In Devil’s Arm – part 16

Sherly berjalan menuju meja, Dominique menyambutnya dengan ramah berbanding terbalik dengan Patrick yang sama sekali mengacuhkannya.

Sherly tersenyum tipis, “Dom, I know it might sound comes out of the blue. Tapi seharian ini aku mengenal kamu, aku rasa aku semakin yakin pertunangan kita akan berakhir dengan bahagia.”

Sherly tidak memusingkan Patrick yang tersedak, ia fokus menatap Dominique yang juga menatapnya balik dengan penuh kalkulasi. “Mungkin pernikahan kita tidak akan dipenuhi oleh cinta dan tawa. Tapi setidaknya juga tidak akan ada air mata.” ucap Sherly lagi. “Orang tua kita mendapatkan apa yang mereka mau dan kita bisa melanjutkan hidup kita kembali. Kamu kembali ke sekertarismu dan aku ke India.”

 “Apa maksudmu?”

Sherly tidak terkejut pertanyaan itu datang dari mulut Patrick karena laki-laki itu selalu mudah ditebak. Ia malah akan terkejut kalau Patrick mendadak kalem seperti Dominique yang tidak menunjukan ekspresi apa-apa.

Bagi Sherly, Dominique seperti kotak teka-teki yang sulit ia pahami. Dan hal itu sudah cukup membuat Sherly tertarik untuk terus mengusik Dominique, mencari kelemahan laki-laki itu. 

“Terserah kamu mengartikannya.” ketus Sherly, “Beritahu aku kapan kamu mau melangsungkan pertunangan kita. Aku akan datang dengan dandanan terbaikku.”

Sherly tidak menunggu jawaban Dominique. Ia tidak membutuhkan jawaban itu sekarang. Setidaknya sampai Papanya yang maha agung itu memintanya memberi laporan. Sampai saat itu terjadi, Sherly hanya akan menjalan tugasnya, memainkan peran anak baik dengan sempurna.

Ia membuka pintu kamarnya dan mendengarkan suara klik pintu tertutup. Sherly menatap kamar hotelnya yang tertata rapi dan sunyi. Ia tersenyum, benar, keheningan adalah teman terbaiknya.

Ia berjalan kembali ke kamar mandi dan mulai melepaskan semua pakaiannya lalu ia menatap cermin di hadapannya yang memantulkan tubuh polos miliknya. Sherly ingin tertawa, “Polos? Kapan terakhir kali aku disebut polos? Saat aku berumur 5 tahun? Bahkan saat itu pun aku tahu apa itu artinya kotor!”

Sherly melempar botol sabun ke arah cermin dan membuat cermin itu pecah berantakan. Salah satu serpihan itu mengenai pipi Sherly. Ia tidak bergeming, seakan tidak peduli luka tersebut akan meninggalkan bekas jika tidak segera ditangani.

Sherly memutar tubuhnya dan cermin rusak itu memantulkan punggung Sherly yang tidak lagi mulus. Bekas sayatan dan luka jahit ada dimana-mana. Meninggalkan parut putih yang saling menindih dari bahu hingga ke pinggang Sherly.

Sherly masuk ke dalam shower dan melibas tubuhnya dalam pancuran air panas. Saat ia menyentuh luka pipinya, Sherly tersenyum. “Aku tidak peduli akan jadi apa tubuh ini, tapi sebelum aku hancur, aku bersumpah…”

Tiba-tiba Sherly mendengar suara pintu terbuka dan kembali tertutup.

“Siapa itu?!” Teriak Sherly, ia menyambar handuk dan memasang kupingnya di balik pintu. Dibukanya pintu itu sedikit, namun cukup lebar untuknya melihat ke dalam ruangan.

Tidak ada siapa-siapa.

Sherly membuka pintu lebih lebar dan berjalan keluar. Ia tidak menemukan siapa-siapa di sana. Nafas lega menyembur keluar. Ia terlalu paranoid, tidak mungkin ada yang bisa masuk ke kamarnya. Ini bukan film dan tidak ada pembunuh gila yang sedang mengincarnya.

Merasa dirinya cukup aman, Sherly berjalan kembali ke arah kamar mandi.

“Saya tidak tahu kamu mulai seceroboh ini, Sherly. Saya pikir saya telah melatihmu dengan baik.”

Seketika itu juga jantung Sherly berhenti berdetak. Ia memutar badannya dan melihat ke arah suara dan mendapati pria bertubuh kurus dan jangkuk berdiri di sana, walaupaun Sherly hanya melihat sosok punggung pria itu, ia tahu dengan pasti siapa yang berdiri di sana.

Karena hanya ada satu orang yang bisa masuk ke kamarnya dan hanya satu orang yang mampu membuatnya berkeringat dingin.

“Papa.” bisik Sherly.

“Kemari Sherly.” Sherly menurut. “Bukankah menurut kamu Singapur begitu sempurna di malam hari? Puluhan gedung pencakar langit, kehidupan glamor dan penduduknya yang begitu sibuk dengan dunia mereka. Menurutmu apa seseorang akan tahu jika aku menculik kawan kecilmu itu dan melenyapkannya?”

“Papa sudah berjanji!” pekik Sherly kalap.

“Janji itu tidak akan berlaku sebelum kalian dikukuhkan, nak.” 

“Aku sudah mengatakan padanya kalau aku bersedia menikah dengannya, bukan salahku kalau ia memikirkan perempuan lain!” ucap Sherly sengit. Ia panik. Bagaimana jika Patrick sampai diculik oleh ayahnya? Sudah cukup banyak masalah yang ia timbulkan dulu dan selama itu Patrick tidak pernah meninggalkannya. Ia tidak ingin menyeret kembali laki-laki baik itu ke dalam dunianya yang kotor.

“Perempuan yang mana?” tanya Gacho tertarik. 

Seketika itu kepala Sherly mendongkak dan ia menatap wajah ayahnya dengan ketenangan sempurna. “Tidak Papa, aku yang akan mengurus perempuan itu sendiri. Aku akan menikah dengan Dominique dan membuat dia menadatangani surat kontrak yang Papa siapkan sebelum bulan ini berakhir. Dan saat semua itu terjadi aku berharap, aku tidak akan bertemu kembali dengan Papa.”

Gacho tertawa keras, tawa yang selalu mengingatkan Sherly bahwa dunia ini berada di dalam gengaman ayahnya. Ia hanyalah salah satu bidak dalam permainan Gacho. Tidak penting jika dirinya adalah darah daging Gacho sendiri.

Jika ayahnya berniat menghapus seseorang dari dunia ini, maka orang itu akan lenyap seperti senja dan tidak ada seorangpun yang akan mengetahuinya.

“Saya tunggu berita baik darimu.” ucap Gacho dan ia mulai melintasi ruangan menuju pintu keluar, “Sherly.” ucap Gacho kembali, “Papa senang kamu pulang.”

Sherly langsung jatuh terduduk begitu pintu kamar tertutup. Seluruh tubuhnya tidak mau berhenti gemetar. Rasa takut yang sedari tadi ia pendam keluar dalam satu hembusan dan membuat tubuhnya tergonyang.

“Waktu… ia perlu waktu…..” rintih Sherly.

Dipaksakan dirinya untuk bangun, namun sia-sia. Otot-otot kakinya seakan hilang dan tidak mampu menopang tubuhnya. Dan ketika ia berhasil berdiri, Sherly mengunakan seluruh kendali dirinya untuk berpakaian dan berdandan.

Saat ia berdiri di depan kamar Dominique, Sherly sudah tampil semenawan seorang ratu. Tidak ada jejak ketakutan di sana. Bahkan tidak akan ada seorangpun yang akan mengatakan kalau ia telah mengalami hari yang menyebalkan.

Dengan senyum lebar, Sherly menekan bel pintu Dominique, siap menaklukan siapa saja.

Advertisements
Posted in Uncategorized

2 thoughts on “In Devil’s Arm – part 16

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s