Bagian Dirimu (A Part of You) – 2

Tawa Adam menyusup kembali. “Kamu kelihatan lucu kalau kaget begitu. Usulku terlalu mengejutkan ya?” tanya Adam yang tidak langsung dijawab oleh Amanda. Perempuan itu masih sibuk dengan pikirannya sendiri. 

Adam membalikkan badan dan kembali menatap lukisan di hadapannya. “Sekali-sekali aku ingin diingat sebagai sesuatu selain seorang striker.” Image

Satu menit penuh keheningan menyelimuti sebelum akhirnya Amanda menyetujui usul Adam. Jawaban yang membuat laki-laki itu memeluk Amanda dan memutar-mutar tubuhnya. Tapi tindakan itu tampaknya tidak berarti apa-apa karena segera setelah Adam menurunkannya, laki-laki itu kembali menatap lukisan miliknya dan mengusap-usap dagu, berpikir dengan serius.

Lain halnya dengan Amanda, tindakan barusan membuat jantungnya melompat keluar dan ia amat bersusah payah untuk kembali menata ekspresinya. Kalau ini mimpi, Amanda berharap ia tidak akan pernah bangun.

“Kapan kira-kira kamu mau mulai?” tanya Adam dan laki-laki itu memberikan senyum yang menurut Amanda terlalu mengemaskan. Jantungnya kembali berdetak tidak karuan.

“Sekarang.” bisik Amanda malu-malu.

“Great. Kita ketemu di sini atau…”

Amanda mengeleng, “Gedung akan tutup sebentar lagi dan aku perlu setidaknya 1 jam untuk mengambar sketsa dasar profil wajah kamu.”

“Kalau begitu di PaperBag?” usul Adam merujuk cafe dekat sekolah yang menjadi tempat tongkrongan wajib dari anak-anak Sinar Bangsa. 

Melihat Amanda ragu, Adam kembali berkata, “Kalau begitu setuju ya? Aku tunggu kamu di depan sekolah.”

Amanda mengangguk pelan dan mulai merapikan peralatan lukisnya dan berdoa, semoga tidak ada teman satu sekolah yang muncul di PaperBag sore ini dan ia berharap pesta Devina akan melakukan keajaibannya.

Amanda tidak sadar kalau Adam belum beranjak keluar dan mendengar doa Amanda tersebut dan tidak urung, ia tersenyum.

“Kamu tidak perlu khawatir soal itu.” ucap Adam membuat Amanda  tersentak dan menjatuhkan kuas-kuas yang sedang dirapikannya. “Kamu gampang kaget yah.” canda Adam.

Ia membantu memungut kuas-kuas yang berhamburan dan mereka secara kebetulan memungut kuas yang sama. Amanda buru-buru menarik tangannya.

Berada satu ruangan dengan Adam sudah membuat ia sesak nafas. Berdiri berdekat dengan laki-laki membuat Amanda terkena serangan jantung berulang kali. Cukup mengagumkan ia tidak sampai pingsan saat jemari mereka bersentuhan tadi.

Adam menyembunyikan senyumannya dan memasukan kuas-kuas tersebut ke dalam kain pembungkusnya kemudian menyerahkan benda tersebut ke tangan Amanda.

“Aku tunggu kamu di gerbang.” ulang Adam kembali dan kali ini betul-betul meninggal kelas tersebut.

Amanda menjatuhkan diri ke atas bangku, “Really, Mandy, you’re so timid now!” ucap Amanda pada dirinya sendiri dan mulai menghentak-hentakan kepalanya kesal. “Ugh….. Kumpulkan dirimu, Man. Ini kesempatan sekali seumur hidup.”

Yakin ia sanggup menghadapi Adam, cinta terpendamnya, Amanda berjalan menuju lobby sekolah. Semakin dekat ia dengan pintu keluar sekolah, semakin yakin ia tidak akan mampu bersikap normal di hadapan Adam.

Lagipula apa sih yang dipikirkan Adam? Membuat image baru? Amanda menghela nafas. Kenapa Adam harus memilih beralih profesi sebagai model, modelnya pula! Diakan bisa menjadi apapun yang Adam mau dan tidak perlu membuat dirinya ketakutan seperti ini.

Selama 3 tahun ini, Amanda cukup merasa puas hanya dengan memandang laki-laki itu. Ia tidak pernah berpikir kalau cintanya akan terbalas. Ia tidak senaif itu. Dua mereka terlalu berbeda. Adam dibawah gemerlap popularitas. Sesuatu yang wajar melihat prestasi Adam dalam membobolkan gawang lawan. 37 gol dan dinobatkan sebagai MVP tahun ini.

Sedangkan Amanda, ia hanya sorang pelukis yang baru merasa percaya diri jika berada di balik timbunan  kanvas dan cat. Ditambah lagi ia bukan pembicara ulung. Ia tidak tahu harus berbicara apa saat ia duduk berhadapan dengan Adam nanti.

Atau mungkin ia tidak perlu berbicara sama sekali?

Amanda berhenti melangkah karena ia sudah sampai di depan pintu keluar. Begitu ia melihat Adam berdiri tak jauh darinya, semua kepanikan Amanda hilang dalam sekajap dihapus oleh senyum binar milik laki-laki itu. Senyum yang surut dengan cepat begitui melihat mobil yang dikendarai Adam.

Kenapa tidak ada seorang pun yang pernah memberitahunya kalau Adam membawa mobil mewahdengan kap terbuka ke sekolah? Pupus sudah harapannya untuk tidak terlihat orang.

Dengan mobil mewah seperti ini, yang akan melihat mereka bukan hanya anak sekolah tapi para pejalan kaki pasti akan melirik juga. Sebuah mobil mewah jarang cukup langka di kawasan sekolah mereka.

Dan kenapa ia sampai tidak tahu? Well, tentu saja Amanda tidak tahu, karena ia tidak pernah pulang bertepatan dengan Adam.

Adam hanya tersenyum ketika ia mengambil barang bawaan Amanda dan meletakannya di kursi belakang. Ia membukakan pintu untuk Amanda dan ia harus mendorong perempuan itu untuk masuk ke dalam mobilnya. Karena sepertinya segala hal berjalan lambat di kepala Amanda.

Bukannya Adam mengeluh, ia hanya takut mereka tidak akan selesai mengerjakan sketsa mereka malam ini. Ia tidak sungguh-sungguh saat menawarkan dirinya tadi. Ia hanya berpikir kalau itu ide yang bagus untuk melanjutkan perkenalan mereka.

Adam sudah cukup lama mencari tahu siapa orang yang dengan setia mendukungnya dan ia cukup terkejut mendapati orang itu adalah Amanda. Perempuan yang sering dijuluki perempuan es oleh teman-teman lakinya dan tidak jarang juga diledek oleh gerombolan Devina sebagai alien no.1.

Ia memang sudah menduga kalau secret admire dia itu seorang perempuan tapi Amanda? Sungguh, Adam pikir perempuan itu tidak memiliki hati. Ia tidak pernah melihat Amanda berteman dengan siapa pun, berbicara dengan siapa pun dan bahkan ketika perempuan itu menerima penghargaan, ia tidak mengucapakan apa-apa hanya memberi hormat dan buru-buru menghilang kembali di antara kerumunan.

Adam melirik ke arah Amanda dan melihat perempuan itu bolak-balik melirik ke arah belakang. Ia langsung paham kalau Amanda sedang mengkhawatirkan peralatannya.

“Tenang saja, aku sudah memastikan kalau alat-alatmu tersimpan dengan baik di dalam tas.” ucap Adam.

“Bukan itu, jok mobilmu, bau terpatine akan menempel di jok mobilmu untuk waktu yang amat lama.”

Siapa sangka, Amanda akan mempedulikan jok mobil miliknya? Ia pikir sebagai seorang pelukis seperti Amanda akan lebih memusingkan lukisan miliknya.

“No worries, hidung aku tidak sensitif jadi aku tidak akan dapat mencium bau tersebut.” canda Adam. tapi melihat Amanda masih khawatir, ia kembali berkata, “Aku bahkan tidak mencium bau apa-apa sekarang.”

Sepertinya perkataannya quite amusing, karena Amanda terlihat menahan tawanya. So the ice princess does have heart.

Seketika itu senyum di wajah Amanda menghilang.

“Aku mengucapkannya dengan jelas ya?” tanya Adam tidak enak hati. kadang Adam merasa ia itu terlalu blak-blakan dan tolol.

“Aku tahu mereka memanggilku dengan julukan putri es. Bukan hal yang baru.” tutur Amanda tanpa ekspresi.

“Apologies in order than?” tanya Adam dan ia tersenyum selebar dan setulus yang ia bisa. Ia tidak mau Amanda menarik dirinya bahkan sebelum ia bisa mengenal perempuan itu.

Adam cukup lega ketika Amanda tersenyum padanya dan mengelengkan kepala. Setidaknya dia bukan tipe pendendam seperti yang Adam takutkan. 

Mereka tiba di PaperBag dan sesuai dugaan Adam, tempat itu nyaris kosong. Ia membantu membawakan barang-barang Amanda dan memilih duduk di pojok belakang. Tempat yang cukup tersembunyi dan jauh dari pandangan. Ia tidak mau ada yang melihat ia sedang digambar oleh Amanda. Teman-temannya akan meledek dirinya habis-habisan.

Satu jam berlalu dengan cepat ketika Amanda mulai mengambar. Mereka tidak banyak berbicara, hanya Amanda yang sekali-sekali memintanya merubah posisi duduk. Adam tidak tahu mengapa di balik keheningan mereka, ia malah merasa mereka malah berkomunikasi lebih banyak dibanding saat mereka membuka mulutnya.

Bukannya ia tidak ingin, tapi Amanda seperti terbius dalam dunianya sendiri. Adam harus memanggilny beberapa kali sebelum Amanda menyahut dan memberinya sepotong jawaban singkat.

Jadi Adam berhenti mencoba berbicara dan mulai memperhatikan Amanda.

Mata Amanda bulat dan lebih condong ke warna coklat. Hidung dan bibirnya tergolong biasa, Amanda masih tergolong manis walau tidak sampai cantik menawan.

Lalu Amanda suka mengigit bibir, kalau ia sedang memikirkan sesuatu. dan ketika Amanda mendapat ide, mata perempuan itu akan berbinar dengan cerah lalu tersenyum-senyum sendiri.

Nah, kalau soal senyum Amanda, itu baru sesuatu! Walau ia bukan penyair, ia bisa dengan mudah berkata kalau senyum Amanda hangat. Sehangat matahari pagi dan membuat dirinya ikut merasa ingin tersenyum.

“Selesai.” ucap Amanda, “Mau lihat?”

Adam mengeleng, “Surprise me.”

“Tapi…”

“Kalau kamu menang, aku pasti bisa melihatnya di koran atau TV.”

“Tapi kalau aku tidak menang??”

“Well, kalau begitu tidak artinya aku melihat lukisan tersebutkan.” ujar Adam, “Anggap saja ini sebagai insentif supaya kamu lebih serius.”

Amanda mengigit bibirnya, bingung. Ia tidak mengerti mengapa Adam repot-repot meminta jadi model kalau ia tidak ingin melihat hasil karyanya. Lalu kenapa ia harus berkata seakan-akan penting juga bagi Adam agar ia memenangkan lomba ini.

Amanda tidak bisa terlalu lama bergulat dengan pikirannya karena berikutnya yang ia tahu, mereka sedang dalam perjalanan pulang.

Menuju rumah Amanda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s