Damn, I miss you – chapter 19

Keiko berdiri di depan kamarnya dengan satu jari teracung menuju doorbell. Setelah berputar-putar tak menentu dua jam terakhir ini, akhirnya Kei memutuskan untuk kembali. Ia tidak sudi membiarkan dirinya kehilangan kasur empuk hanya kerena ada 5 cowok kekar memutuskan untuk menjajah kamar tersebut dan membuatnya menderita malam ini.

Dia kan bukan penjahat, jadi terserah apa kata Ben atau Max mengenai keputusannya untuk tidak menerima perasaan Jack. Mereka tidak mengerti masalah apa yang akan timbul jika ia memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Jack sekarang.

Sorotan media, teror dari fans masih bisa Keiko acuhkan, tapi jika Kakek sampai mendengar hal ini. Keiko akan langsung dideportasikan kembali ke London. Kakek hanya memintanya untuk tetap menjafi cucu yang terhormat saat Kakek mengijinkan Kei tinggal seorang diri di Seoul.

Keiko tidak ingin mengecewakan Kakek tapi yang paling penting, Kei tidak mau kembali ke kota dingin itu, tanpa teman dan siapa pun di sana. Keiko tidak mau lagi merasa kesepian.

Keiko menatap kembali tombol doorbell, ia akan mengusir kelima cowok itu keluar dari kamarnya, kemudian tidur sampai siangdan memesan tiket kembali ke Seoul.
Melupakan semua hal yang terjadi di sini.

Dengan kemantapan hati, Keiko menekan tombol dan begitu pintu terbuka, Kei langsung menjalankan rencananya.

Tapi Ketika ia mendapati kamar itu hanya dihuni oleh Jack, keteguhan Keiko runtuh.

Apa ayng harus ia katakan pada laki-laki ini? Dia tidak bisa menjelaskan mengapa ia tidak mau mengakui hubungan mereka. Setidaknya bukan alasan yang bisa diterima oleh Jack, the almighty, the friendly and never be lonely Jack.

“Kei…” panggil Jack.

“Kamu masih di sini?” tanya Keiko sedingin yang ia bisa. Ia menuju koper dan mulai membongkar, mencari pakaian ganti.

Kei tahu ia hanya menunda yang tak terelakkan, tapi berapa pun detik yang bisa ia curi, Kei bersedia merengkuhnya.

“Kei…”

Punggung Keiko membeku sesaat dan jantungnya berdebar lebih cepat. Walau Jack memanggilnya dengan lembut, perasaan frustasi dan tegang tidak luput dari kuping Keiko.

Oh, Jack…

Seandainya Ia memiliki keberanian lebih untuk menjalani hubungan mereka, Keiko akan langsung meminta maaf dan menyerahkan hatinya pada Jack.

Tapi ia tahu hubungan mereka tidak mukin bisa dilakukan terang-terangan. Jack memiliki tanggung jawab pada agensinya, pada fans dan terlebih pada teman-temannya.

Sedangkan Keiko tidak sanggup menjalani hubungan rahasia lagi. Tidak setelah semua yang terjadi dengan Yogi.

Hubungan sembunyi-sembunyi hanya akan menyakiti mereka dan pada akhirnya hanya akan membuat kisah mereka sehitam jelaga dan tidak bisa disucikan kembali.

Jadi jika ia harus bertahan di batas pertemanan, Keiko akan mengorbankan seluruh jiwa, raga, cintanya. Setidaknya dalam pertemanan, mereka tidak perlu khawatir saling menyakiti.

Ketika jemari Jack menyentuh siku Keiko, rasanya air mata Keiko ingin meledak. Ia tidak menepis tapi juga tidak membalikan tubuhnya untuk menatap Jack.

“Kei, aku….”

“Kadang sesuatu lebih baik tidak diucapkan, Jack.” potong Keiko.

“Tidak, aku harus minta maaf atas perlakuan teman-temanku. Ben menyesal sudah memukulmu. Dia sampai memohon-mohon padaku tadi untuk membantunya menjelaskan padamu. Kamu harus lihat tampang dia waktu aku bilang aku tidak yakin kamu akan memaafkannya kalau dia tidak melakukan sesuatu untukmu.”

Keiko tersenyum, Jack tahu Keiko tersenyum walau hanya punggu perempuan itu yang bisa dilihatnya.

“Max juga minta maaf sudah menyusahkan kamu dan dia janji akan mengajakmu makan malam, dia yang traktir jadi aku sarankan kamu milih kiseki dan buat dia bangkrut.”

Jack melangkah mendekat dan memutar tubuh Keiko. Mengelus pipi Keiko yang masih sedikit memerah. “aku tidak akan bertanya kenapa kamu bilang sama mereka kalau kita tidak berpacaran, Kei. Aku rasa kamu punya alasan kuat untuk tetap menyembunyikan hubungan kita.”

“Jack, aku memang…”

“Jangan, Kei. Kamu boleh mengaku ke seluruh kalau kamu tidak menyukaiku, tapi jangan katakan hal itu padaku. Aku tidak akan mempercayaimu.”

Keiko tersenyum, “Jadi kamu tidak marah?”

“Aku marah tapi aku mengerti.” ucap Jack dan ia menarik dan memeluk Keiko.

“Tapi aku tidak mau hubungan sembunyi-sembunyi, Jack. Been there, done that. Kamu tidak akan menyukainya sama seperti aku tidak menyukainya. Kita sama-sama orang cemburuan. Aku akan marah saat mendeengar kamu digosipkan dengan perempuan lain. Lalu kamu akan marah saat melihat aku keluyuran terus, lalu kita mulai saling bertengkar dan ….”

“Ssstt…..” Jari telunjuk Jack menutup bibir Keiko, “Aku suka bertengkar denganmu dan aku percaya selain posesif kita juga pemaaf. Kita bukan tipe orang yang mendendam dam aku tidak bisa lama-lama marah padamu. Jadi seandainya kita ribut hebat, kita juga akan berbaikan dengan hebat.”

“Belagu.” Senyum Keiko mengembang.

“Belagu tapi sayangkan.”

“Entahlah.” elak Keiko tapi Jack menangkap Keiko kembali dalam pelukan Jack.

Sial, ia akan merindukan laki-laki ini saat Keiko setelah semua ini selesai.

“Kamu masih tidak akan mengaku kalau kamu cinta padaku, Kei?” canda Jack, ia mulai mengelus rambut Keiko, menyelipkannya ke balik telinga. Mengelus bercak merah yang pastinya akibat perbuatan Ben. Ia akan mencekik temannya itu nanti. Jack pasti akan menyesalinya kemudian, tapi melihat pipi mulus Keiko, yang sekarang ngak mulus lagi, Jack tidak bisa tidak merasa tidak enak.

“Kalau aku bertemu dengan Ben lagi, aku akan memaksanya berlutut dan menyanyikan hymne nasional sampai aku puas.” gurau Keiko melihat wajah geram Jack.

“Katanya kamu sudah memaafkan mereka.” ucap Jack tidak sanggup menahan senyuman.

“Well, memaafkan bukan berarti aku sudah melupakan tindakan merka, Jack. Kalian orang Korea tidak diajari kalau laki-laki tidak boleh memukul perempuan ya?”

Senyuman lain lolos dari bibir Jack, ia sukaberdebat dengan Keiko, “Aku minta maaf, otak Ben kadang nyangkut di pantat tapi aku berani menjamin dia tidak akan tidur tenang malam ini.”

Keiko membuka mulutnya siap membalas ucapan Jack, namun segera mengurungkan niatnya tersebut. Kenapa mudah bersikap seakan-akan tidak terjadi apa-apa hari ini saat mereka hanya berdua saja?

“Jack.”

“Hem?”

“Cium aku.”

Jack tersenyum, “Goodnight kiss?”

Jack sudah siap mengecup bibir Keiko saat mendengar Keiko menjawab, “Goodbye kiss.”

Sedetik itu mereka saling bertatap mata.

“Kamu tidak serius kan?” tanya Jack yang hanya dijawab dengan tatapan memelas dari Keiko. “Kei, ayolah, kita sudah cukup banyak membuang waktu dengan menahan diri. Aku bahkan setuju untuk merahasiakan hubungan kita asal kita bisa tetap bersama.”

Frustasi dengan sikap diam Keiko, Jack memilih mundur, menjauh.

“Kalau kamu memang tidak menginginkan aku, kenapa kamu memintaku menciummu, Kei?”

“It makes it bareable.” jawab Keiko pendek.

“Ngak, Kei. Satu ciuman tidak membuat kehilangan kamu menjadi lebih tertahankan. Satu ciuman tidak membuat hidup aku lebih baik kalau kamu tidak ada di dalamnya!”

Jack kembali maju, ikut duduk bersama Keiko di atas ranjang.

“Beri aku kesempatan, Kei. Beri kita kesempatan. Satu bulan. Kalau dalam satu bulan ini kita berubah menjadi seburuk yang kita bayangkan, seburuk yang kamu perkirakan. Aku akan menerima takdir kita.”

Jack mengecup kening Keiko, “Satu bulan, setelah itu kamu bebas. Goodnight, Kei.”

Lama setelah Jack meninggalkan Keiko. Keiko menekan nomor telepon Kakeknya. Kakek perlu mendengar semua ini darinya langsung. Kakek tidak akan memaafkannya kalau beliau sampai membaca gosip mengenai mereka terlebih dulu.

“Hati-hati, Kei. Kakek tidak bisa melindungi hatimu, dan hatimulah yang akan kamu pertaruhkan di sini.” ucap Kakek sebelum memutuskan telepon.

Hatinya,seandainya kakek tahu. Hatinya sudah lama berdarah dan terluka. Hatinya tidak akan lebih hancur dari yang sudah terjadi.

“Love… sometime I wish I never know you.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s