia sudah lelah membohongi dirinya sendiri.

Keiko tidak percaya. Ia bisa melihatnya dari mata Keiko. Jack sendiri tidak akan percaya kalau ia di kaki Keiko tapi ia sungguh-sungguh dengan ucapannya.

Ia mengulurkan tangannya dan menangkap pinggan Keiko. Melihat Keiko tidak mendorongnya, Jack semakin berani dan merapatkan tubuh mereka. Meletakan kepalanya di bahu perempuan itu dan melingkarkan kedua lengannya dengan posesif di pinggang Keiko.

Keiko tidak membalas pelukannya, hanya berdiri mematung.

“Peluk aku, Kei. Naega philyowae.”

Aku membutuhkanmu. Jack membutuhkanku?

“Aku minta maaf sudah mengacuhkanmu. Aku pikir asal kita tidak saling bicara, segalanya akan kembali seperti biasa. Aku pikir aku bisa memberikan waktu untuk Max dan…” Jack mengencangkan pelukannya saat merasa Keiko memberontak, “Aku tahu aku salah, aku tidak bisa melihat kalian bersama. Aku tidak suka melihat kamu tertawa dengan Max, atau dengan Ben atau Micky. Aku tidak suka melihatmu akrab dengan laki-laki lain. Aku cemburu.”

Jack menarik dirinya sedikit, hanya sedikit karena ia belum rela menjauh dari Keiko, ia hanya perlu melihat wajah Keiko saat ia menyatakan perasaannya.

“Kei, neol saranghae. Michidorok saranghae. Aku mencintaimu seperti orang gila saat aku berpikir aku tidak lagi bisa mencintai orang sebesar ini. Saat aku berpikir aku tidak lagi sanggup mencintai.”

Jack kemudian menceritakan soal Mary, soal ketakutannya dan kebodohannya.

“Aku pikir asal kita berteman, maka sudah cukup. Tapi saat melihat kamu dengan Yogi, aku ingin mencekik dia dan mengatakan padanya bahwa akulah yang seharusnya ada di samping kamu dan menghiburmu.”

“Kamu lihat? Jadi sebetulnya kamu datang ke rumah Yogi?”

“Tentu saja aku datang! Sungguh, Kei kalau kamu ingin mantanmu itu berhenti mengurusmu, kamu harusnya mengatakan dengan tegas padanya bukannya malah luruh dan nangis di dada Yogi.”

“Kamu tahu?!”

Jack menangguk, “Aku sudah menebak hubungan kalian tidak sesederhana yang kalian katakan. Dia menuliskan namamu di dinding Cafenya.” dengus Jack membaut Keiko tersenyum.

“Yogi memang gila tapi aku tidak bisa memintanya untuk mengubah dekorasi cafe.”

“Tapi setidaknya kamu bisa menghindar dari ajakan Max kan? Minum berduan di bar? Walaupun ini Jepang, bisa saja ada orang usil dan memotret kalian.”

“Jangan salahkan aku, aku sudah bilang pada Max kalau dia gila tapi sejak kapan dia mendengarkan aku? Sudah selesai belum sih tanya jawabnya? Aku kedingingan nih.”

Jack tersenyum, “Satu pertanyaan terakhir.” dan ia tertawa saat mendengar Keiko ngomel dan mengeluhkan kekeraskepalaannya.

“Kamu bersedia pacaran denganku?”

Pertanyaan Jack sukses membuat Keiko melongo. Ia bahkan tidak sadar mulutnya setengah
terbuka sampai Jack mengelus dagunya, membuat Keiko menutup mulut dan menelan ludah.

“Kamu tidak akan menolak aku kan? Karena aku tidak akan percaya kalau kamu bialng kamu tidak tertarik padaku atau tidak menyukaiku. Kita sudah menghabiskan cukup banyak waktu dengan pura-pura tidak tertarik.”

“Kan bukan aku yang menekankan kalau kita ini berteman setiap kali kita berada di posisi canggung.”

“Maksud kamu seperti sekarang?”

Ucapan Jack mengingatkan keadaan mereka yang sama-sama basah dan tubuh mereka praktis saling menempel dengan pembatas tipis bernama kaos yang dengan mudah bisa dilepaskan oleh Jack.

“No…” Pekik Keiko menghentikan jalan pikirannya.

“Tidak? Kamu menolakku?”

“Bukan begitu.”

“Jadi apa yang tidak?”

Keiko mendorong Jack, ia perlu berpikir sebentar. Untuk itu ia perlu melepaskan diri dari Jack karena Tuhan tahu betapa ia tidak pernah bisa berpikir jika berdekatan dengan laki-laki ini.

Tapi Jack tidak membiarkannya, Yang ada laki-laki itu malah merengkuhnya lebih erat dan menurunkan bibirnya ke bibir Keiko.

Kecupan berubah menjadi ciuman, ciuman berubah menjadi lenguhan dan lenguhan berubah menjadi segukan.

Keiko menangis.

Ia tidak tahu kenapa, tapi berada sedekat ini dengan Jack membuatnya takut. Jack pernah meninggalkannya sekali dan apa jaminannya laki-laki ini tidak akan kembali meninggalkannya.

“Ssssh….. Jangan menangis, aku minta maaf kalau aku tidak tahu aturan, tapi, Kei, aku terlalu merindukanmu hingga terasa sakit dan aku tidak mau merasakannya lagi. Kalaupun itu artinya aku harus menghadapi amukan Max.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s