In Devil’s Arm – part 18

Prue berjalan kembali ke area bar dan menemukan Patrick duduk seorang diri.

“Mereka sudah kembali duluan. Kenapa kamu lama sekali? Apa Sherly berkata sesuatu padamu?” tanya Patrick beruntun. Prue bahkan belum sempat menempelkan pantatnya ke atas bangku.

“Apa ada sesuatu yang harus aku ketahui dari Sherly?” Prue tahu ia tidak seharusnya bersikap sesinis ini, tapi ia tidak bisa mengontrol dirinya. Continue reading

Advertisements

In Devil’s Arm – part 17

“Hai.” ucap Sherly dengan senyum mempesonanya pada Dominique.

“Hai.” jawab Dominique ragu. Ia tidak yakin apa tujuan Sherly mendatanginya malam-malam seperti ini tapi tidak urung, ia mempersilakan Sherly masuk juga. Dominique mengaruk kepalanya yang tidak gatal. Tampaknya malma ini akan menjadi malam yang panjang.

Sherly mengidarkan pandangannya ke seisi ruangan. Matanya bertubrukan dengan laptop yang terbuka di atas meja. Penasaran, ia meraih laptop tersebut, bermaksud memutarnya namun Dominique segera menyambar benda itu dan menutupnya. Continue reading

In devil’s arm – part 14

8:00 a.m

“Patrick? Kamu sudah kemabli?” pekik Kakek Gunawan. “Oh, aku selalu tahu kakek tua itu tidak akan sanggup membiarkan kamu jauh darinya.”

Patrick menerima sambutan hangat dan peluk dari palayan utama keluarga Adiputra. Pak Gunawan ini lebih tua beberapa tahun dari Kakek dan sering kali bertindak sebagai pelindung Patrick saat dulu ia masih tinggal di rumah ini. Continue reading

Double Matters – act 23

Punggungku terasa sakit luar biasa saat aku berusaha mengangkat tangan kananku. Kubuka mata, menatap langit-langit kusam klinik kampus. Kehela nafas panjang.
Akhirnya aku pingsan juga tadi. Kerumunan orang selalu menjadi musuh orang penyakitan sepertiku.
Aku meringkis saat mencoba menaikan lengan kanan. Dengan tangan satunya, kupijit-pijit bahu kananku itu. Sepertinya cedera bahuku lumayan parah nih.
Kira-kira papa mama ngomong apa ya? Mereka pasti mentertawakan kebodohanku. Lalu Mario akan kembali menobatkan diriku sebagai adik cowoknya.
Sial, harusnya aku tidak perlu berlaga pahlawan dan melindungi Donna!
Ngomong-ngomong siapa yang membawaku ke sini ya? Continue reading

In Devil’s Arm

Synopsis

Prudence di mata Dominique:

1. Assiten Pribadi paling sempurna di dunia. (Padahal daftar mantan asistennya lebih panjang dibanding mantan presiden Amerika Serikat)

2. Dapat diandalkan. (Dalam segala hal: dari urusan presentasi di depan calon klien sampai di depan calon pacar, mantan pacar (?) , orang tua dsb, dsb)

3. Satu-satunya perempuan yang tidak dapat dibohongi olehnya dan

4. Tidak boleh disentuh olehnya. (Quote dari kontrak kerja PT. SEJAHTERA: Demi kelangsungan pekerjaan dan kesejaterahan bersama, dilarang ada yang berpacaran di PT.SEJAHTERA).

Jadi Dominique memperlakukan Prue selayaknya ia memperlakukan karyawannya, sepantas dan sewajarnya. Setidaknya sampai kepulangan sepupunya, Patrick.

Dan bagi Patrick, Prudence itu:

1.Satu-satunya mantan pacar yang Patrick punya.

2. Cewek ceroboh, kekanak-kanakan dan tidak bisa dibiarkan bekerja sendiri.

3. Dulu ia cinta, sekarang ia cinta, dan selamanya ia cinta.

4. The only person that matter!

…. and the stories begin ketika tiga orang ini bertemu kembali dan dipaksa bekerja sama. Continue reading

In devil’s arm – part 13

Patrick terpana, memandangi Prue penuh tanya, bertanya juga pada dirinya apa dia sedang bermimpi atau betul tadi Prue berkata bahwa ia diberi kesempatan kedua.

Ia sampai menepi di pinggir jalan. Tidak baik berkendara dalam kondisi shock, otak buntu dan kesulitan memusatkan pikiran.

Saat ini ia hanya sanggup memandangi Prue, sambil meremas setir. Ia juga memikirkan kemungkinan Prue sedang mengerjainya. Pembalasan lebih terdengar masuk akal baginya. Continue reading