In Devil’s Arm – part 18

Prue berjalan kembali ke area bar dan menemukan Patrick duduk seorang diri.

“Mereka sudah kembali duluan. Kenapa kamu lama sekali? Apa Sherly berkata sesuatu padamu?” tanya Patrick beruntun. Prue bahkan belum sempat menempelkan pantatnya ke atas bangku.

“Apa ada sesuatu yang harus aku ketahui dari Sherly?” Prue tahu ia tidak seharusnya bersikap sesinis ini, tapi ia tidak bisa mengontrol dirinya. Continue reading

Advertisements

In Devil’s Arm – part 17

“Hai.” ucap Sherly dengan senyum mempesonanya pada Dominique.

“Hai.” jawab Dominique ragu. Ia tidak yakin apa tujuan Sherly mendatanginya malam-malam seperti ini tapi tidak urung, ia mempersilakan Sherly masuk juga. Dominique mengaruk kepalanya yang tidak gatal. Tampaknya malma ini akan menjadi malam yang panjang.

Sherly mengidarkan pandangannya ke seisi ruangan. Matanya bertubrukan dengan laptop yang terbuka di atas meja. Penasaran, ia meraih laptop tersebut, bermaksud memutarnya namun Dominique segera menyambar benda itu dan menutupnya. Continue reading

In Devil’s Arm – part 11

Showroom Merdeka di Jakarta Selatan

Prue memandangi pundak Patrick yang diikutinya, termasuk perempuan cantik yang semakin menempel, mungkin dia akan bergelayut bak monyet pada pohonnya kalau tidak ada Prue di sana.
Dengan kesabaran yang terlatih, bukan sekali ini ia harus menemani atasannya yang sedang berkencan. Dominick juga sama. Walau dalam hal ini ia lebih memilih ketahu-dirian Dominick, setidaknya atasannya yang satu itu tidak pernah membuatnya berlama-lama memandangi aksi rayu-merayu. Continue reading