In Devil’s Arm – part 17

“Hai.” ucap Sherly dengan senyum mempesonanya pada Dominique.

“Hai.” jawab Dominique ragu. Ia tidak yakin apa tujuan Sherly mendatanginya malam-malam seperti ini tapi tidak urung, ia mempersilakan Sherly masuk juga. Dominique mengaruk kepalanya yang tidak gatal. Tampaknya malma ini akan menjadi malam yang panjang.

Sherly mengidarkan pandangannya ke seisi ruangan. Matanya bertubrukan dengan laptop yang terbuka di atas meja. Penasaran, ia meraih laptop tersebut, bermaksud memutarnya namun Dominique segera menyambar benda itu dan menutupnya.

“Pekerjaan, Dom?” tanya Sherly sarkastik.

“Sesuatu yang lain.” jawab Dominique santai. “Kita belum menikah jadi aku rasa, aku masih boleh menyimpan satu atau dua rahasia darimu kan?”

Sherly tidak mengubris pernyataan Dominique, ia memutar tubuhnya agar berhadapan dengan Dominique dan kembali tersenyum. “Dom…” ujarnya dengan suara serak. “Aku tahu kita belum bertunangan tapi…” Sherly melepaskan jaket yang ia kenakan, menampilkan gaun merah Harvey Ledger keat yang ia pakai di baliknya.

“Sher, “ henti Dominque, ia menarik kembali jaket Sherly, “Kamu tidak perlu melakukan semua ini. Aku akan tetap menikahimu.”

Sherly kembali berusaha melepaskan jaketnya dan usahanya itu segera dihentikan oleh Dominqiue. Sekarang laki-laki itu mengenggam erat kerah jaketnya dan menghentak tubuhnya sedikit lebih keras.

“Hentikan Sher. Kamu betul-betul tidak perlu melakukan hal ini. Aku tidak akan kemana-mana. Seperti ucapanmu pernikahan kita mungkin tidak diawali dengan cinta dan rasa ketertarikan yang kuat. Tapi itu bukan berarti aku tidak mungkin menyayangimu dengan sering berjalannya waktu. You are lovely and lovable. Jadi jangan lakukan sesuatu yang akan membuatmu, membuat kita menyesal.”

Dominique memeluk Sherly, “Aku tidak tahu apa yang membuatmu tiba-tiba bertindak seperti ini, Sher. Tapi kalau kamu mau, kita bisa segera memberitahu kedua orang tua kita begitu kita kembali ke Jakarta. Tidak peduli apa rencana ayahmu tentang kita, aku berencana untuk keluar hidup-hidup bersama denganmu.”

Sherly membelalakan matanya, dia tahu…Dominique tahu!

Dominique merapat semakin erat dan berbisik, “Tapi aku harus mengurus satu hal dulu sebelum kita mengumumkan pertunangan kita. Kamu bisa menungguku?”

Sherly tidak tahu harus menjawab apa bahkan saat ia sudah kembali ke kamarnya sendiri. Dominique mengantarnya kembali tadi dan laki-laki itu tetap bersikap lembut padanya.

Pada perempuan yang berniat menjebak laki-laki itu dan berjanji untuk melindunginya.

Sherly tidak tahu Dominique itu bodoh atau laki-laki yang terlalu mementingkan egonya. Bahkan laki-laki ini jauh lebih bodoh dibanding sepupunya.

Dulu, dulu sekali, saat mereka berada di Mesir, saat Sherly masih setengah gila dan terobsesi menghancurkan hidupnya, Patrick datang dan menyelamatkannya dari misi bunuh dirinya yang entah untuk keberapa kali. Motor yang ia kendarai dengan sembrono terlempar ke pinggir tebing dan bagi Sherly yang berusia 18 tahun, hari itu merupakan malam ia mati dan dibangkitkan kembali.

Ia yakin jika saat itu Patrick tidak menariknya dari pinggir jurang, tubuhnya akan ditemukan dalam keadaan busuk dan yah, mungkin tidak akan bersisa banyak.

Laki-laki itu juga yang tetap menemaninya selama ia menjalani rehabitasi dan membuatnya kembali memiliki semangat hidup. Bukan hal yang mudah karena setiap kali Patrick datang menemuinya, Sherly selalu melempar barang ke arah Patrick, memaki dan menyerang laki-laki itu karena sudah mengagalkan usaha bunuh diri Sherly. Diantara semua kunjungan itu, ia teringat kalau Patrick ini laki-laki yang sama yang dulu ia hancurkan. (Papa meminta ia membuat Patrick mabuk dan menghancurkan hubungan laki-laki itu dengan keluarganya dan Sherly tidak punya pilihan selain menurut.) Tapi saat Sherly bertanya apa Patrick mengingat dirinya dan Patrick menjawab ia tahu siapa Sherly tapi itu tidak menjadi alasan mengapa ia harus membiarkan Sherly mati konyol, Sherly sadar kalau ia sudah bersikap bodoh selama ini. Ia sudah mengambil jalan yang salah dalam menghadapi ketiranan Papanya.

Jadi Sherly membenahi hidupnya dan berhenti memikirkan kematian. Hari-harinya mulai terasa normal dan ia mulai memiliki impian. Ia tidak mengejar Patrick saat laki-laki itu memberitahunya kalau dia akan kembali ke Jakarta, melindungi seseorang yang berarti baginya. Sherly tersenyum mengingat hal itu.

“Dan sekarang aku ada di sini membuat kamu dan keluargamu sengsara.” ratap Sherly.

Sherly menyentuh pipinya, merasa ada sesuatu yang basah di sana. Rupanya air matanya sudah mengalir membuat make-upnya luntur dan ia tidak menyadarinya sama sekali.

Sherly mengemas kopernya dengan cepat. Menganti pakaiannya dan menuju Changi airport seorang diri. Walau hari sudah larut, sudah pukul 1 pagi, Sherly sama sekali tidak takut tidak ada penerbangan yang akan mengangkutnya keluar dari Singapur.

Ia akan berhenti menjadi boneka ayahnya. Sudah cukup ia menghancurkan hidup satu orang laki-laki, ia tidak mau melakukan untuk kedua kalinya. Satu kali itu, Patrick nyaris tidak berhasil keluar hidup-hidup. Dua kali, Sherly tidak yakin Patrick masih mau mengenal dirinya lagi.

Ia tidak mau dibenci oleh Patrick, ia tidak mau berada di sisi buruk laki-laki itu. Dan pastinya ia tidak mau kehilangan Dominique sebagai teman.

Laki-laki itu terlalu baik dan ia mulai menyukai laki-laki itu.

Sherly mengambil handphonenya dan mengirimkan 2 pesan. Satu pada ayahnya dan satu lagi kepada Patrick. Ia tidak mengirimkan pesan selamat tinggal kepada Dominique.

Dominique akan mengerti dan mungkin mereka bisa tetap berteman saat mereka bertemu lagi.

Suatu saat nanti.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s