In Devil’s Arm – part 18

Prue berjalan kembali ke area bar dan menemukan Patrick duduk seorang diri.

“Mereka sudah kembali duluan. Kenapa kamu lama sekali? Apa Sherly berkata sesuatu padamu?” tanya Patrick beruntun. Prue bahkan belum sempat menempelkan pantatnya ke atas bangku.

“Apa ada sesuatu yang harus aku ketahui dari Sherly?” Prue tahu ia tidak seharusnya bersikap sesinis ini, tapi ia tidak bisa mengontrol dirinya.

“Perempuan itu! Aku akan menyusulnya dan memarahi dia!”

Prue buru-buru menahan Patrick, “Dia tidak mengatakan apa-apa! Tapi justru karena itu aku takut.” Prue menurunkan suaranya hingga nyaris berbisik. “I’m worried, Pete. Perempuan macam Sherly mengincar Dominique? Perempuan seperti Sherly itu kelemahan Dom.” Melihat Patrick tidak mengerti ucapannya, Prue menjelaskan kembali, “Perempuan yang memiliki masa lalu dan kerusakan mental. Dom will not stand a change. Menurutmu kenapa selama ini Dom tidak pernah melibatkan hatinya atau mengingat siapa pacar-pacarnya itu? Dom tidak pernah ingin tahu siapa mereka karena ia tidak ingin terlibat secara emosional dengan perempuan-perempuan itu.”

Untuk mempertegas pemikirannya, Prue menambahkan, “Sherly bukan hanya calon yang diinginkan oleh keluargamu untuk menjadi istri Dom yang membuat Dom tidak mungkin memperlakukan perempuan itu dengan sembarangan. Tapi sepertinya Sherly tahu harus menekan tombol yang mana untuk membuat Dom tergerak. Believe me, Pete. I never see Dom companying any girl for this stupid so called exhibition. She gotta know how to handle Dom to make him came like this.”

Patrick mengumpat, “Jadi maksud kamu dengan memberitahu Dom kalau Sherly itu dipaksa Gacho untuk menjebak Dom malah akan membuat Dom semakin memperhatikan Sherly dan terperangkap?”

Prue memberi Patrick tatapan – menurut elo- semampu yang ia bisa lakukan dan menghela nafasnya.

“So will you after him or let me go and stay by Dom’s side?” Prue yang sudah setengah berdiri, saat Patrick menariknya kembali duduk.

“Tidak, Prue. Kali ini kita harus membiarkan Dominique menyelesaikan masalah ini.  Dom sudah dewasa dan sekarang saatnya ia mengurus dirinya sendiri. Aku tidak mau kamu terus menerus membantunya.”

“Oh please!” gerutu Prue, “Ini bukan waktu yang tepat untuk kamu cemburu, Patrick Adiputra! Sepupunya sedang terancam bahaya yang bahkan kita tidak tahu apa! Bagaimana kalau dia diculik dan disiksa? Bagaimana kalau…”

Patrick memotong, “Dia akan baik-baik saja! Sekali ini kamu harus percaya padanya dan percaya padaku.”

Prue berdiri, kesal dengan keegoisan Patrick.

“No, Pete. He won’t be fine! At least I’m not feeling fine until I know he’s all right. Dia tanggung jawabku, kamu tahu itu kan?”

Prue berjalan secepat yang ia bisa untuk menyusul Dominique. Ia memiliki firasat, jika ia tidak segera menemukan Dom dan mengamankan atasannya itu malam ini, maka ia akan kehilangan kesempatan untuk selamanya.

“Tungggu… Prue… Tunggu, dengarkan dulu penjelasanku.” teriak Patrick, mereka sudah berada di lorong kamar Dominique. Ia bahkan bisa melihat pintu kamar sepupunya itu dari tempat ia berdiri.

Prue, diberkatilah perempuan itu, berhenti dan memutar tubuhnya, menatap Patrick dengan galak.

Sungguh, Patrick pasti akan memeluk perempuan itu dan menciumnya kalau saja ia tidak harus dengan serius dan semeyakinkan mungkin memberi penjelasan untuk tindakannya.

“Prue, aku tahu ini mungkin terdengar tidak masuk akal, tapi aku ingin Dominique mengambil keputusan dulu sebelum kita terjun membantunya. Aku perlu ia mengambil sikap karena masalah ini bukan hanya menyangkut masa depan Dom tapi juga keluarga Adiputra dan seluruh pegawai yang bekerja di perusahaan Adiputra dan itu termasuk masa depan kamu Prue.”

Prue menutup mulutnya dengan terpaksa. Bisa apa lagi ia kalau Patrick sudah menasehatinya seperti itu? Ia selalu sebal kalau Patrick berbicara dengan akal sehatnya. Karena ia tahu Patrick pasti benar dan Prue tidak memiliki kesemapatan untuk berdebat.

Dengan berat hati, ia membiarkan Patrick memakai kesempatan itu untuk menariknya menjauh dari kamar Dominique. Mungkin malam ini ia memang harus menarik diri dari Dominique dan mungkin seperti ucapan Patrick ia harus memberi kesempatan untuk Dominique mengurus dirinya sendiri.

Dan ia harus percaya kalau Dominique bisa mengambil keputusan yang benar. Sebenar dan setepat keputusan-keputusan Dominique di bidang bisnis.

Prue menoleh ke belakang, menatap pintu kamar Dominique yang semakin menjauh.

Dom, I really hope you can make up your mind. Well, at least if you can’t you know where to call me, right?

Mungkin ia harus mengirim pesan ke Dom?????

“Prue, berhenti memikirkan Dom, ok? Kita di Singapore, paling sedikit kita kencan atau apa gitu?”

Prue memukul kepala Patrick. Laki-laki ini! Sebentar serius, sebentar bercanda.

Prue berjalan melewati Patrick sambil mengerutu, niatnya ingin meninggalkan Patrick seratus persen tapi laki-laki itu seperti lintah, nempel terus di belakangnya. Seulas senyum lolos dari bibir Prue.

Setidaknya kali ini ia memiliki Patrick di sisinya. Mungkin tidak banyak bedanya karena laki-laki itu bisa mengacau setiap saat, tapi setidaknya saat itu Prue akan ada di sisi Patrick dan berdua mereka akan berdiri melawan dunia ini.

Prue menyerengit, mungkin dengan Dominique juga. Ia tidak boleh melupakan atasannya itu.

“Ayolah Prue, kamu tidak mau aku betul-betul cemburu kan? Berhenti memikirkan Dom, ok?”

Prue menghela nafas. Mungkin tidak ada salahnya sekali-sekali ia memikirkan dirinya dulu dibanding hal lainnya.

Jadi Prue, dengan seluruh kesadaran dan keberatan hatinya, ia bersedia ditarik keliling kota Singapore oleh Patrick. Sesuatu yang tidak terlalu bijaksana, meninggat hari sudah menjelang subuh. Tapi Prue tidak bisa mengubah pendirian Patrick ayng ngotot ingin memperlihatkan laut Singapore, yang dalam hati dibantah oleh Prue karena laut itu jelas-jelas disebut selat Singapore.

Tapi sudahlah, ia tidak akan mendebat Patrick untuk saat ini.

Ia hanya akan menikmati waktu ini sebagaimana waktu ini ada.

Ketenangan dan keberadaan Patrick di sisinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s