Bagian dirimu – Part 1- Bab 1 – When Perseus meets Andromeda

Image

Suasana sunyi mencekam meliputi gedung SMU Sinar Bangsa. Maklum hari sudah sore dan hari ini merupakan hari terakhir sekolah.

Seusai pesta penutupan, murid-murid langsung berhamburan pulang. Dengan kasak-kusuk persiapan pesta lanjutan di ruma Devina, sang diva sekolah. Semua orang diudang, semua yang diharapkan dan diijinkan masuk. Yang artinya tidak termasuk si pecundang, si kutu buku dan si tanpa nama. Amanda Geraldine.

Well, Amanda tidak ambil pusing. Ia tidak merasa dirugikan, ia bahkan tidak tertarik untuk ikut dalam pesta la glamour ala Devina yang pasti mengharuskan seseorang untuk mengenakan gaun ketat, high heels dan make up.

Karena, Amanda tidak punya semua kemewahan tersebut. Satu-satunya gaunyang ia miliki hanya gaun hitam gusuran dari kakaknya yang dibeli 3 tahun lalu untuk wisuda Kak Amarilis. Dari ukuran tubuh mereka sudah jelas Amanda tidak mungkin mengenakan gaun itu. Kak Rilis, tinggi langsing, sedangkan ia tinggi sih, tapi rata dari ujung kepala sampai kaki. 

Mungkin ia bisa menutup mata dan memaksakan diri untuk mengenakan gaun tersebut, tapi high heels? High hill terdengar lebih normal, karena ia akan jatuh berguling begitu ia coba berjalan di atas sepatu tinggi itu.

Worst, tentu saja yang terburuk selalu belakangan bukan? 

Ia tidak punya bedak, lipstick or what so ever things yang bisa disebut sebagai alat dandan. kalau cat lukis bisa dipakai untuk merias wajah, maybe it’ll helps but no, cat lukis itu membuat kulit keras, keriting dan sulit dihapus kecuali dengan terpatine yang baunya bisa bertahan berminggu-minggu.

Atau dalam kasus Amanda selamanya, karena ia tidak pernah mengingat kapan tubuhnya memiliki bau lain selain bau cat minyak dan terpatine.

 

Tapi yang paling penting, Amanda menghela nafas. ia tidak perlu memikirkan pesta Devina atau seribu hal lainnya, karena ia belum menyelesaikan lukisan di hadapannya ini!

Kenapa juga ia harus mengikuti lomba Surrealism di detik-detik akhir sekolah????

“Menyesal juga percuma, Mandy! Lebih baik kamu warnai Andromedamu atau kamu tidak akan pernah menyelesaikan wajah Perseus!”

Amanda menatap lukisan setengah jadi di hadapannya. Andromeda dengan gaun yunaninya yang sedang terkungkung menunggu Perseus menyelamatkannya.

How classic….

 Semua tahu bagaimana akhir kisah mereka, bahkan dalam film mimikan terakhir di Clash of Titans  arahan Louis Letterier, in the end, Perseus menyelamatkan tuan putri Andromeda dan walau tidak diceritakan kisah cinta mereka, kita semua bagaimana semua kisah pertolongan ini berakhir. The heroes get the girl and they live happily ever after or not.

“Bagaimana mungkin mereka terus saling mencintai saat mereka terus berperang melawan Titans? Atau karena perang maka cinta mereka semakin kuat?” Amanda mengerutkan dahi. “Damn, sejak kapan aku memusingkan kehidupan cinta para dewa?”

Amanda meletakan kuas di atas palet. Keluar dari ruang seni rupa menuju deretan loker di koridor tengah. Hal yang selalu ia lakukan selama 3 tahun ini berulang-ulang kali tanpa tertangkap.

Ia melirik ke kiri dan kanan, setelah yakin tidak ada orang lain di sana, Amanda membuka loker bernomor 69. Tersenyum ketika melihat susu yang ia letakan tadi pagi sudah menghilang dari sana.

Tiba-tiba ada tangan terjulur dari samping Amanda, membuat ia menjerit, melengking dan memutar badannya. 

Semua teriakan dan rasa panik mampet di tenggorokan setelah Amanda melihat sosok di harapannya.

Adam Norringthon.

“Jadi selama ini kamu yang meletakan susu di sana?” Tanya Adam sambil tersenyum.

Gugup, Amanda cuma menatap laki-laki di hadapannya itu.

“Amanda Geraldine.” ucap Adam yang bagaikan syair di kuping Amanda, menyihir seluruh tubuhnya menjadi kaku. Seperti itukah namanya jika diucapkan oleh Adam? Kenapa terdengar seperti nama asing di kuping Amanda?

“Aku mengejutkanmu?” tanya Adam dan dijawab dengan anggukan lalu gelengan lalu anggukan dan gelengan kepala lagi.

Adam tersenyum, tapi tidak mengurangi jarak di antara mereka.

“Aku pikir aku harus tahu siapa yang selalu meletakan susu di lokerku itu. Terus terang susu itu sangat membantu. Aku tidak pernah sarapan dari rumah dan latihan pagi di sekolah ini membunuh, kamu tahu itu kan?”

Amanda mengangguk. Bagaimana mungkin ia tidak tahu. Selama 3 tahun ini yang menjadi pemandangan utama dari ruang seni rupa adalah lapangan sepakbola tempat Adam berlatih.

Mendadak terdengar suara langkah kaki, serta merta Adam menarik Amanda dan berjalan secepat mungkin menuju ruang seni rupa. 

Satu-satunya kelas yang Adam tahu pasti tidak terkunci. Adam merapatkan kuping ke pintu kelas, setelah yakin mereka sendirian, Adam baru beranjak dan mengedarkan pandangannnya.

“Jadi seperti ini yang namanya raung seni rupa? Hell, jauh lebih artistik dari ayng kubayangkan.”

Adam menilai satu per satu lukisan yang ada di dinding, ia tidak terlalu mengerti lukisan tapi jelas tidak ada yang normal dari seluruh lukisan yang ia lihat sekarang.

“Anjing main poker?” dengus Adam.

“Itu satu dari 16 karya C.M Coolidge.”

“Coo who??”

Amanda menghela nafas, “Coolidge, salah satu bapak surrelism dari Amerika yang karyanya diakui oleh dunia, perusahan cerutu memakai karya untuk advertisement dan lukisan yang paling terkenal, persis dengan yang sedang kamu lihat itu bernilai USD 590,400 atau sekitar 6 Miliyar rupiah.”

Adam menganga dan memandangi kembali lukisan anjing di hadapannya, kemudian mengaruk rambutnya tidak mengerti apa istimewanya lukisan tersebut.

Perhatian kemudian jatuh ke lukisan setengah jadi yang terletak di tengah ruangan.

“Kalau yang ini aku tahu, Andromeda kan? Dimana si Perseus? No, wait….” Adam menunjuk gambar kasar laki-laki yang sedang menghunuskan pedangnya ke arah Kraken, sang monster laut. “Cool….”

“Krakennya betul-betul mirip, Gurita raksasa edisi Pirates of Caribbean?”

Amanda tahu Adam tidak bermaksud menyidir karena ia sendiri memang membayangkan Kraken setelah ia menonton ulang Pirates of Caribbean, tapi dibilang edisi film tersebut.

Sebal juga.

“Kraken edisi Amanda. Aku tidak mengambar kepala Kraken di sana, karena menurutku monster sesungguhnya yang ditaklukan oleh Perseus adalah ketakukannya dan paradigma jati dirinya sendiri.”

Adam mengusap bibirnya sambil mempelajari lukisan itu lagi, “Pendekatan yang tidak biasa, aku tidak pernah mendengar orang menginterpretasikan perang Kraken dan Perseus sebagai pembunuhan mitos seperti yang kamu utarakan tadi.”

Tiba-tiba Adam membalikan badan dan menatap Amanda. Membuat perempuan itu terkejut.

“Tapi setelah kamu menjelaskannya seperti tadi, aku rasa Perseus memang menang karena ia percaya dirinya mampu bukan sekedar pembuktian bahwa ia lebih dari manusia setengah dewa dan menyelamatkan Andromeda.”

Hening.

Amanda tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak pernah bermimpi akan membahas mitos Yunani dengan Adam. Ia bahkan tidak pernah berpikir kalau Adam menyadari ia hidup. Well, mungkin ia tahu Amanda itu exist, hasil karya miliknya terpampang di hall utama sekolah dengan namanya terukir di plat emas persis di samping patung kepala sekolah.

Tapi hidup dengan saling mengenal, dua hal yang berbeda bukan? 

“Kenapa dengan wajah Perseus?” tanya Adam tiba-tiba, kembali membuat Amanda tersentak dari pikirannya.

Amanda mengikuti jemari Adam yang sedang mengusap wajah setengah jadi Perseus yang tidak mampu diselesaikan oleh Amanda. Satu karena ia tidak tahu seperti apa mengekspresikan wajah Perseus kecuali seperti yang dilakukan oleh Sam Worhington, menyerengit dan penuh kemarahan. Sangat tidak orisinil, menurutnya.

Dua, alasan yang paling penting, Amanda takut melukis wajah Perseus karena ia tahu ia akan kembali melukis wajah Adam di sana, seperti ratusan sketsa yang ia buat.

“Kalau kamu kesulitan memutuskan melukisnya sebagai cowok ganteng atau tidak, aku bersedia meminjamkan wajahku ini sebagai model.” ucap Adam santai, “Aku bersedia menjadi Perseus kalau Andromedanya secantik yang kamu lukis.”

Apa?

“Aku tidak pernah melihat Andromeda sedamai yang kamu lukis, biasanya mereka membuat dia seperti putri yang panik. Tapi di lukisan kamu, Andromeda seakan yakin Perseus akan mengalahkan Kraken dan menyelamatkannya.”

Apa?

“Aku bersedia menjadi Perseusmu.”

Apa?!??!?!!?!

 
Advertisements
Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s