[Double Matters] – Act 2 – Nyi (Kisanak) Roro Kidul

Sesungguhnya aku tidak akan terlalu peduli dengan apa yang dikerjaan oleh seorang laki-laki di lapangan parkir kalau saja dia tidak berjalan ke arahku dengan senyum lebar.

Untuk apa pula cowok itu jalan ke arahku? Continue reading

Advertisements

Into Your Arm – Chapter 24

“Sekarang kamu turun, serahkan tugas kamu. Aku tunggu di sini.” perintah Ben dan dituruti dengan bingung oleh cewek itu.

Ben turun dari mobil untuk membali minum di kios dekat pintu masuk kampus. Tapi ia malah dikenali oleh orang-orang dan buru-buru kembali ke mobilnya. Bukannya pergi, pengemarnya malah makin banyak dan mengerubuni mobilnya. Ia mengibas-ngibaskan tangan agar mereka menyingkir tapi sia-sia. Sejak kapan mereka mau pergi ketika diusir. Continue reading

Into Your Arm – Chapter 21

Ren meletakan kuas dari tangannya dan tersenyum lebar menatap lukisan yang baru ia selesaikan. Sebuah lukisan yang didominasi warna orange dan emas berukuran 90 cm. Ia tidak tahu apa akan ada yang mengenal cowok yang ia gambar di dalam sana. Ia hanya mengambil sosok belakang cowok itu dan merubah sedikit warna pakaiannya. Tapi itu tidak penting. Yang penting ia puas. Continue reading

Into Your Arm – Chapter 20

Langit dipenuhi kabut tebal ketika Ren mendongkak. Ia tidak langsung masuk ketika selesai mengantar Samuel pulang. Ia malah duduk-duduk di ayunan depan rumahnya yang menghadap ke halaman belakang. Rumah Ren termasuk unik, karena letaknya di atas bukit dan sengaja dirancang seakan-akan ada di antara bumi dan langit. Ia Seharusnya ia tidak berada di tempat itu, ketika gerimis mulai turun. Jadi ia tidak perlu bertemu dengan Sandra. Continue reading