In Devil’s Arm – Part 15

Patrick menelepon Prue, ia tahu perempuan itu pasti sudah ada di kantor Dominique dan ia butuh Prue untuk memastikan satu hal untuknya.

“Prue, kamu sendiri? Ok, dengarkan ucapanku dan jawab dengan ya atau tidak.” Prue menjawabnya dengan diam, “Selama kamu bekerja untuk Dominique pernah ada kasus gagal proyek?”

“Tidak.”

“Kalau proyek yang terkatung-katung?”

“Tidak. Ada apa sih?” tanya Prue bingung.

“Ok, kalau proyek yang tidak ingin dilakukan tapi terus didesak untuk kalian terima?”

Prue terdiam, “Kamu dimana? Temui aku di rumah sekarang.”

Prue buru-buru keluar kantor. Setengah jam  kemudian, ia menemukan Patrick sedang duduk di perpustakan dengan segelas whiskey.

“Tahun lalu, kita dapat over tender dari PT. Griyatama, anak perusahan William Ekaraya, mungkin kamu lebih mengenalnya dengan nama William Gacho. Tapi di tengah jalan, Dom menarik diri dari proyek untuk alasan yang tidak aku ketahui dengan pasti.”

“Any hunch?”

“Aku betul-betul tidak tahu apa alasan Dominique. Terlepas dari perusahaan itu milik mantan mafia, PT. Griyatama sangat ‘bersih’ dan perjanjian kontrak mereka tidak bercacat. Saat Dom keluar, ia menawarkan untuk membayar denda 2T tapi pihak mereka menolak.” Prue menunggu tanggapan Patrick dan ketika laki-laki itu hanya diam, Prue melanjutkan ceritanya. “Mereka bilang, mereka hanya percaya pada perusahaan kita dan tidak berminat untuk menujuk perusahaan lain untuk meneruskan pekerjaan itu. Yang membuat seram, mereka bilang, suatu saat Dominique akan berubah pikiran dan mereka akan menunggu hari itu tiba dengan sabar.”

Sekali lagi Prue menunggu reaksi dari Patrick tapi lagi-lagi laki-laki itu hanya diam, terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Apa aku harus mengkhawatirkan Dominique?” tanya Prue mulai cemas. Ia mungkin tidak mengerti duduk permasalahannya tapi kebisuan Patrick membuatnya resah.

“Dimana Dom sekarang?”

Prue yang memang hafal agenda Dominique langsung menjawab dengan cepat, “Hari ini dia ke Singapur, seorang diri.”

“Sendirian?”

“Tidak juga sih, Shery ikut. Kata Dom, Sherly memintanya menemani mengurus artshow yang disponsori keluar Sherly.”

Wajah Patrick langsung terlihat tegang.

“Sherly tidak ada hubungannya dengan PT Griyatama kan?”

“Kita harus menyusul mereka sekarang.”

“Tunggu, Pete.” ujar Prue semakin tegang, “Kamu harus menjelaskan padaku, duduk permasalahannya.”

“Pesan tiket dulu, aku akan menjelaskannya di jalan.”

Prue buru-buru menghubungi travel agent dan membooking 2 tiket business class menuju Singapur. Di jalan, Patrick menjelaskan kecurigaannya akan pertunangan Dominique dan karena ia mengenal Sherly, ia tahu ada sesuatu yang tidak beres terjadi.

“Tapi mencelakai Dominique tidak akan membuat Dom bersedia bekerja sama.”

“Betul, tapi Sherly itu perayu ulung dan ia pasti akan melakukan sesuatu yang ujung-ujungnya membuat Dom bersedia bekerja sama. Aku punya firasat, proyek Griya ini pasti merupakan kedok baru dari Gacho. Sebab tidak mungkin Dom mundur dari proyek bernilai 2T kalau proyek itu sebersih yang kamu ketahui.”

“Sebentar. Kamu mau membacanya?”

Prue menghubungi kantor dan meminta assistennya untuk mengirim semua berkas PT.Griyatama ke hotel tempat mereka akan menginap di Singapur.

“Kamu tahu Dom akan menginap dimana?” tanya Patrick.

“Sands. Hotel yang sama dengan kita.”

“Beritahu resepsionis untuk tidak memberitahu kedatangan kita pada mereka. Aku tidak ingin Sherly menjadi waspada.”

Prue menyetujui dan menghubungi kembali pihak hotel. Waktu satu jam setengah berlalu dengan cepat. Mereka sudah tiba di Singapur dan langsung melesat ke Hotel. Setengah hari berikutnya, mereka habiskan di kamar hotel dengan membaca ulang surat kontrak dan blueprint bangunan PT.Griyatama. Yang berapa kali pun dibaca, mereka tidak menemukan kejanggalan di sana.

“Hubungi Dom, aku akan menanyainya langsung.”

Prue terdiam, “Apa alasan kita menyusul dia kemari?

“Katakan saja, aku perlu bicara dengan dia langsung masalah proyek dengan orang Jepang kemarin.”

Prue menjalankan perintah Patrick dan menemukan Dominique ternyata amat mudah. Atasannya itu sedang dinner di Kudeta, restaurant yang terletak di lantai 57 rooftop hotel ini.

Kudeta Restaurant, Marina Bay Sands Hotel, Singapore

“Aku betul-betul terkejut kamu menyusulku ke sini, Pete. Untuk urusan pekerjaan lagi.” sambut Dominique ketika ditemui oleh Prue dan Patrick.

“Tentu saja aku berbohong, “ ucap Patrick, “Aku datang untuk menganggu kalian pacaran.”

Dominique melirik Prue yang membalasnya dengan mengelengkan kepala.

“Kalian makan apa? Aku order yang sama saja.” ujar Patrick dan ia segera duduk di samping Dominique dan memanggil waitress.

Prue memperhatikan tindak tanduk Patrick yang amat natural dalam menyelidiki Sherly. Laki-laki itu duduk dan ngobrol dengan Sherly soal ini dan itu. Segala hal yang terdengar sepele di kuping orang awam, termasuk Dominique. Dari menanyakan kegiatan mereka selama berada di Singapur sampai kejauh apa hubungan Dominique dan Sherly. Kadang Dominique juga ikut menjawab. Betul-betul terdengar seperti percakapan biasa.

Selesai dinner para wanitanya ijin menuju restroom, menyisakan Patrick dan Dominique menuju bar yang terletak di sisi lain restaurant lebih dulu,

Berdua, mereka memesan minuman untuk mereka dan memilih duduk di depan bar.

“Tell me, Pete. Why are you here? Kenapa kamu membawa-bawa Prue kemari.”

“Like I said, Dom. I come to ruin your date. She ain’t good for you.” ucap Patrick sambil mengacungkan gelas whiskey di tangannya,  mengundang Dom untuk minum.

“Not going to touch that again. The last time I drank that, I end up interrogating Prue about you.”

Patrick tersedak minumannya dan menyemburkan sebagaian pula.

“Shit, Pete! Ini kemeja baru aku beli tadi siang.” Dominique mengibas bercak semburan Patrick dari dadanya dan memelototi sepupunya yang sepertinya mendapati situasinya cukup lucu. “Kamu pikir lucu yah? Aku tidak tahu apa tanggapan Prue soal aku mencampuri kehidupan dia, yang pasti aku tidak ingin mengulangi hal itu lagi.”

Melihat Patrick kembali berusaha menahan tawanya, Dominique membuang muka.

“Kamu masih mau bilang kamu tidak peduli padanya?”

“I care kok.” jawab Dominique pendek.

“Right…” ledek Patrick. “Then you will care about this too.”

Di tempat lain, tepatnya di restroom wanita, pembicaraan serupa sedang berlangung.

“Maaf kami datang tiba-tiba.” ucap Prue pada Sherly yang sedang membetulkan make-upnya.

“No big deal. Kalian sudah kembali berpacaran?”

Pertanyaan Sherly mengejutkan Prue tapi ia menganggung mengiyakan.

“Great, cepat juga. But we both know Patrick and he always get what he want. Kebetulan yang dia inginkan sekarang itu kamu. Tapi sampai kapan… No body knows.”

“Kamu benar. Aku hanya berharap kamu tidak akan kembali menjadi penyebabnya.”

Sherly memandangi Prue dan meledaklah tawanya, “Gosh… Patrick masih belum memberitahumu? I don’t know should I pity you or be glad of it.”

“Apa maksudmu?!”

“Sorry, aku tidak akan memberitahumu. Dia menjaga rahasiaku dengan baik dan aku juga akan melakukan hal yang serupa. Aku mungkin jahat dan sebagainya tapi aku tidak akan mengkhianati orang yang setia padaku. But…” ucap Sherly dan ia menarik tangan Prue, “Aku bisa menjamin aku tidak akan pernah menjadi alasan kalian bertengkar.”

Sherly menarik tubuh Prue dan berbisik dengan pelan ke kuping Prue, “Aku sudah cukup sibuk dengan atasanmu.”

Usai berkata demikian, Sherly melepaskan Prue dan memoleskan lipstick ke bibirnya kemudian tersenyum ke arah Prue dan keluar dari restroom.

Prue tahu ia tidak seharusnya takut, tapi seluruh tubuhnya merinding tidak karuan.

Advertisements

One thought on “In Devil’s Arm – Part 15

  1. Pingback: In Devil Arm | Sharing love to the world

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s