1 – L for Lost

TerraceAku tahu aku seharusnya bersenang-senang di dalam pesta dan bukannya melarikan diri ke luar teras seperti yang aku lakukan sekarang. Tapi siapa yang menyangka menghadiri pesta akhir tahun kalangan atas di London ternyata sama membosankannya dengan menonton berita malam. Yang tentu saja setelah semua highlight , kamu mendadak merasa mengantuk dan memutuskan untuk mematikan TV lalu meringkuk ke dalam selimut.

Dengan semua usaha yang telah aku lakukan demi menghadiri pesta ini, rasanya jadi sebal sendiri. Apalagi jika aku mengingat ledekan Mama saat aku meminta undangan pesta Livington ini.

Bagi Mama minatku yang begitu mendadak dengan pesta membuatnya curiga dan patut diberi hadiah. Apalagi ditambah dengan catatan kalau Pesta Livington adalah THE PARTY. Pesta akhir tahun yang selalu menjadi highlight di seentaro British Raya.

Apa kata Mama tadi pagi, ah, Mama berpikir kalau akhirnya aku menunjukan minat untuk berperilaku sesuai dengan umur dan statusku sebagai keturunan Dunt.

Hurmph!

Umurku baru 20 dan kesalahan paling parah yang pernah aku buat hanya menyampur garam ke dalam teh untuk acara tea party Duchess of Cambridge (yes, the one and sensasional Kate Middleton now HRH Duchess of Cambridge, istri Prince William).

Aku kembali mendengus. Bukan salahku, Mama yang tiba-tiba menyuruhku membantunya padahal Mama tahu aku tidak pernah masuk ke dapur apalagi menyiapkan teh.

Harus aku perjelas, aku tertarik pada pesta ini hanya karena Edward terus berkata kalau ia ingin aku untuk ikut dengannya dan memamerkan pada teman-temannya pacarnya yang cantik ini.

Hurmph!

Mungkin ini hukumanku karena sudah berbohong pada Mama. Aku hanya tidak ingin mengecewakan Edward saat laki-laki itu tidak pernah sekalipun mengecewakan aku.

Aku terdiam sejenak dan membiarkan udara dingin memainkan rambutku. Aku melirik ke balik french door dan memperhatikan para tamu yang asyik berbincang-bincang.

Mungkin perasaanku akan sedikit membaik kalau saja Edward muncul malam ini. Walau semua ini sepenuhnya kesalahanku sendiri. Karena aku bermaksud memberi kejutan untuk Edward dengan menyetujui menghadiri pesta elite ini.

Mereka yang hadir malam ini harus membawa undangan dan mereka yang di undang sudah dipastikan memiliki darah biru atau sitidaknya memiliki kekayaan yang membuat mereka berdarah biru.

Sebut saja anak para duke, earl, marquis, viscount, knight and etcetera etcetera.

Termasuk Edward. Karena walaupun dia tidak kaya tapi tetap saja dia seorang viscount dan dengan berat hati kukatakan dia juga laki-laki paling baik yang pernah aku kenal dan mungkin satu-satunya orang yang tidak bertanya padaku mengenai masakan.

Sekedar informasi, keluargaku memiliki perusahan catering yang khusus melayani house party yang begitu terkenal karena kalian bisa menelusuri garis keturunanku sampai ke jaman Queen Elizabeth 1 dan semuanya adalah koki kerajaan. Bahkan kakakku masih bekerja di kerajaan sebagai Chef de Cuisine aka chef utama yang melayani Ratu.

Usaha ini tidak membuat keluargaku menjadi kaya luar biasa tapi setidaknya kami semua hidup cukup dan berhak bersekolah di tempat yang sama dengan para keturunan darah biru lainnya.

Sesuatu yang seharusnya aku syukuri karena tidak jarang orang berpikir kalau aku mendapatkan hak-hak istimewa karena mengenal si A dan si B. Biar kuberitahu, mengenal seseorang yang istimewa bukan berarti dirimua menjadi istimewa juga. Kita bisa saja bergaul dengan special one tapi untuk menjadi sama dengan mereka kita harus menjadi istimewa juga.

Aku sering kali berharap aku bersekolah seperti orang pada umumnya dan tidak perlu mengenakan seragam yang menunjukan betapa istimewanya kami. Segalanya begitu menyebalkan dan membosankan sampai aku berkenalan dengan Edward. Dia satu-satunya orang yang tidak memanggil aku chef seperti yang dilakukan oleh teman-temanku lainnya.

Chef bukan karena aku bisa memasak ataupun atas dasar kekaguman. Tapi mereka ingin mengingatkanku kalau aku selamanya adalah seorang anak tukang masak yang walau sekarang aku memiliki kehidupan yang lebih baik tidak membuat diriku diterima dengan tangan terbuka oleh mereka.

Edward memanggilku Ali. Terlalu jauh dari kesan feminim dari namaku, Alice tapi daripada Dunt (nama keluargaku atau chef) aku lebih suka Ali. Sebuah panggilan tidak sengaja ia berikan karena aku tanpa sengaja melemparkan tinjuku ke arahnya saat latihan senam di sekolah.

Segalanya berjalan dengan wajar setelahnya. Kami bersahabat kalau setahun yang lalu Edward memintaku menjadi pacarnya dan aku tidak pernah lebih bahagia.

Dan untuk merayakan hari jadi kami, di sinilah aku berada, dalam balutan gaun ala victoran (sesuai dengan dress code yang dicantumkan di undangan) berharap bisa mengejutkan Edward.

Satu tarikan nafas panjang aku hembuskan. “And now he’s nowhere to be seen!”

Aku merapatkan diri ke teralis teras dan puas mendapati langit cerah.

Setidaknya malam ini langit cerah dan turun hujan. Aku tidak membenci hujan tapi hujan di London terkadang bisa begitu menyebalkan dan membuat kamu mensyukuri hari cerah seperti ini.

Aku memutuskan untuk duduk di atas teralis batu dan mencopot sepatuku. Angin malam yang berhembus pelan membuat pipiku terasa dingin. Suasana yang begitu kontras dengan hiruk pikuk pesta di dalam sana.

Lamunanku buyar ketika aku mendengar suara pintu terbuka dan entah apa yang merasuki aku hingga aku memutuskan untuk melompat ke semak-semak yang terletak di bawah teras dan bersembunyi di sana.

Aku mendengar suara langkah kaki. Dua langkah kaki dan…

“Brad… Katakan padaku kita tidak akan menghabiskan malam ini di sini kan?” tanya seorang wanita dengan nada mendesah-desah yang menurutku agak dibuat-buat. Aku duga wanita itu pasti sedang merayu si Brad.

Bibirku menyimpul, Brad… Aku tidak pernah habis pikir bagaimana ada orang tua yang memberi nama anaknya sebeuh roti. Tapi mungkin aku harus menyalahkan Brad Pitt karena mengilhami banyak wanita karena laki-laki itu jelas tidak seperti terlihat roti. Walau mungkin mereka sama-sama mengiurkannya. Menurutku Brad Pitt seperti toast yang dilumuri madu. Manis dan renyah.

Aku kembali memusatkan perhatianku pada pasangan tadi karena tidak ada yang bisa aku lakukan sampai pasangan itu meninggalkan teras.

“Aku dengar pesta di tempat Aiken lebih seru. Mereka memanggil DJ Do dan menurut Chasity, Aiken juga menyediakan rumahnya sebagai tempat bermalam.”

Aku yakin Brad pasti akan segera menyetujui ajakan tersebut. Aku berharap Brad menyetujuinya. Sebab jika aku yang ditawaei, aku pasti akan langsung mengangkat rokku dan berlari mencari taksi secepat mungkin.  Apalagi kalau pesta itu mengundang DJ paling diminati itu. Aku menduga mereka dari kalangan Peerage. Karena hanya mereka yang berduit yang mampu menyewa DJ berharga ribuan pounds per jam tersebut.

“My dear Olivia,” ucap Brad.

Deg. Aku mendengar detak jantungku yang sepertinya berhenti bekerja.

Aku mengenal suara laki-laki ini.

Aku mendengar Olivia mendengkur bak kucing diberi mentega. “Yes Brad.”

“My dear sweet Olivia.?” ucap Brad lagi.

Jantungku kembali menciptakan suara dentuman.

“Aku tidak tahu mengapa kamu mengajakku keluar dan memintaku untuk meninggalkan pesta dan mengabaikan tugasku sebagai tuan rumah tapi yang paling membuatku tidak habis pikir bagaimana kamu bisa lupa kalau hubungan kita sudah berakhir padahal kamu mengenakan kalung yang aku kirim sebagai tanda perpisahaan kita.”

“Aku tahu. Tapi aku pikir kamu akan berubah pikiran jika melihatku sekali lagi. Bagaimana pun juga aku ini kekasihmu yang paling lama kamu kencanikan? I put measure on that.”

“Kamu salah.”

Berikutnya aku mendengar Olivia mulai menangis dan sedikit meraung. Ok, banyak meraung karena perempuan itu mulai menyebutkan betapa sempurnanya hubungan intim mereka dan betapa mesranya dan betapa sempurnanya mereka bersama. Lagi dan lagi. Rasanya aku menghabiskan 5 menit mendengar seriosa rusak. Menyayat hati dalam makna tertentu.

Dan Olivia terus melanjutkan penyesalan dan rengekannya hingga entahlah satu jam? Aku tidak yakin berapa lama tapi rasanya seperti satu jama lamanya.

Aku bahkan mulai mencabuti rumput liar di dekat tempatku berjongkok. Kamu akan heran betapa banyaknya rumput liar di taman ini dan kamu pikir mereka yang memiliki kekayaan seperti keluarga Livington akan mengaji tukang kebun yang layak dan melakukan pekerjaan sempurna.

Mungkin aku bisa melamarkan diri? Aku yakin aku bisa melakukan pekerjaan yang lebih baik karena aku mulai kehabisan rumput liar untuk dicabuti.

Yang kemudian membuat aku tersadar kalau aku sedang bertelanjang kaki dan artinya sepatuku masih ada di teralis balkon. Aku melirik ke atas dan melihat sosok banyangan sedang menatap ke arahku.

Buru-buru kku menundukan kepalaku kembali ke bawah, terkejut.

Oh No!!!!!!!!

Sekarang jantungku berdebar begitu cepat karena aku yakin Brad, aku memutuskan orang yang melihatku barusan itu si Brad karena pundaknya lebar dan bidang, laki-laki itu pasti menyuruh Olivia untuk diam dan menujukkan kalau ada orang lain di sana

Aku.

Aku meremas gaunku dan mulai mengangkatnya bersiap untuk lari. Tidak peduli tidak beralas kaki yang penting aku tidak tertangkap basah sedang menguping. Walaupun sebetulnya mereka berada si pihak yang salah.

Mereka yang datang belakangan dan merebut ketenanganku. Lalu mereka juga yang membuat aku terkejut dan bersembunyi seperti ini.

Tapi kemudian aku mendengar suar perempuan memanggil Olivia dan memanggilnya untuk masuk ke dalam ruangan. Kemudian aku mendengar suara langkah kaki menjauh.

Aku menghela nafas dan baru sadar kalau sejak tadi aku menahan nafasku.

“That was close.” ucapku lega.

“It is.” jawab suara bariton dari atas kepalaku. Membuat aku tercekat dan terduduk jatuh. Menimbulkan suara dentum yang amat not lady like.

Tapi laki-laki itu lebih kurang ajar karena mentertawakan aku walau akhirnya dia berhenti dan menyempatkan diri menanyakan kondisiku.

“Akan lebih baik kalau kamu mau meninggalkanku.” jawabku sebal. Walau aku jatuh karena kecerobohanku sendiri tapi rasanya lebih menghibur kalau aku bisa menyalahkan laki-laki itu.

“Aku minta maaf sudah membuatmu terkejut Miss…”

Aku tahu dia sedang menungguku menyebutkan namaku tapi aku tidak mau memberikannya. Aku tidak ingin dia mengetahui diriku.

“Aku Brad Livington. Duke of ….”

“Duke of Livington, Marquess of Devonshire dan seterusnya dan seterusnya. Aku tahu siapa kamu.” Aku tidak bisa menahan diri. Aku selalu sebal jika mereka mulai menyebutkan semua gelar mereka seakan-akan kita akan lupa siapa mereka dan bertindak tidak sopan.

Aku bisa merasakan Brad tersenyum mendengar jawaban lancangku. Aku yakin pipiku sudah memerah jika saja aku tidak merasa kedinginan. Tidak biasanya aku begitu vokal pada kebencianku pada kalangan peerage.

“So Miss La Chatte.” panggil Brad. Aku sama sekali tidak suka dipanggil seorang kucing tapi aku tidak memperbaikinya juga. Lebih baik membiarkan Brad memanggilku sesuka hatinya dan menjaga identitasku.

“Atau aku harus memanggilmu Cinderella mengingat sepatumu tertinggal di atas?”

Aku memutar bola mataku. Sekarang aku si upik abu. Really, daya imajinasi pria bisa begitu kreatif kalau dibutuhkan yah?

“Itu bukan sepatuku.” ucapku berbohong.

“Masa?” tanya Brad dan aku yakin aku mendengar ia menjulurkan kepala dan mencari-cari seandainya ada orang lain di tempat ini.

“Kalau begitu selamat malam, Miss La Chatte. Aku sebaiknya segera mencari pemilik sepatu ini.”

Rasa panik segera menyerbuku. Apa jadinya jika Brad mulai berkeliling dan menyakan siapa pemilik sepatu itu dan walau hal itu akan membuat Brad terlihat konyol. Aku yakin aku yang akan menerima malu karena aku membutuhkan sepatu itu kembali. Yang artinya aku harus segera mengakui kebohonganku.

“Tunggu.” teriakku.

“Yes, Miss La Chatte.?”

Aku bergumul sesaat, “Itu sepatuku.”

“I see.”

Aku menunggu Brad melempar sepatuku. Tapi sepertinya ia menunggu sesuatu.

Permintaan maaf? Penjelasan?

Aku menghela nafas, sungguh kenapa laki-laki ini tidak bisa membiarkan sepatuku dan pergi begitu saja?

“Tolong, sepatuku.” ucapku akhirnya dan buru-buru menambahkan. “Maaf, aku berbohong tadi.”

“Nothing harmed.” ucap Brad. Aku kembali menunggu dia melemparkan sepatuku. Bahkan aku sudah menjulurkan tanganku ke atas. Walau aku tetap melakukannya dengan memungguni Brad dan dalam posisi berjongkong.

“Bagaimana kalau kamu menjelaskan dulu mengapa kamu berada di bawah sana dan bukannya menikmati pesta?”

Aku menghela nafas, sepertinya aku tidak akan mendapatkan sepatuku kembali dengan mudah.

“Karena ada sepasang orang yang mendadak muncul entah dari mana dan memonopoli terasku?”

“Aku cukup yakin balkon ini milikku Miss La Chatte. Tapi aku akan tetap meminta maaf karena sudah membuatmu terkejut. Walau aku tidak yakin kenapa kamu harus bersembunyi di sana kalau hanya karena terkejut. Are you really a cat, Miss La Chatte?”

Sungguh, Brad ini pasti seorang pujangga atau setidaknya sastrawan karena dia sanggup mengabungkan semua kalimat yang memojokanku secara efektif.

“Aku bukan seorang kucing, Your Grace. Jadi tolong berhenti memanggilku seperti itu.” ucapku sengit. “ Aku punya nama dan…”

“Brad?” panggil seseorang, perempuan lagi. Tapi kali ini sepertinya lebih tua. ” Kamu berbicara dengan siapa di sana?”

Jantungku berdengut lebih kencang. Saat aku berpikir situasi tidak akan menjadi lebih buruk selalu ada saja yang membuatku cemas. Aku juga mengenali suara tersebut. Dia orang yang menyewa jasa katering keluargaku dan beberapa kali aku bertemu dengannya di dapur saat perempuan itu turun tangan sendiri mengecek persiapan kami.

Bukan sesuatu yang biasa karena umumnya mereka menyuruh butler mereka yang melakukan inspeksi tersebut. Tapi mengingat skala pesta ini, amat wajar jika Duchess of Livington ingin memastikan segalanya sesuai rencana.

Aku mendongkak cemas dan samar-samar melihat Brad tersenyum.

“Hanya seekor kucing.”

“Kucing? Di taman kita ada kucing?”

“Meong…” ucapku meniru suara kucing berusaha membantu Brad. Aku berterima kasih Brad tidak membocorkan persembunyianku.

Apa kata ibuku kalau dia sampai mendengar putrinya bertelanjang kaki di sebuah pesta dan tertangkap basah sendang menguping oleh tuan rumah.

“Kucing ya? Aku tidak tahu kita memiara seekor kucing tapi mungkin saja ada kucing liar yang masuk. Besok aku akan menyuruh tukang kebun mengurusnya.”

“Jangan khawatir soal kucing ini, Mother. Aku yakin dia akan pergi pada akhirnya. Ada apa mencariku?”

“Sudah hampir tengah malam, kamu harus menyampaikan pidato seperti yang biasa ayahmu lakukan.”

Kemudian aku mendengar suara langkah kaki menjauh dan daun pintu tertutup.

Kali ini aku menunggu beberapa menit untuk memastikan memang tidak ada orang lagi di atas teras.

Setelah merasa aman, aku menarik sepatuku dan mengenakannya sebelum menyelinap kembali ke dalam pesta.

Aku bersyukur karena aku masuk tepat saat cahaya lampu diredupkan. Membuat aku lebih mudah kembali berbaur. Aku mendengar suara bariton Brad yang sedang bercerita mengenai melestarikan tradisi keluarga.

Aku tidak mendengar apa yang apa yang dikatakan oleh Brad hingga membuat para tamu tertawa ketika aku tiba kembali ke dalam dapur.

“Kamu cepat sekali kembali.” ujar Mama. “Kamu menemukan dia?”

Aku mengelengkan kepala.

“Tumben. Biasanya Edward selalu tepat janji.” ucap Mama sambil menyelesaikan cupcake terakhirnya. “Bawa in ke depan dan berikan pada Duchess.”

“No…” pekikku panik membuat Mama terkejut sejenak tapi kemudian Mama segera menceramahiku tentang janjiku untuk membantunya.

“Tapi Mama kan bisa keluar dan menyerahkannya sendiri.”

“Tidak, Alice. Kamu yang harus membawanya ke depan. Mama tidak mungkin keluar dengan pakaian penuh saus dan membuat malu.”

“Mama kan membawa gaun juga.”

“Tidak ada waktu. Cupcakes ini harus berada di depan persis pergantian tahun dan jika teriakan mereka bisa dipercaya kamu punya waktu 10 detik untuk melaksanakannya.”

Aku mengangkat piring cupcakes dan mengecup pipi Mama sebelum keluar. “Happy New Year Mom.”

Tidak ada gunanya melawan. Aku tahu betapa pentingnya janji untuk Mama dan aku tidak akan membuatnya malu.

Kalau Mama ingin aku mengantarkan cupcakes, maka aku harus mengantarnya. Walau artinya aku harus membiarkan diriku terekspos dan menambahkan satu ledekan baru dari teman-teman kuliahku.

Aku keluar dengan senyum lebar dan dagu terangkat. Aku tidak akan membiarkan mereka meremehkan aku. Tidak sebelumnya dan tidak akan aku mulai sekarang.

Tepat ketika Brad berteriak, “ONE… Happy New Year!” Aku tiba di atas panggung, dan langsung didorong oleh Duchess untuk berdiri di depan Brad dan ganti Duchess yang berteriak, “and Happy Birthday my son!”

Aku melihat ibu dan anak saling berpelukan dan mengecup mesra, kemudian berganti dengan wanita-wanita lainnya yang juga memeluk dan mengecup bibir Drad kemudian berganti dengan banyak laki-laki menepuk punggung Brad dan lainnya.

Entah bagaimana mereka sanggup melakukan semua itu dengan aku yang masih berdiri di depan Brad tapi pelukan dan ucapan selamat seakan tidak ada hentinya dan mendadak aku merasa kasihan pada Brad karena harus selalu merayakan ulang tahunnya dengan puluhan orang yang mungkin tidak dikenalnya.

But maybe not, karena aku melihat Brad tersenyum dengan lebar dan menikmati curahan perhatian yang ia terima.

Jelas aku dan dia begitu berbeda. Aku tidak pernah merasa nyaman jika menjadi sorotan.

Merasa tidak diperlukan, aku mutar tubuhku beranjak turun. Sampai aku merasa sebuah tangan menyentuh pundakku. “Tunggu, aku harus mengambil cupcakes itu satu.”

Satu lengan maskulin terjulur melewati pundakku dan mengambil satu cupcakes dari piring hidangan yang aku pegang dan kemudian aku mendengar suara bariton berbicara dekat di kupingku, “Thank you.”

Aku menuruni panggung dengan perasaan sebal. That’s it? Kalau ini yang dikatakan harus dan penting oleh mereka, aku tidak mau membayangkan apa yang tidak penting dan seperti apa perlakuan mereka.

Hurmph!

In Devil’s Arm – part 18

Prue berjalan kembali ke area bar dan menemukan Patrick duduk seorang diri.

“Mereka sudah kembali duluan. Kenapa kamu lama sekali? Apa Sherly berkata sesuatu padamu?” tanya Patrick beruntun. Prue bahkan belum sempat menempelkan pantatnya ke atas bangku.

“Apa ada sesuatu yang harus aku ketahui dari Sherly?” Prue tahu ia tidak seharusnya bersikap sesinis ini, tapi ia tidak bisa mengontrol dirinya. Continue reading

In Devil’s Arm – part 17

“Hai.” ucap Sherly dengan senyum mempesonanya pada Dominique.

“Hai.” jawab Dominique ragu. Ia tidak yakin apa tujuan Sherly mendatanginya malam-malam seperti ini tapi tidak urung, ia mempersilakan Sherly masuk juga. Dominique mengaruk kepalanya yang tidak gatal. Tampaknya malma ini akan menjadi malam yang panjang.

Sherly mengidarkan pandangannya ke seisi ruangan. Matanya bertubrukan dengan laptop yang terbuka di atas meja. Penasaran, ia meraih laptop tersebut, bermaksud memutarnya namun Dominique segera menyambar benda itu dan menutupnya. Continue reading

Bagian Dirimu (A Part of You) – 2

Tawa Adam menyusup kembali. “Kamu kelihatan lucu kalau kaget begitu. Usulku terlalu mengejutkan ya?” tanya Adam yang tidak langsung dijawab oleh Amanda. Perempuan itu masih sibuk dengan pikirannya sendiri. 

Adam membalikkan badan dan kembali menatap lukisan di hadapannya. “Sekali-sekali aku ingin diingat sebagai sesuatu selain seorang striker.”  Continue reading

Damn, I miss you – chapter 18

Jack menatap Keiko.

Apa kata perempuan itu tadi? Mereka tidak berpacaran?!
Jack ingin menjedut kepala Keiko atau mungkin mencium perempuan itu lagi untuk mengingatkannya pada kejadian 10 menit yang lalu sebelum semua temannya ini muncul!
Mereka jelas-jelas sedang bercumbu dan masalah berpacaran hanya sekedar masalah kapan dan sungguh itu tidak begitu penting!

Yang penting, mereka sama-sama saling suka, sama-sama saling memiliki. Continue reading