Damn, I Miss You – Chapter 17

“Jack, kamu yakin mereka tidak akan marah kita basah-basah begini mondar-mandir di hotel?” bisik Keiko saat mereka di dalam lift.

“Salah mereka, kenapa tidak menyediakan tempat peminjaman handuk di kolam berenang.”

Keiko mendengus, “Aku rasa cuma kita saja yang cukup gila nyemplong ke kolam berenang di musim dingin seperti sekarang.”

“Kamu doang yang gila, kalau kamu ngak lompat, aku pasti tetap kering.” Jack melirik Keiko yang sekarang mengenakan jaket hoodienya dan celana basah milik perempuan itu.

“Setidaknya celana kamu kering, Jack.” ucap Keiko dengan senyuman nakal, “Walau harus aku akui dada mulus kamu amat mengoda, aku yakin pengemarmu rela menukar posisinya denganku saat ini.”

Gantian Jack yang mendengus, sungguh ia tidak menyangka kalau ia bisa mendengus sekeras yang baru saja ia lakukan. Perempuan di sampingnya tidak membuang kesempatan untuk meledeknya, membuat Jack kembali mendengus.

“No, really Jack, I love it when you snarl, you look human!” seru Keiko saat lehernya dikunci oleh Jack, membuat wajah Keiko menempel di dada Jack.

Dengan posisi seperti itu, mereka berjalan keluar dari lift. Sambil tetap saling meledek.

“Ayo bilang, Jack itu manusia. Semanusianya dirimu.” tuntut Jack sambil berusaha mengencangkan cekikannya. Tapi diserang dengan kelitikan pinggang oleh Keiko, yang ada, Jack malah goyang kiri dan kanan, berusaha menghindar dari kelitikan dan membuat mereka berdua berjalan seperti orang mabuk.

“Ada apa?” tanya Keiko pada Jack yang mendadak berhenti berjalan, membuat ia nyaris tersandung kakinya sendiri.

Kemudian Keiko melihat apa yang sedang dipandangi oleh Jack dan ia buru-buru berdiri dengan tegak dan merapikan pakaiannya.

Berdua mereka memandangi Max dengan tatapan bersalah, walau detik berikutnya Keiko bisa melihat dua laki-laki itu saling melempar serangan ke udara melalui mata mereka dan Keiko mendadak merasa udara di lorong itu memanas 100 derajat. Yang tentu saja tidak mungkin karena lorong ini dilengkapi dengan penyejuk ruangan.

“Jadi begitu?” ucap Max yang lebih menyerupai pernyataan dibanding pertanyaan.

Keiko merasa jantungnya berhenti berdetak ketika melihat Max mendadak meloncat dan meninju pipi Jack.

“Hentikan! Stop it Max.” seru Keiko ketika tinju lain menghantam perut Jack. “Max, dengarkan dulu penjelasan kita. MAX!!! Damn it!”

Keiko memejamkan mata saat tinju lain menhantam bibir Jack. Ia mengerti mengapa Jack merasa ia pantas dihajar oleh Max dan memutuskan untuk tidak melawan tapi Keiko tidak bisa tinggal diam melihat laki-laki yang dicintanya babak belur seperti ini.

Love? Did I just say I love him?????!

Keiko memutar bola matanya, ayolah, sudah saatnya mengaku, kamu memang cinta padanya dan segera gunakan otakmu atau Jack akan berakhir dengan muka biru lebam dan Yunna dan membunuhmu karena sudah membuat artisnya tak layak pakai.

Tapi syukurlah Yunna sudah pulang lebih dulu tadi siang dan sahabatnya itu tidak perlu melihat kejadian ini langsung, atau Keiko yakin Yunna akan turun tangan dan keadaan akan semakin kacau.

Keiko menekan nomor Micky dan memintanya datang. Tidak sampai 5 menit kemudian., Micky sudah tiba bersama Alex dan Ben.

Dalam sekejap, Alex dan Ben sudah menahan Jack dan Max. Sedangkan Micky dengan kerutan berlipat di dahi memarahi dua temannya itu.

“Tadi Yunna dan sekarang kalian, sebetulnya otak kalian dimana sih? Apa semua hal harus diselesaikan dengan kekerasan?” omel Micky.

“Kamu tidak akan bertanya apa alasanku memukul Hyung?” tanya Max, masih menatap Jack dengan tatapan membunuh.

“Kamu belum memberitahunya?” tanya Micky pada Jack.

“Jadi hyung juga tahu kalau Jack dan Keiko berpacaran?” tanya Max sakit hati.

“Kalian berpacaran?” tanya Ben. “Bukannya kamu mati-matian berkata kalau kalian hanya berteman?”

“Ben juga tahu?! Shi-bal!” maki Max, “Kapan kalian memutuskan untuk memberitahuku? Sesudah aku menyatakan perasaanku padanya?!”

Kemudian kelima laki-laki itu mulai salingberteriak dan menjelaskan permasalahannya dari sudut mereka masing-masing. Micky dan Ben mengaku kalau mereka sudah meminta Jack untuk mengatakan pada Max. Menurut mereka Max pasti akan mengerti. Sedangkan Alex yang tidak tahu apa-apa hanya berkata kalau Max seharusnya tidak meninju Jack hanya karena masalah perempuan.

Dalam hati Keiko, ia ingin memukul Alex untuk ucapannya yang mengecilkan permasalahan ini. Memangnya kalau masalah perempuan lalu masalah itu menjadi lebih mudah diselesaikan? Walaupun Keiko tidak setuju dengan aksi pukul-memukul tadi, bukan berarti Keiko tidak mengerti tindakan mereka. Kadang dengan berkelahi, dua orang yang saling bermusuhan bisa mengenal lawannya dengan lebih baik.

Tidak tahan dengan keributan di hadapannya, Keiko berteriak, “Stop! Kalau kalian ini terus bertengkar, sebaiknya kita pindah ke kamar.”

“Perempuan diam saja.” ucap Alex dan segera memancing emosi Max dan Jack.

Dengan alis terangkat, Alex memelototi dua temannya itu, “Kalau kalian sama-sama memikirkan Kei, kenapa kalian tidak bertanya padanya siapa diantara kalian yang dipilih olehnya? Menghemat waktuku dan kehebohan.”

“Ini bukan soal pilihan, Lex. Tapi soal Jack yang sudah berbohong pada Max” ujar Ben berusaha menjelaskan situasi.

“Dan kamu membiarkan aku menanyakan pendapatku soal Keiko?” tegur Max pada Jack dan diiringi tawa ironis, “Kamu pasti tertawa dalam hati melihat kebodohanku.”

“Dia bertanya soalku?” nimbrung Keiko, “Memangnya sejak kapan kamu berubah menjadi penasehat cinta, Jack?”

“Waktu kamu menyuruhku untuk terus mengejarnya, apa tujuan kamu, Jack?”

Semua mata tertuju pada Jack.

Jack balas menatap teman-temannya satu per satu dan memejamkan matanya, “Kita ke kamar dulu. Aku akan menjelaskan semuanya.”

“Pakai kamarku saja.” usul Keiko yang memang kebetulan kamarnya berada di depan lift.

Setelah mereka masuk ke dalam kamar Keiko. Micky dan Ben memilih bersendar di dekat jendela, Alex duduk di bangku, Max duduk di atas kasur dan Jack berdiri menghadap mereka semua.

Keiko memilih untuk menganti pakaiannya dan membiarkan para pria mengurus urusan mereka. Jadi ia masuk ke dalam kamar mandi dan menempelkan telinga, kepala, seluruh tubuhnya ke pintu untuk mendengarkan.

Jack mulai dengan pertemuan mereka di cafe saat mantan Jack yang gila memutuskan Jack, lalu pertemuan kedua mereka di acara musical Ben, dan berakhir menginap di rumah Keiko karena hujan.

“Kalian tidur satu kamar?!” Keiko mendengar Max kembali menaikan suaranya tapi kemudian Micky segera menenangkan laki-laki itu.

“Kami tidak tidur bersama. Aku sudah bilangkan aku tidak tidur dengannya.” Jack menekankan lalu kembali meneruskan cerita mereka termasuk cerita Yunna dan ketakutan Keiko, “Jadi kalian tahukan kenapa aku dan Keiko tidak memberitahu mengapa kami saling kenal?”

“Maksudmu, kamu dan Keiko berencana menjodohkan aku dengan Yunna?” tanya Micky tidak mengerti mengapa Jack menyetujui merahasiakan hal yang sama sekali tidak perlu dirahasiakan.

“Menurut Kei, kalau Yunna sampai tahu aku kenal dengannya, Yunna akan mencoret namamu dan mencari laki-laki lain untuk rencananya dan bagi Kei, kamu yang berhasil membuat Yunna tertawa jauh lebih penting dari segalanya.”

“Aku berharap kalian tidak terlalu ikut campur seperti itu.”

“Saat itu rencana kami terlihat luar biasa, Ky. Mana kami tahu kalau Yunna bisa bertindak sejauh ini dan meninggalkan kita semua?”

Ruangan kembali sunyi.

“Kenapa kamu tetap menyemangatiku kalau kamu sendiri menyukai Keiko?”

Jack menatap Max, “Aku tidak berpikir untuk memilikinya sendiri, Max. Aku bahkan tidak tahu apa yang aku inginkan sampai aku melihat kamu dan Keiko di bar dan mendengar kamu membicarakan soal Mary.”

“Mary? Apa urusannya semua ini dengan mantanmu itu?” tanya Micky, menyelak.

“Aku tidak ingin Keiko tahu mengenai Mary lalu kemudian aku ingin membuktikan bahwa ucapan Mary salah. Aku ingin membuktikan kalau aku, Jack, walaupun seorang artis tetap bisa memiliki kehidupan senormal orang biasa. Aku bisa berpacaran seperti orang biasa dan bisa mencintai seseorang tanpa memikirkan konsekuensi lainnya.”

“Jadi kamu memutuskan untuk merebut Keiko dan menyatakan perasaanmu lalu membuat aku terlihat seperti orang bodoh dengan berdiri di depan kamar Keiko selama 1 jam. Khawatir Keiko diculik atau sesuatu yang buruk lainnya terjadi.” ucap Max penuh tuduhan, “Sejak kapan kamu berubah menjadi orang egois, hyung?”

“Max, aku tidak bermaksud membohongimu, tapi aku sendiri tidak yakin dengan perasaan Keiko. Jadi apa hakku melarang kamu mendekatinya?”

“Bukannya Keiko sendiri menyuruhmu untuk memperingatiku?”

“Dia hanya takut dengan status keartisan kita, Max. Bukan tidak menyukaimu. Kamu sendiri bisa menilai bagaimana reaksi Keiko selama dua hari ini kan? Aku yakin kamu juga berpikir kalau kamu memiliki kesempatan dengannya.”

Jack tahu Max menyetujui ucapannya karena Max diam dan menunduk.

Saat mendengar suara pintu terbuka, kelima laki-laki itu menoleh dan menatap Keiko yang sudah berpakian rapi.

“Aku pikir aku harus ikut menjelaskan.” ucap Keiko dan ia mengidarkan pandangannya ke Jack sebelum menatap ke seluruh ruangan, “Aku tidak menyangka sikap ramahku akan membuat kalian salah paham.”

Keiko kemudian menatap Max,  “Aku minta maaf, aku tidak bermaksud membuatmu berpikir kalau aku mengharapkan sesuatu terjadi di antara kita. Kamu teman yang baik Max. Kamu juga laki-laki yang baik.” Keiko tersenyum pada Max, “Kamu sudah mengingatkan padaku kalau suatu hari nanti keramahan dan keterbukaanku akan membuatku terjebak dalam masalah dan lihat saja sekarang.”

Keiko lega melihat Max balas tersenyum padanya.

“Sejak kamu memperingatiku, aku mulai menjaga perimeter pertemananku tapi sepertinya aku belum melakukannya dengan baik karena kamu tetap salah paham padaku. Sekali lagi aku minta maaf.”

“Sudahlah Kei, kamu cukup baik kok. Berkali-kali kamu dengan tegas bilang padaku kalau kamu tidak ingin berpacaran denganku, dengan artis karena segala konsekuensinya. Aku saja yang tidak mau menyerah dan berpikir kalau aku bisa merubah pendirianmu. Lagipula buktinya sekarang kamu berpacaran dengan Jack.”

“Aku tidak berpacaran dengan Jack.”

Keiko tahu jawabannya membuat para pendengarnya terkejut tapi ia harus menjelaskan pada mereka agar mereka tidak salah paham dan terus menyalahkan Jack. Sebab Jack hanya menuruti permintaannya saja.

“Tapi… kalian tadi…”

“Apa yang kalian lihat tadi, itu hanya salah satu kegagalanku dalam berteman. Sepertinya aku memang memiliki tendensi untuk terlalu ramah dan bebas. Aku tidak berpikir kalau dengan membiarkan Jack merangkulku seperti tadi itu artinya aku berpacaran dengan Jack. Betulkan Jack?”

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s